1,720,988 research outputs found

    Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Penawaran Ekspor CPO Indonesia ke India (Periode Analisis Tahun 1989-2010)

    No full text
    Crude Palm Oil (CPO) merupakan hasil produk olahan dari salah satu komoditas subsektor perkebunan, yakni kelapa sawit yang berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Pentingnya CPO bagi perekonomian Indonesia telah menyebabkan pengembangan CPO terus dilakukan, sehingga hal ini telah menyebabkan Indonesia sejak tahun 2006 berhasil menjadi produsen CPO terbesar di dunia, menggantikan Malaysia. Posisi Indonesia sebagai negara penghasil CPO terbesar di dunia, serta tingginya konsumsi CPO dunia telah mendorong perkembangan ekspor CPO Indonesia ke dunia. Adapun perkembangan ekspor CPO Indonesia ke dunia dari tahun 1989 sampai dengan tahun 2010 telah meningkat lebih dari 14 kali lipat, yakni dari sekitar 661 ribu ton meningkat menjadi 9,45 juta ton. Salah satu negara tujuan utama ekspor CPO Indonesia saat ini adalah negara India (47% dari total ekspor CPO Indonesia). Volume ekspor CPO Indonesia ke India dalam lima tahun terakhir telah meningkat dari 1,89 juta ton menjadi 4,45 juta ton. Mengingat pentingnya komoditas CPO bagi perekonomian Indonesia dan diantara negara-negara tujuan ekspor CPO Indonesia, ekspor ke India merupakan yang terbesar dibandingkan negara-negara lainnya, maka diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan oleh beberapa faktor terkait terhadap penawaran ekspor CPO Indonesia ke India. Faktor-faktor tersebut antara lain volume produksi CPO Indonesia, harga ekspor CPO Indonesia ke India, kurs riil Rupiah terhadap Dollar Amerika, dan tarif ekspor CPO Indonesia. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perkembangan ekspor CPO ke India dan menganalisis faktor-faktor apa saja yang memengaruhi penawaran ekspor CPO Indonesia ke India pada tahun 1989 sampai dengan 2010. Penelitian ini menggunakan model regresi doublelog dan metode untuk menduga parameternya adalah metode Ordinary Least Square (OLS). Dari analisis yang dilakukan didapatkan nilai R2 sebesar 89,3% yang berarti variabel independen seperti volume produksi CPO Indonesia, harga ekspor CPO Indonesia ke India, kurs riil Rupiah terhadap Dollar Amerika, dan tarif ekspor CPO Indonesia dapat menjelaskan volume ekspor CPO Indonesia ke India sebesar 89,3% dan sisanya sebesar 10,7% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak disertakan dalam model penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa, besarnya ekspor CPO Indonesia ke India dikarenakan telah terjadi pengalihan pasar CPO Indonesia dari Eropa ke Asia. Hal ini disebabkan pasar Eropa menginginkan CPO yang sudah diolah misal biofuel, sedangkan Indonesia belum mampu untuk memenuhi keinginan Eropa tersebut. Seluruh variabel-variabel independen yang dimasukan dalam model penelitian ini dapat memengaruhi ekspor CPO Indonesia ke India secara statistik dengan taraf nyata lima persen. Adapun dalam penelitian ini, dihasilkan variabel harga ekspor CPO Indonesia ke India memiliki hubungan negatif dengan volume ekspor CPO Indonesia ke India. Hal ini disebabkan relatif rendahnya kualitas CPO Indonesia. Sehingga menyebabkan posisi CPO Indonesia di dunia menjadi lemah dibandingkan negara pesaingnya, seperti Malaysia. Saran yang penulis rekomendasikan melalui penelitian ini adalah sebagai berikut: Pertama, Kementrian Pertanian diharapkan dapat terus menjaga kesinambungan produksi CPO, tidak hanya dengan cara pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit baru (ekstensifikasi) tetapi pengoptimalan lahan perkebunan kelapa sawit yang telah ada (intensifikasi) pun harus dilakukan. Karena cara yang dilaksanakan selama ini (ekstensifikasi) terkendala masalah isu kerusakan lingkungan dan pemanasan global. Kedua, Indonesia perlu melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas CPOnya, misal dengan peningkatan nilai kandungan minimal karoten dan peningkatan nilai DOBI. Hal ini dikarenakan, harga ekspor CPO Indonesia ke India berpengaruh negatif terhadap kuantitas ekspor CPO Indonesia ke India. Sehingga, apabila hal ini dapat dilakukan maka CPO Indonesia akan mampu bersaing dengan CPO negara pesaing di pasar internasional. Ketiga, Peran aktif Indonesia, seperti Kementrian Perdagangan Republik Indonesia, Kementrian Pertanian Republik Indonesia dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia sangat diperlukan untuk mempromosikan CPO sebagai komoditas yang aman, baik dalam kesehatan maupun lingkungan untuk menangkal dan mengantisipasi kampanye negatif terhadap CPO Indonesia. Keempat, India adalah negara tujuan utama ekspor CPO Indonesia, namun alangkah lebih baik apabila Indonesia bisa membuka pasar CPO lebih banyak lagi, seperti Bangladesh dan Mesir. Sehingga, Indonesia tidak hanya terpaku pada India sebagai negara tujuan ekspor

    Analisis Permintaan Kereta Rel Listrik Commuter Line bagi Kalangan Pekerja Tahun 2011-2013 (Studi Kasus: Stasiun Bogor)

    No full text
    Commuter Line Electric Train (Kereta Rel Listrik/KRL Commuter Line) is one of the public mass transportation that operates through DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi (Jabodetabek). Most passengers of this this transportation are workers. Bogor Station has the largest number of passengers for Commuter Line Electric Train in Jabodetabek. This study aims to identify the characteristic of Commuter Line Electric Train passengers in Bogor Station which are workers and factors influencing their demand for Commuter Line Electric Train. The characteristics are explained by their income, profession, purpose of using Commuter Line Electric Train, age, education degree, and demand number for Commuter Line Electric Train. Through a multiple linear regression process, the result shows that 88.55% variety of demand for Commuter Line Electric Train are explained by income, purpose of using Commuter Line Electric Train, age, and education degree variable. Factors significantly influencing demand for Commuter Line Electric Train are age and purpose of using Commuter Line Electric Train.Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line merupakan salahsatu transportasi masal yang beroperasi di DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Pekerja adalah pengguna terbanyak jasa transportasi ini. Stasiun Bogor merupakan stasiun dengan jumlah penumpang KRL Commuter Line terbanyak di Jabodetabek. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik penumpang KRL Commuter Line kalangan pekerja di Stasiun Bogor dan faktor-faktor yang memengaruhi permintaannya. Karakteristik penumpang kalangan pekerja diterangkan dari segi pendapatan, jenis pekerjaan, tujuan penggunaan, usia, tingkat pendidikan terakhir, dan jumlah permintaan KRL Commuter Line. Hasil regresi berganda menunjukkan bahwa koefisien determinasi (R 2 ) sebesar 0.885522 yang berarti 88.55% keragaman dari permintaan KRL Commuter Line Jabodetabek bagi kalangan pekerja di Stasiun Bogor diterangkan oleh variabel pendapatan, tujuan penggunaan, usia, dan tingkat pendidikan terakhir. Faktor yang memengaruhi permintaan KRL Commuter Line secara signifikan yaitu usia dan tujuan penggunaan

    Analisis faktor penghambat penerapan kebijakan“lahan abadi” pertanian (studi kasus: kecamatan pangalengan)

    Full text link
    The scarcity of land and water resourch, the dynamics of development, as well as rapid the increase in population led to the conversion of agricultural land into non-agricultural. The impact of conversion is felt by the whole society. This study aims to identify factors inhibiting agricultural policies “Lahan Abadi” using descriptive analysis with data collection and interview in Pangalengan.Dikt

    Analisis kemampuan desa babakan sebagai desa lingkar kampus dalam menampung penambahan mahasiswa IPB

    Full text link
    IPB sebagai satu-satunya institut pertanian yang ada di Indonesia menjadi pilihan utama calon-calon mahasiswa, mengingat reputasi IPB yang termasuk 5 besar Universitas negeri di Indonesia. Dengan kecenderungan mahasiswa yang mengenyam pendidikan tinggi adalah merupakan mahasiswa strata 1, pusat pendidikan di bogor terletak di desa dramaga dan sekitarnya. Karena tingkat strata 1 IPB terpusat di dramaga. Penelitian ini bertujuan: mengukur kepadatan yang mampu ditampung oleh desa babakan, mengukur berapa waktu lagi desa babakan mampu menampung kepadatan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan eksploratif, data-data yang digunakan dalam makalah ini merupakan data primer dan data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber antara lain kelurahan desa babakan data mahasiwa dari rektorat. Penulis juga mendapatkan literatur dari media massa, media elektronik, dan berbagai literatur penelitian yang mendukung penelitian penulis. Berdasarkan hasil penelitian desa Babakan sebagai wilayah lingkar kampus IPB sudah tidak ideal lagi dalam menampung penambahan jumlah mahasiswa, hasil ini diperoleh berdasarkan uji-t dan forcasting.Dikt

    Debe farm pertanian modern dan organik sebagai upaya peningkatan kemandirian daerah di desa ciaruteun ilir

    Full text link
    Sektor pertanian adalah sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur perekonomian nasional. Sektor pertanian merupakan sektor perekonomian kedua terbesar penyumbang kontribusi dalam produk domestik bruto Indonesia. Kini isu konversi lahan pertanian mulai dirasakan petani dalam bertani, selain itu dengan mahalnya biaya operasional pertanian seperti pembelian pupuk dan pestisida untuk perawatan membuat petani kita sulit untuk bertahan. Debe farm memberikan solusi untuk permasalahan ini, melalui pertanian modern dan organik.DIkt

    Analisis Kinerja Fiskal Dan Flypaper Effect Pada Belanja Daerah Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Periode Tahun 2005-2013

    No full text
    Penelitian yang dilakukan mencakup 14 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pemetaan kemampuan fiskal kabupaten/kota dalam rangka pelaksanaan desentralisasi fiskal pada periode 2005-2013. Penelitian ini juga untuk melihat efek dari transfer Dana Alokasi Umum terhadappengeluaran Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat melihat indikasi flypaper effect pada pengeluaran pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Kuadran dan Indeks Kemampuan Fiskal (IKF) yang digunakan untuk melihat kinerja fiskal daerah tahun 2005-2013, selain itu, menggunakan metode data panel untuk menganalisis pengaruh transfer Dana Alokasi Umum terhadap belanja pemerintah kabupaten/ kota di Provinsi Sumatera Selatan.Model data panel yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan pengaruh yang signifikan dari variabel DAU dan Belanja di tahun sebelumnya (BDt-1) lebih besar dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan pendapatan per kapita (Y). Begitu jelas terlihat indikasi adanya fenomena flypaper effect pada belanja pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Analisis Daya Saing dan Faktor yang Memengaruhi Ekspor Komoditi Terpilih Indonesia ke Developing Eight Countries (D-8).

    No full text
    Perdagangan internasional memegang peranan penting dalam meningkatkan perekonomian suatu negara. Aktivitas perdagangan dilakukan oleh berbagai negara didunia dengan kesepakatan bersama dan dengan kegiatan transaksi atau tukar menukar barang dan jasa yang meliputi kegiatan ekspor dan impor. Usaha untuk meningkatkan aktivitas perdagangan menjadi proritas pemerintah terutama dalam meningkatkan laju pertumbuhan ekspor. Strategi untuk meningkatkan ekspor diperlukan untuk mengatasi defisit neraca perdagangan yang terjadi. Sasaran pasar ekspor Indonesia tersebar ke berbagai negara di dunia. Selama ini, pasar tujuan ekspor nonmigas Indonesia masih didominasi oleh kelompok mitra dagang utama yaitu China, Jepang, Amerika Serikat, India dan Singapura. Ketergantungan terhadap suatu pasar tertentu dapat berdampak negatif ketika terjadi krisis, sehingga perlu dilakukan suatu diversifikasi pasar tujuan ekspor serta pengembangan komoditi yang memiliki daya saing tinggi. Beberapa negara yang dapat menjadi pasar tujuan ekspor adalah negaranegara yang tergabung dalam Organisasi Developing Eight Countries (D-8). Organisasi ini terdiri dari delapan negara anggota yaitu Bangladesh, Iran, Indonesia, Malaysia, Mesir, Nigeria, Pakistan, dan Turki. Oleh karena itu dalam rangka diversifikasi pasar dan komoditi ekspor ke D-8, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi ekonomi dan mengidentifikasi daya saing komoditi terpilih di pasar D-8 serta menganalisis faktor yang memengaruhi ekspor komoditi terpilih tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari berbagai sumber seperti Trade Map, World Integrated Trade Solution (WITS), World Bank, Centre d’Etudes Prospectives et d’Informations Internationales (CEPII) dan World Trade Organization (WTO). Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersifat kuantitatif. Jenis data yang digunakan adalah data panel yang terdiri dari data time series tahunan selama sepuluh tahun (2009-2018) dan data cross section yang terdiri dari negara anggota D-8 (Bangladesh, Malaysia, Mesir, Iran, Nigeria, Pakistan dan Turki). Metode analisis yang digunakan yaitu analisis Revealed Comparative Advantage (RCA), Intra Industry Trade (IIT), Export Product Dynamics (EPD) serta estimasi faktor yang memengaruhi ekspor dengan model gravitasi yang terdiri dari variabel Gross Domestic Bruto (GDP), nilai tukar riil, harga ekspor, dan jarak ekonomi. Hasil analisis Revealed Comparative Advantage (RCA) komoditi terpilih ekspor Indonesia ke D-8 tergolong tinggi dengan hasil nilai RCA lebih dari satu untuk sebagian besar komoditi, namun pada komoditi dan pasar tertentu menunjukkan nilai RCA yang rendah. Hasil analisis tingkat integrasi komoditikomoditi terpilih ekspor Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar perdagangan intra industri antara Indonesia dengan D-8 secara umum berada pada derajat integrasi satu arah (no integration). Namun pada komoditi dan negara tujuan tertentu menunjukkan hubungan perdagangan dua arah dan berada pada v derajat Integrasi yang lemah, sedang, dan kuat. Apabila dilihat dari hasil analisis EPD, menunjukkan posisi pasar yang bervariasi dengan hasil yang berbeda-beda yang menempati posisi rising star, falling star, lost opportunity dan retreat. Sepuluh komoditi terpilih yang dianalisis menggunakan model gravitasi berdasarkan nilai rata-rata ekspor tertinggi serta adanya kesinambungan dan ketersediaan data tiap negara pada komoditi tersebut selama kurun waktu sepuluh tahun periode penelitian. Kesepuluh komoditi tersebut yaitu Palm oil and its fractions, whether or not refined (excluding chemically modified) (HS 1511), Margarine, other edible mixtures or preparations of animal or vegetable fats or oils and edible (HS 3401), Industrial monocarboxylic fatty acids; acid oils from refining; industrial fatty alcohols (HS 3823), new pneumatic tires, of rubber (HS 4011), Uncoated paper and paperboard, of a kind used for writing, printing or other graphic purposes (HS 4802), Margarine, other edible mixtures or preparations of animal or vegetable fats or oils and edible (HS 1517), Oxygenfunction amino-compounds (HS 2922), Plates, sheets, film, foil and strip, of noncellular plastics, not reinforced, laminated (HS 3920), Refrigerators, freezers and other refrigerating or freezing equipment, electric or other; heat (HS 8418) dan Furniture and parts thereof, n.e.s. excluding seats and medical, surgical, dental or veterinary (HS 9403). Terdapat perbedaan faktor-faktor yang memengaruhi ekspor komoditi terpilih Indonesia ke D-8 untuk masing-masing komoditi. Variabel GDP negara tujuan berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor komoditi HS 1511, HS 1517, HS 2922, HS 3401, HS 3823, HS 3920, HS 4011, dan HS 4802. Variabel nilai tukar riil berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor komoditi HS 1511, HS 3823, HS 3920, HS 4011, HS 4802, HS 8418 dan HS 9403. Variabel harga berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor komoditi HS 3401 dan HS 8418. Variabel jarak ekonomi berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor komoditi HS 1511, HS 2922, HS 3401, HS 3823, HS 3920, HS 4011 dan HS 9403

    Export Demand Analysis of Indonesian Tunas in International Market.

    No full text
    Sektor perikanan Indonesia dalam era perdagangan bebas mempunyai peluang yang cukup besar. Indonesia merupakan negara bahari yang sangat kaya dengan potensi perikananan dan kelautannya. Laut Indonesia memiliki luas kurang lebih 3,1 juta km2 (perairan laut teritorial 0,3 juta km2 dan perairan nusantara 2,8 juta km2) dan perairan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) seluas lebih kurang 2,7 juta km2 menyimpan banyak jenis ikan dan hasil perairan laut lainnya yang memiliki nilai ekonomis yang sangat penting. Ikan tuna sebagai komoditas ekspor perikanan kedua telah menyumbangkan devisa pada tahun 2006 sebesar US250.567jutaataunaiksebesar17,95persendarieksporikantunapadatahun2002yangmencapaiUS 250.567 juta atau naik sebesar 17,95 persen dari ekspor ikan tuna pada tahun 2002 yang mencapai US 212.426 juta. Ekspor ikan tuna Indonesia selama 25 tahun terakhir ini memiliki pertumbuhan rata-rata yang positif dengan laju pertumbuhan rata rata volume sebesar 6.03persen dan 11.79 persen untuk laju pertumbuhan nilainya. Pasar ikan tuna terbesar di dunia saat ini adalah Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa. Ekspor ikan tuna ke Jepang sebesar 27 persen, dan ke Amerika Serikat 17 persen sedangkan ke Uni Eropa juga cukup besar volume dan nilainya yaitu sebesar 12 persen (FAO,2006). Di kawasan ASEAN, Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara produsen ikan tuna setelah Thailand. Hal ini disebabkan perbedaan tingkat eksploitasi baik dari segi jumlah maupun teknologi penggunaan alat tangkap. Mengingat bahwa perairan Indonesia masih luas maka peluang untuk meningkatkan produksi masih besar dan itu berarti juga peluang untuk meningkatkan ekspor sebagai penambah devisa negara juga besar.The purpose of this paper is to empirically analyze the effect of the export demand to total export of Indonesian Tunas in international market and to knowing the characteristic from the three main Importir Countries: United States of America, Europian Union, amd Japan. Indonesia as a maritime nation has a big chance for being a big exportir of tunas to maintain economic stabilitation not only depended by oil and gas sector that tend to be depleted The methods which used in this paper is simultan equation model with three step least square. Result of this study is knowing the characteristics of Indonesian tuna export demand in the international market, which can become very important material for government and business actors in Indonesian tuna to take the best policy in order to increase the export of Indonesian tuna sustainably
    corecore