1,720,969 research outputs found
PROSES PENGASAPAN DAN KUALITAS IKAN CAKALANG (KATSUWONUS PELAMIS) DAN TUNA SIRIP KUNING (THUNNUS ALBACARES) ASAP DI DESA SINGA KECAMATAN HERLANG KABUPATEN BULUKUMBA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pengasapan ikan yang dilakukan oleh pengasap ikan di Desa Singa, Kecamatan Herlang, Kabupaten Bulukumba dan menganalisis kualitas Ikan Cakalang dan Tuna Sirip Kuning Asap di Desa Singa Kecamatan Herlang, Kabupaten Bulukumba. Penelitian ini dilakukan dari bulan April sampai Mei 2018. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dan evaluasi. Survei dilakukan untuk mengetahui proses pengasapan dan melihat seluruh kegiatan yang dilakukan oleh pengolah ikan asap yang ada di Desa Singa Kecamatan Herlang Kabupaten Bulukumba. Evaluasi untuk mengetahui kualitas organoleptik bahan baku dari produk ikan asap. Data hasil uji organoleptik dianalisa menggunakan uji-t, anova, dan uji tukey dengan menetapkan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan proses pengolahan ikan asap yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Singa menggunakan metode pengasapan panas yang dilakukan secara terbuka dan lama pengasapan yang singkat. Kualitas organoleptik bahan baku ikan cakalang dan tuna sirip kuning setelah dibeli dari penangkap/pelelangan dan sebelum diproses memiliki nilai 8,18 artinya mutu (sangat segar) sesuai dengan SNI 2729:2006, sedangkan kualitas organoleptik bahan baku ikan cakalang dan tuna sirip kuning sesudah pengasapan memiliki nilai 7,2 artinya mutu (segar) sesuai dengan SNI 2725:2013.Ikan cakalang dan tuna sirip kuning asap hanya dapat bertahan 18 - 20 jam disimpan pada suhu kamar, setelah itu produk sudah tidak layak konsumsi. Kata kunci: Asap, cakalang dan tuna sirip kuning, kualitas, pengasapan, tradisional.
Efek Penambahan Gelatin Dari Tulang Ikan Terhadap Kandungan Protein Dan Tingkat Kesukaan Pada Minuman Jus Buah Segar
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh penambahan gelatin tulang ikan terhadap kandungan protein dan karakteristik organoleptik minuman jus buah segar. Jus buah segar yang digunakan dibuat dari buah apel, nanas dan pepaya. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan konsentrasi gelatin (0, 2, 4, 6 dan 8%) dan dengan 3 ulangan untuk masing-masing jenis jus buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi gelatin tulang ikan yang ditambahkan secara signifikan meningkatkan kandungan protein jus buah segar, dan kandungan protein masing-masing jenis jus buah berbeda nyata antar perlakuan yang diberikan. Penambahan gelatin 2 – 8% menyebabkan kandungan protein meningkat 12.4 – 33.85 kali lipat pada jus apel, 3.49 – 9.64 kali lipat pada jus nanas dan 5.44 – 13.41 kali lipat pada jus pepaya. Kandungan protein jus apel dapat diduga menggunakan persamaan regeresi: Y=0.617x + 0.358, R2=0.988; jus nanas, Y=0.848x + 0.936, R2=0.975; dan jus pepaya, Y=0.621x + 0.701, R2=0.980. Hasil penilaian berdasarkan penerimaan karakteristik organoleptik menunjukkan bahwa jus buah segar yang ditambahkan 4% gelatin tulang ikan masih disukai konsumen
TINGKAT KESUKAAN KONSUMEN DAN KUALITAS ORGANOLEPTIK PRODUK OLAHAN IKAN
Produk olahan ikan merupakan bentuk diversifikasi produk yang menggunakan ikan sebagai bahan dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen dan kualitas organoleptik produk olahan ikan. Sampel produk olahan ikan meliputi bakso, abon, nugget dan otak-otak. Sampel diambil dari kelompok pengolah hasil perikanan Buyang Sejahtera dan Barokah di Kelurahan Kampung Buyang Kecamatan Mariso Kota Makassar. Tingkat kesukaan dan kualitas organoleptik ditentukan dengan menggunakan kusioner dan panelis. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata panelis mengatakan sangat suka terhadap produk abon dan nugget kelompok pengolah Buyang sejahtera, sangat suka terhadap produk otak-otak Kelompok Barokah, suka terhadap produk otak-otak kelompok Buyang Sejahtera serta suka terhadap produk nugget dan bakso Kelompok Barokah
Aplikasi bakteriosin kasar berdasarkan nilai LC₅₀ untuk memperpanjang daya simpan udang putih: Aplikasi bakteriosin kasar berdasarkan nilai LC₅₀ untuk memperpanjang daya simpan udang putih
Fishery products, including white shrimp, are highly perishable due to microbial contamination during postharvest handling. To address this, natural preservatives, such as bacteriocins, which are antimicrobial compounds produced by bacteria, including those from fermented shrimp paste, are being explored. This study aimed to evaluate the toxicity and preservative potential of three bacteriocin samples (TRS1, TRS2, and TRS3) using a 24-hour LC₅₀ test on Artemia sp. and antibacterial activity based on total plate count (TPC) in shrimp during storage. A completely randomized design (CRD) was used. Toxicity levels were assessed using probit analysis with log-linear regression to determine LC₅₀ values, and TPC was measured at 3-hour intervals over 24 h. Data were analyzed using the Kruskal-Wallis test and Dunn’s post-hoc test. TRS1 exhibited the highest toxicity, with an LC₅₀ of 0.22 µL/mL, followed by TRS3 (2.48 µL/mL) and TRS2 (4.40 µL/mL). Despite its higher toxicity, TRS1, along with TRS2, effectively suppressed microbial growth in shrimp, maintaining TPC values below the Indonesian National Standard (5×10⁵ CFU/g) throughout 24 h. In contrast, TRS3 maintained TPC below the threshold only up to 12 h, with counts nearing control levels (8.0×10⁶ CFU/g) by 24 h. TRS1 and TRS2 treatments initially showed fluctuating TPC patterns, followed by a sharp decline, possibly due to delayed bacteriocin activation and microbial adaptation; however, the exact reason remains unclear. Overall, TRS1 and TRS2 exhibited strong potential as natural preservatives for extending the shelf life of fresh white shrimp by effectively controlling bacterial growth during storage.Produk perikanan, khususnya udang putih, mudah mengalami penurunan mutu akibat kontaminasi mikrob pascapanen sehingga diperlukan pengawet alami yang aman dan efektif. Bakteriosin merupakan senyawa antimikrob hasil metabolit bakteri yang berasal dari fermentasi terasi udang rebon dan berpotensi sebagai kandidat bioaktif. Penelitian ini menganalisis toksisitas bakteriosin melalui uji LC₅₀ pada Artemia sp. selama 24 jam, serta efektivitasnya menekan angka lempeng total (ALT) bakteri pada udang putih segar. Sampel bakteriosin (TRS1, TRS2, TRS3) diuji. Nilai LC₅₀ dihitung dengan analisis probit berbasis regresi linear logaritmik, sedangkan efektivitas dihitung dari pengamatan ALT selama 24 jam (interval 3 jam) dan dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dilanjutkan uji Dunn’s. Hasil menunjukkan TRS1 memiliki LC₅₀ terendah (0,22 µL/mL), diikuti TRS3 (2,48 µL/mL) dan TRS2 (4,40 µL/mL), menandakan TRS1 paling toksik terhadap Artemia sp. Dari sisi efektivitas, TRS1 dan TRS2 mampu mempertahankan ALT di bawah ambang SNI (5×10⁵ koloni/g) hingga jam ke-24. TRS3 hanya efektif hingga jam ke-12, lalu ALT meningkat mendekati kontrol (8,0×10⁶ koloni/g pada jam ke-24). Pola ALT TRS1 dan TRS2 berfluktuasi di awal sebelum menurun drastis, menunjukkan adaptasi mikrob dan aktivitas bakteriosin yang optimal setelah jam ke-6, hal ini disebabkan oleh aktivasi bakteriosin dan adapatasi mikrob, tetapi belum ada bukti kuat untuk menyatakannya. Kesimpulannya, TRS1 dan TRS2 memiliki potensi terbaik sebagai pengawet alami udang putih segar dengan kemampuan menekan pertumbuhan bakteri secara efektif selama penyimpanan
STUDI KUALITAS IKAN SEGAR SECARA ORGANOLEPTIK YANG DIPASARKAN DI KABUPATEN JENEPONTO
Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kualitas organoleptik ikan yang dipasarkan di Kabupaten Jeneponto. Penelitian dilaksanakan bulan Desember 2015 hingga Januari 2016 di 6 pasar di Kabupaten Jeneponto, yakni Pasar Binamu, Tamalatea, Bangkala, Batang, Togo- togo dan Tarowang. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan mengamati secara langsung aktifitas pedagang mulai dari awal penjualan hingga 2 jam setelahnya. Pengambilan sampel dilakukan terhadap 4 jenis ikan dominan kemudian tiap jenisnya diambil 3 secara acak ekor ikan. Penilaian organoleptik dan pengukuran suhu dilakukan 2 kali yakni pukul 07.00 dan 09.00. Hasil penilaian organoleptik dianalisis menggunakan Uji t dan ANOVA pada tingkat kepercayaan 95% (p < 0,05) selanjutnya diuji LSD (Least Significant Difference). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 10 jenis ikan yang diuji di enam pasar Kabupaten Jeneponto sebagian besar masih segar, kecuali untuk ikan kurisi, lencam, dan kuniran yang sudah kurang segar dengan nilai organoleptik < 7
Mutu dan Keamanan Pangan Produk Ikan Asap di Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan
TINGKAT KESEGARAN IKAN KEMBUNG LELAKI (Rastrelliger kanagurta) YANG DIJUAL ECERAN KELILING DI KOTA MAKASSAR
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober hingga November 2013 di tiga wilayah, yakni bagian timur, selatan, dan utara Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kualitas ikan kembung lelaki yang diterima oleh konsumen di Kota Makassar dari penjual ikan keliling (pa\u27ggandeng). Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel secara acak dari dua Pa’gandeng pada tiga titik penjualan (waktu penjualan) di masing-masing bagian kota. Parameter fisik dan organoleptik diukur secara langsung di lokasi sampling, sedangkan parameter kimiawi dan mikrobiologis diuji di laboratorium. Pengaruh waktu terhadap parameter kesegaran ikan diuji menggunakan anova dengan tingkat kepercayaan 95% (p<0,05). Selanjutnya, dilakukan uji LSD (Least Significant Difference) untuk mengetahui perbedaan signifikan antar titik pengamatan. Hubungan antar parameter yang diukur selanjutnya dianalisis menggunakan regresi. Berdasarkan hasil uji organoleptik, parameter mikrobiologis, dan kimiawi, ikan kembung lelaki yang dipasarkan eceran keliling oleh Pa’gandeng di Kota Makassar hingga titik akhir, untuk nilai pH menurun dari 5,86 hingga 5,91nilai TVB meningkat dari 15,01 hingga 19,26 mgN/100g nilai angka peroksida meningkat dari 23,65 hingga 27,83 meq/kg, nilai ALT meningkat dari 0,51x104 menjadi 12,39x104 cfu/g nilai koliform meningkat dari 24,97 kemudian menurun 14,23 MPN/g dan nilai organoleptik menurun hingga 8,42 hingga 7,08. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) yang dijual keliling di Kota Makassar hingga konsumen akhir masih layak untuk di konsumsi meskipun penjualan akhir sudah mendekati batas kelayakan
Pengaruh Cara Penangkapan, Fasilitas Penangan dan Cara Penanganan Ikan Terhadap Kualitas Ikan yang Dihasilkan
The research was aimed at determining the effect of fishing techniques, handling facilities and method son the quality of the catch. The research employed four types of fishing gears, i.e. purse seine, cantrang,gillnet and boat-liftnet with five replicates each. Five species of the dominant catch were taken for qualitydetermination on-board, at landing sites, and after auctioning. The condition of handling facilities andmethods were evaluated. Fish transit time (time lapse between the fish lifting and auction process) was also determined. Results indicated that the fish quality decreased as the transit time increased. Nearly all fish caught were subjected to neither good handling nor low temperature despite the availability of good handling facilities. Nevertheles, the fish quality remained fairly good up to the point of soon after auctioning (pH’s<7 and organoleptic scores >7). When alone, none of the quality predictors affected the fish quality. However, when the fishing techniques were compounded the quality predictors significantly affected the fish quality. Regression analysis showed that, when the fishing techniques were uncompounded, 73.96% of the fish quality was determined by fishing with purse seine, cantrang, boatliftnet and fish transit time. When fishing techniques were compounded,however, the fishing techniques, on-board handling methods, on-board and on landing site handling facilities, and the fish transit time contributed 73.96% effect to the fish quality. The PCA analysis showed that as much as 52.52% and 27.27% the fish quality were determined by the purse seine and cantrang, respectively
- …
