4 research outputs found
PENAFSIRAN Q.S. AL-BAQARAH [2]: 40-43 PERSPEKTIF MAʻNA-CUM-MAGHZA
Bani Israil menjadi salah satu pembahasan utama al-Qur’an dan kisahnya seringkali didapati di dalamnya. Salah satu kelompok ayat berkenaan dengan Bani Israil adalah Q.S. al-Baqarah [2]: 40-43. Dalam kelompok ayat tersebut, Allah berkomunikasi melalui al-Qur’an dengan Bani Israil dan sekaligus merespon realitas keingkaran mereka terhadap al-Qur’an dan Nabi Muhammad Saw. Sayangnya, beberapa penafsiran yang telah dilakukan oleh para ulama terhadap kelompok ayat ini masih bersifat normatif (seperti perintah untuk beriman, menunaikan shalat dan membayar zakat) dan reduktif (hanya terbatas pada kisah-kisah Bani Israil). Bahkan, beberapa kitab tafsir seperti Tafsir al-Ṭabari dan Ibn Kasir mengutip riwayat-riwayat tentang perdebatan keabsahan menerima upah atas pengajaran al-Qur’an dalam menafsirkan potongan ayat wa lā tasytarū bi āyāti samanan qalilan pada Q.S. al-Baqarah [2]: 41. Perdebatan ini, dalam perkembangannya, justru dijadikan dalil oleh para ulama untuk melarang aktivitas pertukaran (komodifikasi) al-Qur’an dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Wasiat KH. Munawwir misalnya, beliau melarang santrinya mengikuti Lomba Musabaqah Hifdzil Qur’an karena dianggap telah menukarkan ayat Allah dengan sesuatu yang bersifat duniawi, yaitu hadiah berupa uang, beasiswa maupun lain sebagainya. Penafsiran seperti ini, menurut penulis, hanya akan mereduksi dan menyempitkan makna kelompok ayat tersebut. Oleh karenanya, perlu kajian dan penelitian yang lebih mendalam tentang kelompok ayat Q.S. al-Baqarah [2]: 40-43. Sehingga diharapkan akan didapatkan makna (signifikansi) serta hikmah diturunkannya kelompok ayat ini agar al-Qur’an selalu relevan (ṣālih) dalam ruang dan waktu apapun. Dalam upaya penggalian makna yang dimaksud, penulis menganalisis kelompok ayat ini dengan pendekatan Maʻnā-cum-Maghzā, yang digagas oleh Sahiron Syamsuddin.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka (library research) dan diwaktu yang bersamaan bersifat analisis-kritis melalui pendekatan maʻnā-cum-maghzā. Pendekatan maʻnā-cum-maghzā mencakup beberapa langkah analisis-kritis, yaitu: pertama, penggalian makna historis (al-maʻna al-tārikhi) ketika kelompok ayat tersebut diturunkan di masa Nabi Muhammad. Langkah ini akan menyajikan analisis linguistik, intratekstual, intertekstual dan analisis konteks historis mikro maupun makro kelompok ayat. Setelah mendapat makna historis tersebut maka langka kedua adalah penggalian signifikansi fenomenal historis (al-maghzā al-tārikhi). Langkah terakhir adalah upaya pengembangan signifikansi fenomenal historis dengan mengkontekstualisasikannya ke dalam konteks kekinian yang diistilahkan dengan analisis signifikansi fenomenal dinamis (al-Maghzā al-Mutaḥarrik al-Muʻāṣir).
Hasil penelitian yang didapatkan oleh penulis adalah: pertama, makna historis Q.S. al-Baqarah [40-43] yaitu perintah Allah kepada Bani Israil untuk mengingat-ingat kenikmatan dan anugrah yang telah diberikan kepada mereka dan leluhur mereka; xiv
perintah Allah agar Bani Israil beriman kepada al-Qur’an dan Nabi Muhammad Saw.; larangan menukarkan keimanan dengan hal-hal duniawi (samanan qalilan); larangan menyebarkan kebohongan dan menyembunyikan sifat-sifat Nabi Muhammad yang telah tertera dalam kitab mereka, Taurat; perintah untuk melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan menta’ati syari’at Allah. Kedua, signifikansi historis kelompok ayat ini adalah seruan untuk mengimani kebenaran yang didasarkan pada bukti dan keterangan historis; perintah untuk memenuhi perjanjian yang telah terjalin; Larangan menjadikan kekuasaan untuk meraup kepentingan kelompok atau personal dengan cara menyebarkan hoaks dan propaganda kepada umatnya; Perintah untuk menjadi manusia yang saleh ritual dan saleh sosial sebagai bukti serta konsekuensi keimanan seseorang. Sedangkan, signifikansi fenomenal dinamis kelompok ayat ini diklasifikasikan menjadi lima aspek, yaitu: pertama, aspek seni berkomunikasi: komunikasi persuasif dalam berdakwah; kedua, aspek etika penguasa: larangan menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk meraup keuntungan pribadi atau golongan tertentu; ketiga, aspek mediatisasi: larangan menyebarkan hoaks dan propaganda dalam bermedia sosial; keempat, aspek etika sosial: perintah memenuhi dan menetapi janji; kelima, aspek sosial: perintah menjadi pribadi yang saleh ritual dan saleh sosial
ḤIJĀB DAN JILBAB PERSPEKTIF ASMA BARLAS DAN POSISINYA DALAM TIPOLOGI TAFSIR KONTEMPORER SAHIRON SYAMSUDDIN
Up to now, the research on ḥijāb and jilbab is still a debatable and relevant topic for further discussion. One of the figures who took part in the ḥijāb and jilbab problem is Asma Barlas. He criticized the understanding of Muslims, especially the interpretation product of conservatives scholars, who reduced the meaning of the ḥijāb to the obligation to wear a ḥijāb. According to her, the obligation to wear the ḥijāb by wearing the jilbab is still influenced by the patriarchal and misogynistic mindset of the jāhiliyyah community. This article aims to explain the construction of Asma Barlas' thought, especially in the issue of ḥijāb and jilbab. Then, this article will also try to place the thoughts of Asma Barlas in the Typology of Contemporary Interpretation of Thought initiated by Sahiron Syamsuddin. The categorization of contemporary commentary thought initiated by Sahiron Syamsuddin makes it easier for later researchers to identify the basic construction of an interpreter thoughts of the Qur'an
KONSTRUKSI PEMAHAMAN ISLAM DALAM TEKS-TEKS TAMBAHAN TERJEMAH AL-QUR’AN (Kajian terhadap Aliyah: Al-Qur’an, Terjemah, dan Tafsir Mushaf Wanita)
Semenjak tahun 2000-an M hingga sekarang, terjemah al-Qur’an mulai diimprovisasi dan diinovasi sedemikian rupaoleh penerbit. Improvisasi dan inovasi yang dilakukan ini merupakan sebuah konsekuensi komodifikasi terjemah al-Qur’an yang bermula ketika terjemah al-Qur’an mulai menjamah ranah penerbit professional. Upaya improvisasi dan inovasi ini juga merupakan sebuah konsekuensi dengan diterbitkannya terjemah resmi pemerintah yakni al-Qur’an dan Terjemahnya yang memiliki sisi otoritas yang lebih tinggi daripada terjemah al-Qur’an yang diterbitkan oleh penerbit pada umumnya. Selain itu, berdirinya Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an dengan salah satu tugasnya untuk men-tashih dan mengoreksi mushaf al-Qur’an termasuk terjemah al-Qur’an yang beredar di masyarakat, memaksa penerbit untuk mencari celah lain dalam melakukan improvisasi dan inovasi tersebut.Pada perkembangan selanjutnya, wanita menjadi ceruk konsumen yang dipandang oleh penerbit sebagai sebuah sasaran yang tepat—seiring dengan berkembangnya pasar Islami wanita—untuk meraih orientasi profit atau bisnis mereka. Hal ini lah yang lalu memunculkan sebuah terjemah al-Qur’an jenis baru yang termasuk dalam improvisasi serta inovasi dari penerbit, yakni Terjemah al-Qur’an Wanita (TQW), yang salah satunya adalah objek material penelitian ini yaitu Aliyah: Al-Qur’an, Terjemah, dan Tafsir Mushaf Wanita. Dengan fakta bahwa Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an hanya mengoreksi teks al-Qur’an dan terjemahnya saja, besar kemungkinan bahwa penerbit (publisher), termasuk penerbit dari terjemah al-Qur’an yang diteliti, menjadikan improvisasi dan inovasi di atas sebagai ajang penyisipan ideologi tertentu.Skripsi ini bertujuan untuk mengabstraksikan improvisasi dan inovasi yang didapati dalam Aliyah: Al-Qur’an, Terjemah, dan Tafsir Mushaf Wanita. Di samping itu, skripsi ini juga bertujuan untuk mengungkap konstruksi pemahaman Islam yang dibangun dalam terjemah al-Qur’an tersebut. Jenis metode penelitian yang digunakan dalam skirpsi ini adalah metode library research (penelitian kepustakaan). Kesimpulan dari penelitian ini adalah, bahwa improvisasi dan inovasi yang didapati dari terjemah al-Qur’an tersebut mencakup dua bagian, yakni: tampilan fisik (Physical Appearance) dan komponen atau teks-teks tambahan (additional component or text). Sedangkan pemahaman Islam yang dibangun dalam terjemah al-Qur’an ini adalah pemahaman Islam yang konservatif-fundamentalis. Hal ini dikuatkan dengan ditemukannya hadis-hadis patriarkis dan misoginis dalam teks-teks tambahan terjemah al-Qur’an tersebut. Selain itu, teks-teks tambahan dalam terjemah al-Qur’an ini juga disandarkan pada hadis-hadis nabi serta pendapat ulama salaf atau klasik tanpa adanya upaya untuk mengkontekstualisasikan dan mereinterpretasikan hadis maupun pendapat tersebut, sehingga hal ini mengindikasikan bahwa pembacaan teks oleh penerbit dilakukan secara literal atau tekstua
Politik Seksual dalam Tafsir al-Qur\u27an tentang Sejarah Homoseksualitas
Homophobic bias has been existing in tafsir literature, ranging from its very early works to the most recent ones. Among the aspects in which such a bias appears is that relating to the history of homosexuality. Al-A’rāf ([7]: 80) and al-‘Ankabūt ([29]: 28) are the only verses that talk about the aspect. Rather than following the mainstream tafsir denying the historicity of homosexuality, this article elaborates al-Rāzī’s alternative interpretation on the two verses and comes up with an argument that homosexuality might historically exist even before the lifetime of Lot and his people. Emphasizing on linguistic and literary analysis on the words sabaqa, bi, and fahisya, it finds strong foundations on which the argument is relying. Further, the article finds that it is the sexual politics that brings about the homophobic bias into Qur’an tafsir. The very kind of politics expels homosexuality from the so- called ‘normal’ life
