1,720,953 research outputs found

    Penerapan Model Pembelajaran Ular-ularan Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Sejarah Peserta Didik Kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo

    No full text
    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ULAR-ULARAN UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SEJARAH PESERTA DIDIK KELAS X IPS 1 SMA NEGERI 3 PROBOLINGGO ARTIKEL OLEH MISDA ULUM NIM 130731615721   UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN SEJARAH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH SEPTEMBER 2019   Penerapan Model Pembelajaran Ular-ularan Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Sejarah Peserta Didik Kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo Misda Ulum Universitas Negeri Malang, Jl Semarang No. 5 Malang [email protected] Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat berperan dalam pembangunan suatu bangsa.Pendidikan formal maupun non-formal haruslah selalu menuju kepada fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 Ayat 1 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Tugas dan peranan model pembelajaran merupakan sebagai alat bantu dalam mengantarkan atau menyampaikan pesan dalam hal penyampaian materi antara guru dan peserta didik. Dalam hal ini model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran ular-ularan. Model permainan akan diarahkan agar tujuan belajar dapat dicapai secara efektif dan efisien. Model pembelajaran ular-ularan juga memiliki tujuan untuk melatih peserta didik agar dapat berpikir lebih cepat dan tepat dalam mengerjakan soal. Sehingga model pembelajaran yang digunakan dapat dijadikan sebagai model permainan untuk proses belajar.Bukan hanya itu, penerapan model pembelajaran ular-ularan juga dapat digunakan saat diadakan ulangan maupun untuk mengisi waktu kosong. Kata Kunci: Pembelajaran, Ular-ularan, Motivasi Belajar   Pendahuluan Pendidikan menjadi salah satu teladan penting dalam mempengaruhi perkembangan dan kemajuan setiap bangsa. Seluruh komponen dalam dunia pendidikan harus didukung dan digerakkan demi kemajuan tingkat intelektual dan moral peserta didik. Setiap matapelajaran yang diberikan harus mendukung dua hal tersebut, karena kemajuan intelektual dan kedewasaan moral akan mempengaruhi masa depan bangsa (Prawiradilaga, 2007:2). Rumpun ilmu sosial merupakan salah satu matapelajaran wajib dengan fokus pada wawasan kemasyarakatan dan pemahaman tentang kehidupan bermasyarakat. Sebagai contoh ialah ilmu sejarah memberi cakrawala berpikir tentang kehidupan masa lalu yang mempengaruhi kehidupan sekarang dan memberi andil bagi kehidupan masa datang. Begitu juga dengan bidang ilmu-ilmu sosial lainnya. Pelajaran sejarah dalam pembangunan bangsa berfungsi untuk penyadaran warga negara dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam rangka pembangunan nasional (Ali, 2005:122). Kondisi yang memicu kebosanan peserta didik dalam mengikuti pelajaran sejarah diantaranya dapat dipengaruhi oleh model pembelajaran guru yang kurang menarik dalam mengajar di dalam kelas dan jarang menggunakan model mengajar yang dapat menarik peserta didik untuk memperhatikan penjelasan materi pelajaran yang disampaikan di dalam kelas. Model pembelajaran yang umum digunakan oleh guru membuat peserta didik merasa jenuh dan mengantuk dalam mengikuti pelajaran sejarah. Tidak heran ketika peneliti melakukan observasi di kelas tampak situasi seperti itu ketika guru mengajar. Sementara itu, hanya sebagian kecil saja peserta didik yang menyimak penjelasan guru, selebihnya ada yang mengobrol, mengerjakan tugas lain, dan aktivitas lainnya di luar kegiatan belajar mengajar. Penggunaan model pembelajaran bertujuan agar peserta didik lebih merasa tertarik dan lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikan guru. Dengan demikian, penggunaan model pembelajaran yang diintegrasikan dengan beberapa tujuan dan isi dalam pembelajaran dapat meningkatkan mutu belajar mengajar (Sani, 2014). Model pembelajaran ular-ularan juga memiliki tujuan untuk melatih peserta didik agar dapat berpikir lebih cepat dan tepat dalam mengerjakan soal. Permainan yangakan digunakan dalam proses belajar mengajar sebelumnya sudah dipersiapkan oleh guru dengan berbagai variasi, sehingga dengan menggunakan model permainan dalam pembalajaran dapat meningkatkan motivasi peserta didik dalam belajar. Permainan ular-ularan dapat diberikan untuk melihat kemampuan belajar, melatih kecepatan dalam menjawab soal yang cukup panjang, dan melatih kejujuran peserta didik dalam menilai hasil jawaban mereka. Peneliti memilih SMA Negeri 3 Negeri Probolinggo sebagai lokasi penelitian dikarenakan proses belajar mengajar sejarah di sekolah tersebut terdapat permasalahan belajar mengajar berupa rendahnya motivasi belajar siswa, khususnya dalam matapelajaran sejarah. Hal tersebut dapat dilihat saat proses belajar mengajar siswa menunjukkan sikap malas belajar, malas mengerjakan tugas, tidak ada keinginan untuk mengetahui, tidak peduli dengan nilainya, tidak ada rasa semangat di dalam kelas, mendapat nilai yang buruk, dan sebagainya. Hal tersebut dapat tercermin dari antusias peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas, seperti tidak memperhatikan penjelasan guru, bermain dengan teman sebangkunya selama proses belajar mengajar, terlihat acuh tak acuh selama proses belajar mengajar berlangsung. Keadaan yang demikian menjadikan peserta didik lebih memilih menyibukkan diri dengan kegiatan yang menarik perhatian mereka meski tidak ada hubungannya dengan proses belajar mengajar. Akibatnya, tujuan dari proses belajar mengajar tidak dapat tersampaikan dengan optimal. Melihat kondisi belajar yang ada di lingkungan SMA 3 Negeri Probolinggo, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan diterapkannya model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut di antaranya adalah model pembelajaran ular-ularan. Pelaksanaan model pembelajaran ular-ularan dilakukan peserta didik dengan menjawab soal secara bergantian, selanjutnya hasil jawaban akan mereka cocokkan sendiri dan memberikan nilai dari hasil jawaban yang sudah dicocokkan. Model pembelajaran ular-ularan merupakan model pembelajaran yang baru dan tidak jauh beda dengan model pembelajaran ular tangga. Namun dalam model ular-ularan ini semua peserta didik harus berada diluar, dan guru menata meja dan menempelkan selembar soal dimasing-masing meja, dan di meja depan terdapat meja untuk mencocokkan jawaban dan menghitung nilai mereka sendiri-sendiri. Cara bermain dimana peserta didik harus berbaris panjang seperti ular dan urut dengan presensi. Setelah itu guru meniupkan peluit dan peserta didik absen pertama masuk dan mengerjakan soal pertama, meniup kembali peluit, dan peserta didik akan bergantian menjawab soal. Setelah peserta didik menjawab semua soal mereka akanmencocokan jawaban mereka sendiri dan memberikan nilai sendiri sesuai hasil dari jawaban benar peserta didik.   Metode Di dalam penelitian ini peneliti melakukan pendekatan penelitian kualitatif. Moleong (2013:27) mengatakan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang berakar pada latar alamiah sebagai kebutuhan, mengandalkan analisis data secara induktif, mengarah pada penemuan teori, bersifat diskriptif, lebih mementingkan proses daripada hasil, membatasi studi dengan fokus, memiliki seperangkat kriteria untuk memeriksa keabsahan data, rancangan penelitiannya bersifat sementara, dan hasil penelitiannya disepakati oleh peneliti dan subjek penelitian. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Wiriatmadja (2007:13) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktik pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri, mereka dapat mencobakan suatu gagasan, perbaikan dalam praktik pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu. Peneliti melakukan. Subjek penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu peserta didik kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo sebanyak 23 peserta didik yang terdiri dari 11 laki-laki dan 12 perempuan pada matapelajaran sejarah dengan menggunakan model pembelajaran ular-ularan. Peneliti memilih SMA Negeri 3 Negeri Probolinggo khususnya kelas X IPS 1 sebagai lokasi penelitian dikarenakan proses belajar mengajar sejarah di sekolah tersebut terdapat permasalahan berupa rendahnya motivasi belajar peserta didik, khususnya dalam matapelajaran sejarah. Hal tersebut dapat dilihat saat proses belajar mengajar peserta didik menunjukkan sikap malas belajar, malas mengerjakan tugas, tidak ada keinginan untuk mengetahui, tidak peduli dengan nilainya, tidak ada rasa semangat di dalam kelas, mendapat nilai yang buruk, dan sebagainya. Hal tersebut dapat tercermin dari antusias peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas, seperti tidak memperhatikan penjelasan guru, bermain dengan teman sebangkunya selama proses belajar mengajar, dan terlihat acuh tak acuh selama proses belajar mengajar berlangsung. Keadaan yang demikian menjadikan peserta didik lebih memilih menyibukkan diri dengan kegiatan yang menarik perhatian mereka meski tidak ada hubungannya dengan proses belajar mengajar. Akibatnya, tujuan dari proses belajar mengajar tidak dapat tersampaikan dengan optimal. Peneliti dalam mengumpulkan data menggunakan empat cara yang sesuai dengan kebutuhan penelitian yaitu observasi, wawancara, kuisioner, dan dokumentasi. Pengumpulan data ini dilakukan untuk mendapatkan informasi serta tercapainya tujuan penelitian. Berikut adalah penjabaran terkait teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini.   Hasil dan Pembahasan Peneliti didalam penerapan model pembelajaran Ular-ularan di kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo dilakukan dalam 2 siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Setiap pertemuan dilaksanakan dalam beberapa tahap, sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun, yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pelaksanaan yang dilakukan oleh guru matapelajaran sejarah terdapat perbaikan dari siklus I ke siklus II ke arah yang lebih baik. Persentase motivasi belajar peserta didik mengalami peningkatan pada siklus I setelah penerapan model pembelajaran Ular-ularan. Pada siklus I terlihat adanya peningkatan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1 SMA Negeri 3 Probolinggo dari 64% menjadi 71%, hal tersebut ada peningkatan sebanyak 7% dari pra-siklus ke siklus I. Keempat komponen juga mengalami peningkatan dari pra siklus ke siklus I yaitu attention yang awalnya 62% menjadi 73%, relevance dari 69% menjadi 72%, confidence dari 64% menjadi 69%, satisfication dari 70% menjadi 76%. Dari peningkatan motivasi belajar peserta didik menunjukkan adanya respon terhadap pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran Ular-ularan. Pada pelaksanaaan siklus I ini motivasi belajar setiap peserta didik beberapa sudah mengalami peningkatan, walaupun pada siklus I masih ada peserta didik yang motivasinya terlihat rendah. Motivasi setiap individu mengalami peningkatan dan ada juga yang motivasinya tetap Abdul Aziz Hoirun dari 68% menjadi 73%, Afifah dari 78% menjadi 85%, Ahmad Faizal dari 59% menjadi 70%, Ahmad Mustakim dari 68% tetap 68%, Ahmad Reihan 53% menjadi 68%, Ayu Naufal dari 68% tetap 68%, Devit Alfahrezi dari 78% tetap 78%, Dewi Aprilia dari 67% tetap 67%, Diantri Widiyawati dari 59% menjadi 63%, Eva Ramadhani dari 64% tetap 64%, Fitri Anggraini dari 58% menjadi 63%, Husnul Khotimah dari 60% menjadi 64%, Ike Nurjannah dari 67% tetap 67%, Ilham Akbar dari 71% tetap 71%, Imam Gozali dari 64% menjadi 73%, Lukman Hakim dari 68% tetap 68%, Muhammad Aris dari 73% tetap 73%, Muhammad Nazril dari 60% menjadi 86%, Okky Zebri M dari 63% tetap 63%, Sinta Bela dari 70% tetap 70%, Siti Hotija dari 61% menjadi 81%, Vina Fitriana dari 69% tetap 69%, Wawan Putra dari 53% menjadi 78%. Pelaksanaan penerapan model pembelajaran Ular-ularan pada siklus II mengalami beberapa perbaikan yang sudah dilakukan berdasarkan kegiatan refleksi oleeh guru dan peneliti. Perbaikan yang ditingkatkan pada siklus II yaitu persiapan guru dalam mengajar atau materi, efiseinsi waktu, dan pendalaman soal. Pelaksanaan siklus II menunjukkan bahwa peserta didik lebih semangat dan ceria serta antusias dalam pembelajaran sejarah didalam kelas, keseluruhan peserta didik mulai memperhatikan dengan baik dan fokus apa yang diterangkan oleh guru. Selain itu guru sudah sudah mengelola alokasi waktu dengan sempurna. Pelaksanaan penerapan model pembelajaran Ular-ularan pada siklus II mengalami peningkatan yang sangat baik. Motivasi belajar peserta didik satu kelas meningkat dari 71% menjadi 82%, dari kategori sedang ke tinggi. Keempat komponen motivasi belajar juga mengalamai peningkatan attention yang awalnya 73% menjadi 83%, relevance dari 72% menjadi 82%, confidence dari 69% menjadi 85%, satisfication dari 76% menjadi 83%. Pada siklus II motivasi belajar setiap peserta didik mengalami peningkatan yang sangat baik dibandingkan dari siklus I. peningkatan tersebut secara bertahap yaitu: Abdul Aziz Hoirun dari 73% menjadi 92%, Afifah dari 85% menjadi 95%, Ahmad Faizal dari 70% tetap 70%, Ahmad Mustakim dari 68% menjadi 81%, Ahmad Reihan 68% menjadi 89%, Ayu Naufal dari 68% menjadi 94%, Devit Alfahrezi dari 78% tetap 78%, Dewi Aprilia dari 67% tetap 87%, Diantri Widiyawati dari 63% menjadi 81%, Eva Ramadhani dari 64% menjadi 81%, Fitri Anggraini dari 63% menjadi 83%, Husnul Khotimah dari 64% menjadi 73%, Ike Nurjannah dari 67% menjadi 83%, Ilham Akbar dari 71% menjadi 82%, Imam Gozali dari 73% tetap 73%, Lukman Hakim dari 68% menjadi 84%, Muhammad Aris dari 73% menjadi 82%, Muhammad Nazril dari 86% tetap 86%, Okky Zebri M dari 63% menjadi 79%, Sinta Bela dari 70% menjadi 74%, Siti Hotija dari 81% tetap 81%, Vina Fitriana dari 69% tetap 69%, Wawan Putra dari 78% menjadi 88%. Peningkatan terhadap motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1 tercatat berdasarkan hasil angket terhadap penerapan model pembelajaran Ular-ularan yang diberikan kepada peserta didik setelah dilakukan tindakan siklus I dan siklus II. Hasil dari angket selanjutnya dianalisis agar dapat diketahui tercatat sebagian peserta didik mengalami peningkatan motivasi belajar peserta didik pada pembelajaran sejarah. Skor keseluruhan deskriptor angket motivasi belajar berjumlah 1840 dengan peningkatan skor perolehan total peserta didik yang diamati dari pra-siklus ke siklus I meningkat dari 1193 menjadi 1299 sehingga tercatat persentase perolehannya meningkat sebesar 7% dari 64% (rendah) menjadi 71% (sedang). Sedangkan peningkatan dari siklus I ke siklus II motivasi belajar peserta didik mengalami peningkatan 11% dari 71% (sedang) ke 82% (tinggi). Peningkatan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1 terlihat dari keempat indikator pengukuran motivasi. Attention pada pra-siklus 62%, siklus I meningkat menjadi 73%, dan siklus II menjadi 83%. Relevance pada pra-siklus 69%, siklus I meningkat menjadi 72%, dan siklus II menjadi 82%. Confidence pada pra-siklus 64%, siklus I meningkat menjadi 69%, dan siklus II menjadi 85%. Satisfication pada pra-siklus 70%, siklus I meningkat menjadi 76%, dan siklus II menjadi 83%.   Kesimpulan Disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Ular-ularan dalam pembelajaran sejarah dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1SMA Negeri 3 probolinggo. Meskipun pada pelaksanaan tindakan di siklus I pertemuan I menunjukkan bahwa peserta didik masih bingung dengan model pembelajaran Ular-ularan. Pada pertemuan II peserta didik telah memahami model pembelajaran yang digunakan oleh guru sehingga pembelajaran berjalan secara efisien dan menyenangkan. Kegiatan di siklus I telah menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar dalam mengikuti pembelajaran sejarah. Peserta didik tampak senang dan menikmati kegiatan pembelajaran dengan model Ular-ularan. Peningkatan motivasi belajar peserta didik juga ditunjukkan dari hasil angket pada siklus I. Pada siklus II pembelajaran dengan model Ular-ularan berjalan dengan baik serta alokasi waktu juga berjalan dengan baik. Peserta didik juga antusias dalam pembelajaran sejarah. Penerapan model Ular-ularan dalam pembelajaran sejarah dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1SMA Negeri 3 Probolinggo. Peningkatan yang terjadi pada motivasi belajar peserta didik terlihat dari hasil angket peserta didik pada pra-siklus, siklus I, dan siklus II terhadap 4 indikator yaitu attention (perhatian), relevance (kesesuaian), confidence (kepercayaan diri),dan satisfication (kepuasan). Indikator attention (perhatian) mengalami peningkatan sebesar 21% yaitu dari 62% di pra-siklus menjadi 83% di siklus II, indikator relevance (kesesuaian) mengalami peningkatan sebesar 13% yaitu dari 69% di pra-siklus menjadi 82% di siklus II, indikator confidence (kepercayaan diri) dalam kegiatan pembelajaran meningkat sebesar 21% yaitu dari 64% di pra-siklus menjadi 85% di siklus II, indikator satisfication (kepuasan) mengalami peningkatan sebesar 13% yaitu dari 70% di pra-siklus menjadi 83% di siklus II. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Ular-ularan dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas X IPS 1SMA Negeri 3 Probolinggo dalam mata pelajaran sejarah.   DAFTAR RUJUKAN Agustinus, N. 2013. Pentingnya Refleksi Dalam Proses Belajar-Mengajar, (Online), (http://nur-agustinus. blogspot. com /2013 /06/ pentingnya-refleksi-dalam-proses.html), diakses 27 Januari 2019. Ali, R. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia. Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara. Arifin, Z. 2014. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosda Karya. Arikunto, S. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya. Baron, R. A., & Byrne, D. 2004. Psikologi Sosial: Jilid 1. Alih Bahasa: R. Djuwita; M. M Parman; D. Yasmina; L. P Lunanta. Jakarta: Erlangga. Haris, H. 2010. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Salemba Humanika. Miles, B. M. & Huberman, M. 1992. Analisis Data Kualitatif Buku Sumber tentang Metode-metode Baru. Jakarta: UIP. Moleong, J.L. 2013. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya. Nasution, S. 1991. Metode Research Penelitian Ilmiah. Bandung: Jermais. Prawiradilaga, D. S. 2007. Prinsip Desain Pembelajaran. Jakarta: Kencana Predana Media Group. Riduwan. 2004. Metode Riset. Jakarta: Rineka Cipta. Suyanto. 2006. Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium III. Yogyakarta: Adicit. Wiriatmadja, R. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosda karya.

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist

    No full text
    We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used

    Author Under Sail The Imagination of Jack London, 1893-1902

    No full text
    In Author Under Sail, Jay Williams offers the first complete literary biography of Jack London as a professional writer engaged in the labor of writing. It examines the authorial imagination in London's work, the use of imagination in both his fiction and nonfiction, and the ways he defined imagination in the creative process in his business dealings with his publishers, editors, and agents. In this first volume of a two-volume biography, Williams traverses the years 1893 to 1902, from London's "Story of a Typhoon" to The People of the Abyss. The Jack London who emerges in the pages of Author Under Sail is a writer whose partnership with publishers, most notably his productive alliance with George Brett of Macmillan, was one of the most formative in American literary history. London pioneered many author models during the heyday of realism and naturalism, blurring the boundaries of these popular genres by focusing on absorption and theatricality and the representation of the seen and unseen. London created an impassioned, sincere, and extremely personal realism unlike that of other American writers of the time. Author Under Sail is a literary tour de force that reveals the full range of London as writer, creative citizen, and entrepreneur at the same time it sheds light on the maverick side of machine-age literature.Intro -- Title Page -- Copyright Page -- Dedication -- Contents -- Acknowledgments -- Introduction -- 1. Spirit Truth -- 2. From Absorption to Theatricality and Back Again -- 3. "I Will Build a New Present" -- 4. Sons as Authors -- 5. Fathers as Publishers -- 6. The Daughter as Author -- 7. Lovers as Authors -- 8. At Sea with the Family -- 9. Yellow News, Yellow Stories -- 10. The Return Home -- Notes -- Bibliography -- Index -- About Jay WilliamsIn Author Under Sail, Jay Williams offers the first complete literary biography of Jack London as a professional writer engaged in the labor of writing. It examines the authorial imagination in London's work, the use of imagination in both his fiction and nonfiction, and the ways he defined imagination in the creative process in his business dealings with his publishers, editors, and agents. In this first volume of a two-volume biography, Williams traverses the years 1893 to 1902, from London's "Story of a Typhoon" to The People of the Abyss. The Jack London who emerges in the pages of Author Under Sail is a writer whose partnership with publishers, most notably his productive alliance with George Brett of Macmillan, was one of the most formative in American literary history. London pioneered many author models during the heyday of realism and naturalism, blurring the boundaries of these popular genres by focusing on absorption and theatricality and the representation of the seen and unseen. London created an impassioned, sincere, and extremely personal realism unlike that of other American writers of the time. Author Under Sail is a literary tour de force that reveals the full range of London as writer, creative citizen, and entrepreneur at the same time it sheds light on the maverick side of machine-age literature.Description based on publisher supplied metadata and other sources.Electronic reproduction. Ann Arbor, Michigan : ProQuest Ebook Central, YYYY. Available via World Wide Web. Access may be limited to ProQuest Ebook Central affiliated libraries
    corecore