18,397 research outputs found
Metodologi tafsir KH. Muchtar Adam
KH. Muchtar Adam adalah seorang mubaligh, ulama, cendekiawan, sekaligus pendiri dan pimpinan umum Pondok Pesantren Al-Qur’an Babussalam. Beliau dikenal karena pemikirannya tentang ma‘rifatullâh dalam menguraikan kandungan Alquran. Karena menurut beliau inti dari dari agama Islam adalah ma‘rifatullâh, sehingga dengan prinsip ma‘rifatullâh kita dapat meraih nikmat beragama, dan dapat memahami tujuan hidup kita yaitu untuk beribadah kepada Allah. Artikel ini berusaha untuk melakukan penelusuran terhadap metodologi pada buku tafsir karya KH. Muchtar Adam. Artikel ini menggunakan metode deskriptif terhadap buku-buku tafsir karya KH. Muchtar Adam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa KH. Muchtar Adam dalam buku tafsirnya menggunakan sumber Tafsîr bi al-Ma’tsûr, dari segi metodenya menggunakan metode maudhû‘i dan corak penafsirannya beliau menggunakan corak tasawuf, corak lughâwî, corak fiqh, corak adâb wal ijtimâ’i
Meretas jalan menuju ma'rifatullah
Buku ini selain mengulas perjalanan hidup Muchtar Adam, gera klangkah perjuangannya, juga menyampaikan beberapa buah pemikirannya mengenai berbagai aspek untuk kemajuan ummat dan agama. Dikupas pula berbagai hal yang dapat mengantarkan pembaca untuk lebih dalam mengenal sosok Muchtar Ada
Aktivitas dakwah K.H. Muchtar Adam di Pondok Pesantren Babussalam tahun 1981-2018
INDONESIA :
Muchtar Adam merupakan seorang pendakwah kelahiran Benteng Selayar Sulawesi Selatan, beliau merupakan ulama yang dikenal dengan selogan dakwahnya bahwa dakwah kedah kahartos karaos, dengan gagasan nya inilah dakwah beliau sukses dapat mudah diterima oleh para jamaahnya, selain itu dengan aktivitas dakwah yang dilakukannya beliau mampu membuat perubahan dimasyarakat khususnya Ciburial Dago baik agama, ekonomi, pendidikan dan sosial.
Dari permasalahan tersebut dapat dikemukakan pertanyaan, pertama bagaimana biografi dari K.H Muchtar Adam? Kedua,bagaimana aktivitas dakwah K.H Muchtar Adam di Pondok Pesantren Babussalam dariTahun 1968-2018.
Penelitian ini betujuan untuk mengetahui biografi dari K.H Muchtar Adam, dan aktivitas dakwah K.H Muchtar Adam di Pondok Pesantren Babussalam Tahun 1968-2018.
Metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang dalam pelaksanaanya dilakukan melalui empat tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan histiografi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa : Muchtar Adam kelahiran Benteng Selayar Sulawesi Selatan, pada tanggal 10 September 1939 anak ketiga dari tiga saudara bernama Syaminta dan Tuan Adam.Aktivitas dakwah K.H Muchtar Adam di Pondok Pesantren Babussalam dari tahun 1968-2018 adalah mengajar, pembinaan pada para staf pengajar di Pondok Pesantren dalam bidang pendidikan dan keagamaan, mengadakan pengajian rutin, mengadakan pelatihan untuk para da’i, kegiatan tebar qurban, dan acara berbagi di bulan Ramadhan. Dalam melakukan dakwahnya K.H. Muchtar Adam memperhatikan tiga hal diantaranya media dakwah, metode dakwah, dan strategi dakwah. Dalam pelaksanaannya pertama, media dakwah yang digunakan yaitu memanfaatkan media cetak dan media sosial, Kedua, metode dakwah Muchtar Adam menggunakan metode bil hikmah mencakup lisan, tulisan dan perbuatan. dan tiga, strategi yang digunakan beliau diantaranya : tablig, irshad, at-takbir dan ah-tahwir.
ENGLISH :
Muchtar Adam is a preacher born in Fort Selayar, South Sulawesi, he is a scholar who is known for his da'wah slogan that da'wah kedah kahartos karaos, with this idea his successful da'wah can be easily accepted by his congregation, besides that with his da'wah activities he is able to make changes in the community, especially Ciburial Dago, whether religious, economic, educational and social.
From these problems, questions can be raised, first, how is the biography of K.H Muchtar Adam? Second, how was the preaching activity of K.H Muchtar Adam at the Babussalam Islamic Boarding School from 1968-2018.
This study aims to determine the biography of K.H Muchtar Adam, and the da'wah activities of K.H Muchtar Adam at the Babussalam Islamic Boarding School in 1968-2018.
The research method used in this research is the historical method which in its implementation is carried out through four stages, namely heuristics, criticism, interpretation and histiography.
Based on the research conducted, it can be concluded that: Muchtar Adam was born in Fort Selayar, South Sulawesi, on September 10, 1939, the third child of three brothers named Syaminta and Tuan Adam. coaching the teaching staff at Islamic boarding schools in the fields of education and religion, holding regular recitations, holding training for preachers, qurban distribution activities, and sharing events in the month of Ramadan. In carrying out his da'wah, K.H. Muchtar Adam pays attention to three things including da'wah media, da'wah methods, and da'wah strategies. In its implementation, first, the da'wah media used are using print media and social media. Second, Muchtar Adam's da'wah method uses the bil wisdom method which includes oral, written and deed. and three, the strategies he uses include: tabligh, irshad, at-takbir and ah-tahwi
ADAM SMITH'S OPTIMISTIC TELEOLOGICAL VIEW OF HISTORY
Adam Smith's four-stage theory provides the framework for his writings on history. The fourth stage is the commercial epoch; the culmination of history in this stage is a key component in the conventional interpretation of Adam Smith as a prophet of commercialism. In two historical case studies Smith shows the capacity of commercial society to regenerate itself. This potent capacity suggests that commercial society is inevitable. At a certain point in time it also overcomes the major obstacles to its permanence. Smith's philosophy of history anticipates the end of history views of Kant and Hegel.Political Economy,
Metodologi penafsiran K.H. Muchtar Adam: studi analisis terhadap tafsir ayat-ayat qunut
Permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan fikih, memang selalu dan masih memerlukan penjelasan yang lebih dalam setiap waktunya. Terlebih lagi, ketika masalah tersebut dihadirkan dalam kehidupan masyarakat yang mempunyai pandangan berbeda dalam memahami hal tersebut. Salah satu permasalahan dalam bidang fikih yang sampai saat ini masih menimbulkan perbedaan pemahaman di kalangan masyarakat, yaitu mengenai masalah qunut. Jika dijelaskan dari aspek hadis, maka tentunya dapat terlihat perbedaan pemahaman tersebut. Namun, bagaimana bila masalah fikih yang selama ini menimbulkan perbedaan pemahaman tersebut, dijelaskan dengan merujuk kepada sumber hukum Islam pertama, yaitu al-Qur’an. Tentunya maksudnya tidak akan sama dengan yang dijelaskan oleh hadis. Inilah yang dilakukan oleh K.H. Muchtar Adam dalam karyanya tentang Tafsîr Ayat-ayat Qunut, dimana beliau lebih memfokuskan penjelasan mengenai masalah ini dari tinjauan al-Qur’an.
Karenanya, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metodologi penafsiran yang meliputi sumber, metode dan corak yang digunakan K.H. Muchtar Adam dalam Tafsîr Ayat-ayat Qunut, serta bagaimana penafsiran beliau tentang ayat-ayat qunut.
Penelitian ini diawali dengan kerangka berpikir dan teori-teori tentang metodologi tafsir yang meliputi sumber tafsir yang terdiri dari bi al-Ma’tsûr dan bi al-Ra’yi, metode tafsir yang terdiri dari tahlîli, ijmâli, maudhû’i dan muqâran serta corak atau pendekatan tafsir yang meliputi corak fiqhi, lughawi, siyasi, tarîkhi, kalâmi, ijtimâ’i dan sebagainya. Untuk itu, kerangka berpikir dan teori-teori tersebut, digunakan oleh penulis untuk menganalisa metodologi tafsir yang digunakan oleh K.H. Muchtar Adam dalam karyanya Tafsîr Ayat-ayat Qunut tersebut.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif, yaitu suatu penelitian yang tertuju pada pemecahan suatu masalah yang terjadi dengan cara mengkaji masalah tersebut dan menjelaskan data-data yang ada untuk mencari sebuah kesimpulan dengan melakukan survey secara langsung kepada objek yang diteliti.
Melalui penelitian ini, penulis mengambil kesimpulan bahwa K.H. Muchtar Adam dalam karyanya Tafsîr Ayat-ayat Qunut ini, menggunakan sumber Tafsîr bi al-Ra’yi, dari segi metodenya menggunakan metode maudhû’i dan corak penafsirannya termasuk ke dalam corak lughah, serta qunut dalam al-Qur’an ternyata merupakan sebuah terminologi al-Qur’an untuk menggambarkan sebuah ketaatan dan penghambaan dari seluruh makhluk-Nya kepada-Nya
How Might Adam Smith Pay Professors Today?
Adam Smith’s proposal for paying professors was intended to induce increased faculty knowledge. If students have imperfect information about what they learn, and universities can only imperfectly measure the input of faculty time in student learning, publications may be used to measure faculty knowledge. If professors’ ability to publish is positively related to their ability to produce student learning, which universities can imperfectly measure, publications may be necessary to attract more able professors. Since research signals faculty knowledge, schools that do not value publications per se could require higher publication standards and pay higher wages than schools that value only publications.
ADAM SMITH'S VIEW OF HISTORY: CONSISTENT OR PARADOXICAL?
The conventional interpretation of Adam Smith is that he is a prophet of commercialism. The liberal capitalist reading of Smith is consistent with the view that history culminates in commercial society. The first part of the article develops this optimistic interpretation of Smith's view of history. Smith implies that commercial society is the end of history because 1) it supplies the ends of nature that he identifies; 2) it is inevitable; and 3) it is permanent. The second part of the article shows that Smith has some dark moments in his writings where he seems to reject completely such teleological notions. In this more civic humanist mood he confesses that commercial society does not supply the ends of nature, nor is it inevitable, nor is it permanent. Both views exist in Smith and the commentator is forced to choose between passages in Smith's work in order to support a particular interpretation of the former's view of history.Political Economy,
Adam Smith and Roman Servitudes
This essay is a preprint of an article that appeared at: Tijdschrift voor Rechstsgeschiedenis, 72 (2004), 327–57.This essay discusses Adam Smith historical jurisprudence and his use of Roman law materials in his Lectures on Jurisprudence. It argues that Smith found it difficult to maintain his theory of legal development in the face of a highly developed body of Roman law literature
THE THEOLOGICAL FOUNDATION OF ADAM SMITH'S WORK
The paper will discuss the theological foundation to Smith's writings. Teleology, final causes and divine design were initially seen as central to understanding Smith's writings. Over time, this view fell out of fashion. In the period after World War II, with the rise of positivism, commentators tended to overlook or downplay this interpretation. In the last decade, or so, teleology has started to be restored to its former position as an essential element in understanding Smith. After spelling out Smith's teleology and his view of final causes, divine design and the ends of nature, we try to explain the Panglossian nature of the 'new theistic view' of Smith. While our view differs somewhat, we agree with the essence of the 'new view' claim: a theological view exists in Smith which underpins his moral and economic theories.Political Economy,
- …
