1,721,138 research outputs found
PANDANGAN KH. ANIS MASDUQI, LC M.SI (GUS ANIS) NAHDLATUL ULAMA (NU) YOGYAKARTA TENTANG PENGHULU WANITA
Penghulu merupakan sebuah profesi Pegawai negeri Sipil (PNS) yang
dalam sejarahnya, hingga hari ini, belum pernah dijabat oleh kaum hawa. Padahal
dalam peraturan yang berlaku, PNS bukanlah sebuah profesi yang secara eksklusif
dikhususkan bagi kelompok gender tertentu. Sebab utama yang menjadikan
profesi peghulu hanya dijabat oleh laki-laki adalah karena penghulu juga
ditugaskan melaksanakan taukil wali nikah/tauliyah wali hakim, sedangkan
menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) salah satu persyaratan bagi wali dalam
pernikahan adalah laki-laki. Inilah yang mengakibatkan kenapa jabatan penghulu
hanya dijabat oleh kaum laki-laki. Padahal dalam fikih terdapat pendapat alternatif
yang tidak mensyaratkan wali harus laki-laki. Selain itu, peraturan tentang
kepenghuluan sendiri tidak mensyaratkan jabatan penghulu hanya untuk laki-laki.
Perkembangan pemikiran dan kesadaran akan kesetaraan gender dalam ranah
profesi kemudian mempertanyakan kenyataan ini, kenapa wanita tidak diberi
kesempatan untuk menjadi penghulu?
Penelitian ini merupakan sebuah penelitian lapangan yang mencoba
menggali pendapat KH. Anis Masduqi Lc, M.si Yogyakarta tentang penghulu
wanita. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan normatif yuridis. Data
primer dalam penelitian ini meliputi hasil wawancara terhadap pendapat KH. Anis
Masduqi Lc, M.si Yogyakarta tentang penghulu wanita Yogyakarta. Adapun data
sekundernya berupa beberapa literatur yang berkaitan dengan materi penelitian.
Penelitian ini bersifat eksploratif. Dan dengan teknik penalaran induktif, penelitian
ini mencoba menganalisa pendapat dan pertimbangan para narasumber, kemudian
ditarik kesimpulan tentang penghulu wanita.
Penelitian ini menemukan bahwa pendapat KH. Anis Masduqi Lc, M.si
memiliki pandangan tersendiri versi beliau. KH. Anis Masduqi Lc,M.Si
berpendapat bahwa, selama penghulu memiliki tugas sebagai wali hakim, maka
wanita tidak bisa/boleh menjadi penghulu. Jika wanita tidak bisa/boleh menjadi
penghulu, maka wanita juga tidak bisa/boleh menjadi kepala KUA. Pandangan
Gus Anis tentang penghulu wanita didasarkan pada pandangan beliau tentang
syarat wali dalam pernikahan. pendapat KH. Anis Masduqi Lc, M.si Yogyakarta
tentang penghulu wanita Yogyakarta tentang syarat wali dalam pernikahan sejalan
dengan pendapat jumhur ulama dan peraturan hukum yang berlaku di Indonesia
Pelaksanaan pendidikan agama Islam dalam keluarga di Desa Sengonagung Purwosari Pasuruan: Studi kasus keluarga bapak Abdul Chasib Masduqi
ABSTRAK
Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama yang akan menentukan perkembangan bagi anak di masa mendatang. Karena kewajiban orang tua tidak hanya memberikan nafkah lahiriah saja, tetapi juga wajib memberikan pendidikan dan bimbingan kepada anggota keluarganya, khususnya pendidikan agama kepada anak.
Pendidikan agama dalam keluarga merupakan awal pembentukan kepribadian anak. Baik buruknya kepribadian anak tergantung pada pendidikan serta lingkungan yang mengasuhnya. Di sini peran orang tua sebagai guru (pendidik) anaknya sangat menentukan kualitas anak tersebut, sehingga orang tua dituntut agar mampu menjalankan kewajibannya yakni menegakkan pilar-pilar pendidikan agama dalam keluarga. Meskipun hal itu sering kali menghadapi beberapa hambatan.
Mengingat pentingnya pendidikan agama di lingkungan keluarga yang merupakan titik awal pengenalan pendidikan bagi anak, maka pengetahuan yang cukup bagi orang tua sangatlah dibutuhkan baik dalam hal mendidik anak maupun dalam masalah agama. Yang demikian itu biasanya terdapat pada orang tua yang berpendidikan, sehingga orang tua tersebut akan banyak mengerti dan menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya.
Berkaitan dengan hal di atas, dalam skripsi ini penulis tertarik untuk membahas tentang: Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga (Studi Kasus Keluarga Bapak Abdul Chasib Masduqi di Desa Sengonagung Purwosari Pasuruan). Adapun permasalahan yang akan diungkapkan dalam penelitian ini adalah: bagaimana pelaksanaan pendidikan agama Islam dalam keluarga bapak Abdul Chasib Masduqi, faktor-faktor apa saja yang menunjang dan menghambat pelaksanaan pendidikan agama Islam dalam keluarga bapak Abdul Chasib Masduqi, serta bagaimana upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut.
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menjawab permasalahan di atas dan selanjutnya diharapkan akan dapat berguna sebagai sumbangan pemikiran dan bahan masukan bagi penulis, khususnya sebagai calon pendidik di masa mendatang dan bagi keluarga dalam rangka pembinaan pelaksanaan pendidikan agama Islam dalam keluarga.
Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut di atas, penulis dalam penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan mengambil obyek keluarga bapak Abdul Chasib Masduqi di Desa Sengonagung Purwosari Pasuruan.
Adapun responden dalam penelitian ini adalah seluruh anggota keluarga bapak Abdul Chasib Masduqi dan informannya adalah tetangganya serta saudaranya yang tidak tinggal serumah. Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan metode observasi, interview dan dokumentasi. Sedangkan tehnik analisa data yang penulis gunakan adalah tehnik analisis deskriptif, sebagaimana yang sering dilakukan dalam penelitian kualitatif, dengan melalui tahapan-tahapan tertentu, yakni identifikasi, klasifikasi dan kategorisasi selanjutnya diinterpretasikan melalui penjelasan- penjelasan deskriptif.
Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan, bahwa pelaksanaan pendidikan agama Islam dalam keluarga bapak Abdul Chasib Masduqi termasuk kategori baik. Hal ini terbukti adanya sikap orang tua yang selalu memperhatikan pendidikan anak-anaknya khususnya pendidikan agama dan bertanggung jawab dengan menyekolahkan anaknya, baik sekolah umum maupun agama. Dan juga memberikan materi pendidikan agama mengenai aqidah, ibadah dan akhlak. Sedangkan metode yang digunakan untuk menyampaikan materi pendidikan tersebut meliputi, metode keteladanan, metode pembiasaan, perhatian dan hukuman. Disamping itu ada beberapa jenis kegiatan pendidikan agama Islam yang dilaksanakan dalam keluarganya seperti shalat berjama’ah, tadarus al-Qur’an setelah Maghrib, mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaam di masyarakat dan sebagainya.
Adapun faktor penunjang dalam melaksanakan pendidikan agama Islam dalam keluarga bapak Abdul Chasib Masduqi yaitu kesadaran orang tua dalam melaksanakan pendidikan agama Islam dalam keluarga, terjalinnya hubungan yang harmonis, lingkungan masyarakat yang agamis dan terdapat lembaga keagamaan di lingkungan sekitarnya. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu karena pengaruh media massa (televisi).
Kemudian upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam melaksanakan pendidikan agama Islam dalam keluarganya karena pengaruh dari media massa (televisi) tersebut yaitu dengan cara mendampingi dan mengarahkan anaknya ketika menonton televisi, terutama acara yang dilihatnya itu tidak sesuai untuk anak dan bila perlu mengalihkan ke stasiun televisi yang lain
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Identification of Energy Costs in The Gowongan Water Supply System of Perumda Air Minum Tirta Moedal, Semarang, Indonesia
Energy use in water supply systems has drawn increasing attention, especially in areas relying on pumps. This study evaluates the E4 pumps system at the Gowongan Water Supply System (SPAM) by Perumda Air Minum Tirta Moedal Semarang City, conducted in April 2025. Real-time measurements were taken using an ultrasonic flowmeter and a digital power meter. The analysis covered pump efficiency, Specific Energy Consumption (SEC), and electricity usage during peak (WBP) and off-peak (LWBP) hours, based on Ministry of Energy Regulation No. 7/2024. The results showed a pump efficiency of 60.3% and an SEC value of 0.221 kWh/m³. Over 83% of electricity was consumed during off-peak hours, indicating the effectiveness of the Variable Speed Drive (VSD) implementation. The audit also recommends optimizing pump operation schedules and exploring alternative energy sources as strategies to improve operational efficiency.
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
