4 research outputs found

    Revitalisasi Penafsiran Al-Qur`an Berbasis Media Sosial: Analisis Konten pada Akun Instagram @tafsiralquran.id Perspektif Teori Difusi Inovasi

    No full text
    In the digital era, the interpretation of the Quran has undergone significant changes, especially due to technological advancements. This study aims to analyze the content patterns and interpretive approaches used by the Instagram account @tafsiralquran.id, as well as explore the account's effectiveness in disseminating Qur'anic interpretations. Content analysis of uploaded posts using a qualitative approach was employed as the research method. The primary data source for this study is the content from the @tafsiralquran.id account, including images, videos, and podcasts. Secondary data comes from related literature. The theory used is Rogers's diffusion of innovations theory. The results show that the account uses three main interpretation patterns: thematic interpretation, a contextual approach, and a comparative analysis of classical and contemporary mufassirs. The account has attracted 15.2 million followers by using interactive content with simple language. Its main sources of interpretation refer to renowned books of tafsir, such as Tafsir At-Tabari, Ibn Katsir, and Maraghi. This study concludes that revitalizing Qur'anic interpretation through social media effectively brings people closer to the Qur'an's teachings in line with technological developments. These results emphasize the need for effective strategies and collaboration with exegetes to ensure accountability for uploaded Qur'anic interpretations

    Analisis Manajemen Pendidikan Multi Jenjang Sebagai Inovasi Manajemen Pendidikan Pesantren Di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi

    No full text
    Pendidikan multi jenjang adalah sistem penyelenggaraan pendidikan dimana berbagai tingkatan pendidikan diselenggarakan secara bersamaan dan terorganisir dalam satu lingkungan sebagai inovasi manajemen pendidikan. Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi menjadi contoh nyata keberhasilan pelaksanaan pendidikan multi jenjang dalam satu manajemen yang terpusat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terkait dokumen yang berkaitan dengan topik penelitian. Pendekatan ini dipilih dengan tujuan untuk memahami secara mendalam pelaksanaan pendidikan multi jenjang di pesantren sebagai inovasi dalam manajemen pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan multi jenjang di pesantren ini diterapkan secara bertahap sebagai solusi atas kebutuhan pendidikan masyarakat dan alumni. Terdapat berbagai unit pendidikan yang lengkap, mulai dari RA/PAUD, MI, MTs, MA, SMP, SMA, SMK, hingga perguruan tinggi (S1). Keberhasilan pelaksanaan manajemen ini didukung oleh peran kuat pimpinan pesantren, hubungan baik dengan masyarakat, alumni, dan pemerintah, serta tenaga pendidik yang kompeten. Meskipun demikian, terdapat faktor penghambat terkait keterbatasan sarana dan prasarana akibat meningkatnya jumlah santri setiap tahunnya. Namun, pesantren terus melakukan upaya pembangunan dan pengembangan untuk mengatasi hal tersebut. Pelaksanaan pendidikan multi jenjang di Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi merupakan bentuk inovasi manajemen pendidikan Islam yang patut dicontoh dalam mengembangkan pendidikan Islam yang efektif, holistik, dan berkelanjuta

    Implementasi pelatihan berpikir kritis dalam pembelajaran di sekolah dasar

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pelatihan berpikir kritis dalam pembelajaran pecahan setengah dan seperempat untuk siswa kelas dua sekolah dasar. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini dilakukan dengan 20 siswa melalui observasi, dokumentasi, dan analisis aktivitas pembelajaran kelompok dan individu. Proses pembelajaran mengintegrasikan media visual konkret dan diskusi kelompok kolaboratif untuk merangsang indikator berpikir kritis seperti interpretasi, analisis, penalaran, dan penjelasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa aktif berpartisipasi dalam mengidentifikasi representasi pecahan dan mendiskusikan solusi dengan teman sebaya. Aktivitas kelompok mendukung pengembangan keterampilan penalaran; Namun, beberapa siswa masih belum mampu memberikan justifikasi independen untuk jawaban mereka. Hasil tes individu menunjukkan tingkat penguasaan yang beragam, dengan kurang dari setengah siswa memenuhi standar kompetensi minimum, menunjukkan bahwa pelatihan yang konsisten diperlukan untuk pengembangan berpikir kritis yang optimal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun strategi pembelajaran yang diterapkan mendorong keterlibatan siswa dan menumbuhkan kemampuan berpikir kritis awal, intervensi pembelajaran yang berkelanjutan dan terstruktur diperlukan untuk memperkuat keterampilan analitis mandiri siswa.Kata kunci: berpikir kritis, matematika dasar, pecahan, pembelajaran kolaboratif.     

    PELATIHAN SOFTWARE RHINOCEROS DAN MAXSURF UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI DESAIN 3D PENGRAJIN KAPAL TRADISIONAL DI PESISIR PEKALONGAN

    No full text
    ABSTRAKKota Pekalongan terletak di pantai utara Jawa Tengah dimana wilayah pesisir utara ini terdapat potensi yang dapat dikembangkan menjadi aset yang berharga bagi bangsa yaitu para pembuat kapal tradisional. Dalam pelaksanaannya, baik tipe ataupun bentuk kapal yang dibangun, berdasarkan pengalaman kapal-kapal yang pernah dibuat sebelumnya, tanpa melalui perhitungan dan penggambaran terlebih dahulu, sehingga dalam beberapa kasus terhadap pesanan kapal yang berbeda bentuknya, maka pengrajin ini akan mengalami kesulitan. Minimnya pengetahuan tentang gambar teknik juga menyebabkan para pengrajin kapal tradisional tidak dapat menggambar lambung kapal mereka. Hal ini menyebabkan perlunya sosialisasi mengenai teknologi perkapalan kepada pengrajin kapal di Kota Pekalongan terutama dibidang rancang bangun (design) dan konstruksi kapal agar terdapat standar baku mengenai konstruksi kapal kayu yang sesuai dengan standar yang ada seperti Biro Klasifikasi Indonesia (BKI). Pelatihan dilakukan dengan metode presentasi, demonstrasi, serta praktik langsung. Untuk mengukur pencapaian maka dilakukan pretest dan posttest yang dilakukan sebelum dan sesudah pelatihan. Hasil kuesioner menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta pelatihan desain kapal. Sebelum dilakukan pelatihan, rata-rata pengetahuan peserta sebesar 26% dalam memahami desain kapal dan 33% dalam memahami analisa tahanan kapal, kemudian mengalami peningkatan menjadi rata-rata sebesar 76% untuk pemahaman desain kapal dan 77% untuk analisa tahanan kapal setelah diberi pelatihan. Kata kunci: desain; pengrajin; kapal kayu; karakteristik kapal ABSTRACTThe city of Pekalongan is located on the north coast of Central Java where there is potential for this northern coastal region to be developed into a valuable asset for the nation, namely traditional shipbuilders. In practice, both the type and shape of the ship built, based on the experience of ships that have been made before, without going through calculations and drawings beforehand, so that in some cases orders for ships with different shapes, these craftsmen will experience difficulties. The lack of knowledge about technical drawings also causes traditional shipbuilders to be unable to draw their hulls. This causes the need for socialization regarding shipping technology to ship craftsmen in Pekalongan City, especially in the field of ship design and construction so that there are standard standards regarding wooden ship construction in accordance with existing standards such as the Indonesian Classification Bureau (BKI). The training is carried out using presentation methods, demonstrations, and hands-on practice. To measure achievement, a questionnaire was filled out before and after the training. The results of the questionnaire showed an increase in the knowledge of ship design training participants. Before the training, the average knowledge of the participants was 26% in understanding ship design and 33% in understanding ship resistance analysis, then increased to an average of 76% for understanding ship design and 77% for ship resistance analysis after being given training. Keywords: design; craftsmen; wooden ships; ship characteristic
    corecore