1,720,969 research outputs found

    AN ANALYSIS OF FIGURATIVE LANGUAGE ON THE POEMS ENTITLED “CLASSIC POETRY SERIES” BY WILLIAM BLAKE

    Get PDF
    MINHATUL MAULA: AN ANALYSIS OF FIGURATIVE LANGUAGE ON THE POEMS ENTITLED “CLASSIC POETRY SERIES” BY WILLIAM BLAKE In literature, there are several models of literary works, one of them is poem. Poem is the most literary works contain elements of beauty. This can be seen from the characteristics of poem that use figurative language, choice of words and messages are expressed by the author. Those characteristics are difficult to be understood by people in learning a poem. Therefore, this issue is very important to be studied and analyzed. The aims of this research are to know the types of figurative language are used in the poems especially in collection of William Blake’s poems, and the messages are generated from that poem. The theory which used in this research is the theory of Giroux, it is that Figurative language is language which departs from the straight-forward use of words. It creates a special effect, clarifies an idea, and makes writing more colorful and forceful. Accordingly, there are 14 kinds of figurative languages; they are Alliteration, Allusions, Hyperbole, Irony, Litotes, Metaphor, Metonymy, Onomatopoeia, Paradox, Personification, Pun, Simile, Synecdoche, and Symbol. This research is qualitative research. The analysis of research on a book about William Blake's poetry collection, which numbered approximately more than one hundred of poems and the writer take three of poems as a sample. Techniques of collecting data use library research and content analysis as the technique of analyzing data. The results of research showed that from three poems as the sample of collection of William Blake’s poems, there are 11 kinds of figurative language are used in the collection of William Blake's poem; they are Alliteration, Hyperbole, Irony, Litotes, Metaphor, Metonymy, Paradox, Personification, Pun, Simile, and Synecdoche. And the most commonly used is Hyperbole. There are many difference message are expressed by the William Blake in every stanza of those poems. There are 11 kinds of figurative language are used in the collection of William Blake's poem; they are Alliteration, Hyperbole, Irony, Litotes, Metaphor, Metonymy, Paradox, Personification, Pun, Simile, and Synecdoche. And the most commonly used is Hyperbole. From a variety of figurative language used in the poem, there are many different messages that can be taken from that poems, one of them is people should not compare our situation with the others, and belittle themselves, because everyone is same, which distinguishes humans from the other is moral in God's view

    IMPLEMENTASI METODE THORIQOTY DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA AL-QUR’AN PADA SISWA SMP MAMBAUS SHOLIHIN SUMBER SANANKULON BLITAR

    Get PDF
    ABSTRAK Skripsi dengan judul “Implementasi Metode Thoriqoty dalam Pembelajaran Membaca Al-Qur’an pada Siswa SMP Mambaus Sholihin Sumber Sanankulon Blitar” ini ditulis oleh Mila Minhatul Maula, NIM. 17201163261. Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung, yang dibimbing oleh Nuryani, S.Ag. M.Pd.I., Kata Kunci: Implementasi, Metode Thoriqoty, Pembelajaran Membaca Al-Qur’an Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sebuah fenomena dimana banyaknya Muslim Indonesia yang belum memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an sesuai dengan kaidah ilmu tajwid serta makhroj dan shifatul hurufAl-Qur’an. Berdasarkan data yang dihimpun oleh UIN Sunan Gunung Djati, sedikitnya 54% Muslim Indonesia terkategori belum memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik. Artinya, hanya sebesar 46% Muslim Indonesia yang terkategori mampu membaca Al-Qur’an sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Belajar membaca Al Qur’an dengan baik dan benar sangat penting, karena merupakan salah satu kunci dalam mengkaji Islam. Untuk mencapai bacaan Al-Qur’an dengan baik dan benar, perlu adanya guru, materi, metode pembelajaran dan sebagainya. Terdapat berbagai metode yang menawarkan keluwesan dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an, salah satunya adalah metode Thoriqoty. Oleh karena itu implementasi metode Thoriqoty dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an pada siswa dapat menjadi sebuah jalan untuk mencapai pembelajaran Al-Qur’an yang sesuai dengan kaidah ilmu tajwid serta makhroj dan shifatul hurufAl-Qur’an. Fokus penelitian skripsi ini adalah: (1) Bagaimana perencanaan pembelajaran makhroj dan shifatul hurufAl-Qur’an dengan metode Thoriqoti pada siswa SMP Mambaus Sholihin Sumber Sanankulon Blitar?, (2) Bagaimana pelaksanaan pembelajaran makhroj dan shifatul huruf Al-Qur’an dengan metode Thoriqoti pada siswa SMP Mambaus Sholihin Sumber Sanankulon Blitar?, (3) Bagaimana Evaluasi pembelajaran makhroj dan shifatul huruf Al-Qur’an dengan metode Thoriqoti pada siswa SMP Mambaus Sholihin Sumber Sanankulon Blitar?. Adapun tujuan penelitian skripsi ini adalah: (1) Untuk mendeskripsikan perencanaan pembelajaran makhroj dan shifatul huruf Al-Qur’an dengan metode Thoriqoti pada siswa SMP Mambaus Sholihin Sumber Sanankulon Blitar, (2) Untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran makhroj dan shifatul hurufAl Qur’an dengan metode Thoriqoti pada siswa SMP Mambaus Sholihin Sumber Sanankulon Blitar, (3) Untuk mendeskripsikan evaluasi pembelajaran makhroj dan shifatul huruf Al-Qur’an dengan metode Thoriqoti pada siswa SMP Mambaus Sholihin Sumber Sanankulon Blitar. Skripsi ini disusun berdasarkan data lapangan menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan teknik reduksi data, penyajian data dan penarikankesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan ketekunan pengamatan, triangulasi dan perpanjangan keikutsertaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Dalam perencanaannya, hal-hal yang dilakukan adalah menyiapkan pedoman pembelajaran seperti Silabus, RPP dan Buku Pedoman makhroj dan shifatul huruf Al-Qur’an serta memproyeksikan tindakan pembelajaran yang akan dilaksanakan, (2) Dalam pelaksanaan, terdapat tiga kegiatan inti, kegiatan pendahuluan, inti dan penutup. Pada kegiatan pendahuluan, pembelajaran diawali dengan salam, do’a pembukaan dan dirangkai dengan muroja’ah tabel perincian makhroj dan shifatul huruf Al-Qur’an. Pada kegiatan inti, pembelajaran makhroj dan sifat mulai difokuskan pada jilid awal yang merupakan pembentukan pondasi siswa. Pembelajaran menggunakan berbagai metode dan teknik pembelajaran. Kegiatan penutup pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan penguatan dan ulasan pembelajaran. Terdapat beberapa kendala yang dapat diatasi dengan kreatifitas dan inovasi guru, (3) Evaluasi pembelajaran makhroj dan shifatul huruf Al-Qur’an dengan metode Thoriqoty dilaksanakan dengan teknik tes dan non tes. Penilaian tes dilakukan secara lisan dengan praktik membaca dan setoran hafalan tabel rincian makhroj dan shifatul huruf. Adapun penilaian nontes dilaksanakan dengan cara mengamati bacaan siswa ketika pembelajaran berlangsung. Fungsi formatif evaluasi dilakukan kurang lebih delapan kali dalam pembelajaran jilid dan tiga kali dalam pembelajaran Al-Qur’an hasilpenilaian dicatat dalam buku hasil evaluasi, terdapat dua macam penilaian sumatif dalam pembelajaran ini, yaitu penilaian sumatif untuk menentukan lulus tidaknya peserta didik dalam ujian tashih Thoriqoty dan marhalah serta evaluasi sumatif yang dilaksanakan setiap ujian akhir semester untuk pengambilan nilai raport peserta didik dan fungsi diagnostik pada setiap kali tatap muka dengan buku kontrol

    PERAN GURU MATA PELAJARAN IPS DALAM MENANAMKAN SIKAP SOPAN SANTUN DAN TANGGUNG JAWAB SISWA KELAS VII SMP ISLAM AL HIDAYAH SAMIR NGUNUT TULUNGAGUNG

    Get PDF
    Skripsi dengan judul “ Peran Guru IPS Dalam Menanamkan Sikap Sopan Santun Dan Tanggung Jawab Siswa Kelas VII SMP Islam Al Hidayah Samir Ngunut Tulungagung” ini ditulis oleh Dilla Minhatul Maula, NIM. 126209212080, dengan pembimbing Ikfi Khoulita, M.Pd.I. Kata kunci : Peran Guru, Sopan Santun, Tanggung Jawab Penelitian ini dilatar belakangi oleh sikap sopan santun dan tanggung jawab yang dimiliki oleh siswa semakin berkurang. Sikap sopan santun dan tanggung jawab yang merupakan bagian penting dari pendidikan karakter yang harus ditanamkan sejak dini agar siswa mampu tumbuh menjadi pribadi yang beretika dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun lingkungan sosialnya. Ketika di sekolah guru selain brtugas untuk memberikan pembeajaran umum guru juga bertugas untuk menanamkan sikap sikap yang baik seperti sepan santun dan tanggung jawab. Fokus masalah pada penelitian ini (1) Bagaimana peran guru IPS dalam menanamkan sikap sopan santun dan tanggung jawab pada siswa kelas VII SMP Islam Al Hidayah Samir Ngunut Tulungagung (2) Bagaimana faktor pendukung dan faktor penghambat guru IPS dalam menanamkan sikap sopan santun dan tanggung jawab pada siswa kelas VII SMP Islam Al Hidayah Samir Ngunut Tulungagung. Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) Untuk megetahui peran guru IPS dalam menanamkan sikap sopan santun dan tanggung jawab pada siswa kelas VII SMP Islam Al Hidayah Samir Ngunut Tulungagung (2) Untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat guru IPS dalam menanamkan sikap sopan santun dan tanggung jawab pada siswa kelas VII SMP Islam Al Hidayah Samir Ngunut Tulungagung Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data melalui tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, dengan pengecekan keabsahan data penelitian menggunakan Triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian ini yaitu terdapat lima peran guru IPS dalam menanamkan sikap sopan santun dan tanggung jawab siswa kelas VII SMP Islam Al Hidayah Ngunut Tulungagug yaitu peran guru IPS dalam menanamkan sikap sopan santun dan tanggung jawab yaitu guru sebagai sumber belajar, guru sebagai fasilitator, guru sebagai motivator, guru sebagai demonstrator dan guru sebagai evaluator. Guru sudah berperan dalam menanakan sikap sopan santun dan tanggung jawab tetapi masih belum maksimal. Faktor pendukung guru IPS dalam menanmkan sikap sopan santun dan tanggung jawab siswa kelas VII SMP Islam Al Hidayah Samir Ngunut Tulungagung yaitu guru IPS, kebijakan sekolah dan orang tua siwa. Faktor penghambat yaitu siswa dan orang tua siswa

    PERAN HUBUNGAN MASYARAKAT DALAM MEMPERTAHANKAN REPUTASI CITRA LEMBAGA DI MAN 3 BLITAR

    Get PDF
    Skripsi dengan judul “Peran Hubungan Masyarakat dalam Mempertahankan Reputasi Citra Lembaga di MAN 3 Blitar”, ini ditulis oleh Mila Minhatul Maula, NIM. 126207212073, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Pembimbing Mohammad Khadziqun Nuha, M.Pd.I NIP. 199101312023211019. Kata Kunci: Hubungan Masyarakat, Reputasi, Citra Lembaga, MAN 3 Blitar Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurang optimalnya peran Humas di sejumlah Lembaga Pendidikan di Indonesia, serta masih rendahnya keterlibatan masyarakat dalam mendukung kegiatan madrasah. Padahal, keberhasilan pengelolaan Pendidikan sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat yang didorong oleh kinerja Humas yang profesional. Dalam hal ini peran Humas dinilai strategis dalam membangun komunikasi publik yang efektif, memperkuat reputasi citra Lembaga, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Lembaga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran hubungan masyarakat dalam mempertahankan reputasi citra lembaga di MAN 3 Blitar dengan fokus penelitian: (1) Bagaimana peran hubungan masyarakat dalam mempertahankan reputasi citra lembaga di MAN 3 Blitar? (2) Bagaimana faktor-faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi hubungan masyarakat dalam mempertahankan reputasi citra lembaga di MAN 3 Blitar? (3) Bagaimana implementasi peran hubungan masyarakat di MAN 3 Blitar dalam menangani isu-isu yang berpotensi memengaruhi reputasi citra lembaga? Penulisan pada penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi yang diperoleh dari sumber data di antaranya waka humas, wali murid, dan peserta didik. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis data yang mencakup tiga tahap, yaitu: kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan pengecekan keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Hubungan masyarakat di MAN 3 Blitar menjalankan peran sebagai komunikator, pembina hubungan, back up management, dan pembentuk corporate image. (2) Faktor-faktor yang dihadapi humas dalam mempertahankan reputasi citra lembaga di MAN 3 Blitar terbagi menjadi dua yaitu faktor pendukung meliputi: komunikasi informatif dan evaluatif, kerja sama dengan instansi eksternal, kolaborasi dengan tenaga pendidik dan kependidikan, keterlibatan stakeholder. Sementara faktor penghambat meliputi: adanya kesalahpahaman dengan pihak eksternal, keterbatasan fasilitas informasi, beban tugas ganda pada guru, serta beredarnya informasi yang tidak akurat di media sosial. (3) Implementasi peran humas MAN 3 Blitar dalam menangani isu yang memengaruhi reputasi citra lembaga antara lain: melakukan verifikasi dan klarifikasi, memperkuat relasi dengan instansi sekitar, memanfaatkan media digital, koordinasi dengan kepala madrasah, berinteraksi dengan humas lembaga lain

    MANAJEMEN KEWIRAUSAHAAN DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN LEMBAGA PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN FATHUL ULUM DIWEK JOMBANG

    Get PDF
    Skripsi dengan judul “Manajemen Kewirausahaan dalam Meningkatkan Kemandirian Lembaga Pendidikan di Pondok Pesantren Fathul Ulum Diwek Jombang” ini ditulis oleh Azza Minhatul Maula, NIM. 126207211005, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung yang dibimbing oleh bapak Dr. Mukhamad Sukur, S.H.I., M.Pd.I. Kata Kunci : Manajemen Kewirausahaan, Kemandirian Pendidikan, Pondok Pesantren Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya tantangan modernisasi dan keterbatasan pendanaan sehingga banyak pesantren dituntut untuk tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga mampu mengelola sumber daya secara mandiri dan berkelanjutan. Salah satu strategi yang relevan untuk menjawab tantangan tersebut adalah melalui penerapan manajemen kewirausahaan. Pondok pesantren Fathul Ulum Diwek Jombang merupakan contoh pesantren yang telah mengintegrasikan semangat kewirausahaan ke dalam sistem pendidikannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis manajemen kewirausahaan di pondok pesantren Fathul Ulum Diwek Jombang dalam meningkatkan kemandirian lembaga pendidikan, dengan fokus penelitian; 1) Bagaimana perencanaan kewirausahaan dalam meningkatkan kemandirian lembaga pendidikan di pondok pesantren Fathul Ulum Diwek Jombang?; 2) Bagaimana pelaksanaan kewirausahaan dalam meningkatkan kemandirian lembaga pendidikan di pondok pesantren Fathul Ulum Diwek Jombang?; 3) Bagaimana pengawasan kewirausahaan dalam meningkatkan kemandirian lembaga pendidikan di pondok pesantren Fathul Ulum Diwek Jombang? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Metode pengumpulan data menggunakan observasi wawancara mendalam, dan dokumentasi yang diperoleh dari sumber data diantaranya pengasuh pondok, ketua pondok, ketua BUMP (Badan Usaha Milik Pesantren), kepala bidang usaha, dan santri di pondok pesantren Fathul Ulum Diwek Jombang. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis data kualitatif dengan langkah kondensasi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut; 1)Perencanaan kewirausahaan dalam meningkatkan kemandirian lembaga pendidikan di pondok pesantren Fathul Ulum Diwek Jombang dilakukan dengan mengintegrasikan visi dan misi pondok dalam pengembangan pesantren preneur, santri preneur, dan sosio preneur. Upaya tersebut dilanjutkan dengan merencanakan kewirausahaan berbasis potensi lokal secara bertahap, menyusun tim kewirausahaan yang disesuaikan dengan minat, potensi, dan jenjang pendidikan santri, serta mengintegrasikan kegiatan kewirausahaan ke dalam jadwal harian pesantren, dan juga merencanakan pemasaran produk yang berbasis komunitas dan pemanfaatan media digital, 2)Pelaksanaan kewirausahaan dalam meningkatkan kemandirian lembaga pendidikan di pondok pesantren Fathul Ulum Diwek Jombang dilakukan dengan mengimplementasikan visi dan misi pondok dalam pengembangan pesantren preneur, santri preneur, dan sosio preneur. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui kewirausahaan berbasis unit usaha, praktik, dan pemanfaatan potensi lokal yang dimiliki pesantren. Selain itu, pemasaran produk juga dijalankan secara terpadu dengan pendekatan berbasis komunitas dan pemanfaatan media digital 3)Pengawasan kewirausahaan dalam meningkatkan kemandirian lembaga pendidikan di pondok pesantren Fathul Ulum Diwek Jombang dilakukan melalui pengawasan partisipatif terhadap seluruh kegiatan kewirausahaan, yang dilanjutkan dengan evaluasi berkala untuk menilai efektivitas dan keberlanjutan program. Hasil evaluasi tersebut menjadi dasar dalam melakukan pembaruan unit usaha agar lebih adaptif dan produktif. Selain itu, pengembangan kewirausahaan terus didorong melalui pemanfaatan potensi lokal yang dimiliki pesantren guna memperkuat kemandirian lembaga secara berkelanjutan

    Peranan guru Agama Islam dalam pembinaan akhlak siswa di MA al-Wathoniyah 43 Jakarta Utara

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui peranan guru agama Islam dalam pembinaan akhlak siswa di MA Al-Wathoniyah 43 Jakarta Utara, (2) Untuk memperoleh data tentang pembinaan akhlak yang dilakukan oleh guru di MA Al-Wathoniyah 43 terhadap siswanya. (3) Untuk mengetahui akhlak siswa di MA Al-Wathoniyah 43. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis yakni yakni memeparkan secara mendalam dengan apa adanya secara obyektif sesuai dengan data yang dikumpulkan, yang datanya diperoleh melalui field research (Penelitian lapangan) yang menggunakan teknik observasi dan angket. Dalam penelitian yang di lakukan di MA Al-Wathoniyah 43 menunjukkan bahwa guru agama Islam berperan Islam dalam pembinaan akhlak siswa sudah berperan dengan baik ini terbukti dari hasil presentase 80,9 %, hal ini juga terwujud dalam pelaksanaan pengajaran agama Islam yaitu dalam proses belajar mengajar guru berperan sebagai sumber belajar, sebagai demonstrator, sebagai pengelola kelas, sebagai fasilitator, sebagai pembimbing, sebagai motivator dan sebagai evaluator. Akhlak siswa pada sekolah ini bisa dikatakan cukup baik dengan senantiasa berakhlak mahmudah yaitu akhlak kepada allah yang selalu sabar, ikhlas, tawakal dan bersyukur, akhlak kepada diri sendiri yang selalu jujur,sabar dan menghargai, akhlak siswa kepada sesame yang selalu sopan santun, menghormati, tolong menolong, serta akhlak siswa kepada lingkungan yaitu memelihara lingkungan dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Akan tetapi beberapa siswa masih berakhlak mazmumah mudah marah, dengki, mengadu- adu serta membicarakan aib orang lain. Dengan demikian, berdasarkan hasil analisis penelitian sebagai interprestasi data bagi penulis skripsi penelitian ini, dapat diketahui bahwa peranan guru dalam pembinaan akhlak siswa di MA Al-Wathoniyah 43 Jakarta Utara sudah dikatakan berhasil dan baik untuk membina akhlak siswa, serta perubahan sikap yang ada pada diri siswa selalu mencerminkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari

    ANALISIS KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN NARASI PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR : Penelitian Deskriptif Kuantitatif terhadap Siswa Kelas IV SDN 2 Jatisura di Kecamatan Cikedung Kabupaten Indramayu

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan menulis karangan narasi peserta didik ditinjau dari indikator isi gagasan, organisasi isi, ciri linguistik narasi, jenis narasi, dan penggunaan ejaan. Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Peserta didik yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 16 peserta didik dari SDN 2 Jatisura. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tes. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan menulis karangan narasi peserta didik kurang mampu. Hal ini terlihat dari indikator yang diteliti yaitu: (1) kemampuan menulis karangan peserta didik dari indikator isi gagasan, peserta didik kurang mampu dalam menyertakan konflik dalam cerita dan menyajikan cerita secara urutan kronologis; (2) kemampuan menulis karangan narasi peserta didik dari indikator struktur organisasi narasi, peserta didik kurang mampu dalam menjabarkan komplikasi dan resolusi yang terdapat pada hasil karangan yang telah dibuat; (3) kemampuan menulis karangan narasi peserta didik dari indikator jenis narasi, peserta didik kurang mampu dalam mengetahui jenis narasi yang digunakan pada hasil karangan yang telah dibuatnya; (4) kemampuan menulis karangan narasi peserta didik dari indikator penggunaan ejaan, peserta didik kurang mampu dalam memperhatikan penggunaan huruf kapital, tanda koma, dan tanda titik. Sementara itu, kemampuan menulis karangan narasi peserta didik dari indikator ciri linguistik narasi, peserta didik mampu dalam menggunakan kata sambung sebagai keterangan waktu, kata kerja aksi, mendeskripsikan sifat pelaku, dan kata kerja mental. ----- This study aims to describe the ability of writing narrative essay students review of the indicators of the content of ideas, organization of content, characteristic of the linguistic narrative, type of narrative, and the use of spelling. This research belongs to the descriptive research type with quantitative approach. Learners involved in this study were 16 students of SDN 2 Jatisura. The data used in this research is test data. The results of this study indicate that the ability to write narrative essay learners are less able. It is seen from the indicators studied were: (1) the ability to write the essay of students of the indicators of the content of the idea, learners are less able to include the conflict in the story and present the story in chronological order; (2) the ability to write narrative essay of students of the indicators of the organizational structure of the narrative, learners are less able in describing the complications and the resolution contained in the results of a bouquet that has been created; (3) the ability to write narrative essay learners of indicator type of narrative, learners are less able to know the type of narration used on the results of a bouquet that has been made; (4) the ability to write narrative essay learners of indicators the use of spelling, learners are less able to pay attention to the use of capital letters, commas, and periods. Meanwhile, the ability to write narrative essay learners of indicators characterizes the linguistic narrative, learners are able to use the word connect as adverbs of time, verb of action, describing the nature of the offender, and the word mental labor

    POLA PENGASUHAN KIYAI HUBUNGANNYA DENGAN KEMANDIRIAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN JAGASATRU PUTRI KOTA CIREBON

    Get PDF
    Pendidikan adalah satu hal penting untuk membangun generasi bangsa, tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Salah satu pendidikan di Indonesia adalah pondok pesantren. Pendidikan nonformal yang banyak mengajarkan tentang agama dan ilmu kehidupan seperti kemandirian, kesabaran, dan lain-lain. sehingga ketika seseorang memutuskan untuk pesantren ia akan jauh dari orang tua dan semua kegiatan akan dipantau oleh pengasuh pesantren tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola pengasuhan dengan kemandirian santri. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif, peneliti menggunakan dua sumber data yaitu data primer yang diperoleh dari proses penyebaran kuesioner dan lainnya dan data sekunder yang didapatkan melalui data-data perpustakaan dan lainnya yang dapat membantu memperkuat argumentasi dari hasil penelitian ini. Sampel yang diambil dalam penelitian ini menggunakan Teknik purposive sampling yakni responden yang berusia 13 tahun sampai 19 tahun. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 28 responden. Dari hasil penelitian ini, peneliti menyimpulkan dari hasil uji one sample t�test bahwa tingkat kemandirian santri di Pondok Pesantren Jagasatru Putri Kota Cirebon adalah 38% dan dikategorikan rendah, dengan nilai signifikansinya 0,780 ˃ 0,05 dan nilai t hitung sebesar -0,282 ˂ t table 1,071. Dari hasil uji korelasi pearson product moment pola pengasuhan kiyai dengan kemandirian santri didapatkan hasil bahwa nilai signifikansinya adalah 0,000 ˂ 0,005 yang artinya terdapat hubungan antara pola pengasuhan dengan kemandirian santri, berdasarkan r hitung (pearson correlation) diketahui bahwa r hitung untuk hubungan pola pengasuhan (X) dengan kemandirian santri (Y) adalah sebesar 0,959 ˃ r tabel 0,374. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan atau korelasi antara variabel pola pengasuhan dengan kemandirian santri. Tingkat keeratan hubungan dikategorikan sangat kuat. Pola pengasuhan yang diterapkan ialah otoriter dan demokratis yang dilihat berdasarkan cara penyelesaian masalah dengan musyawarah, tidak membatasi santri berpendapat selain itu santri tetap diawasi ketat sehingga tidak diperbolehkan keluar dari lingkungan pondok, apabila santri melanggar maka akan dikenai hukuman

    KONTRIBUSI PEMIKIRAN AL-HABIB ABU BAKAR AL-ADNI BIN ALI AL-MASYHUR (w. 1444 H) TERHADAP PEMAHAMAN HADIS-HADIS ESKATOLOGIS

    Get PDF
    Tanda-tanda akhir zaman adalah keilmuan yang di dalamnya terkandung banyak sekali pembahasan mengenai peristiwa yang akan terjadi pada umat manusia di masa depan. Namun, kajian terhadap tanda-tanda akhir zaman dewasa ini telah mengalami hilangnya esensi ilmu tersebut. dikarenakan membahas masalah tanda-tanda akhir zaman sangat menjemukan, padahal Rasulullah Saw telah memberitakan melalui hadisnya yaitu, hadis Jibril atau dusebut dengan Ummu Sunnah tentang Islam, Iman, dan Ihsan (tsawa>bit). Sehingga pada rukun yang terakhir (muthagoyyar) kebanyakan dari kalangan pengkaji tidak memperhatikan subtansinya, maka al-Habib Abu Bakar ulama asal Aden memformulasikan sebuah kaidah Fiqh tahawwulat, guna memahami atau menyikapi (mawa>qif) setiap fenomena yang akan terjadi dimasa mendatang, hal itu berangkat dari hadis Jibril kemudian digunakan untuk menganalisis hadis-hadis eskatologis khususnya tentang tanda-tanda hari kiamat. Rumusan masalah penelitian ini yaitu, (1) Bagaimana metode yang digunakan al-Habib Abu Bakar al-Adni bin Ali al-Masyhur dalam memahami hadis Jibril? (2) Bagaimana Implementasi kaidah fiqih tahawwulat dalam memahami hadis Jibril? Jenis penelitian ini adalah penelitian dengan metode kualitatif yang termasuk dalam kajian kepustakaan (library research), yaitu bersifat kepustakaan. Dalam penelitian ini terdapat data primer, yakni data yang diperoleh dari karya al- Habib Abu Bakar yakni, kitab an-Nubd|zah as-S}hugra> dan al-Usus wa al- Munt}alaq>ot, dan data sekunder yang diperoleh melalui studi pustaka berupa buku, kitab hadis, jurnal, artikel dan lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rukun agama sesuai pernyataan Rasulullah Saw melalui hadis Jibril terdapat empat rukun syari’at, dengan tetap mengutaman rukun tsawa>bit (tidak dapat berubah) yakni, Islam, Iman, dan Ihsan. al-Habib Abu Bakar menambahkan satu rukun yaitu, pemahaman terhadap tandatanda akhir zaman (muthagoyyar), sebab mengetahui dan mempelajari ilmu tersebut merupakan suatu keniscayaan melihat transformasi kehidupan, ditandai munculnya fitnah, serta perpecahan belah umat, dan peperangan besar. Hal tersebut berupaya agar umat manusia tidak terjebak dalam kesesatan maupun dosa, oleh karenanya tidak terlepas untuk mengkaji ilmu fiqh tahawwulat beserta ilmu-ilmu lainnya. Sehingga umat muslim memahami caranya bersikap (mawaqif) sesuai nash yang telah dicontohkan Rasulullah Saw, shahabat, salafunashalih, dan lain sebagaianya

    Penafsiran Iddah Qs. At-Talaq (65): 1-3 (Aplikasi Teori Ma’na Cum Maghza)

    Get PDF
    Penafsiran QS. at-Talaq [65]: 1-3 sejauh ini hanya berfokus pada pemaknaan teks saja. Penafsiran oleh para mufasir dari masa klasik sampaikontemporer tidak sampai mengungkap signifikansi yang terdapat dalam rangkaian ayat tersebut. Sehingga, diperlukan rekonstruksi penafsiran yang melibatkan pemaknaan holistik agar signifikansi (pesan utama) yang terkandung dalam QS. at-Talaq [65]: 1-3 tidak terabaikan. Metode penelitian dalam tesis ini adalah library research yang berupaya untuk merekonstruksi penafsiran rangkaian ayat tersebut dengan menggunakan pendekatan teori ma’nā cum magza. Rumusan masalah penelitian ini adalah: 1. Bagaimana makna historis (al- ma’a at-tarikhi) QS. at-Talaq [65]: 1-3? 2. Bagaimana signifikansi historis (al-magza at-tarikhi) QS. aṭ-Ṭalaq [65]: 1-3? 3. Bagaimana signifikansi dinamis kontemporer (al-magza al-mutafiarrik al-mu’aṣir) QS. aṭ-Ṭalāq [65]: 1-3? Hasil penelitian ini adalah: Pertama, makna historis (al-ma’ā at-tārikhī) QS. aṭ-Ṭalāq [65]: 1-3 menunjukkan bahwa diksi ‘iddah merupakan kata kunci yang perlu dianalisis dalam setiap sub-bab analisis makna historis. Diksi ‘iddah secara historis dapat dimaknai dengan negasi dari term talak. Kedua, signifikansi historis (al-magza at-tarikhī) QS. at-Talaq [65]: 1-3 menunjukkan keberanian Nabi Muhammad dalam menyampaikan kebenaran Al- Qur’an yang disertai dengan argumentasi yang kuat. Ketiga, signifikansi dinamis kontemporer (al-magzā al-mutafiarrik al-mu’āṣir) QS.at-Talaq [65]: 1-3 dapat dikaitkan dengan empat bidang: agama, kesehatan, sosiologi dan akademik. Di bidang agama, profesi dai harus diisi orang- orang yang kompeten agar dakwah yang disampaikan berlandaskan dalil- dalil yang kuat. Di bidang kesehatan, pakar medis harus aktif menyebarkan informasi kesehatan agar hoaks seputar kesehatan yang tersebar melalui media sosial dapat diminimalisir, juga agar masyarakat lebih respek pada kesehatannya, baik kesehatan mental atau fisik. Di bidang sosiologi, masyarakat dianjurkan untuk memiliki rasa simpati dan empati sesama anggota masyarakat lain, agar intimidasi atau pengucilan dalam bersosial tidak terjadi. Di bidang akademik, seorang peneliti harus memiliki sikap ilmiah agar berani mempertahankan kebenaran disertai dengan landasan teori yang kuat
    corecore