1,720,976 research outputs found
PENINGKATAN NILAI TAMBAH UBI JALAR MELALUI PENGOLAHAN MENJADI TEPUNG DAN BERBAGAI PRODUK KULINER OLAHAN UBI JALAR
Umbi-umbian merupakan bahan pangan lokal yang ketersediaannya cukup melimpah serta cukup potensial untuk dikembangkan dalam berbagai macam olahan yang enak dan bergizi, salah satu contohnya adalah ubijalar. Produk ubijalar sangat melimpah sat musim panen raya. Salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah ubi jalar adalah dengan mengolahnya menjadi tepung ubi jalar dan berbagai produk-produk ini diperlukan teknologi pengolahan dan dan alat pengolah yang tepat. Penerapan program IPTEKDA bertujuan untuk membantu masyarakat yang bergerak dibidang Usaha Kecil dan Menengah (UKM)/kelompok usaha produk hasil pertanian mengembangkan usahanya melalui penerapan teknologi mengolah ubi jalar menjadi tepung ubijalar kemudian membina UKM. Produk pangan untuk mengolahan tepung ubijalar menjadi berbagai produk olahan yang menarik dan potensial untuk dikomersialkan. Hal ini diharapkan akan meningkatkan nilai produk ubi jalar dan dan nilai tambah bagi UKM sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Program IPTEKDA LIPI dilaksanakan di Kabupaten Pangkep dan Kodya Makassar. Di Pangkep dibangun kemitraan dengan CV. Alam Kibar untuk melakukan transfer teknologi, managemen usaha dan pemasaran agar mampu mengelola ubi jalar menjadi tepung ubi jalar dan kemudian mampu mengkomersialkannya. Di Kodya Makassar dilakukan kemitraan dengan kelompok usaha bersama (KUB) Pondok Aneka Kue memperkenalkan berbagai produk olahan tepung ubi jalar pada masyarakat konsumen. Kegiatan yang telah dilaksanakan sampai saat ini adalah introduksi teknologi pembuatan tepung ubi jalar pada CV Alam Kibar yang dilakukan secara bertahap yaitu: 1) merancang proses dan tataletak peralatan yang dibutuhkan, 2) menginventarisir peralatan yang telah dimiliki oleh CV Alam Kibar, 3) Pembuatan ruang pengering ubi jalar yang nantinya pemanasan menggunakan sekam padi dan limbah pertanian dari sekitar pabrik seperti halnya pada CV Alam Kibar , 4) pelatihan pembuatan ubi jalar pada UKM Pondok Aneka Kue kegiatan dilakukan secara bertahap yaitu : 1) Inventarisasi pelatihan yang dibutuhkan, 2) Pemesanan peralatan dan 3)Uji coba pembuatan kue dari ubi jalar.\ud
Rencana selanjutnya akan dilakukan beberapa kegiatan pada CV. Alam Kibar yaitu : 1) Uji coba produk menggunakan ruang pengering dan 2) Produksi komersial dan pemasaran. Sedangkan pada UKM Pondok Aneka Kue akan dilakukan beberapa kegiatan yaitu; 1)Pembuatan berbagai kue dari ubi jalar dan 2) Uji coba pemasaran
PENINGKATAN NILAI TAMBAH UBI JALAR MELALUI PENGOLAHAN MENJADI TEPUNG DAN BERBAGAI PRODUK KULINER OLAHAN UBI JALAR
Umbi-umbian merupakan bahan pangan lokal yang ketersediaannya cukup melimpah serta cukup potensial untuk dikembangkan dalam berbagai macam olahan yang enak dan bergizi, salah satu contohnya adalah ubijalar. Produk ubijalar sangat melimpah sat musim panen raya. Salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah ubi jalar adalah dengan mengolahnya menjadi tepung ubi jalar dan berbagai produk-produk ini diperlukan teknologi pengolahan dan dan alat pengolah yang tepat. Penerapan program IPTEKDA bertujuan untuk membantu masyarakat yang bergerak dibidang Usaha Kecil dan Menengah (UKM)/kelompok usaha produk hasil pertanian mengembangkan usahanya melalui penerapan teknologi mengolah ubi jalar menjadi tepung ubijalar kemudian membina UKM. Produk pangan untuk mengolahan tepung ubijalar menjadi berbagai produk olahan yang menarik dan potensial untuk dikomersialkan. Hal ini diharapkan akan meningkatkan nilai produk ubi jalar dan dan nilai tambah bagi UKM sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Program IPTEKDA LIPI dilaksanakan di Kabupaten Pangkep dan Kodya Makassar. Di Pangkep dibangun kemitraan dengan CV. Alam Kibar untuk melakukan transfer teknologi, managemen usaha dan pemasaran agar mampu mengelola ubi jalar menjadi tepung ubi jalar dan kemudian mampu mengkomersialkannya. Di Kodya Makassar dilakukan kemitraan dengan kelompok usaha bersama (KUB) Pondok Aneka Kue memperkenalkan berbagai produk olahan tepung ubi jalar pada masyarakat konsumen. Kegiatan yang telah dilaksanakan sampai saat ini adalah introduksi teknologi pembuatan tepung ubi jalar pada CV Alam Kibar yang dilakukan secara bertahap yaitu: 1) merancang proses dan tataletak peralatan yang dibutuhkan, 2) menginventarisir peralatan yang telah dimiliki oleh CV Alam Kibar, 3) Pembuatan ruang pengering ubi jalar yang nantinya pemanasan menggunakan sekam padi dan limbah pertanian dari sekitar pabrik seperti halnya pada CV Alam Kibar , 4) pelatihan pembuatan ubi jalar pada UKM Pondok Aneka Kue kegiatan dilakukan secara bertahap yaitu : 1) Inventarisasi pelatihan yang dibutuhkan, 2) Pemesanan peralatan dan 3)Uji coba pembuatan kue dari ubi jalar.\ud
Rencana selanjutnya akan dilakukan beberapa kegiatan pada CV. Alam Kibar yaitu : 1) Uji coba produk menggunakan ruang pengering dan 2) Produksi komersial dan pemasaran. Sedangkan pada UKM Pondok Aneka Kue akan dilakukan beberapa kegiatan yaitu; 1)Pembuatan berbagai kue dari ubi jalar dan 2) Uji coba pemasaran
MENGGALI DAN MENGEMBANGKAN POTENSI PANGAN LOKAL BERBASIS IKAN SEBAGAI BUMBU PENYEDAP MASAKAN (Flavor enhancer) UNTUK MEMPERKAYA KHASANAH BUMBU NUSANTARA
Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah penyedap rasa berbahan baku peda dan terasi dengan tambahan bumbu dan rempah yang berfungsi sebagai pengawet antimikroba dan penambah rasa dan aroma. Bumbu dan rempah diketahui bersifat antimikroba. Penerapan bumbu dan rempah pada produk hasil perikanan mengacu pada upaya penghambatan aktivitas enzim HDC dan pembentukan histamin sehingga kasus keracunan histamin dapat dicegah. Penyedap rasa ini dapat diterapkan untuk berbagai masakan tanpa penambahan bumbu lainnya. Hal ini dapat mengurangi penggunaan MSG yang berlebihan di dalam masakan. Selain itu penyedap rasa berbahan hasil fermentasi ikan ini diharapkan dapat memperkaya khasanah bumbu Nusantara. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahun. Hasil yang telah dicapai dari penelitian tahun pertama dan kedua adalah (1) sebuah buku berjudul Makanan Tradisional Sulawesi Berbasis Ikan (ISBN: 979-18390-8-5 Penerbit Masagena Press), (2) Pelaksanaan penelitian penyedap rasa berbasis terasi ikan dengan variasi bumbu dan rempah, (3) Keikutsertaan dalam International Conference on Nutraceutical and Functional Food di Bali, 12 ??? 15 Oktober 2010 dengan paper ???Development of Seasoning Powder as Flavor Enhancer which is made from fish paste???, (4) Penulisan draft buku Histamin dalam Bahan Pangan, (5) Penyusunan draft paten Penyedap Rasa All-in-One dan (6) Pelaksanaan penelitian optimalisasi produksi penyedap rasa. Hasil yang dicapai pada tahun ketiga penelitian adalah (1) penggandaan skala produksi ke skala industri kecil (6kg) untuk dua jenis penyedap rasa yaitu berbahan baku terasi dan peda dan pengujian umur simpan keduanya, (2) publikasi di Buletin Penelitian LP2M Unhas seri Hayati Vol.11, No.1 Maret 2011 dengan judul ???Kajian Pengolahan Penyedap Rasa dari Ikan Peda dengan penerapan Variasi Bumbu???, (3) penyusunan draf buku ???Mengenal histamin dalam bahan pangan??? dan buku ajar ???Analisa Bahan Pangan???, (4) pendaftaran paten penyedap rasa ???all-in-one??? ke Dirjen HKI dan terdaftar dengan nomor pendaftaran P00201100637 tanggal 14 September 2011, (5) pengiriman artikel dengan judul ???Development of Seasoning Powder as Flavor Enhancer which is made from fish paste??? ke jurnal Natur Indonesia dan (6) keikutsertaan pada International Food Conference di Surabaya dengan judul paper ???Optimazing production process of seasoning powder made from fermented fish products??? pada tanggal 28 ??? 29 Oktober 2011 di Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya. Beberapa kegiatan seperti penyusunan SOP, pengkajian tekno-ekonomi penyedap rasa dan perancangan serta pencetakan kemasan sementara dalam proses penyelesaian
MENGGALI DAN MENGEMBANGKAN POTENSI PANGAN LOKAL BERBASIS IKAN SEBAGAI BUMBU PENYEDAP MASAKAN (Flavor enhancer) UNTUK MEMPERKAYA KHASANAH BUMBU NUSANTARA
Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah penyedap rasa berbahan baku peda dan terasi dengan tambahan bumbu dan rempah yang berfungsi sebagai pengawet antimikroba dan penambah rasa dan aroma. Bumbu dan rempah diketahui bersifat antimikroba. Penerapan bumbu dan rempah pada produk hasil perikanan mengacu pada upaya penghambatan aktivitas enzim HDC dan pembentukan histamin sehingga kasus keracunan histamin dapat dicegah. Penyedap rasa ini dapat diterapkan untuk berbagai masakan tanpa penambahan bumbu lainnya. Hal ini dapat mengurangi penggunaan MSG yang berlebihan di dalam masakan. Selain itu penyedap rasa berbahan hasil fermentasi ikan ini diharapkan dapat memperkaya khasanah bumbu Nusantara. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahun. Hasil yang telah dicapai dari penelitian tahun pertama dan kedua adalah (1) sebuah buku berjudul Makanan Tradisional Sulawesi Berbasis Ikan (ISBN: 979-18390-8-5 Penerbit Masagena Press), (2) Pelaksanaan penelitian penyedap rasa berbasis terasi ikan dengan variasi bumbu dan rempah, (3) Keikutsertaan dalam International Conference on Nutraceutical and Functional Food di Bali, 12 ??? 15 Oktober 2010 dengan paper ???Development of Seasoning Powder as Flavor Enhancer which is made from fish paste???, (4) Penulisan draft buku Histamin dalam Bahan Pangan, (5) Penyusunan draft paten Penyedap Rasa All-in-One dan (6) Pelaksanaan penelitian optimalisasi produksi penyedap rasa. Hasil yang dicapai pada tahun ketiga penelitian adalah (1) penggandaan skala produksi ke skala industri kecil (6kg) untuk dua jenis penyedap rasa yaitu berbahan baku terasi dan peda dan pengujian umur simpan keduanya, (2) publikasi di Buletin Penelitian LP2M Unhas seri Hayati Vol.11, No.1 Maret 2011 dengan judul ???Kajian Pengolahan Penyedap Rasa dari Ikan Peda dengan penerapan Variasi Bumbu???, (3) penyusunan draf buku ???Mengenal histamin dalam bahan pangan??? dan buku ajar ???Analisa Bahan Pangan???, (4) pendaftaran paten penyedap rasa ???all-in-one??? ke Dirjen HKI dan terdaftar dengan nomor pendaftaran P00201100637 tanggal 14 September 2011, (5) pengiriman artikel dengan judul ???Development of Seasoning Powder as Flavor Enhancer which is made from fish paste??? ke jurnal Natur Indonesia dan (6) keikutsertaan pada International Food Conference di Surabaya dengan judul paper ???Optimazing production process of seasoning powder made from fermented fish products??? pada tanggal 28 ??? 29 Oktober 2011 di Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya. Beberapa kegiatan seperti penyusunan SOP, pengkajian tekno-ekonomi penyedap rasa dan perancangan serta pencetakan kemasan sementara dalam proses penyelesaian
AKTIVITAS FITASE PADA TAHAP-TAHAP PEMBUATAN TEMPE DART KARA BENGUK, GUDE DAN KARA PUTIH MENGGUNAKAN USAR
Abstrak
Penelitian dilakukan untuk mengkaji perubahan aktivitas fitase selama proses pembuatan tempe kara benguk, gude dan kara putih dengan menggunakan usar. Ekstrak kasar fitase dipersiapkan metalui beberapa tahap isolasi dan pemurnian, sedangkan aktivitas Masa diukur berdasarkan jumlah fosfat anorganik yang dibebaskan dari substrat natrium fitat pada kondisi pengujian yang ditetapkan. Suhu dan pH optimum untuk fitase kara benguk dan kara putih berturut-turut 60°C clan 4,8 sedangkan untuk gude berturuHurut 50°C dan 5.0.
Hasil yang diperoleh menunjukkan penurunan aktivrtas fitase selama perlakuan perendaman pada kara benguk dan kara putih, berturul-turul dan 129.56 â 48.73 pi mol dan 169,30 â 77.92 y mol. Pada gude tidak ditakukan pengujian aktivitas fitase selama perlakuan perendaman, Pada tahap fermentasi 0 â 24 jam. terjadi kenaikan aktivitas fitase berturuHurui dan 0 â 193,23 u mot. 0 â 96.24 w mol dan 5,56 â46,33
mot untuk kara benguk, gude dan kara putih. Setelah 24 jam ferrnentasi, aktivrtas fitase turun menjadi berturut-turut sebesar 60,72 u mol. 59.56 p mol dan 7.68 y mol. Selama fermentasi 36 â 48 jam, aktivitas fitase naik lagi berturut-turut sebesar 164,76 u mol, 118,59 0 mol dan 9,27 y mol untuk kara benguk. gude dan kara putih. Selama proses pembuatan tempe kandungan asam fitat turun berturut-turut dari 0,37 â 0,14%, 0,42 â 0,10% dan 2,26 â 0.16% masing-masing dalam berat kering untuk kara benguk, gucle dan kara putih,
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
