4 research outputs found

    Progam Dauroh Pondok Pesantren Daarul Huffadz Ikhwan Indonesia sebagai solusi cepat dalam menghafal Al-Qur'an

    No full text
    Latar belakang penelitian ini peneliti menemukan kesulitan dan perasaan tidak mampu ketika hendak ingin menghafal Al-Qur’an, diantaranya karena keterbatasan waktu dan juga kesulitan untuk mengfokuskan dirinya ketika menghafal yang disebabkan oleh kesibukannya. Hal ini terjadi karena tidak adanya wadah atau tempat untuk menfasilitasi sesoerang penghafal Al-Qur’an serta metode yang digunakan untuk menghafal tersebut. Sehingga dengan adanya progam dauroh dalam menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Daarul Huffadz Indonesia, yaitu suatu proses kegiatan yang dirancang dan dikemas dengan sebuah target dan sistematis untuk menghafal Al-Qur’an dalam jangka waktu yang relatif singkat menjadi sebuah solusi untuk menjawab permasalahan tersebut. Dalam penelitian ini menjelaskan tentang kajian Living Qur’an yang tidak lain adalah menjelaskan tentang berbagai permasalahan sosial terkait dengan kehadiran Al-Qur’an baik dari segi makna dan fungsi Al-Qur’an yang di fahami dan dialami masyarakat atau komunitas muslim tertentu. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif sebagai analisa yang paling mendasar untuk menggambarkan keadaan data secara umum. Jenis penelitian yang digunakan ialah jenis kualitatif yang dengan cara mengkaji interaksi manusia dengan Al-Qur’an melalui penerapan metode yang digunakan menghafal Al-Qur’an. Penulis juga melakukan penelitian secara langsung ke lokasi (Field Research) yang menjadi objek penelitian yaitu di Pondok Pesantren Daarul Huffadz Indonesia, juga menyaksikan langsung kondisi pondok pesantren tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa metode yang diterapkan dalam dauroh menghafal Al-Qur’an di pesantren tersebu menggunakan metode Tawazun cara menghafal Al-Qur’an yang mengoptimalkan fungsi dari otak kanan dan otak kiri secara seimbang. Metode ini memiliki 5 level dengan dua tahap yaitu ziyadah (menambah hafalan) mutqin (melancarkan) dengan teknik menghafalnya, membaca, memahami, membayangkan, menghafalkan, menyetorkan dan teknik muraja’ahnya dengan sabqi (setoran 5 halaman), Rabt (muraja’ah 1juz), Manzili (muraja’ah mandiri). Progam dari hasil keberhasilan menghafal Al-Qur’an di dauroh ini tercapainya target ziyadah 30 juz dan bisa memutqinkan hafalannya hingga sampai munaqosah kubro membaca Al-Qur’an 30juz sekali duduk dengan bilghaib (tidak melihat Al-Qur’an). Faktor yang menjadi pendukung dan penghambat dalam dauroh ini terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi adanya keinginan yang kuat, rasa mujahadah, motivasi, manajemen waktu yang baik, Sedangkan eksternalnya meliputi adanya asatidz, lingkungan, progam dauroh yang mendukung, peraturan yang tegas. Dari penghambat internal rasa malas, ngantuk, kurangnya motivasi, tidak semangat, niat yang tidak kuat. Eksternalnya lingkungan asrama yang terkadang berisik, finansial keluarga, asatidz yang kurang tepat waktu ketika halaqah

    Jarh Wa Ta’dil In The Review of Hadith Studies

    No full text
    This paper examines in detail the Science of jarh wa al-ta'dil as a tool to assess the narrator of hadith in terms of weaknesses (jahr) and also strengths (ta'dil). The research method used is a literature study. The study resulted in that first, jarh wa ta'dil as a step to determine whether the narration of a narrator is acceptable or must be rejected altogether, the requirements and procedures in jarh wa ta'dil, and, the contradictions (khilafiyah) between al-Jarh and al-Ta'dil among scholars

    Research 'Is a Hadith Narrator

    No full text
    This study aims to examine the meaning of ‘adalah, the levels of ta’dil and its impact on the narration of the hadith brought, and the rules used in ta’dil. The research method used is a qualitative research method by collecting written data sources, both primary data from books and secondary data from online digital based with a library research approach to facilitate the preparation of this article. The results and discussion of this study conclude that the assessment of ‘adalah (justice) includes aspects of faith and morals; there are six levels and six rules in carrying out ta’dil

    The Existence of Al-Jarh Wa Al-Ta'dil (In Modern Hadith Studies)

    No full text
    The phenomenon of slander that occurs among Muslims, the validity and existence of hadiths are tarnished is marked by the existence of Maudhu hadiths which are spread by irresponsible transmitters. To ensure the authenticity of the hadith, there is a need for a means of criticism of the matan and sanad, including the transmitter. So this research attempts to present the history of the development of hadith sanad criticism from the perspective of jarḥ and ta'dīl using a historical approach method. Therefore, this research is part of qualitative research. From this research, a result was obtained; Firstly, that the critical study of hadith has basically been practiced since the lifetime of the Prophet SAW, although aspects of the sanad or personal rāwi (jarḥ and ta'dīl) and this study continued to develop in subsequent periods. Second, in reality, currently the existence of false hadiths continues to spread and develop and even false hadiths appear that have not been studied and researched by previous scholars, so the need for jarḥ and ta'dīl studies to determine the authenticity of hadiths continues at all times and does not become stagnant with changing times
    corecore