243 research outputs found

    PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA POWER POINT DALAM PEMBELAJARAN BUKU METODE 33 BERBASIS TEKS TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA ARAB SISWA KELAS 1 ULA MADRASAH DINIYAH AL-IMDAD PAJANGAN BANTUL YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2020/2021

    No full text
    Muhammad Jazilunnawal, Pengaruh Penggunaan Media Power Point Dalam Pembelajaran Buku Metode 33 Berbasis Teks Terhadap Hasil Belajar Bahasa Arab Siswa Kelas 1 Ula Madrasah Diniyah Al-Imdad Pajangan Bantul Yogyakarta Tahun Ajaran 2020/2021. Skripsi. Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2022. Penelitian ini di latar belakangi kurangnya daya tarik siswa dalam mempelajari kitab kuning, terutama yang tidak menggunakan harokat. Karena itu, diperlukan adanya inovasi bagi guru khususnya yang mengajar buku metode 33 berbasis teks ini agar tidak membosankan, sehingga dalam proses pembelajaran bisa lebih menyenangkan. Maka dalam penelitian ini peneliti membuat inovasi dengan media power point, peneliti berharap dengan adanya inovasi ini bisa meningkatkan hasil belajar bahasa arab siswa khususnya kelas 1 Ula Madrasah Diniyah Al-Imdad. Peneliti menggunakan desain penelitian pre-test dan post-test control group design. Peneliti melakukan penelitian ini di Madrasah Diniyah Al-Imdad Pajangan Bantul Yogyakarta dengan teknik pengambilan sampel random sampling. Peneliti menggunakan kelas 1 Ula A sebagai kelas eksperimen yang akan diberikan pembelajaran menggunakan media Power Point. Sedangkan kelas 1 Ula B sebagai kelas control yang akan menggunakan pembelajaran klasikal. Berdasarkan hasil uji hipotesis yang dilakukan melalui uji Independent Sample T Test dikelas control dan kelas ekperimen, didapatkan hasil nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05. Oleh sebab itu sebagaimana nilai dasar pengambilan uji Independent Sample T Test dapat disimpulkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan demikian terdapat pengaruh penggunaan media power point dalam pembelajaran buku metode 33 berbasis teks dengan pembelajaran buku metode 33 berbasis teks yang menggunakan metode klasikal. Karena terdapat perbedaan yang signifikan maka hipotesis penelitian dapat terjawab “adanya pengaruh positif penggunaan media power point xvii dalam pembelajaran buku metode 33 berbasis teks terhadap hasil belajar bahasa Arab siswa kelas 1 Ula Madrasah Diniyah Al-Imdad Pajangan Bantul Yogyakarta tahun ajaran 2020/2021

    PEMBACAAN SURAT AL-FATIHAH DALAM TRADISI MUJAHADAH MALAM JUM’AT: Studi Living Qur’an di PP Al-Imdad II Pajangan Bantul

    No full text
    Penelitian yang berjudul Pembacaan Surat Al-Fatihah Dalam Tradisi Mujahadah Malam Jum’at: Studi Living Qur’an Di PP Al-Imdad II Pajangan Bantul ini merupakan jenis penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, dan dengan pendekatan etnografi. Adapun teknik pengumpulan data yang penulis lakukan adalah melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber dalam peneltian ini meliputi pengasuh, santri-santri PP Al-Imdad II, pembimbing santri, pengurus, para alumni, dan data-data pesantren. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana sejarah dan praktik pembacaan Surat Al-Fatihah dalam kegiatan Mujahadah Malam Jum’at di PP Al-Imdad II Guwosari, Pajangan, Bantul?, dan apa makna dan resepsi pembacaan Surat Al-Fatih{ah dalam kegiatan mujahadah di pondok pesantren tersebut?. Untuk mendaptkan jawaban dari rumusan masalah tersebut penulis mengunakan terori milik Karl Mannheim yakni Sociology of Knowledge (Sosiologi Pengetahuan). Prinsip dasar dari sosiologi pengetahuan Karl Mannheim adalah bahwa tindakan manusia dibentuk oleh dua dimensi yakni perilaku (behaviour) dan makna (meaning). Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis pada Pembacaan Surah Al-Fatihah dalam Tradisi Mujahadah Malam Jum’at di PP Al-Imdad II Guwosari Pajangan Bantul menunjukan bahwa terdapat tiga aspek makna yakni : 1) Makna Objektif, Al-Fatihah bisa digunakan untuk segala macam hajat. Karena Al-Fatihatu li ma quriat lah, 2) Makna Ekspresif, ada dua makna ekspresif yang terintegrasikan dari pembacaan Al-Fatihah dalam Mujahadah Malam Jum’at di Pondok Pesantren Al-Imdad II ini. Yang pertama adalah bahwa pembacaan Al- Fa>tih{ah itu merupakan suatu bentuk ketaatan para santri kepada gurunya. Adapun makna ekspresif yang kedua ialah bahwa pembacaan Al-Fatihah tersebut merupakan suatu bentuk itba’ kepada guru Kiai Habib di Krapyak, yakni K.H. Ali Maksum. 3) Makna Dokumenter, adalah telah tertanam doktrin dalam benak para peserta bahwa Al-Fatihah li ma quriat. Karena penjelasan tersebut berulang kali dituturkan oleh Kiai Habib sebelum pelaksanaan mujahadah

    Transitivity Analysis of ‘The Old Building’ by Imdad Hussein: A Corpus-Based Study

    No full text
    This study is based on the detailed analysis of the poem ‘The Old Building’ by Pakistani poet Imdad Hussein. This article proposes a thorough analysis of ideational metafunction under transitivity analysis. For this purpose, UAM tool was used for Transitivity analysis includes different processes and through these items, we can put a stance on any context with verb to subject and these processes involve six kinds: material process, mental process, behavioral processes, relational process, verbal process and weathering. This paper investigates the relationship between linguistic structures and its meaning in the literary poem through ideational metafunction, based on Gerot-Wignell (1994) and Halliday's (1995) models of transitivity

    Menjajaki Kemungkinan Islamisasi Sosiologi Pengetahuan

    No full text
    In the discussion of epistemology, the study of objectivity led to the disciplines of sociology. The principal thesis of the sociology is that there are modes of thought which cannot be adequately understood as long as their social origins are obscure. In its association with the project of Islamization of contemporary knowledge initiated by Syed Muhammad Naquib al-Attas, sociology turns out supporting one of the basic assumptions of this project; whereas science has their own value (value laden). In al Attas’s view, science has worldview, intellectual vision, and psychological perception which play a key role in interpretation, formula, and deployment of knowledge understood in perspective of certain civilization. It means, any knowledge that is read and then developed by particular civilization, will be loaded with values constituted that civilization. When we get that sociology came from Western civilization could not be separated from the burden of civilization accompanying it, worldview approach will be most appropriate to trace back and explain Islamization of sociology of knowledge. One of figures that has a close view with sociology of knowledge is Karl Mannheim, with his theory of Relationism. Mannheim’s keywords are ideology in the form of concept born from political conflict, and the utopia which is the opposite of the ideology mentioned in the form of intellectually oppressed group who wanted social change. This paper is going to elaborate possibilities of Islamization of sociology, the theory of Relationism presented by Karl Mannheim. This study concludes that Relationism is same with relativism and different from Islamic worldview conceptually

    منهج محمد شحرور في دراسة القرآن

    No full text
    Penelitian sederllana ini bertujuan untuk memaparlmn metode Mnhammad Sbabrur dalam stndi Al-Qur'an dengan menelisik pondasi yang menjadi landasanny,, dalam stndi Al-Qur'an, untuk kemudian mengevaluasinya dengan worldview Islam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah: metode hisloris, untuk memaparkan biogrofi Muhammad Sbabrur dan bal lain yang terkait dan relevan; metode deskriptif-analitis, untuk mendeskripsikan pemikirannya dalam studi Al-Qm'an, menganalisis, dan menyimpnlkan darinya; metode kritis-nonnatif, untuk mengkritisi pemikirannya dengan perspektif worldview Islam. Setelah menyelesaikan penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa worldview Muhammad Sbabrur adalah worldview materialis-Marxis dengan sedikit tambahan llDSUr pemikiran lain. Studi Al-Qw'an yang dilakukannya sangat dipengarubi oleh worldview ini, dari sisi metodologi maupun kesimpulan. Dia mengesampingkan semua pemikiran yang menghalangi aplikasi pendekatan materialistik ini dalam studi Al-Qur'an, apa yang disebntnya sebagai al-tmats. Dengan menggunakan tafsirul Qur'an bi/ Qur'an sebagai tameng, dia menggunakan apa yang disebntnya sebagai perkemhangan :lilsafut dan ilmu pengetahuan kontemporer, dengan memaksakan pemikiran-pemikiran itu terlladap Al-Qur'an. Dengan demikian, Wacana Kontemporernya (Qlra'ah Muashirah) sebenamya adalah wacana materialis atas Al-Qm'an, atau, lebih tepat lagi, doktrinasi materialisme dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qm'an. Metode Muhammad Shahrur dalam studi Al-Qur'an adalab metode selektif yang didasarl<an pada kesesnaian pada dasar-dasar Materialisme. Akhimya, seraya mengakui kekurangan dan k(,ndakmampuan untuk melakukan penelitian ini sebaik-baiknya, penulis mengharap agar penelitian selanjntnya yang bersifut kritis terhadap pemikiran liberal khusnsnya, di1akukan dengan pendekatan worldview, karena pendekatan ini memudahkan seornng peneliti nntuk menyingkap dasar-<lasar yang menjadi landasan pemikiran hlleral

    مفهموم التوحيد عند الأشعري وابن تيمية في ضوء أهل السنة والجماعة

    No full text
    ABSTRAK Konsep Tauhid menurut al-Asy'ari dan Ibn Taymiyyah dalam Ahlus Sunnah wal Jama'ah Muhammad Imdad 33.21.65 Konsep tauhid memegang peran penting dalam wacana kalam. Jika di masa Abbasiyah perdebatan terjadi antara Mu'tazilah yang mengkaji persoalan-persoalan Kalam dengan pendekatan rasional dan mayoritas umat Islam yang waktu itu direpsentasikan oleh al-Asy'ari yang menggabungkan naql dan akal, perang wacana yang terjadi dalam wacana Kalam kontemporer terjadi antara dua aliran yang sama-sama menyebut diri sebagai Ahlus Sunnah wal Jama'ah, dalam persoalan yang sama. Sekalipun kedua aliran ini sama-sama menyebut diri sebagai Ahlus Sunnah wal Jama'ah, orang-orang yang terlibat dalam perdebatan ini seringkali mengabaikan etika perbedaan pendapat. Banyak diantara mereka yang tidak segan-segan menganggap orang lain yang tidak sependapat dengannya dalam masalah ini telah keluar dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Bahkan, sebagian diantaranya sampai berani mengkafirkan orang lain yang punya pandangan berbeda, padahal Ahlus Sunnah wal Jama'ah dicirikan dengan berpegang teguh terhadap pokok-pokok Islam (al-ushul) dan menghormati pendapat lain bila terdapat perbedaan cara pandang dalam cabang-cabang agama (al-furu'). Anarkisme sosial relijius ini- jika boleh disebut demikian-disebabkan oleh dua faktor. Pertama adalah sentralitas yang dimainkan oleh konsep tauhid dalam kehidupan umat Islam kontemporer. Kedua lalai atau kurang perhatian terhadap cara dan sikap ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah ketika berbeda pendapat dalam persoalan-persoalan yang di dalamnya tidak terdapat teks absolut (nash qath'iy) yang tidak memungkinkan interpretasi lain. Dalam hal ini terdapat signifikansi penelitian tentang konsep tauhid menurut al-Asy'ari dan Ibn Taymiyyah, karena keduanya adalah rujukan bagi kedua belah pihak yang sedang berdebat dan berdiskusi satu sama lain, untuk mencapai kesepahaman dan kedekatan diantara para pengikut Ahlus Sunnah wal Jama'ah melalui pembacaan terhadap pemikiran keduanya. Penelitian sederhana ini bertujuan untuk memaparkan konsep tauhid menurut al-Asy'ari dan Ibn Taymiyyah dalam kerangka kesatuan akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, artinya keduanya dipandang sebagai tokoh yang merepresentasikan mayoritas umat Islam ini. Hal ini dilakukan dengan terlebih dahulu menelisik secara umum konsep Ahlus Sunnah wal Jama'ah untuk kemudian dijadikan tolok ukur dalam evaluasi keduanya dalam konsep Tauhid dan juga bangunan metodologis keduanya dalam kajian akidah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif perbandingan kritis. Penulis berusaha mendeskripsikan konsep tauhid menurut al-Asy'ari dan Ibn Taymiyyah dan membandingkannya untuk menggali titik persamaan dan perbedaannya dengan tujuan menimbang dan mengevaluasi pemikiran keduanya dalam standar Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Setelah menyelesaikan penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa perbedaan yang ada diantara keduanya, dalam konsep tauhid dan dalam pendekatan metodologis dalam kajian akidah, tidak lah sebesar yang selama ini dibayangkan sementara kalangan. Hal ini berarti bahwa perbedaan yang ada tidak sampai mengeluarkan keduanya dari payung Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Dalam persoalan tauhid, misalnya, keduanya tidak menyimpang dari apa yang telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Keduanya mengafirmasi bahwa Allah swt Maha Esa tidak ada yang meyerupai-Nya dalam Sifat dan Asma-Nya, tidak ada yang membantu-Nya dalam ciptaan dan pengaturan-Nya. Keduanya juga sepakat tentang kemahaesaan Allah swt dalam seluruh sifat-Nya dan seluruh perbuatan-Nya, yaitu seluruh ciptaan-Nya. Perbedaan yang ada diantara keduanya dalam masalah akidah adalah perbedaan yang terjadi dalam furu' al-'aqidah-dalam pengertian yang disampaikan dalam penelitian ini. Perbedaan keduanya terjadi dalam pembagian tauhid. Al-Asy'ari dan pengikutnya membaginya menjadi tauhid dzat, shifat, dan af al, sedangkan Ibn Taymiyyah menjadi uluhiyyah, rububiyah dan asma wa shifat. Namun perbedaan keduanya adalah perbedaan dalam penjelasan, bukan dalam esensi tauhid itu sendiri yang disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Akhirnya, seraya mengakui kekurangan dan ketidakmampuan untuk melakukan penelitian ini sebaik-baiknya, penulis mengharap agar penelitian selanjutnya tentang akidah al-Asy'ari dan Ibn Taymiyyah-dan tokoh Ahlus Sunnah yang lain-dilakukan dalam kerangka kesatuan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, bukan dalam rangka mengeluarkan tokoh yang dikaji dari golongan mayoritas umat Islam ini, dengan menunjukkan titik-titik persamaan keduanya, dengan melihat keduanya dalam perspektif kesatuan ushul al-Islam-sebagaimana yang telah dibicarakan dalam penelitian ini.Tentu saja hal ini tidak boleh mengorbankan kekritisan ilmiah yang harus ada pada setiap penelitian akademik, dengan menganalisis, menimbang dan mengevaluasi perbedaan-perbedaan ijtihad keduanya

    Some new diagnostics of multicollinearity in linear regression model

    No full text
    The problem of multicollinearity compromises the numerical stability of the regression coefficient estimate and cause some serious problem in validation and interpretation of the model. In this paper, we propose two new collinearity diagnostics for the detection of collinearity among regressors, based on coefficient of determination and adjusted coefficient of determination from auxiliary regression of regressors. A Monte Carlo simulation study has been conducted to compare the existing and proposed collinearity diagnostic tests. Comparison of diagnostics on some existing collinear data are also made

    امداد الفتاویٰ میں قواعد و ضوابط فقہیہ سے استدلال کے مناہج (ایک تحقیقی جائزہ): METHODOLOGIES OF LEGAL ARGUMENTATION BASED ON FIQHI PRINCIPLES IN IMDAD AL-FATAWA: A RESEARCH REVIEW

    No full text
    This research critically examines the methodologies employed for legal argumentation within the esteemed Islamic legal compendium "Imdad Al-Fatawa," with a particular emphasis on its intricate engagement with Fiqh principles. While elucidating the distinct approaches found in "Qawaid-e- Fiqhiya," the study conducts a comprehensive comparative analysis, shedding light on the nuanced jurisprudential reasoning encapsulated in these revered works. &nbsp; The investigation extends its focus to the contemporary relevance of "Imdad Al-Fatawa," especially in addressing financial transactions within the context of "Kitab al-Buyu' wa Ma'amalat Maliyah." By dissecting specific rulings and scrutinizing their applications, this research contributes to a profound understanding of Fiqh principles and their adaptability to modern challenges. &nbsp; Importantly, this article serves as a valuable resource for scholars and practitioners seeking insights into the dynamics of legal argumentation in Islamic jurisprudence. Through a meticulous exploration of Fiqh principles and their practical applications, the research enriches the scholarly discourse surrounding "Imdad Al-Fatawa" and its role in contemporary Islamic legal though

    حضرت حاجی امداد اللہ مہاجرمکیؒ اورمسلکی ہم آہنگی: 'فیصلہ ہفت مسئلہ' کے خصوصی حوالے سے ایک مطالعہ /Haji Imdad Allah Muhajir Makki and Intra- Islam Harmony: An Analytical Study with Special Reference to the Treatise Faisalah-i Haft Mas'alah (A Resolution of the Seven Controversies

    No full text
    This paper deals with the Sufi shaykh Haji Imdad Allah Muhajir Makki's (1817-1899) efforts for conciliation of different strands of Muslim religious thought in the late nineteenth century with particular reference to his main work on this theme-a short treatise titled Faisalah-i Haft Mas'alah (literally: A Resolution of the Seven Controversies). After an exposition of his hermeneutics of conciliation, it is opined that his teachings in this regard bear universal significance, and thus these can be helpful for our times

    PENAFSIRAN Q.S. AL-BAQARAH [2]: 40-43 PERSPEKTIF MAʻNA-CUM-MAGHZA

    No full text
    Bani Israil menjadi salah satu pembahasan utama al-Qur’an dan kisahnya seringkali didapati di dalamnya. Salah satu kelompok ayat berkenaan dengan Bani Israil adalah Q.S. al-Baqarah [2]: 40-43. Dalam kelompok ayat tersebut, Allah berkomunikasi melalui al-Qur’an dengan Bani Israil dan sekaligus merespon realitas keingkaran mereka terhadap al-Qur’an dan Nabi Muhammad Saw. Sayangnya, beberapa penafsiran yang telah dilakukan oleh para ulama terhadap kelompok ayat ini masih bersifat normatif (seperti perintah untuk beriman, menunaikan shalat dan membayar zakat) dan reduktif (hanya terbatas pada kisah-kisah Bani Israil). Bahkan, beberapa kitab tafsir seperti Tafsir al-Ṭabari dan Ibn Kasir mengutip riwayat-riwayat tentang perdebatan keabsahan menerima upah atas pengajaran al-Qur’an dalam menafsirkan potongan ayat wa lā tasytarū bi āyāti samanan qalilan pada Q.S. al-Baqarah [2]: 41. Perdebatan ini, dalam perkembangannya, justru dijadikan dalil oleh para ulama untuk melarang aktivitas pertukaran (komodifikasi) al-Qur’an dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Wasiat KH. Munawwir misalnya, beliau melarang santrinya mengikuti Lomba Musabaqah Hifdzil Qur’an karena dianggap telah menukarkan ayat Allah dengan sesuatu yang bersifat duniawi, yaitu hadiah berupa uang, beasiswa maupun lain sebagainya. Penafsiran seperti ini, menurut penulis, hanya akan mereduksi dan menyempitkan makna kelompok ayat tersebut. Oleh karenanya, perlu kajian dan penelitian yang lebih mendalam tentang kelompok ayat Q.S. al-Baqarah [2]: 40-43. Sehingga diharapkan akan didapatkan makna (signifikansi) serta hikmah diturunkannya kelompok ayat ini agar al-Qur’an selalu relevan (ṣālih) dalam ruang dan waktu apapun. Dalam upaya penggalian makna yang dimaksud, penulis menganalisis kelompok ayat ini dengan pendekatan Maʻnā-cum-Maghzā, yang digagas oleh Sahiron Syamsuddin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka (library research) dan diwaktu yang bersamaan bersifat analisis-kritis melalui pendekatan maʻnā-cum-maghzā. Pendekatan maʻnā-cum-maghzā mencakup beberapa langkah analisis-kritis, yaitu: pertama, penggalian makna historis (al-maʻna al-tārikhi) ketika kelompok ayat tersebut diturunkan di masa Nabi Muhammad. Langkah ini akan menyajikan analisis linguistik, intratekstual, intertekstual dan analisis konteks historis mikro maupun makro kelompok ayat. Setelah mendapat makna historis tersebut maka langka kedua adalah penggalian signifikansi fenomenal historis (al-maghzā al-tārikhi). Langkah terakhir adalah upaya pengembangan signifikansi fenomenal historis dengan mengkontekstualisasikannya ke dalam konteks kekinian yang diistilahkan dengan analisis signifikansi fenomenal dinamis (al-Maghzā al-Mutaḥarrik al-Muʻāṣir). Hasil penelitian yang didapatkan oleh penulis adalah: pertama, makna historis Q.S. al-Baqarah [40-43] yaitu perintah Allah kepada Bani Israil untuk mengingat-ingat kenikmatan dan anugrah yang telah diberikan kepada mereka dan leluhur mereka; xiv perintah Allah agar Bani Israil beriman kepada al-Qur’an dan Nabi Muhammad Saw.; larangan menukarkan keimanan dengan hal-hal duniawi (samanan qalilan); larangan menyebarkan kebohongan dan menyembunyikan sifat-sifat Nabi Muhammad yang telah tertera dalam kitab mereka, Taurat; perintah untuk melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan menta’ati syari’at Allah. Kedua, signifikansi historis kelompok ayat ini adalah seruan untuk mengimani kebenaran yang didasarkan pada bukti dan keterangan historis; perintah untuk memenuhi perjanjian yang telah terjalin; Larangan menjadikan kekuasaan untuk meraup kepentingan kelompok atau personal dengan cara menyebarkan hoaks dan propaganda kepada umatnya; Perintah untuk menjadi manusia yang saleh ritual dan saleh sosial sebagai bukti serta konsekuensi keimanan seseorang. Sedangkan, signifikansi fenomenal dinamis kelompok ayat ini diklasifikasikan menjadi lima aspek, yaitu: pertama, aspek seni berkomunikasi: komunikasi persuasif dalam berdakwah; kedua, aspek etika penguasa: larangan menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk meraup keuntungan pribadi atau golongan tertentu; ketiga, aspek mediatisasi: larangan menyebarkan hoaks dan propaganda dalam bermedia sosial; keempat, aspek etika sosial: perintah memenuhi dan menetapi janji; kelima, aspek sosial: perintah menjadi pribadi yang saleh ritual dan saleh sosial
    corecore