101 research outputs found
METODE PEMBAYARAN TAMU DI FRONT OFFICE DEPARTMENT HOTEL ARIA CENTRA SURABAYA
The goal to be achieved from the preparation of this final project is to find
out the payment methods available at the Aria Centra Surabaya hotel. The author
made observations at the Front Office Department Hotel Aria Centra Surabaya.
The author concludes that the payment methods that can be used by Hotel Aria
Centra Surabaya are cash payments, debit card and credit card payments, travel
agent vouchers, complimentary vouchers, and guarantee letters
Pengembangan Dan Analisis Black Box Hutan Sagu Alam (Hsa) Di Kabupaten Sorong Selatan (Studi Kasus Di Kampung Puragi Dan Bidare Distrik Matemani)
Permasalahan utama pengembangan Hutan Sagu Alam (HSA) di Kampung Puragi dan Bedare Distrik Metemani Kabupaten Sorong Selatan terutama disebabkan: pertama, pengolahan masih bersifat tradisional; kedua, pemasaran pati sagu yang masih terbatas; dan ketiga, mutu pati sagu masih rendah. Tujuan riset ini adalah mengetahui prospek pengembangan hutan sagu alam di Kampung Puragi dan Bedare; mengetahui strategi pengembangan potensi hutan sagu alamnya; dan mengetahui model analisis Black Box untuk pengembangan hutan sagu alamnya. Metode yang digunakan adalah metode survey langsung dan wawancara FGD dengan masyarakat. Hasil penelitian terlihat bahwa prospek pengembangan Sagu di Kampung Puragi dan Bedare meliputi a) sagu sebagai bahan pangan, dengan potensi hutan sagu alam yang besar, diyakini pati sagu akan menjadi  sumber makanan pengganti beras, dan berbagai industri; dan b) sagu sebagai konservasi air dan perlindungan lingkungan iklim makro guna mengurangi emisi gas rumah kaca. Strategi pengembangan hutan sagu alam yakni:1) Pemberdayaan sumber daya manusia lokal dan kelembagaannya; 2) Penataan hutan sagu guna meningkatkan produktivitas per satuan area; 3). Menyediakan infrastruktur pengolahan sagu berbasis masyarakat; 4) Perencanaan air bersih untuk pengolahan sagu; 5) Menumbuhkembangkan pola kemitraan dan home industry;6) Penguatan kelembagaan usaha; dan 7) Dukungan kebijakan pemerintah daerah. Model black box pengembangan Hutan Sagu Alam terintegrasi melalui faktor dukungan input lingkungan dengan parameter rancang bangunnya yakni luas hutan sagu alam beserta potensinya yang besar dan kelembagaan masyarakat pemegang hak ulayat. Model pengembangan ini dipengaruhi oleh faktor input (terkontrol dan tidak terkontrol) dan output (yang diinginkan dan tidak diinginkan)
Penguatan Komoditas Aren Sebagai Komoditas Unggulan Di Kampung Werur Distrik Sausapor Dengan Perbaikan Budidaya Dan Pengolahan Aren
Tema hasil jangka panjang program Pengabdian ini adalah pelestarian lingkungan dengan budidaya aren sebagai tanaman hutan produksi, peningkatan pendapatan masyarakat dengan perbaikan bentuk olahan gula aren menjadi gula semut aren, peningkatan indeks pembangunan manusia sehingga tercapainya pemenuhan bahan primer, peningkatan pengetahuan dan keterampilan penduduk kampung Werur dan indeks pembangunan gender pada aspek partisipasi penduduk desa baik pria maupun wanita. Kegiatan pengabdian pada masyarakat bertujuan untuk  1) meningkatkan sikap peduli, empati mahasiswa terhadap kondisi perekonomian masyarakat pengolah aren serta memberikan pelayanan keilmuan praktis dan bantuan teknologi riil yang sangat dibutuhkan masyarakat. 2) mengembangkan semangat entrepreneurship dengan berpikir kreatif dalam memecahkan masalah dan persoalan masyarakat dengan mengembangkan pola kemandirian masyarakat dengan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memanfaatkan komoditas lokal yang melimpah. 3) berkontribusi dalam peningkatan ekonomi dengan perubahan bentuk produk untuk nilai jual yang lebih tinggi, dan 4) berpartisipasi dalam perbaikan lingkungan dengan pelestarian tanaman aren di wilayah hulu sungai. Metode yang dipakai dalam pencapaian tujuan tersebut adalah pemberdayaan masyarakat dengan transfer ilmu dan teknologi. Metode yang digunakan adalah dengan memberikan pengetahuan yang disertai praktek pembelajaran kelompok, teknologi pembibitan, seleksi bibit, proses budidaya dan pengolahan gula semut aren. Pembelajaran disertai praktek akan dilakukan mahasiswa bersama kelompok sasaran sebagai lembaga mitra yaitu kelompok petani aren dan masyarakat kampung Werur. Hasil kegiatan menunjukkan pelaksanaan kegiatan Pengabdian pada masyarakat dan petani Aren kampung werur membantu perbaikan budidaya Aren serta menghasilkan produk gula semut aren.Â
Studi Sekuestrasi Karbon Pada Tegakan Jati (Tectona grandis Linn.) Di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong
Penelitian ini bertujuan adalah untuk mengetahui biomassa dari tegakan Jati (Tectona grandis L.) di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong; untuk mengetahui sekuestrasi karbon pada tegakan Jati; danuUntuk mengetahui sekuestrasi karbondioksida (CO2) pada tegakan Jati        Metode yang dipergunakan adalah metode petak tunggal. Penentuan areal lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Metode ini merupakan metode penentuan lokasi penelitian secara sengaja dengan mempertimbangkan petak ukur yang dibuat terdapat jenis tegakan Jati (Tectona grandis L.). Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode petak tunggal dengan ukuran 20 m x 20 m (Fachrul, 2007). Dalam penelitian ini, untuk menghitung biomassa dalam kaitannya dengan estimasi sekuestrasi karbon pada tegakan Jati dilakukan melalui sampling tanpa pemanenan secara in situ yaitu metode ini merupakan cara sampling dengan melakukan pengkukuran tanpa melakukan pemanenan. Metode ini antara lain dilakukan dengan mengukur diameter atau tinggi pohon dan menggunakan persamaan alometrik untuk mengekstrapolasi biomassa dan estimasi sekuestrasi karbon. .          Nilai dari potensi biomassa yang terkandung pada tegakan pohon Jati di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong dimasukkan dalam persamaan Allometrik, menunjukkan bahwa berat biomassa dari hasil perhitungan 5 petak pengamatan (luasan 0,2 ha) adalah 26.161,13 g. Sehingga untuk mengetahui berat biomassa dalam luasan satu hektar maka hasil dari perhitungan setiap plot dikalikan lima, dengan asumsi rata–rata jumlah tegakan Jati sebanyak 1.100 tegakan per hektar maka jumlah biomassa yang terkandung dalam tegakan pohon Jati di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong adalah sebesar 130.805,65 g/ha.Estimasi sekuestrasi karbon pada tegakan Jati di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong berjumlah 12.295,73 g, sekuestrasi karbon tertinggi terdapat pada plot atau petak pengamatan III yaitu sebesar 3.593,15 dan terendah pada petak IV yaitu sebesar 1.714,41. Jumlah karbon yang terkandung pada tegakan jati di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong sebesar 61.478,65 g/ha hasil ini diperoleh dari jumlah karbon pada setiap plot contoh dikalikan lima karena ukuran plot pengamatan hanya seluas 20 x 20 m2 sebanyak 5 petak. Jumlah sekuestrasi karbondioksida yang tersimpan pada tegakan pohon Jati di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong adalah sebesar 12.295,73 g, dengan demikian maka tegakan Jati di Areal Penghijauan Kabupaten Sorong mempunyai potensi serapan karbondioksida sebesar 45.125,33 g atau 225.626,65 g/hektar
Penyulingan Minyak Lawang Tradisional Oleh Masyarakat Di Kampung Pasir Putih Distrik Fkour Kabupaten Sorong Selatan
Minyak lawang merupakan hasil ekstrasi kulit pohon Lawang (Cinnamomun sp.) melalui penyulingan. Masyarakat Kampung Pasir Putih Distrik Fkour Kabupaten Sorong Selatan sejak lama telah memanfaatkan kulit pohon lawang untuk diambil minyak atsirinya, namun pengolahan masih secara tradisional dan sederhana. kegiatan ini dijadikan industri rumah tangga yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Tujuan ini adalah  mengetahui teknik penyulingan minyak lawang, jumlah minyak lawang yang dihasilkan, dan sistem dan marjin pemasaran minyak lawang oleh masyarakat di kampung Pasir putih Distrik Fkour. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik survey dan wawancara FGD. Analisis teknik pengusahaan minyak lawang dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif yang didasarkan atas teknik penyulingan, jumlah dan sistem pemasaran.  Hasil penelitian terlihat bahwa teknik penyulingan minyak lawang oleh masyarakat dilakukan dengan dua cara yakni penyulingan dengan air (water destilation) dan penyulingan air dan uap (water and steam destilation). Jumlah minyak lawang yang dihasilkan sebanyak sebanyak ± 1,4 liter, dari rata-rata kulit kayu yang dikukus sebanyak ± 40 kg cacahan kulit. Biasanya satu pohon lawang dilakukan penyulingan 6 - 9 kali, tergantung diameter batangnya. Sistem pemasaran Minyak lawang dilakukan dengan menjual minyak lawang yang diperolehnya kepada pengusaha, yaitu yang bersifat mutlak dimana masyarakat harus menyerahkan hasil perolehannya kepada pengusaha sebelum proses penyulingan minyak lawang. Sedangkan kemungkinan kedua adalah hubungan tidak mutlak dimana petani penyuling biasanya tidak mempunyai hubungan ikatan kerja, dimana petani penyuling dalam melakukan proses pencarian bahan baku minyak lawang hinga proses penyulingan tidak tergantung dari pengusaha
Pembibitan Tanaman Sukun (Arthocarpus altilis Park.) Bagi Masyarakat Kelurahan Tanjung Kasuari Distrik Maladum Mes Kota Sorong
Pembibitan tanaman Sukun (Arthocarpus altilis Park.) oleh masyarakat di Kelurahan Tanjung Kasuari Distrik Maladum Mes Kota Sorong telah dilakukan secara tradisional. Teknik pemindahan tunas akar atau menyapih tunas yang tumbuh secara alami pada akar pohon induk yang menjalar di permukaan tanah, yang kemudian dipindahkan pada media sapih, selanjutnya dipindahkan ke media tanaman polybag. Cara ini sering dilakukan oleh masyarakat karena dianggap tidak akan mengganggu pertumbuhan pohon induknya. sistem pembibitan stek akar sangat mudah dan murah dan ditunjang dengan tersedianya pohon induk sebagai sumber stek akar
Sosial Budaya Suku Mee dalam Merajut Noken di Kampung Beko Distrik Obona Kabupaten Paniai Provinsi Papua
Penelitian dilakukan terhadap masyarakat suku Mee yang memanfaatkan tumbuhan sebagai bahan baku pembuatan Noken di Kampung Beko Distrik Obano Kabupeten Paniai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan Focus group Discussion (FGD). Hasil Penelitian bahwa Noken merupakan hasil karya seni budaya yang dimiliki oleh Suku Mee khusunya kaum perempuan, dimana sekaligus melambangkan nilai dan fungsi sosial budayanya. Lokalisme suku Mee dalam pembuatan Noken dengan memanfaatkan kulit kayu tumbuhan antara lain pohon Melinjo (Damiyo), kulit pohon Ilam (Tokeipo), pohon anyamin (Kepiyai), kulit pohon (Woge), kulit pohon Watu dan Epiyo yang masih mudah dengan kategori vegetasi tingkat tiang dengan ukuran diameter antara 10 - 20 cm. Proses pengambilan kulit kayu, dapat dilakukan dengan menebang pohon dan langsung diambil kulitnya, dan juga dengan cara menguliti pohon tersebut tanpa menebang pohon tersebut. Perlakuan bahan baku secara tradisional Noken besar yang dilakukan masyarakat suku Mee di kampung Beko adalah dengan cara kulit kayu Melinjo (Damiyo), kulit pohon Ilam (Tokeipo), pohon anyamin (Kepiyai), kulit pohon (Woge), kulit pohon Watu dan Epiyo dilakukan penjemuran, penghalusan kulit kayu dan pewarnaan. Proses perlakuan bahan baku dimaksudkan agar kulit kayu tidak cepat rusak atau busuk dan lebih tahan lama (awet). Proses pembuatan Noken mengikuti pola sulaman dan anyaman, yang tentunya di sesuaikan dengan pola dan ukuran Noken besar yang diinginkan. Pemberian warna Noken besar memakai pewarna alami dengan memanfaatkan beberapa jenis tumbuhan lokal yakni Takai dan Tokeipo. Proses perajutan Noken dilakukan pada saat santai atau istirahat, tempat perajitan Noken besar bisa di rumah, pasar atau tempat pertemuan di kampung
Populasi Burung Air Di Taman Wisata Mangrove Klawalu Kota Sorong
Taman Wisata Mangrove Klawalu Kota Sorong merupakan destinasi wisata baru di Kota Sorong sekaligus menjadi habitat berbagai jenis burung air. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai populasi jenis burung air. Penelitian dilakukan pertengahan bulan Juli s/d Agustus 2021, dengan menggunakan metode Consentration Counts. Hasil pengamatan populasi jenis burung air yang ditemukan areal penelitian sebanyak 17 jenis dengan rincian di areal pantai terbuka sebanyak 15 jenis sedangkan di areal rawa mangrove sebanyak 7 jenis. Adanya perbedaan habitat burung air tersebut, tidak dapat disimpulkan bahwa hal tersebut menunjukkan eksklusivisme mereka terhadap suatu habitat tertentu, mengingat bahwa lokasi antar habitat yang satu dengan yang lainnya relatif dekat, sehingga tumpang tindih penggunaan habitat untuk berbagai keperluan burung air sangat mungkin terjadi
MANFAAT NILAI EKONOMI HASIL HUTAN OLEH MASYARAKAT DI KAMPUNG FEF DISTRIK FEF KABUPATEN TAMBRAUW
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis hasil hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat dan nilai manfaat ekonomi hutan oleh masyarakat kampung Fef Distrik Fef Kabupaten Tambrauw. Jenis-jenis hasil hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat kampung Fef distrik Fef kabupaten Tambrauw berupa hasil hutan kayu dan non kayu yang dimanfaatkan oleh masyarakat dalam berbagai kategori yaitu getah kayu, hasil hutan berupa minyak hasil sulingan, kulit kayu, buah biji dan daun, pohon tumbuhan khusus, binatang dan bagian binatang. Nilai manfaat ekonomi hasil hutan kayu maupun non kayu oleh masyarakat kampung Fef Distrik Fef Kabupaten Tambrauw dapat menunjang perekonomian mereka yaitu pendapatan masyarakat responden total adalah sebesar Rp. 35.000.000/bln. Dimana untuk hasil hutan kayu sebesar Rp. 26.000.000/bln (74,28%), sedangkan hasil hutan non kayu Rp 9.000.000/bln (25,72%)
Etnobiologi Dan Interdependensi Masyarakat Terhadap Kawasan Konservasi (Studi Masyarakat Sekitar Taman Wista Alam Klamono Papua Barat Daya)
As a conservation area, the Klamono Nature Tourism Park is also expected not only for tourism purposes, but also as a life support area for the surrounding community who are dependent on natural resources, both wood and non-timber forest products. The method used in this research is a descriptive method with survey techniques and semi-structural interviews. The results of the research show communally that the community in utilizing the Klamono Nature Tourism Park conservation area is farming, hunting and gathering which is of ethnobiological significance and interdependence (dependence) on the availability of forest resources in the park area. Ethnobiology and community interdependence are interpreted by the perception that forests are a source of food, forests are a source of medicines, forests are a source of building materials, forests are a source of firewood and forests are a source of cash income.Sebagai kawasan kawasan konservasi, Taman Wisata Alam Klamono juga diharapkan tidak hanya bertujuan wisata semata, melainkan juga sebagai kawasan penyangga kehidupan bagi masyarakat disekitarnya yang mempunyai ketergantungan akan sumberdaya alam baik hasil hutan kayu maupun hasil hutan non kayu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik survey dan wawancara semi struktural (semi structural interview). Hasil penelitian menunjukkan secara komunal bahwa masyarakat dalam pemanfaatan kawasan konservasi Taman Wisata Alam Klamono adalah bertani ladang, berburu dan meramu yang merupakan signifikansi etnobiologi dan interdependensi (ketergantungan) dari ketersediaan sumberdaya hutan di kawasan taman. Etnobiologi dan interdependensi masyarakat tersebut dimaknai dengan adanya persepsi bahwa hutan sebagai sumber bahan makanan, hutan sebagai sumber obat-obatan, hutan sebagai sumber bahan bangunan, hutan sebagai sumber kayu bakar dan hutan sebagai sumber pendapatan uang tunai
- …
