17 research outputs found

    ASUPAN ZAT-ZAT GIZI DAN KADAR GULA DARAH PENDERITA DM-TIPE2 DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM RSUD Dr. H. ABDUL MOELOEK PROVINSI LAMPUNG

    No full text
    Usdeka Muliani1)1) Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Tanjungkarange-mail : [email protected] :The Corerelation between Intake of Nutrients With Blood Sugar Levels  Patients DM-Tipe2 in Polyclinic RSUDDr.H Abdul Moeloek Lampung Province. Patients with DM in  ambulatory RSUDAM) Lampung Province in 2011who ranks third out of 10 diseases most patients.The general objective of this study was to determine the relationship of intake of nutrients in the blood sugar levels in patients with DM-tipe2 polyclinic hospital medicine. RSUDAM. This research is experimental analytic cross sectional design. The population is patients with DM-poly tipe2 outpatient internal medicine RSUDAM Lampung province. Samples 57 people with accidental sampling technique. Data was analyzed by univariate and bivariate.The results of univariate analysis were 39 patients (68.4%) unfavorable energy intake, 63.2%patients poor protein intake, 52.6% patients good carbs intake, 61.4%patients unfavorable fat intake, 86% patients good cholesterol intake, and 68.4% patients of fiber intake is less than it should.The results of the bivariate analysis are known (1) There is a significant correlation between energy intake with blood sugar levels of p = 0,001, (2) There is a relationship between protein intake with blood sugar level (p = 0,033) and (3) There is a relationship between carbohydrate intake with blood sugar levels (p = 0,004) and (4) There is no relationship between the intake of fat to the blood sugar levels (p = 0,590), (5) There is no relationship with the intake of cholesterol in blood sugar levels (p = 0 ,422) , (6) There is a relationship of fiber intake with blood sugar levels (p = 0,001). Suggestions, better patients with DM in polyclinic RSUDAM gets counseling and nutritional counseling on a regular basis, as well as the need to do further research on the factors that influence food intake of people with DM-tipe2.Keywords : DM-Tipe2, Intake of nutrition, blood sugar levelsAbstrak : Hubungan Asupan Zat-Zat Gizi Dengan Kadar Gula Darah Penderita DM-Tipe2 di Poliklinik  Penyakit Dalam RSUD Dr. H Abdul MoeloekProvinsi Lampung.Pasien DM di ruang rawat jalan RSUDAM Provinsi Lampung tahun 2011 menempati urutan ketiga dari 10 penyakit terbanyak. Tujuan penelitian, untuk mengetahui hubungan asupan zat-zat gizi dengan kadar gula darah penderita DM-tipe2 di poliklinik penyakit dalam RSUDAM Provinsi Lampung. Jenis penelitian analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi, adalah pasien DM-tipe2 rawat jalan di poli penyakit dalam RSUDAM Provinsi Lampung. Sampel 57 orang dengan teknik accidental sampling.Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil analisis univariat68,4% pasien kurang baik asupan energinya, 63,2% pasien asupan protein kurang baik, 52,6% pasien baik asupan karbohidratnya, 61,4% pasien asupan lemak kurang baik, 86% pasien baik asupan kholesterol, dan 68,4% pasien asupan serat kurang dari seharusnya.  Hasil analisis bivariat (1) Ada hubungan yang bermakna antara asupan energi dengan kadar gula darah (p= 0,001) ; (2) Ada hubungan antara asupan protein dengan kadar gula darah (p = 0,033) ; (3) Ada hubungan antara asupan karbohidrat dengan kadar gula darah (p= 0,004) ; (4) Tidak ada hubungan antara asupan lemak dengan kadar gula darah( p = 0,590) ; (5) Tidak ada hubungan asupan kholesterol dengan kadar gula darah (p=0,422) ; (6) Ada hubungan asupan serat dengan kadar gula darah (p = 0,001). Saran, sebaiknya pasien DM di poli penyakit dalam mendapat penyuluhan dan konseling gizi secara  berkala, serta perlu dilakuka penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi asupan makanan penderita DM-tipe2.Kata kunci : DM-Tipe2, asupan zat-zat gizi, kadar gula dara

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN ASUPAN SERAT PENDERITA DM DI POLI PENYAKIT DALAM RSUD Dr. Hi. ABDUL MOELOEK PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2014

    No full text
    Indonesia is now facing degenerative diseases such as diabetes. From previous studies found fiber intake patients with DM is still much less than that recommended, while the fiber is very useful to control blood sugar levels in diabetic patient. The purpose of this study was to determine the factors associated with fiber intake in patients with diabetes mellitus disease in internist clinic Dr H. Abdul Moeloek Hospital Lampung 2014? The experiment was used analytic research by cross sectional approach, a sample of 48 respondents. Data were analyzed by univariate and bivariate. The study concluded  the most respondents: (1) age 46-65 years 66.7%; (2) 70.8% of the female sex; (3) sufficient knowledge of fiber 56.2% (4)  never received nutritional counseling; (7) 85.4% less fiber intake. From the results of the bivariate analysis found no relationship between gender, knowledge, attitudes, education, and nutrition counseling with fiber intake respondents. Relative levels for respondents with knowledge and attitude toward less fiber, and fiber intake respondents are less good then advice the authors need to increase cooperation between the clinic personnel in order to refer all patients with DM to nutrition clinic in order to obtain nutritional counseling. Other suggestions in order to do further research to find out why fiber intake of diabetic patients are still lacking, and the study of other factors such as psychological, social culture, physical state, and the state of nutrition associated with fiber intake in diabetic patien

    HUBUNGAN POLA KONSUMSI ENERGI, LEMAK JENUH DAN SERAT DENGAN KADAR TRIGLISERIDA PADA PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER

    No full text
    Indonesia saat ini menghadapi masalah penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskuler.Salah satu faktor utama dalam mencegah penyakit jantung adalah dengan memperhatikan pola makan yang sehat.Makanan yang kita konsumsi harus mengandung zat gizi yang diperlukan tubuh seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral.Naiknya trigliserida darah memiliki kaitan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung koroner.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan asupan energy, lemak jenuh, dan serat dengan kadar trigliserida darah pasien PJK di PoliJantung RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung  Tahun 2014? Penelitian dilaksanakan bulan juni 2014 dengan metode penelitian yang bersifat analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional, sampel berjumlah 51 responden.Data dianalisis secara univariat dan bivariat.Penelitian menyimpulkan responden terbanyak: (1)usia 40-60 tahun 82,9%; (2) jenis kelamin wanita 54,9%; (3) status gizi responden dengan status gizi normal 49%(4) Kadar trigliserida normal 60,8%; (5) Asupan energi kurang baik 72,5% ; (6) Asupan lemak jenuh yang baik 54,9%; (7) Asupan serat kurang baik 96,1%; (8) Tidak ada hubungan antara asupan energi, lemak jenuh, dan serat dengan kadar trigliserida darah responden. Sehubungan masih banyak responden dengan asupan energy, lemak jenuh, dan asupan serat yang kurang baik maka saran penulis perlu adanya peningkatan kerja sama antara tim medis agar merujuk semua pasien, terutama pasien baru ke poli konsultasi gizi, sebaiknya ditambahkan sarana informasi berupa poster maupun leaflet tentang pengaturan makan diet penyakit jantung, dan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui mengapa asupan serat pasien PJK masih sangat rendah dari yang dianjurka

    Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Kota Metro

    No full text
    Hasil penelitian terhadap ibu hamil di Kota Metro pada tahun 2018diperoleh 30,8% anemia, Asupan protein kurang 53,8%, Asupan vitamin C kurang 57,7%, Asupan zat besi kurang 36,5%, dan konsumsi pil besi kurang 34,6%. Angka-angka tersebut membuat peneliti tertarik menindak lanjut penelitian ini. Karena ibu hamil dengan anemia akan berdampak buruk pada ibu dan bayinya. Penelitian menggunakan rancanagan penelitian survei analitik dengan pendekatan crosssectional. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara asupan protein, asupan vitamin C, asupan zat besi, dan konsumsi pil besi dengan kejadian anemia ibu hamil.Penelitian  menggunakan data sekunder yang diolah dengan bantuan komputer dan hubungan antar variabel dilakukan melalui analisis bivariat dengan uji chi squaredan multivariate dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menyimpulkan aAda hubungan bermakna antara status anemia dengan asupan protein, asupan zat besi, dan konsumsi pil besi.Dan sebaliknya tidak ada hubungan yang bermakna antara status anemia dengan asupan vitamin C. Hasil analisis multivariat diketahui asupan zat besi paling dominan berhubungan dengan kejadian anemia. Disarankan agar petugas puskesmas lebih meningkatkan mutu pelayanan dengan memberikan penyuluhan atau konseling tentang pentingnya gizi ibu hamil dan 1000 hari kehidupan

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN SISA MAKANAN SARING PASIEN RAWAT INAP

    No full text
    Pelayanan Gizi Rumah Sakit (PGRS) bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit melalui penyelenggaraan makanan. Sisa makanan pasien merupakan salah satu tolok ukur dari pelayanan gizi ruang rawat inap. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan sisa makanan saring di ruang rawat inap RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung  Tahun 2011? Penelitian ini menggunakan metode yang bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional, sampel berjumlah 41 responden di ruang rawat inap kelas I, II, dan III. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Penelitian ini menyimpulkan : (1) responden terbanyak berumur >40tahun (82,9%); (2) jenis kelamin terbanyak wanita (53,7%); (3) responden umumnya berpendidikan rendah (80,5%); (4)  Responden yang menilai cita rasa kurang baik sejumlah 21 orang (51,2%),  ; (5) sisa makanan saring rata-rata 57,1%; (6) Tidak ada hubungan antara faktor umur dengan sisa makanan (Ï =  0,128); (7)   Tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan sisa makanan (Ï = 0,724); (8) Tidak ada hubungan antara pendidikan responden dengan sisa makanan (p = 0,477); (9) Tidak ada hubungan antara cita rasa responden dengan sisa makanan (p = 1,000). Pihak Instalasi Gizi sebagai pengelola makanan di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung diharapkan dapat melakukan evaluasi dan inovasi pada makanan saring agar menghasilkan makanan yang menarik dan enak dengan demikian  dapat membangkitkan selera makan pasien sehingga mengurangi terjadinya sisa makanan.Â

    Karakteristik berbagai jenis tepung ubi jalar termodifikasi dengan metode autoclaving retrogradation [Characteristics of various sweet potato flour modified by autoclaving retrogradation method]

    No full text
    Sweet potato has great potency to be developed as an alternative carbohydrate source in the form of modified sweet potato flour. Autoclaving retrogradation is a physical modification method to improve the physicochemical characteristics of flour. The purpose of this study was to determine the effect of the autoclaving retrogradation method on the characteristics of various sweet potato flour: dietary fiber, resistant starch, starch digestibility, nutritional content, and antioxidant, and to determine the best modified sweet potato flour. The experimental design used a non-factorial completely randomized block design with four replications. The treatment consisted of 6 types of sweet potato, namely control (purple sweet potato without treatment), orange sweet potato, purple sweet potato, honey-sweet potato, red sweet potato, and purple white sweet potato). The results showed that there were significant differences in dietary fiber, levels of resistant starch, digestibility of starch, nutritional content, and antioxidant activity amongst various types of modified sweet potato flour. The best modified sweet potato flour was found in modified red sweet potato flour which contained 44.64% dietary fiber, 19.75% resistant starch, 13.50% starch digestibility, 66.32%  antioxidant activity, with comparable nutritional content.

    PENGARUH PENGETAHUAN, KEPATUHAN KONSUMSI TABELT TAMBAH DARAH, DUKUNGAN GURU, ORANG TUA DAN TEMAN SEBAYA DENGAN KEJADIAN ANEMIA REMAJA PUTRI

    No full text
    Anemia merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia. Remaja putri memiliki resiko yang lebih tinggi dikarenakan remaja putri setiap bulannya mengalami haid (menstruasi). Pengetahuan remaja putri yang rendah akan anemia gizi besi menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya anemia gizi besi pada remaja, yang mana pengetahuan berpengaruh terhadap kesadaran seseorang dalam berperilaku. Pada perilaku remaja putri dalam mengkonsumsi Tabelt Tambah Darah, faktor predisposisi  meliputi pengetahuan, sikap dan tindakan remaja putri dalam mengkonsumsi Tabelt Tambah Darah, kemudian faktor pendukung meliputi daya terima, dan faktor pendorong meliputi dukungan guru, orangtua, dan teman sebaya. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pengetahuan, kepatuhan konsumsi TTD, dukungan guru, orangtua, dan teman sebaya hubungannya dengan kejadian anemia pada remaja putri. Jenis penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja putri kelas XI di SMA Swadhipa Natar dengan jumlah sampel sebanyak 52 orang. Lokasi penelitian dilaksanakan di SMA Swadhipa Natar. Pengumpulan data penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2023. Dari hasil analisis univariat diketahui sebanyak 26 orang (50%) mengalami anemia, tingkat pengetahuan responden sebagian besar baik 75%, tingkat kepatuhan 67,3% responden tidak patuh dalam mengkonsumsi TTD, dukungan guru sebagian besar 88,5% tidak mendukung, sebaliknya dukungan orangtua sebagian besar 88,5% mendukung responden , dan 100% teman sebaya mendukung responden untuk mengkonsumsi TTD. Hasil analisa bivariat diperoleh adanya hubungan tingkat pengetahuan responden dengan kejadian anemia (p-value= 0,000), tidak ada hubungan kepatuhan konsumsi TTD (P-value=1,000), dukungan guru (p-value= 0,688), dukungan orangtua (p-value = 1,000) dengan kejdian anemia pada responden

    Sosialisasi Pencegahan Covid-19 dan Peningkatan Kapasitas kader Posyandu melalui Penyuluhan tentang Pemberian Makanan Seimbang bagi Baduta di Desa Cipadang

    No full text
    ABSTRAKPada akhir Maret tahun 2020, di Desa Cipadang  terdapat 16 orang dengan pengawasan kasus covid-19 (ODP) dan meningkat menjadi 84 orang pada 14 April 2020. Social distancing dan penggunaan masker belum dilaksanakan masyarakat di Desa Cipadang. Di sisi lain, Cipadang merupakan lokus stunting di Pesawaran. Tujuan kegiatan adalah terdistribusinya bantuan, meningkatnya kesadaran warga untuk pencegahan covid 19 serta pengetahuan kader tentang pemberian makanan seimbang pada baduta di Desa Cipadang.  Pengetahuan kader tentang pemberian makanan seimbang bagi baduta meningkat dengan nilai rata-rata dari 63,53 menjadi 71,18. Uji paired t test berpengaruh pada tingkat pengetahuan kader (p=0,000). Penyuluhan dapat meningkatkan pengetahuan kader secara bermakna. Penggunaan masker dan praktek social distancing telah dilaksanakan oleh kader posyandu dalam kegiatan posyandu maupun pada saat berinteraksi dengan orang lain. Pendampingan kader diperlukan untuk menjamin penerapan pemberian makanan seimbang bagi baduta di Desa Cipadang. Kata Kunci: Pencegahan Covid-19, Makanan Baduta, Desa Cipadang  ABSTRACT At the end of March 2020, in Desa Cipadang there were 16 people with surveillance of the Covid-19 case and increased to 84 people on April 14, 2020. Social distancing and wearing of masks have not been implemented by the community in Desa Cipadang. On the other hand, Cipadang is a stunting locus in Pesawaran. The purpose of the activity is the distribution of aid, increasing awareness of residents for the prevention of Covid 19 and knowledge of cadres about giving balanced food to baduta in Desa Cipadang. The knowledge of cadres about providing balanced food for baduta increased with an average value from 63.53 to 71.18. The paired t test affected the cadres' level of knowledge (p = 0.000). Education increase cadres' knowledge significantly. The use of masks and social distancing practices have been carried out by posyandu cadres in posyandu activities and when interacting with other people.. Cadre assistance is needed to ensure the implementation of balanced feeding for baduta in Cipadang Village. Keywords: Prevention of Covid-19, Diet for Baduta, Desa Cipadang

    PELATIHAN PEMANFAATAN BUKU KIA OLEH KADER POSYANDU DALAM MELAKUKAN STIMULASI DETEKSI DAN INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG (SDIDTK) PADA BALITA DI DESA SIDODADI KABUPATEN PESAWARAN TAHUN 2024

    No full text
    Pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu Anak oleh dan kader posyandu hanya terbatas melakukan pemantauan pertumbuhan saja sedangkan pemantauan perkembangan Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang sangat diperlukan untuk mengetahui gangguan pertumbuhan dan perkembangan secara dini sehingga dilakukan penanganan sedini mungkin. Tujuan kegiatan pengabdian ini untuk  meningkatkan pengetahuan, ketrampilan kader posyandu dalam melakukan SDIDTK. Metode yang digunakan dengan sosialisasi, demostrasi dan re-demontrasi, jumlah peserta 20 kader posyandu balita. Evaluasi dilakukan dengan Pre-Test, Post-Test dan obeservasi. Hasil pengabdian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan kader posyandu sebelum dan sesudah kegiatan. Hasil Pre-Test pengetahuan kader posyandu sebesar 46%, Hasil Post-test mengalami peningkatan menjadi 72%. Penilaian ketrampilan sebelum kegiatan, ketrampilan kader posyandu 40 % dan setelah mengikuti kegiatan ketrampilan kader posyandu meningkat menjadi 84,0%

    PERSEPSI IBU BALITA TENTANG STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CANDRAMUKTI KAB.TULANG BAWANG BARAT

    No full text
    Tujuan penelitian ini mengkaji persepsi ibu balita tentang pengertian, penyebab, pencegahan dan penanggulangan stunting di wilayah Puskesmas Candra Mukti. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam dengan informan kunci yaitu ibu balita stunting, informan tambahan yaitu kader pos yandu dan pemegang program gizi puskesmas. Ibu mempersepsikan pengertian stunting cenderung kepada tanda-tanda fisik yang meliputi anak terlihat kecil, serta pertumbuhan lambat, dengan ciri- ciri badan pendek, kurus, lemah dan kurang gizi. Petugas kesehatan melakukan   sosialisasi   lanjutan   mengenai   stunting, edukasi gizi, keterampilan hidup bersih dan sehat serta KIA dengan lebih sering menggunakan media promosi kesehatan yang mudah dipahami oleh semua kalangan. Informasi yang digaungkan bukan saja berkaitan dengan aspek fisik akibat stunting dan faktor langsung penyebab stunting, tetapi lebih diutamakan pada akibat stunting terhadap kecerdasan dan perkembangan  otak  anak  dan  faktor  tidak  langsung  penyebab  stunting seperti ketersediaan air bersih dan sanitasi
    corecore