929 research outputs found

    A Systematic Literature Review on the Implementation and Challenges of Zero Trust Architecture Across Domains

    No full text
    The Zero Trust Architecture (ZTA) model has emerged as a foundational cybersecurity paradigm that eliminates implicit trust and enforces continuous verification across users, de- vices, and networks. This study presents a systematic literature review of 74 peer-reviewed articles published between 2016 and 2025, spanning domains such as cloud computing (24 studies), Internet of Things (11), healthcare (7), enterprise and remote work systems (6), industrial and supply chain networks (5), mobile networks (5), artificial intelligence and machine learning (5), blockchain (4), big data and edge computing (3), and other emerging contexts (4). The analysis shows that authentication, authorization, and access control are the most consistently implemented ZTA components, whereas auditing, orchestration, and environmental perception remain underexplored. Across domains, the main chal- lenges include scalability limitations, insufficient lightweight cryptographic solutions for resource-constrained systems, weak orchestration mechanisms, and limited alignment with regulatory frameworks such as GDPR and HIPAA. Cross-domain comparisons reveal that cloud and enterprise systems demonstrate relatively mature implementations, while IoT, blockchain, and big data deployments face persistent performance and compliance barriers. Overall, the findings highlight both the progress and the gaps in ZTA adoption, under- scoring the need for lightweight cryptography, context-aware trust engines, automated orchestration, and regulatory integration. This review provides a roadmap for advancing ZTA research and practice, offering implications for researchers, industry practitioners, and policymakers seeking to enhance cybersecurity resilience

    Analisis wacana dalam Novel Saya Mujahid Bukan Teroris karya Muhammad Budi Anggoro

    No full text
    Terorisme mengatas namakan agama lebih banyak mendominasi pergulatan teror di Indonesia pada tahun 2000an sekalipun terdapat beberapa kelompok Partikelir dan Etnonasionalis. Pergerakan terorisme mengatas namakan agama mempergunakan kekerasan untuk tujuan-tujuan yang mereka anggap diperintahkan oleh Tuhan. Terorisme tipe ini ditemui pada semua agama besar, juga pada sekte-sekte (cult) kecil. Bagi teroris religius, kekerasan adalah sebuah tindakan suci atau amanat atau tugas dari Ilahi. Agama disini berperan sebagai sebuah kekuatan yang meligitimasi penggunaan kekerasan. Jihad, akhir akhir ini jihad sering dipahami dan dimanipulasi oleh kelompok Islam garis keras yang menyatakan asli jihad dalam Al Qur�an mempunyai perang melawan orang orang kafir dan menghancurkan fasilitas dan kepentingan negara negara barat dengan berbagai cara, meski dengan jalan bunuh diri. Padahal perang sebenarnya sebagian kecil dari arti jihad, jihad sendiri memiliki arti yang sangat luas, jihad dalam bahasa Arab berarti �sungguh sungguh�, �berjuang� atau �berusaha keras�. Tujuan dari penelitian ini sendiri adalah untuk mengetahui bagaimana wacana yang terkonstruksi dalam novel Saya Mujahid Bukan Teroris karya Muhammad Budi Anggoro. Serta untuk mengetahui kognisi sosial penulis dalam mengkonstruksi teks dan mengetahui konteks sosial yang melatar belakangi penyusunan wacana dalam novel. Metodologi penelitian dalam skripsi ini penulis menggunakan metode kualitatif analisis wacana model Teun Van Dijk. Analisis wacana merupakan salah satu bentuk alternatif untuk menganalisis pesan dalam media selain analisis isi kuantitatif. Hasil dari penelitian ini sendiri menunjukan adanya pewacanaan yang terdapat dalam novel Saya Mujahid Bukan Teroris karya Muhammad B. Anggoro. Pewacanaan tersebut dapat di lihat dari struktur teks dalam tulisan dan di kategorisasikan menjadi tiga elemen. Pertama Struktur makro, tema yang paling umum di temukan adalah jihad dan teroris, kedua superstruktur temuan data skematik pada novel Saya Mujahid Bukan Teroris yang terdiri dari dua puluh empat judul diantaranya terdapat lead atau teras berita dan strory. Dan yang ketiga adalah struktur mikro, maksud yang ingin di ungkapkan bahwasannya jihad yang selama ini di pelintir menjadi teroris, isu yang sengaja diciptakan musuh Islam untuk menghancurkan kaum muslimin agar bercerai-berai, sudah saatnya umat Islam untuk menguasai lobi internasional, mengedepankan diplomasi, ranah intelektual, media komunikasi, dan lain sebagainya. Seperti tertulis di atas bahwa adanya wacana yang di konstruksi oleh penulis, hal ini di buktikan dalam penelitian ini dalam novel tersebut terdapat judul, tema, lead, strory, serta maksud yang disampaikan kepada pembaca yaitu jihad tidak selalu harus dengan kekerasan, jihad dengan menggunakan kecerdasan lebih di perlukan pada saat ini

    Assisted praying mat for Muslim / Muhammad Mujahid Mohd Rosli

    No full text
    Muslims can use the Smart Prayer Mat with Rakaat Counter, an innovative idea created to help them with daily prayers. Islam places great emphasis on prayer, yet it can be difficult for certain people to correctly count their rakaat (prayer cycles). The goal of this endeavor is to offer a cutting-edge technical solution that enriches and simplifies the prayer experience. The Rakaat Counter and Qibla Compass included in the Smart Prayer Mat make manual counting and perfect alignment unnecessary. The Rakaat Counter correctly counts the number of rakaat done by using ultrasonic sensors and cutting-edge algorithms to detect prostrations. Throughout the prayer session, users are guided by visual and audible feedback, which encourages accuracy and attention. With its intuitive design, the Smart Prayer Mat appeals to people of all ages and religious backgrounds. It minimizes disruptions during prayer, allowing for a deeper and spiritually rewarding experience. It does this by automating counting and alignment. In conclusion, the Smart Prayer Mat with Rakaat Counter makes use of technology to simplify and strengthen Muslims' adherence to their religion during daily prayers

    Refleksi Kepemimpinan dan Strategi Perang Nabi Muhammad (Studi Kontekstual Legitimasi Sejarah Perang Uhud)

    No full text
    Dalam titik-titik sejarah perang Uhud, perang ini merupakan perang kedua yang terjadi sejak didirikannya pemerintahan Islam oleh nabi Muhammad di Madinah. Perang ini disebabkan oleh faktor agama, faktor sosial, faktor ekonomi dan faktor politik. Beberapa literatur menyebutkan bahwa nabi Muhammad dan pasukannya mengalami kekalahan dalam peperangan ini karena banyaknya jumlah mujahid yang wafat. Namun, dalam perspektif ketercapaian tujuan awal faktor penyebab dari perang ini, tidak satupun keberhasilan yang diperoleh Quraisy dan infantrinya. Setelah perang ini, legitimasi kepemimpinan nabi Muhammad dan pemerintahannya justru semakin eksis di Madinah. Kelihaian dan kepiawaian nabi Muhammad mengatur strategi pada perang Uhud, menjadi mir’ah dalam sejarah dunia Islam

    Manahij Tafsir Tabi'in Mujahid Bin Jabar Dan Penafsirannya

    No full text
    AbstrakTulisan ini mencoba melakukan eksplorasi terhadap karya tafsir tabi’in, Muja>hid bin Jabar. Dalam mengindentifikasi keberadaan tafsir Mujahid, paling tidak terdapat dua sumber penafsiran yang digunakan pengarang dalam menafsirkan al-Qur’an; (1) sumber bi al-ma’tsur, yakni berdasarkan pada penjelasan al-Qur’an sendiri, berdasarkan hadis Nabi, pendapat sahabat, dan israiliyyat; (2) sumber bi al-ra’yi, yakni berdasarkan ijtihad sang mufassir. Sementara dalam menjelaskan al-Qur’an, metode yang diusung Mujahid adalah metode ijmali, yakni menafsirkan ayat al-Qur’an dengan bahasa yang ringkas, padat, dan tidak panjang lebar. Di samping itu, Mujahid juga menggunakan metode muqaran meskipun hanya relatif sedikit. Untuk corak penafsirannya, tafsir Mujahid tidak sampai pada corak disiplin ilmu tertentu, hanya sebatas kental dengan nuansa penafsiran dari gurunya – Ibn ‘Abbas, meskipun dalam beberapa penafsiran terdapat corak fiqhi dan kalami dengan kapasitas yang sangat sedikit. AbstractThis paper tries to explore the work of tafsir tabi’in, Mujahid bin Jabar. In identifying the existence of Mujahid, interpretation there are at least two sources of interpretation used by the author in interpreting the Qur’an; (1) the source of bi al-ma’tsur, that is based on the Qur’an’s own explanation, in addition to the prophetic traditions, opinions of prophet’s companion, and also israiliyyat (2) the source of bi al-ra’yi, based on the ijtihad of the interpreter. While in explaining the Qur’an, the method that Mujahid carried is the ijmali method, which is to interpret the verses of the Qur’an in a brief language, solid, and not lengthy, also using the muqaran method although only slightly. For his interpretive style, Mujahid’s interpretation does not extend to any particular discipline, only limited with the feel of interpretation of his teacher – Ibn ‘Abbas, although in some interpretations there is a fiqhi and kalami pattern with very little capacity

    Menikahi Janda Perspektif Muhammad Abduh Tuasikal

    No full text
    Pernikahan adalah salah satu ajaran Nabi Muhammad  ﷺ  yang sangat ditekankan dalam Islam. Nabi menganjurkan umatnya menikahi wanita yang masih gadis. Namun Nabi sendiri menikahi beberapa wanita yang sebagian besar adalah janda, menunjukkan bahwa menikahi janda memiliki keutamaan tersendiri. Terdapat stigma di masyarakat yang memandang sebelah mata terhadap sebutan janda. Janda dianggap sebagai wanita lemah, dan tidak punya pelindung. Oleh sebab itu penelitian ini dilakukan untuk mengulas permasalahan tersebut, agar dapat membantu dalam pertimbangan memilih calon istri yang berstatus janda, serta dapat mengangkat stigma negatif tentang janda. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keutamaan menikahi janda dan aturan menikahi janda menurut perspektif Muhammad Abduh Tuasikal. Pelitian ini memakai metode kualitatif dengan studi analisis konten. Teknik pengambilan data yaitu menemukan poin-poin penting dari berbagai media informasi yang selaras dengan penelitian. Adapun hasil pembahasan mengenai keutamaan menikahi janda perspektif Muhammad Abduh Tuasikal yaitu mendapat keutamaan bagaikan mujahid, serta mendapat kedudukan yang berdekatan dengan Nabi di surga. Adapun mengenai aturan menikahi janda perspektif Muhammad Abduh Tuasikal ialah janda berhak menentukan pilihan atas dirinya untuk menikah, dan menikahi janda harus dengan wali serta jatah malam pertama bagi seseorang yang berpoligami dengan janda adalah tiga hari

    Kontribusi Ibnu Mujahid dalam Ilmu Qira’at

    No full text
    Ilmu Qira’at merupakan bagian dari ilmu Al-Qur’an yang membahas tentang tata cara serta ragam perbedaan bacaan lafal Al-Qur’an yang disandarkan kepada perawi yang mentransmisikannya. Keberadaan ilmu ini sangat urgen untuk mempermudah umat Islam dalam membaca dan memahami Kalamullah. Pada permulaan turunnya, Al-Qur’an hanya dibaca menggunakan satu huruf, kemudian atas kemurahan Allah, dijadikan menjadi tujuh huruf. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, tersebar banyak sekali qira’at yang tidak shahih sehingga para ulama berupaya untuk memilih dan memilah qira’at yang sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw. Di antara ulama tersebut adalah Ibnu Mujahid yang menjadi pioneer dalam meneliti qira’at yang shahih dengan menetapkan beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh seorang Imam qira’at. Hinggakemudianiamenetapkantujuh Imam qira’at yang menurutnya sesuai dengan criteria tersebut. Ketujuh Imam tersebut adalah Imam Nafi’ bin Abdurrahman, Imam Abdullah bin Katsir, Imam Abu Amr, Zabban bin Al-Ala’ Al-Bashriy, Imam Abdullah Ibnu AmirAl-Syamiy, Imam Ashim bin Abi Al-Najud Al-Kufiy, Imam Hamzah bin Al-Zayyat, dan Imam Ali bin Hamzah Al-Kisa’i. Jerih payah Ibnu Mujahid dalam menghimpun qira’at-qira’at yang shahih sangat diapresiasi oleh para ulama dan ummat Islam pada umumnya hingga dijadikan bahanrujukan ulama-ulama setelahnya. Namun, terdapat pula pihak yang tidak sepakat dengan penetapan tersebut, terutama yang berkaitan dengan penetapan Imam yang ketujuh yaitu Imam Al Kisa’i. Di antara yang tidak sepakat adalah Imam Makki yang berpendapat bahwa Imam Ya’qub lebih berhak untuk dijadikan Imam ketujuh. Ia menganggap penetapan yang dilakukan Ibnu Mujahid tidak fair dan mengandung unsure politik. Akan tetapi anggapan tersebut dibantah oleh Ibnu Mujahid dengan menyatakan bahwa terdapat dua faktor yang menjadikan qira’at Imam Ya’qub tidak termasuk dalam kategori kriterianya. Pertama, karena transmisi sanadnya yang rendah. Beliau membaca kepada Salam bin Sulaiman, dan Salam membaca kepada Imam Ashim. Kedua, karena di antara bacaannya keluar dari bacaan mayoritas. Buah pemikiran Imam Mujahid ini memunculkan opini pada masyarakat awam bahwa tujuh qira’at yang ia pilih merupakan representasi dari ungkapan “ahrufsab’ah”. Padahal faktanya tidak demikian. Namun hal ini justru memberikan dampak positif yang mampu memacu ulama selanjutnya untuk berkarya dalam ilmu qira’at.Contribution of Ibn Mujahid in the Science of Qira'at. The science of Qira'at is part of the science of the Qur'an, which discusses the procedures and the differences in the recitation of the Qur'an, which are based on the narrator who transmitted it. The existence of this knowledge is very urgent to make it easier for Muslims to read and understand the Kalamullah. At the beginning of its descent, the Koran was only read using one letter; then, by the grace of Allah, it was made into seven letters. However, over time, many qira'at needed to be more authentic, so the scholars tried to choose and sort out qira'at that followed the teachings of the Prophet Muhammad. Among these scholars was Ibn Mujahid, who began researching authentic qira'at by establishing several criteria a qira'at Imam had to have. Until then, he determined seven qira'at Imams who according to him, fit these criteria. The seven Imams are Imam Nafi 'bin Abdurrahman, Imam Abdullah bin Katsir, Imam Abu Amr, Zabban bin Al-Ala' Al-Bashriy, Imam Abdullah Ibn Amir Al-Syamiy, Imam Ashim bin Abi Al-Najud Al-Kufiy, Imam Hamzah bin Al-Zayyat, and Imam Ali bin Hamza Al-Kisa'i. The efforts of Ibn Mujahid in compiling authentic qira'ats were highly appreciated by the scholars and the Muslim community in general, so they were used as reference material for subsequent scholars. However, some parties disagree with this determination, especially about the determination of the seventh Imam, namely Imam Al Kisa'i. Among those who disagreed was Imam Makki, who argued that Imam Ya'qub had more right to be made the seventh Imam. He considered that the determination made by Ibn Mujahid was unfair and contained political elements. However, this assumption was refuted by Ibn Mujahid by stating that two factors made Imam Ya'qub'sqira'at not included in the category of criteria first because of its low transmission. He read to Salam bin Sulaiman, and Salam read to Imam Asim, second, because among the readings out of the majority reading. The fruit of Imam Mujahid's thoughts gave rise to the general public's opinion that the seven qira'ats he chose represented the expression "ahrufsab'ah." This is not the case. However, this positive impact can spur subsequent scholars to work in the science of qira'at

    The resident's satisfaction on gated and guarded homes: case study in Selangor / Muhammad Mujahid Fahmi Mohd Taufiq

    No full text
    This research aimed to measure the level satisfaction on the gated and guarded homes at Taman Puncak Jalil, Seri Kembangan as the case study. The study adopted both exploratory and descriptive research designs, which involved a secondary data research and questionnaire survey to residents of gated and guarded community in Taman Puncak Jalil, Seri Kembangan. Quantitative data collected was analysed using descriptive analysis to identify the elements of gated and guarded community and investigate the resident's level of satisfaction on elements of gated and guarded community. Findings from this research shows the Taman Puncak Jalil is not the only residential area which operates as a gated and guarded community. As this research found that effective boom gates have the highest satisfaction from residents of gated and guarded community in Taman Puncak Jalil, it shows that the boom gates have proven its effectiveness due to the satisfaction from the residents. It followed by allocation of CCTV in the second, secure perimeter fencing at third, and proper guard house at fourth rank
    corecore