1,722,158 research outputs found
Hipposideros madurae Kitchener & Maryanto 1993
33. Maduran Leaf-nosed Bat Hipposideros madurae French: Phyllorhine de Madura / German: Madura-Rundblattnase / Spanish: Hiposidérido de Madura Other common names: Maduran Roundleaf Bat Taxonomy. Hipposideros modura« Kitchener & Maryanto, 1993, “Sampang, Pulau Madura [= Madura Island], nr NE Java (7° 13’S; 113° 15’E); altitude 0-30 m,” Indonesia. Hipposideros madurae is in the larvatus species group. This species was previously included in H. larvatus but is now regarded as a distinct species, based mainly on its generally smaller skull. Two subspecies recognized. Subspecies and Distribution. H.m.wiodwoeKitchener&Maryanto,1993-MaduraI,offNEJava. H. m. jenningsi Kitchener & Maryanto, 1993 -E Java. Descriptive notes. Tail 23-6-30-9 mm, ear 19-6-21-2 mm, forearm 53-58 mm. Greatest skull lengths are 20-21 mm, tibia 17-21 mm. The Maduran Leaf-nosed Bat is very similar to Horsfield’s Leaf-nosed Bat {Hipposideros larvatus), but has smaller body. As in Horsfield’s Leaf-nosed Bat, there are three supplementary leaflets on each cheek. Pelage is dark brown to reddish-brown. Baculum has two distinct prongs but is short and oval in shape rather than elongate as in Horsfield’s Leaf-nosed Bat. Habitat. In east-centralJava, the Maduran Leaf-nosed Bat was found in limestone caves near villages. It has been recorded from below 1000 m. Food and Feeding. No information. Breeding. No information. Activity patterns. The Maduran Leaf-nosed Bat is known to roost in limestone caves. Movements, Home range and Social organization. Maduran Leaf-nosed Bats are known to roost in small colonies. Status and Conservation. Classified as Least Concern on IUCN Red List. It is currently known from the eastern part ofJava, but surveys are needed to confirm whether or not it also occurs in the western part of the island or further east. As a cave-dwelling bat, the Maduran Leaf-nosed Bat may be at risk due to limestone quarrying. Bibliography. Hutson, Schütter, Kingston & Maryanto (2008), Kitchener & Maryanto (1993), Simmons (2005).Published as part of Don E. Wilson & Russell A. Mittermeier, 2019, Hipposideridae, pp. 227-258 in Handbook of the Mammals of the World – Volume 9 Bats, Barcelona :Lynx Edicions on page 239, DOI: 10.5281/zenodo.373980
PENGENDALIAN PERSEDIAAN KEDELAI DI PABRIK TAHU MARYANTO 1
Pabrik Tahu Maryanto 1 adalah UMKM yang mengelolah bahan baku kedelai
menjadi tahu. Pada jenis usaha ini, ketersediaan bahan baku utama sangatlah
penting karena dapat mendukung kelancaran proses produksi. Pabrik Tahu
Maryanto 1 belum perna melakukan perencanaan persediaan bahan baku karena
belum memiliki metode yang tepat sehingga pemesanan bahan baku dilakukan
ketika kehabisan bahan baku. Dengan jumlah permintaan yang fluktuatif, hal
tersebut dapat menyebabkan terjadinya kekurangan bahan baku sehingga
menyebabkan munculnya biaya tambahan.
Permasalahan mengenai persediaan bahan baku kedelai dengan jumlah
permintaan yang fluktuatif memunculkan tujuan penelitian untuk mendapatkan
total biaya persediaan yang seminimal mungkin dengan menentukan jumlah dan
waktu pemesanan yang tepat sehingga dapat memenuhi permintaan pelanggan.
Metode simulasi dengan model P digunakan untuk menyelesaikan permasalahan
yang terjadi di Pabrik Tahu Maryanto 1.
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengendalian persediaan di Pabrik Tahu
Maryanto 1, didapati bahwa kondisi 9 adalah solusi dari permasalah di pabrik ini.
Kebijakan pengendalian persediaan dengan menggunakan kombinasi periode
pesan (P) dan persediaan maksimum (Imax) mampu menghemat biaya sebesar
2%, artinya kebijakan yang diusulkan menghasilkan total biaya persediaan yang
minimum
Menuju Ilmu Estetika : Isu-isu dan ide-ide
Apa yang terjadi ketika kita mengalami sebuah karya seni? Apa artinya memilikipengalaman estetis? Apakah sains dapat membantu kita memperoleh prinsip-prinsip umum tentang estetika, atau apakah "selera itu tak bisa diperkirakan"?Filosof, psikolog, danbaru-baru ini ahli neurosains telah mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, di mana masing-masing kelompok ini berfokus pada isu-isu spesifik.Buku ini memberikan pendekatan interdisiplineryang mengacu pada filosofi, psikologi, dan neurosains, dan empertimbangkan kelayakan dari ilmu estetika yang integratif.
Secara historis, istilah estetikatelah dikaitkan dengan caranya seni membangkitkan tanggapan emosional.Alexander Baumgarten menyiptakan istilah pada tahun 1750 untuk mengajukan pendekatan filosofisnya yang baru, yaitu mempelajari "cara berpikir secara indah" (ars pulchre cogitandi).Dia berargumen bahwa apresiasi atas keindahan adalah titik akhirdari pengalaman estetik.Orang bisa merasakan keindahan dalam banyak hal, mulai dari objek-objekalam sampai dengan karya seni yang mengandung ketrampilan tinggi, dan estetika adalah studi tentang bagaimana pikiran melihat objek yang indah. Baumgarten mendalilkan bahwa sifat fisik tertentu dari sebuah objek bisa membangkitkan rasa keindahan, akantetapi pengalaman itu sendiri adalahkejadian hanyapada tingkat pikiran.Banyak orang berpendapat bahwa tujuan tunggal seni adalah untuk membuat objek yang membangkitkan perasaankeindahan - yaitu, untuk menanamkan tanggapan estetik.
Dengan mengingat banyak cara orang mengalami senisekarang, definisi Baumgarten tentu tidak memadai. Kritikus seni dan filosof kontemporer menganggap istilah ini kuno dan tidak lagi relevan dengan cara orang mengalami seni dewasa ini (lihat Bab 6). Untuk saat ini, daripada mengunakan istilah ini, perluasan artinyadipertimbangkan. Seni dapat membangkitkan emosi kita dengan banyak cara - dari perasaan indah sampai perasaan marah, ngeri atau jijik. Seni dapat merangsang proses-proses sensorik kita melalui keseimbangan artistik dan bentuk; mengingatkan kita tentang masa lalu kita sendiri; atau memaksa kita untuk berpikir tentang dunia dengan carayang baru. Daripada mengingatkanpengalaman estetis satu-satunya sebagairasa keindahan yang luar biasayang kadang-kadang dialami oleh orang, misalnya saat melihatpatung Davidoleh Michelangelo atau mendengarkan Ninth Symphony oleh Beethoven, adaberbagai macam pengalaman estetik, bahkan yang mungkin lebih terfokus padaunsur persepsi atau konseptual. Mungkin ada yang meringis dengan definisi estetikayang begitu luas dimana pengalaman pengamat tidak melibatkan emosi sama sekali. Memang,mungkin sebaiknya gagasan "estetika" dipisahkan secara total dari pengalaman seni kita. Masalah tersebut akan dibahas dalam berapa bab berikut ini.Dari awalnya, kami lebih cenderung pada inklusi dari pada eksklusi dan menganggap estetika sebagai tanggapan "hedonis" terhadap pengalaman sensorik. Tanggapan hedonis mengacu pada penilaian preferensi: sebuah objek mungkin lebih disukai atau tidak; suka atau tidak; menarik atau tidak; mendekati atau menghindari. Karya seni adalah objek utama untuk evaluasi estetika, karena tujuan tunggal dari banyak karya seni adalah untuk menanamkan tanggapan hedonis. Dengan demikian, buku ini berpusat pada cara kita memandang karya seni, meskipun tanggapan hedonis dapat ditimbulkan oleh objek apapun.
Para kontributor buku ini diminta untuk menanggapi potensi suatuilmu estetika.Bab ini memberikan latar belakang dengan menggambarkan secara singkat masalah umum estetika menurut pandangan filsafat, psikologi, dan neurobiologis.Bab yang lainnya membahas masalah ini dengan lebih jauh dan bahkan memperdebatkankelayakan ilmu estetika sebagai hal yang bisa diterapkan.Fokus utama dari buku ini adalahpada seni visual, walaupunbanyak masalah sebenarnya berkaitan dengan semua tradisi dalamseni, termasuk musik, film, teater, tari, dan sastra. Kami juga berfokus pada bagaimana
seni menimbulkan tanggapan estetika daripada bagaimana atau mengapa seninya diciptakan - yaitu,
niatnya adalah untuk mempertimbangkan sifat pengalaman dari pengamatnya daripada
output kreatifoleh senimannya. Dengan cara ini, kami berharap untuk mengecilkan masalah rumit seperti mendefinisikanseni (Apa itu seni?) dan menetapkan maknanya dalam suatu budaya (Mengapa manusiamembuat seni? Apa fungsinya dalam masyarakat modern? ). Dengan berfokus pada pengalaman pengamat, kami berharap untuk menyoroti caraseni dilihat, ditafsirkan,dan dirasakan. Dengan kata lain, kamiakan mengeksplorasi apa yang terjadi di dalam pikiran dan otak pengamat
PEMBAGIAN HARTA PENINGGALAN ANAK LAJANG DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (Studi Kasus Keluarga Maryanto di Desa Tlepok Kecamatan Karangsambung Kabupaten Kebumen)
Indonesia terdiri dari berbagai macam suku budaya dan agama yang berimplikasi pada hidupnya berbagai sistem hukum waris yang digunakan.Waris dan Hibah merupakan peralihan harta seseorang yang masing masing telah memiliki aturannya sendiri dalam Hukum Islam. Praktik yang terjadi dalam masyarakat keduanya sering di sama artikan sehingga dapat menimbulkan persoalan hukum dalam pembagian harta peninggalan. Hal ini terjadi karena adanya kebocoran antara pelaksanaan hukum waris Islam dengan hukum pembagian waris berdasarkan hukum kebiasaan yang telah dilakukan secara turun temurun. Salah satu kasusnya pada harta peninggalan anak lajang yang terjadi di Desa Tlepok pada kasus Keluarga Maryanto. Penelitian ini membahas persoalan mengenai (1) Bagaimana kedudukan harta peninggalan anak lajang keluarga Maryanto di Desa Tlepok Kecamatan Karangsambung dalam perspektif Hukum Islam (2) Bagaimana penyelesaian pembagian harta peninggalan anak lajang keluarga Maryanto di Desa Tlepok Kecamatan Karangsambung dalam perspektif Hukum Islam.
Jenis penelitian adalah penelitian hukum empiris dengan metode pendekatan kualitatif. Sumber data berupa data primer dari hasil wawancara pada ahli waris keluarga anak lajang (Maryanto) serta tokoh ulama setempat (Kepala KUA Kecamatan Karangsambung). Sedangkan sumber data sekunder dari Kompilasi Hukum Islam, pendapat mazhab, penelitian penelitian terdahulu, serta bahan bacaan pustaka terkait dengan persoalan yang akan dikaji.
Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Berdasarkan pasal 212 KHI dan pendapat dari Imam Syafi’I mengenai harta hibah yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya bahwa setelah anak lajang meninggal maka kedudukannya kembali kepada pemberi hibah. Adapun harta yang dihasilkan karena hasil kerjanya pewaris semasa hidup sudah memenuhi rukun dan syarat kewarisan maka berdasarkan pasal 171 KHI menjadi harta waris dan dibagi sesuai ketentuan hukum waris. Kedudukan harta peninggalan anak lajang keluarga Maryanto pada harta hibah berupa tanah pekarangan kembali kepada pemberi hibah yakni Ibu kandung Maryanto (Suminah), sedangkan harta berupa rumah yang dihasilkan dari hasil kerjanya Maryanto menjadi harta waris dan dibagi sesuai ketentuan hukum waris. (2) Penyelesaian pembagian harta peninggalan anak lajang oleh keluarga Maryanto pada harta hibah dilaksanakan sesuai kehendak pemilik harta hibah yaitu Suminah selaku ibu kandung Maryanto. Suminah memberikan harta hibah tersebut kepada Rusminah atas dasar kontribusi Rusminah kepada orang tua dan Maryanto baik secara jasa maupun materi. Sedangkan harta dari hasil kerjanya Maryanto dibagi berdasarkan ketentuan hukum waris mengingat harta tersebut sepenuhnya merupakan milik pewaris
Hipposideros sorenseni Kitchener & Maryanto 1993
34. Sorensen’s Leaf-nosed Bat Hipposideros sorenseni French: Phyllorhine de Sorensen / German: Sorensen-Rundblattnase I Spanish: Hiposidérido de Sorensen Other common names: Sorensen's Roundleaf Bat Taxonomy. Hipposideros sorenseni Kitchener & Maryanto, 1993, “ Gua Kramat (s holy cave), Pangandaran, W[est]. Java (c. 7° 41’S, 108° 40’E).” Hipposideros sorenseni is in the larvatus species group. This species was initially allocated to H. larvatus. Monotypic. Distribution. Known only from the type locality in WGJava. Descriptive notes. Head-body 50-2-60 mm, tail 30-1-36-2 mm, ear 20-2-22-8 mm, forearm 55-4-60-2 mm. Greatest lengths of skulls are 21-1-22-1 mm, tibia 21-4-23-3 mm. Ears of Sorensen’s Leaf-nosed Bat are large and triangular, slightly concave before reaching tip. Anterior noseleaf has small depression in center and three supplementary lateral leaflets. Nasal septum is slighdy inflated. Upper border of posterior leaf is semicircular and there are three septa forming four noticeable cells on frontal surface, delimited by three vertical septa. Pelage is brownish reddish, with whitish at base of each hair; fur is grayish in ventral part. Baculum is large and robust. Both males and females present frontal sexual sac. Habitat. Sorensen’s Leaf-nosed Bat has been reported in caves as well as over ricefields and other agricultural land. Altitudinal range is thought to be up to 1000 m. Food and Feeding. Sorensen’s Leaf-nosed Bat probably forages over different types of plantation, feeding predominandy on insects. Breeding. Sorensen’s Leaf-nosed Bat forms breeding colonies. Activity patterns. This species is a cave-dweller. Movements, Home range and Social organization. Sorensen’s Leaf-nosed Bats seem to be gregarious, forming colonies of several individuals. Status and Conservation. Classified as Vulnerable on The IUCN Red List because this species is only found in a small area. Sorensen’s Leaf-nosed Bat has been and is protected in its whole area of occurrence. Although it is abundant within its small range, the increasing disturbance of its roosts might be threatening its survival. Bibliography. Kitchener & Maryanto (1993), Maryanto et al. (2008), Simmons (2005).Published as part of Don E. Wilson & Russell A. Mittermeier, 2019, Hipposideridae, pp. 227-258 in Handbook of the Mammals of the World – Volume 9 Bats, Barcelona :Lynx Edicions on pages 239-240, DOI: 10.5281/zenodo.373980
Buku pintar internet optimasi akses internet dengan squid/ Maryanto
xii, 172 hal.: ill.; 21 cm
KARAKTERISTIK COOKIES TERIGU YANG DISUBSTITUSI CAMPURAN TEPUNG
Cookies merupakan salah satu jenis biskuit yang dibuat dari adonan lunak, berkadar lemak tinggi, relatif renyah bila dipatahkan dan penampang potongannya
bertekstur padat. Inovasi pembuatan cookies dari kecambah jagung dan gembolo bertujuan untuk mengurangi penggunaan terigu dengan pemanfaatan
komoditi lokal serta memberikan nilai fungsional pada cookies. Pelaksanaan penelitian terdiri dari tiga tahap yaitu tahap pertama persiapan bahan, penepungan
tepung kecambah jagung, dan penepungan tepung gembolo. Tahap kedua adalah formulasi dan pembuatan cookies. Tahap ketiga analisis sifat fisik, analisis
sifat kimia, dan uji organoleptik dari masing-masing formula. Formula substitusi tepung kecambah jagung, dan tepung gembolo sebesar 50 % total adonan
sehingga didapatkan formulasi A1 (35:15), A2 (38:12), A3 (41:9), A4 (44:6), A5 (47 : 3) dengan jumlah terigu sebesar 50 % dan bahan pelengkap yang di
tambahkan jumlahnya tetap tiap formula. Selain formula tersebut terdapat juga formula kontrol dengan 100% terigu. Formula A5 merupakan formula terbaik
dengan nilai tekstur sebesar 516,90 g/1 mm, nilai kecerahan sebesar 76,08, chroma sebesar 35,15, derajat hue yang dihasilkan 106,16 menunjukkan warna
kuning, kadar air sebesar 2,43%, kadar protein berkisar 7,1%bk, penghambatan terhadap radikal bebas sebesar 38,47%, dan tingkat kesukaan warna sebesar
3,76, aroma sebesar 3,56, rasa berkisar sebesar 3,52, kerenyahan sebesar 3,56, keseluruhan sebesar 3,7
- …
