16 research outputs found

    Metode bimbingan agama Maulana Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya dalam menumbuhkan bela negara

    No full text
    Bela negara merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap warga negara. Semangat bela negara perlu terus dibina sehingga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap terjaga. Sikap bela negara sangat bermanfaat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Manfaat tersebut diantaranya negara akan aman dan damai, pembangunan negara dapat berjalan lancar dan pendapatan negara akan meningkat. Untuk menumbuhkan bela negara tersebut di butuhkan bimbingan agama dengan menggunakan metode yang khusus pula. Agar masyarakat terbimbing dapat memahami esensi dari bela negara. Sehingga pada gilirannya akan tumbuh semangat dan sikap dalam membangun negara. Dari sekian banyak ulama-ulama yang berperan menumbuhkan sikap bela negara, Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya merupakan salah satu ulama yang mendidikasikan kehidupannya dalam membimbing dan membina bangsa ini dengan kemampuan dan keilmuan serta dunia pendidikan yang dimilikinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang metode bimbingan agama Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dalam menumbuhkan bela negara. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan penelitian kualitatif. Adapun pengumpulan data penelitiannya dilakukan dengan wawancara dan observasi yang diperoleh langsung dari sasaran penelitian berupa catatan, rekaman dan data-data dari sumber yang terkait dengan penelitian. Penelitian ini dilakukan di berbagai kota dan daerah di Indonesia. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode bimbingan agama yang dilakukan Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya yang diberikan kepada WNI dalam menumbuhkan bela negara, yaitu dengan metode langsung dan tidak langsung. Pertama, metode langsung seperti: metode individu dan metode kelompok. Pendekatan kelompok yang dilakukan menggunakan beberapa teknik, yakni metode ceramah, metode tanya jawab, metode cerita sejarah dan metode menyanyikan lagu. Kedua, metode tidak langsung dalam hal ini Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya memberikan keteladanan yang baik serta melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menumbuhkan bela negara kepada WNI seperti kegiatan: Kirab Merah Putih, Kirab Panjang Jimat, daftar ilmiah, radio dan sosial internet

    Pengajian Tasawuf K.H.Muhammad Ridwan Baseri Di Majelis Taklim Al-Hidayah Desa Kapuh Kecamatan Simpur Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Telaah Karisma Dan Tasawuf Modern)

    Full text link
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya ulama yang ada di Indonesia, baik itu yang ada di provinsi-provinsinya, seperti Provinsi Kalimantan Selatan. Di provinsi ini terdapat begitu banyak ulama, tidak hanya di daerah kota, tapi di daerah pedesaan juga ada. Kabupaten Hulu Sungai Selatan merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan. Di kabupaten ini terdapat ulama yang bernamaK.H. Muhammad Ridwan Baseri, bertempat tinggal di Desa Kapuh Kecamatan Simpur. Masyarakatsangat mengenal dengan sosok K.H. Muhammad Ridwan Baseri yang populer dengan sebutan Guru Ridwan atau Guru Kapuh, karena beliau merupakan salah satu ulama kharismatik di Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang juga memiliki banyak memiliki jama’ah dan majelis pengajian yang cukup besar, termasuk pengajian tasawuf. Hal inilah yang menjadi pokok permasalahan yang diteliti oleh penulis yaitu tentang sosok Guru Ridwan dilihat dari latarbelakang kehidupannya, kesan para habib, ulama, pejabat, dan masyarakat umum untuk membenarkan kekarismatikan Guru Ridwan, dan juga tentang pengajian tasawuf yang diajarkannya di zaman modern ini. Jadi pokok permasalahan yang diteliti penulis adalah bagaimana pengajian tasawufK.H. Muhammad Ridwan Baseridi Majelis Taklim Al-Hidayah Desa Kapuh Kecamatan Simpur Kabupaten Hulu Sungai Selatan, bagaimana karisma K.H. Muhammad Ridwan Baseri dan bagaimana tasawuf yang diajarkanK.H. Muhammad Ridwan Baseri dalam konteks modern. Bentuk penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode deskriptif analistis dan menggunakan pendekatan sosiologis yang merujuk kepada aspek behavioral yang dilaksanakan di Majelis Taklim Al-Hidayah yang terletak di desa Kapuh Kecamatan Simpur Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sumberdatanya adalah Guru Ridwan sebagai responden, dan masyarakat umum sebagai informan. Guru Ridwan merupakan seorang ulama karismatik yang ada di Desa Kapuh Kecamatan Simpur Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan. Hal ini dinilai dari riwayat kehidupan ia hingga sekarang yang merupakan keturunan Datu Kalampayan, dan riwayat pendidikannya yang berlatarbelakang pesantren. Ia pernah belajar dari Guru Sekumpul yang juga merupakan ulama karismatik di Kalimantan Selatan. Kekarismatikan itu dibenarkan dengan adanya pengakuan dari pengikut atau jama’ah, dan itu terjadi pada sosok Guru Ridwan dengan banyaknya jama’ah yang hadir dipengajiannya baik laki-laki atau perempuan, muda ataupun tua, serta kesan dari para habib, ulama, pejabat, dan masyarakat umum. Guru Ridwan memiliki watak kesufian yanga sangat kental dalam kehidupannya walaupun di zaman yang modern sekarang ini, ia termasuk ulama yang juga mempunyai beberapa usaha dan mengelola beberapa sekolah yang tidak hanya berbasis pendidikan agama tapi juga pendidikan umum. Dalam pengajiannya ia menjelaskan pembahasan yang ada dalam kitab tasawuf sesuai dengan konteks sekarang,walaupun yang diajarkan adalah kitab klasik tapi dikemas dengan konsep modern, seperti memberikan contoh mahabbah dengan percintaan zaman sekarang, bertawakal dalam mencari rezeki dengan jalan usaha walaupun hanya sebagai formalitas, zuhud bukan berarti meninggalkan kenikmatan dunia tetapi menjadikan dunia sebagai jalan untuk beribadah. Pengajiannya di era modern ini sudah memasuki dunia digital (internet) berupa media Facebook dan Youtube

    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS ADOBE FLASH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA KELAS V DI MI ROUDLOTUT THOLIBIN KABUPATEN TULUNGAGUNG

    Full text link
    Tesis dengan judul “Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Adobe Flash untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Kelas V di MI Roudlotut Tholibin Kabupaten Tulungagung” ini ditulis oleh Muhammad Habib Ridwan dibimbing oleh Dr. Luk-Luk Nur Mufidah, M.Pd.I, dan Dr. Fathul Mujib M.Ag. Kata Kunci: Media Pembelajaran Interaktif, Adobe Flash, Hasil Belajar IPA Pengembangan media pembelajaran interaktif berbasis Adobe Flash ini didasarkan pada observasi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti yang menemukan bahwa belum tersedianya media pembelajaran yang memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) pada materi sistem pencernaan makanan pada manusia di MI/SD. Rumusan masalah dalam penelitian pengembangan ini adalah (1) bagaimana desain media pembelajaran interaktif berbasis Adobe Flash untuk meningkatkan hasil belajar IPA kelas V di MI Roudlotut Tholibin Kabupaten Tulungagung?, (2) bagaimana kelayakan media pembelajaran interaktif berbasis Adobe Flash untuk meningkatkan hasil belajar IPA kelas V di MI Roudlotut Tholibin Kabupaten Tulungagung?, dan (3) bagaimana efektivitas media pembelajaran interaktif berbasis Adobe Flash untuk meningkatkan hasil belajar IPA kelas V di MI Roudlotut Tholibin Kabupaten Tulungagung?. Metode yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah Research and Development (R&D). Prosedur penelitian yang digunakan adalah model ADDIE terdiri dari lima langkah yaitu; (1) Analysis (analisis), (2) Design (desain), (3) Development (pengembangan), (4) Implementation (implementasi) dan (5) Evaluation (evaluasi). Hasil yang diperoleh dari penelitian pengembangan ini adalah sebagai berikut; (1) Media pembelajaran yang dihasilkan berupa media pembelajaran interaktif berbasis Adobe Flash yang didesain menggunakan software Adobe Flash CS 3 Professional, Corel Draw dan Photoshop berdasarkan rancangan storyboard yang telah dibuat. (2) Hasil analisis data validasi produk oleh ahli media memperoleh persentase mencapai 87% dengan kriteria sangat baik. Sedangkan hasil analisis data validasi produk oleh ahli materi memperoleh persentase mencapai 88% dengan kriteria sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa media pembelajaran interaktif berbasis Adobe Flash layak atau valid untuk digunakan sebagai media pembelajaran dalam proses pembelajaran IPA. (3) Hasil analisis data respon siswa memperoleh persentase mencapai 95% dengan kriteria sangat positif. Sedangkan hasil belajar siswa menunjukkan persentase ketuntasan belajar pada saat pre test hanya sebesar 21% dan mengalami peningkatan pada saat post test menjadi 87%. Hal ini menunjukkan bahwa media pembelajaran interaktif berbasis Adobe Flash ini efektif digunakan untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V di MI Roudlotut Tholibin Kabupaten Tulungagung

    Analisis Muatan Nilai-Nilai Karakter pada Buku Siswa Tematik Terpadu Kelas IV Sekolah Dasar Tema Indahnya Kebersamaan

    No full text
    ABSTRAK Ridwan, Muhammad Habib. 2017. Analisis Muatan Nilai-Nilai Karakter pada Buku Siswa Tematik Terpadu Kelas IV Sekolah Dasar Tema Indahnya Kebersamaan. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Alif Mudiono, M.Pd (II) Dra. Lilik Bintartik, M.Pd Kata Kunci: nilai-nilai karakter, buku siswa tema indahnya kebersamaan kelas IV SD, dan tematik terpadu.Nilai karakter penting untuk ditanamkan dan dikembangkan pada diri siswa. Pengembangan nilai karakter tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan pembelajaran. Buku ajar dapat digunakan sebagai sumber belajar siswa tentang nilai karakter sesuai Standar Isi Kurikulum 2013.Fokus penelitian ini untuk menganalisis nilai karakter dalam buku siswa tema indahnya kebersamaan kelas IV SD yaitu: (1) religius, (2) jujur, (3) disiplin, (4) santun, (5) percaya diri, (6) peduli, dan (7) tanggung jawabPenelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi pustaka. Metode pengumpulan data yang digunakan peneliti berupa metode dokumentasi. Instrumen yang digunakan berupa lembar perekam data.Berdasarkan hasil analisis data terhadap buku siswa tema indahnya kebersamaan kelas IV SD diperoleh 9 temuan yaitu:  (1) persentase keragaman karakter religius mencapai 28% yang termasuk dalam kategori cukup, sedangkan jumlah kemunculannya yaitu 98 kali termasuk kategori sangat banyak; (2) persentase keragaman karakter jujur mencapai 6,9% yang termasuk kategori sangat kurang, sedangkan jumlah kemunculannya yaitu 24 kali termasuk kategori cukup; (3) persentase keragaman karakter disiplin mencapai 3,7% yang termasuk dalam kategori sangat kurang, sedangkan jumlah kemunculannya yaitu 13 kali termasuk kategori sedikit; (4) persentase keragaman karakter santun mencapai 9% yang termasuk dalam kategori sangat kurang, sedangkan jumlah kemunculannya yaitu 31 kali termasuk kategori cukup; (5) persentase keragaman karakter percaya diri mencapai 27,9% yang termasuk dalam kategori cukup, sedangkan jumlah kemunculannya yaitu 97 kali termasuk kategori sangat banyak; (6) persentase keragaman karakter peduli mencapai 20% yang termasuk dalam kategori cukup, sedangkan jumlah kemunculannya yaitu 69 kali termasuk kategori sangat banyak; (7) persentase keragaman karakter tanggung jawab mencapai 4,5% yang termasuk dalam kategori sangat kurang, sedangkan jumlah kemunculannya yaitu 16 kali termasuk kategori sedikit. Berdasarkan hasil kesimpulan di atas, peneliti memberikan saran kepada (1) penyusun bahan ajar, dapat meninjau ulang dan melakukan perbaikan dan pengembangan terhadap nilai karakter jujur, disiplin, santun dan tanggung jawab pada buku siswa, (2) guru, dapat menambah kegiatan untuk memunculkan dan mengembangkan nilai karakter jujur, disiplin, santun dan tanggung jawab, dan (3) peneliti selanjutnya, dapat menganalisis muatan nilai-nilai karakter pada tema-tema yang lain sehingga nilai-nilai karakter yang hendak dikembangkan dapat teridentifikasi dengan jelas

    Istihsan (juristic preference) : the forgotten principle of Islamic law

    Full text link
    EThOS - Electronic Theses Online ServiceGBUnited Kingdo

    Analisis Muatan Nilai-Nilai Karakter pada Buku Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Tema Indahnya Kebersamaan

    Full text link
    Abstrak: Penelitian ini untuk menganalisis nilai karakter dalam buku siswa tema indahnya kebersamaan kelas IV SD yang di dalamnya mencakup (1) religius, (2) jujur, (3) disiplin, (4) santun, (5) percaya diri, (6) peduli, dan (7) tanggung jawab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan instrumen berupa lembar perekam data. Sumber data penelitian ini berupa buku tema “Indahnya Kebersamaan di Kelas V SD”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan nilai karakter religius, percaya diri dan peduli sudah dilakukan dengan cukup baik. Sementara itu, nilai karakter jujur, disiplin, santun, dan tanggung jawab masih perlu dikembangkan. Disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk menganalisis muatan nilai-nilai karakter pada tema-tema yang lain sehingga nilai-nilai karakter yang dikembangkan dapat teridentifikasi secara dengan jelas sesuai dengan nilai-nilai karakter yang dikembangkan.Kata kunci: nilai-nilai karakter, buku siswa SD, dan tematik terpadu

    Implementasi peningkatan Religiusitas remaja melalui Majelis Taklim: Studi Multikasus di Majelis Maulid Wat Ta’lim Riyadlul Jannah dan Majelis Ta’lim Wal Maulid Ar-Ridwan Malang

    Full text link
    ABSTRAK Religiusitas merupakan suatu keyakinan maupun pikiran individu dalam memandang dunia sehingga dapat mempengaruhi pengalaman serta perilaku dalam kehidupan individu sehari-hari. Dewasa ini, penurunan religiusitas remaja menjadi sebuah keprihatinan yang perlu diatasi. Maka menjadi fenomena yang langka terdapat remaja yang beramai-ramai menghadiri majelis taklim untuk meningkatkan religiusitas mereka. Diantara majelis yang ramai ini adalah Majelis taklim Riyadlul Jannah dan Majelis taklim Ar-Ridwan Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) mendeskripsikan religiusitas remaja di Majelis Maulid Wat Ta’lim Riyadlul Jannah dan Majelis Ta’lim Wal Maulid Ar-Ridwan Malang; 2) mendeskripsikan strategi Majelis Maulid Wat Ta’lim Riyadlul Jannah dan Majelis Ta’lim Wal Maulid Ar-Ridwan Malang dalam peningkatan religiusitas remaja. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan rancangan studi multi kasus. Data yang diperoleh peneliti akan digunakan dalam mendeskripsikan mengenai Implementasi Peningkatan Religiusitas Remaja Melalui Majelis taklim dengan menggunakan sumber data primer dan sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa: 1)Religiusitas remaja mengalami peningkatan yang diukur dari lima dimensi Huber dan Huber yaitu; a) Intellectual, jamaah mendapatkan berbagai pengetahuan agama melalui ta’lim; b) Ideology, jamaah meyakini rukun iman dan merasa dekat dengan Allah Swt. dan Nabi Muhammad saw.; c) Public practice, jamaah berpartisipasi di majelis taklim dan aktif berperan di dalamnya serta melaksanakan sholat berjamaah; d) Private practice, Ibadah pribadi yang dilakukan jamaah yaitu membaca Al-Quran, sholawat dan wirid dan melaksanakan amalan dari majelis; e) Religious experience, pengalaman jamaah diantaranya merasa diberi pertolongan oleh Allah Swt., merasa diselamatkan, merasa mendapat keberkahan, merasa Allah mengetahui perasaan hamba-Nya. 2) Strategi Majelis Riyadlul Jannah adalah keteladanan Gus Rochim selaku Khodimul Majelis; keteladanan Gus Rofi’ sebagai sang penerus; penciptaan suasana khusyuk di majelis; pengembangan seni musik hadroh; penggunaan media sosial sebagai sarana dakwah; pemilihan Mubaligh sesuai pakemnya dan berbagai metode pengajaran. Sedangkan strategi Majelis Ar-Ridwan adalah keteladanan figur Habib Jamal selaku Khodimul Majelis; mengadakan kegiatan yang disenangi remaja; penciptaan suasana majelis yang tidak membosankan; penerapan berbagai metode pengajaran; penggunaan media sosial sebagai sarana dakwah; dan pemilihan Mubaligh berdasarkan program Al-Wafa’. ABSTRACT Religiosity is an individual's beliefs and thoughts in looking at the world so that it can affect experiences and behavior in everyday individual life. Nowadays, teenager’s religiosity degradation is increasing, and it needs to be overcome. Therefore, it is a rare phenomenon to see teenagers attending a majelis taklim (Islamic forum) to increase their religiosity. Two congested majelis taklim are Majelis taklim Riyadlul Jannah and Majelis taklim Ar-Ridwan Malang. The research aims to: 1) describe teenagers’ religiosity in Majelis Maulid Wat Ta’lim Riyadlul Jannah and Majelis Ta’lim Wal Maulid Ar-Ridwan Malang; 2) describe the strategy implemented by Majelis Maulid Wat Ta’lim Riyadlul Jannah and Majelis Ta’lim Wal Maulid Ar-Ridwan Malang to increase teenagers’ religiosity. The research employed a qualitative study using a multiple-case study design. The data used primary and secondary data to describe the implementation of Teenagers’ religiosity improvement through Majelis taklim. The data collection techniques consisted of observation, interview, and documentation. The research result shows that: 1) Teenagers’ religiosity has increased measured using five dimensions of Huber and Huber: a) Intellectual, members get various religious knowledge through taklim; b) Ideology, members believe in the six pillars of iman and get closer to Allah and the prophet Muhammad; c) Public practice, the member participates in the Majelis Taklim assembly and actively participates in it and performs group prayers; d) Private practice, the personal worship performed by the members is reading the Qur'an, sholawat and wirid and carrying out the practices of the Majelis; and e) Religious experience, the experience of members who feel that they have been helped and saved by Allah, received blessings, and they also feel that Allah knows their feelings. (2) The strategy of Majelis Maulid Wat Ta’lim Riyadlul Jannah to improve teenagers’ religiosity is by the role model of Gus Rochim as the Khodimul Majelis; the role model of Gus Rofi’ as a successor; the making of a solemn atmosphere in the majelis; the development of hadroh music; the use of social media as preaching facility; and the voting of Mubaligh based on the rules. Meanwhile, the strategy of Majelis Ta’lim Wal Maulid Ar-Ridwan is to use the figure of Habib Jamal as Khodimul Majelis, conduct joyful activities for teenagers, avoid boring atmosphere, implement various teaching methods, use social media as a preaching facility and the voting of Mubaligh based on Al-Wafa’ program. مستخلص البحث التدين هو معتقدات الفرد وأفكاره في رؤيته للعالم بحيث يمكن أن يؤثر على الخبرات والسلوك في حياة الفرد اليومية. اليوم، يعد الانخفاض في تدين المراهقين مصدر قلق يحتاج إلى معالجة. لذلك من النادر أن يحضر المراهقون مجالس التعليم لزيادة تدينهم. ومن بين هذه المجالس المزدحمة مجلس التعليم رياض الجنة ومجلس التعليم الرضوان مالانج. تهدف هذه الرسالة إلى معرفة: 1) وصف تدين المراهقين في مجلس المولد والتعليم رياض الجنة ومجلس التعليم والمولد الرضوان مالانج. 2) وصف استراتيجية مجلس المولد والتعليم رياض الجنة ومجلس التعليم والمولد الرضوان مالانج في زيادة تدين المراهقين. الطريقة في هذه الرسالة نوعية مع تصميم دراسة متعددة الحالات. سيتم استخدام البيانات التي حصلت عليها الباحثة في وصف تطبيق زيادة تدين المراهقين من خلال مجلس التعليم باستخدام مصادر البيانات الأولية والثانوية. تم جمع البيانات عن طريق الملاحظة والمقابلة والوثائق. أظهرت نتائج الدراسة ما يلي: 1) ازداد تديّن المراهقين مقيساً بالأبعاد الخمسة لهوبير وهوبر، وهي: أ) التدين الفكري، يحصل المصلون على معارف دينية متنوعة من خلال التسليم؛ ب) التدين العقائدي، يؤمن المصلون بأركان الإيمان ويشعرون بقربهم من الله سبحانه وتعالى ومن النبي صلى الله عليه وسلم. ج) الممارسة العامة، يشارك المصلون في جماعة التكليم ويشتركون فيها بفاعلية ويؤدون صلاة الجماعة؛ د) الممارسة الخاصة، عبادة شخصية يؤديها المصلون وهي قراءة القرآن والذكر والوتر والقيام بأداء العبادات الخاصة بالجماعة؛ هـ) التجربة الدينية، تجربة المصلين تشمل شعور المصلين بأنهم قد منحهم الله سبحانه وتعالى العون, والشعور بالحفظ، والشعور بالبركة، والشعور بأن الله تعالى يعلم مشاعر عباده. 2) استراتيجية مجلس المولد والتعليم رياض الجنة في زيادة تدين المراهقين من خلال شخصية غوس رحيم باعتباره خادم المجلس. قدوة غوس رفيع كقادة عند خلق جو خاشع في المجلس؛ تطوير فن الهدرة الموسيقي؛ استخدام وسائل التواصل الاجتماعي كوسيلة الدعوة؛ واختيار الدعاة أو المبلغين وفقا لمعاييره. في حين أن استراتيجية مجلس التعليم والمولد الرضوان هي القدوة من شخصية حبيب جمال باعتباره خادم المجلس. إقامة أنشطة يستمتع بها الشباب؛ خلق جو غير ممل في المجلس؛ تطبيق طرق التدريس المختلفة؛ استخدام وسائل التواصل الاجتماعي كوسيلة للدعوة؛ واختيار الدعاة أو المبلغين بناء على برنامج الوفاء

    Cultural Space as Sustainability Indicator for Development Planning (Case Study in Jakarta Coastal Area)

    No full text
    Few assessments through cultural sustainability indicators have been applied to national and local development policies in Indonesia. Said policies have had the notion of space solely defined through its physical aspect. This study aims to establish the cultural aspect of space as a workable indicator for sustainability in development planning. The study grounds itself in the coastal area of Kalibaru Subdistrict, North Jakarta, a region characterized by dense and culturally diverse residential areas located in between heavy industrial development. Primary data were gathered from 10 informants of varying occupations with residence in the area for more than 20 years. In-depth interviews and spatial mental mapping were conducted to articulate the cultural spaces of their everyday activities. Prevalent themes of spatial practice were identified and described in 3 categories of 1. core cultural spaces, 2. tactical cultural spaces, and 3. spaces of cultural conflict. The participatory procedures to identify cultural spaces as described in the study were concluded to be operable within existing indicator or index frameworks for sustainability policy. The availability of cultural spaces and their enumeration may be incorporated into national surveys for effective data collection and use

    Akuntabilitas dan Transparansi Anggaran Pemerintah di Era Covid-19 Pada Website Pemerintah Daerah Se-Indonesia

    Full text link
    This study tries to analyze the accountability and transparency of local government budgets throughout Indonesia, during the Covid-19 period, through their official website. This research then used an indicator-based content analysis that has been commonly used to measure accountability and transparency practices through local government websites while still adapting them to the local Indonesian context. This study shows the low level of accountability and transparency of local government budgets, especially about the re-focusing budget for the COVID- 19 response. It is suspected that this result is caused by (1) weak public pressure on the government, (2) the absence of standards that have law consequences governing the pattern of local government accountability on their official websites, (3) the uneven social-education-technology order of Indonesian society, especially in the regions of central and eastern Indonesia which are far behind. Therefore, there is no good community structure that can optimally oversee government accountability and transparency in all regions in Indonesia. Finally, this study suggests that the provincial government to district/city governments should pay more attention to accountability and transparency related to the budget as a form of government accountability by inviting the public to oversee these activities actively. This research is then expected to fill the discussion of accountability and transparency issues in the current government study literature

    Nilai Budaya Lamaholot dalam Penentuan Harga Jual Kain Tenun Ikat: Studi pada Kelompok Perempuan Penenun “Tene Tuen” di Nusa Tenggara Timur

    Full text link
    This study aims to reveal the practice of determining the selling price of woven cloth in a women\u27s weaver group called "Tene Tuen". This research was conducted from July to August 2021 through interviews with leaders of the women weaver group. This study used the qualitative method with a descriptive approach as a research method and collected data by using interviews, direct observation, and documentation. This study found that the concept of formulating the selling price set by the (sellers) informants was not only formed by material values but also contained cultural and justice values with a holistic philosophy. In the end, the selling price determined by the tene tuen group seeks to create prosperity and justice for all parties
    corecore