1,721,003 research outputs found
PEMETAAN KEBUN KOPI RAKYAT DAN POTENSI PENGEMBANGANNYARNDI KECAMATAN TANGSE, MANE, GEUMPANG KABUPATEN PIDIE
Muhammad Isra. 1505108010061. Pemetaan Kebun Kopi Rakyat dan Potensi Pengembangannya di Tiga Kecamatan Kabupaten Pidie. Di bawah bimbingan Abubakar Karim sebagai pembimbing utama dan Helmi sebagai pembimbing anggota.RINGKASANKopi merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang sudah lama dibudidayakan sebagai sumber penghasilan, sumber pendapatan dan devisa negara. Kopi sebagian besar berasal dari Afrika tropis dan sebagian kecil berasal dari Asia tropis . Tanaman Kopi pada saat ini telah menyebar ke seluruh daerah tropis di dunia. Indonesia kopi pada umumnya tumbuh baik pada ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Adapun kopi yang menjadi andalan Indonesia dan disukai oleh penikmat kopi adalah jenis kopi arabika dan robusta. Di Indonesia Provinsi Aceh merupakan daerah penghasil kopi terbesar ke tiga, dengan produksi pada tahun 2020 kopi sebesar 73.419 ton. Luas areal kopi 126.289 hektar, semuanya berupa perkebunan rakyat. Provinsi Aceh memiliki 23 kabupaten kota, dimana salah satunya adalah kawasan Kabupaten Pidie yang memiliki kawasan tanaman kopi varietas robusta. Tanaman kopi jenis robusta memiliki adaptasi yang lebih baik dibandingkan dengan kopi jenis arabika. Kopi jenis robusta dapat tumbuh di ketinggian yang lebih rendah dibandingkan dengan lokasi kopi arabika. Luas dan penyebaran kopi robusta lebih potensi pengembangan secara biofisik di Kecamatan Tangse, Mane dan Geumpang.Penelitian ini menggunakan metode survei analisis deskriptif. Penelitian ini meliputi empat tahap, yaitu tahap persiapan, survei lapangan, pengolahan citra dan pemetaan potensi pengembangan kebun kopi. Analisis yang digunakan adalah analisis spasial. Data perkebunan kopi diperoleh dari interpretasi citra menggunakan teknologi klasifikasi visual on screen, dan potensi pengembangan perkebunan kopi berasal dari ovelay dengan kaidah union antara perkebunan kopi dan peta ketinggian, peta kemiringan, peta penggunaan lahan dan peta pola ruang Kabupaten Pidie.Hasil interprtasi citra dengan teknik klasifikasi visual on screen didapatkan luasan kebun kopi di Kecamatan Tangse seluas 6581,87 ha dengan 145 hamparan, luasan kebun kopi di Kecamatan Mane sebesar 1704,97 ha dengan 81 hamparan dan luasan kebun kopi di Kecamatan Geumpang hanya seluas 1738,32 ha dengan 68 hamparan. Potensi lahan yang dapat dikembangakan kebun kopi di Kecamatan Tangse yaitu seluas 18.535,39 ha (23,56%) dan untuk lahan yang tidak dapat dikembangkan yaitu seluas 60.122,62 ha (76,44%), Kecamatan Mane lahan yang dapat dikembangkan kebun kopi seluas 7.076,49 ha (10,48%) sedangkan untuk Kecamatan Geumpang lahan yang dapat dikembangkan kebun kopi adalah 4.629,45 ha (7,05%). Dari ketiga kecamatan di Kabupaten Pidie yang memiliki sentra tanaman kopi, di Kecamatan Tangse memiliki kebun kopi terluas dan untuk potensi pengembangan kebun kopi ada di wiliayah Kecamatan Tangse
Pelaksanaan Pengajaran Baca Tulis Al Qur’an Kecamatan Banjarmasin Selatan Kota Banjarmasin
Muhammad Isra Madiyani. 2009. Pelaksanaan Pengajaran Baca Tulis Al Qur’an Kecamatan Banjarmasin Selatan Kota Banjarmasin . Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah. Pembimbing: (I) Drs. H. Ahd Husaini H.A, (II) M. Noor fuady, M. Ag.
Al Qur’an bagi kaum muslimin penting sekali untuk diajarkan, bahkan suatu kewajiban dan merupakan kitab bacaan yang bernilai ibadah.
Pelajaran baca tulis Al Qur’an merupakan bagian dari pada bidang studi Pendidikan Agama Islam yang diajarkan di sekolah Dasar Muhammadiyah 6 Kecamatan Banjarmasin Selatan Kota Banjarmasin.untuk mengetahui berhasil tidaknya Pelaksanaan Pengajaran Baca Tulis Al Qur’an tersebut dapat dilihat dari bagaimana pelaksanaan pengajarannya dilaksanakan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Dari permasalahan diatas, rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan pengajaran baca tulis Al Qur’an pada sekolah dasar Muhammadiyah 6 Kecamatan Banjarmasin Selatan Kota Banjarmasin dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Sedangkan pembahasan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Pelaksanaan Pengajaran Baca Tulis Al Qur’an pada Sekolah Dasar Muhammadiyah 6 Kecamatan Banjarmasin Selatan Kota Banjarmasin dan untuk mengetahui faktor-faktor apa yang yang mempengaruhinya.
Berhasil tidaknya Pelaksanaan Pengajaran Baca Tulis Al Qur’an akan sangat ditentukan oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya, seperti faktor guru, minat siswa, sarana dan fasilitas dan peran orang tua.
Subjek dalampenelitian ini adalah 1orang guru mata pelajaran pendidikan Agama Islam ditambah dengan Siswa kelas VI tahun ajaran 2008-2009 sebanyak 40 orang.
Untuk mendapatkan data di lapangan digunakan tekhnik wawancara, observasi dan dokumentasi. Selanjutnya diproses dengan teknik editing dan klasifikasi data, kemudian dilakukan analisis data secara induktif sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan.
Dari hasil penelitian ini diperoleh temuan bahwa pelaksanaan pengajaran Baca Tulis Al Qur’an pada Sekolah Dasar Muhammadiyah 6 Kecamatan Banjarmasin Selatan Kota Banjarmasin terlaksana dengan baik, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhinya. Yaitu kualitas guru yang cukup tinggi, tingginya minat siswa, sarana dan fasilitas yang cukup memadai,dan cukupnya peran orang tua dalammemberikan motivasi kepada ana
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.</p
- …
