1,720,962 research outputs found

    Perantau Minangkabau dan ideologi matrilineal: pengaruh matrilineal Minangkabau terhadap perantau pada investasi lahan pertanian

    Full text link
    Magnet ideologi matrilineal telah mempengaruhi perantau dalam menginvestasikan modal pada bidang pertanian, menarik karena salah satu tujuan perantau merantau adalah untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Akan tetapi setelah berhasil, mereka justru menginvestasikan modal pada bidang pertanian. Motivasikekerabatan menjadi faktor utama perantau menginvesatsikan modalnya. Penelitian ini menfokuskan analisis pada faktor kekerabatan tersebut. Kekerabatan matrilineal telah memberikan pengaruh terhadap perantau sehingga bisa menarik modal dari perantau untuk diinvestasikan dikampungnya. Investasi perantau dalam bidang pertanian ini dilaksanakan melalui kerja samadengan masyarakat petani dalam bentuk usaha bersama pertanian. Penelitian ini akan membahas tentang pengaruh ideologi matrilineal terhadapperantau dalam menginvestasikan modal bidang pertanian, dan relasi sosial yang terjadi antara perantau dan petani pengolah lahan.Penelitian ini mengunakan metode kualitatif dengan pendekatan Antropologi, melalui wawancara dan observasi terhadap masalah yang terkait. Hasil penelitian ini mengambarkan bahwa Kuatnya pengaruh kekerabatan matrilineal menyebabkan perantau berkeinginan menginvestasikan modalnya pada lahan pertanian, serta bergesernya sistem patron klien dalam usaha tani di Minangkabau. Pelaku sitem matrilineal (ibu, dan saudara perempuannya) telah menjadi patron lain dalam investasi perantau dalam bidang pertanian serta dalam implementasi investasi tersebut dalam usaha pertanian

    Nilai-nilai budaya permainan sipak rago Minangkabau

    No full text
    Pengambilan tema Permainan Sipak Rago Minangkabau merupakan sebuah amanah dari Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan. Salah satu objek tersebut adalah permainan rakyat. "Permainan rakyat" adalah berbagai permainan yang didasarkan pada nilai tertentu dan dilakukan oleh kelompok masyarakat secara terus menerus dan diwariskan pada generasi berikutnya, yang bertujuan untuk menghibur diri, antara lain, permainan kelereng, congklak, gasing, dan gobak sodor, dan sebagainya. Artinya permainan rakyat merupakan aktivitas masyarakat yang belum mendapatkan bahan-bahan dari industri/ memakai mesin-mesin modern yang dipengaruhi oleh negara Eropa dan Amerika. Salah satu permianan rakyat yang masih hidup dan dimainkan oleh masyarakat di Minangkabau adalah permainan Sipak Rago. Pada masyarakat Minangkabau permainan ini dikenal dengan berbagai istilah Sipak Rago, Rago-Rago, dan Sipak Bola Rotan/Jalin. Perkembangan Sipak Rago di Kota Padang tersebar pada beberapa kecamatan seperti Kecamatan Kuranji Pauh IX, Pauh V, Koto Tangah dan Nanggalo, serta sebagian kecil daerah lainnya di Kota Padang. Nilai-nilai budaya permainan Sipak Rago menjadi penting dianalisis dalam konteks mempertahankan identitas Minangkabau. Asumsinya adalah dalam menghidupkan permainan Sipak Rago memiliki petuah, patatah-petitih, dan mamangan adat (tradisi lisan) yang sangat kental dalam masyarakat. Di samping itu, Sipak Rago merupakan permainan yang memiliki dasar gerakan Silek (pencak silat), dan mengandung berbagai filosofi ernis yang sangat dalam

    Praktik Nilai-Nilai Guanxi (关系) Pada Etnis Tionghoa Perantauan: Kajian Eksistensi Kebudayaan Tionghoa Di Padang

    Full text link
    This thesis describes the practice of guanxi values in overseas Tionghoa: a study of the existence of Tionghoa culture in Padang. The basic assumption is that the practice of guanxi values in Tiongkok is carried out in an economic system to achieve optimal results. Guanxi which is a set of values possessed by overseas Tionghoa in Padang, which are practiced in social, cultural, and religious institutions through social, cultural and religious activities to revive Tionghoa ethnic culture (cultural existence). The formulation of the problem in this thesis is what is the content of guanxi values for the Tionghoa, and how is the practice of guanxi in the socio-cultural and religious institutions of the Tionghoa in Padang. This study uses an anthropological approach with qualitative methods through (a) observation, (b) in-depth interviews, (c) literature study and (d) documentation. The research location is in Kampung Pondok Village, West Padang District, and Behind Pondok Village, South Padang District, Padang City. Research informants are Tionghoa businessmen, religious leaders, community leaders, administrators of ethnic Tionghoa socio-cultural organization. The results of this study conclude that (1) guanxi is interpreted as values to achieve goals, and as values or principles of living together or working together. Guanxi of Overseas Tionghoa in Padang have values such as the value of cooperation (hézuò), the value of trust (xin), the value of karma (yè lì), loyalty (zhong), respect (xiao), and harmony (he). (2) Guanxi values are practiced by overseas Tionghoa in socio-cultural and religious institutions in Padang. The practice of guanxi values is implicit in the religious institutions of the See Hien Kiong temple, the Warman Buddhist Temple, and the socio-cultural institutions of the Himpunan Tjinta Teman (HTT). Social, cultural and religious institutions are a unifying forum for ethnic Tionghoa which in their activities show Tionghoa cultural activities. Guanxi values can exist in overseas Tionghoa culture in Padang supported by the practice of social exchange of goods or services in ancestral prayers, death rituals, and celebrations of Tionghoa holidays, and other celebrations. Social exchange takes the form of social assistance provided by actors such as Tionghoa economic actors (entrepreneurs), Buddhists, and Confucians. The process of social exchange carried out by overseas Tionghoa in Padang is referred to as reciprocity which is explained by Mauss who is by giving (the gift). Giving in economic anthropology is analyzed in the economics of personalism as a moral economy. The principle of moral economy is used as a spirit for the Padang Tionghoa as values to achieve goals in the form of social prestige, such as being Toako, Jioko, and Shako. The value of guanxi and social assistance is the principle of social ties or networks that encourage the existence of Tionghoa ethnic culture in Padang in the form of socio-cultural activities such as religious practices, death rituals, celebrations of holidays, and Tionghoa weddings, and other celebrations. Keywords: guanxi, social institutions, reciprocity, moral econom

    Inventasi perantau Minangkabau pada loahan pertanian: studi antropologi pada perantau Nagari Padang Magek kecamatan Rambatan kabupaten Tanah Datar

    Full text link
    Makalah ini menggambarkan investasi Migran Minangkabau di lahan pertanian dengan studi antropologis di luar negeri Nagari Padang Magek Tanah Datar kabupaten ropagation. Diskus investasi pengembara di bidang pertanian menarik karena salah satu tujuannya adalah untuk menemukan pengembara bermigrasi untuk kehidupan yang lebih baik, di mana ekonomi dan kehidupan daerah itu menjadi sulit. Terlebih lagi, pengembara pergi karena kondisi di desa di sektor pertanian sulit, tetapi setelah berhasil di Rantau, modal yang paling tinggi dalam pertanian di mana pertanian sulit pada waktu itu. Investasi dalam nomad pertanian memberikan implementasi pada komunitas pertanian di desanya dari kerja sama di bidang pertanian dan hubungan sosial nomaden dan petani, serta koordinator lahan dalam migran

    Tari Turak pada Suku Rawas di Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan

    No full text
    Tradisi menari bagi orang Rawas merupakan sebuah ilustrasi diri dalam menunjukkan sebuah perjuangan. Tarian ini bertujuan membuai tamu yang hadir. Turak yang terbuat dari bambu dijadikan sebagai senjata, ditarikan oleh enam orang gadis cantik berpakaian tradisional berwarna merah. Penari memegang sebatang bambu. Iringan musiknya begitu indah, walaupun kadang terdengar irama yang tidak selaras dengan tariannya, karena iringan musik yang dimainkan punya tujuan mengelabui lawan dalam mengalahkan Belanda. Akan halnya sekarang ini, penjajahan yang sudah diusir, maka warisan tari ini harus tetap hidup dan dilakukan pelesatriannya. Oleh karena pentingnya warisan budaya untuk dilestarikan maka perlu dituliskan dan dinukilkan dalam sebuah tulisan sederhana dalam sebuah booklet. Disamping hal tersebut, booklet dapat menjadi sebuah ulasan dan bukti fisik agar warisan ini dapat diusulkan menjadi tarian nasional dan warisan budaya nasional yang berasal dari orang Rawas. Tari Turak ini mempunyai keunikan dalam iringan musiknya, ketika kita mendengar alunan gesek biola yang terkadang tidak seirama dengan gerakan tariannya. Itu juga salah satu taktik yang digunakan pemain musik untuk mengelabuhi musuhnya Adapun musik pengiring tari Turak adalah Biola, Gendang dan Bende (Mardoni, 2018

    JENIS-JENIS KUMBANG TINJA (COLEOPTERA: SCARABAEIDAE) DI GUNUNG SINGGALANG

    No full text
    Penelitian tentang Jenis-jenis kumbang tinja (Coleoptera: Scarabaidae) di Gunung Singgalang telah dilakukan dari tanggal 01 sampai 04 Januari 2010, 30 Januari sampai 02 Februari 2010 dan 30 Desember 2010 sampai 04 Januari 2011. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis kumbang tinja yang terdapat di Gunung Singgalang. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif, kumbang tinja ditangkap langsung dengan pinset pada kotoran hewan yang ditemukan dan memakai perangkap mulai ketinggian 1300 mdpl sampai 2800 mdpl di dua jalur; Koto Baru dan Balingka.. Dari penelitian ini di dapatkan 193 individu yang terdiri dari dua subfamily (Scarabaeinae dan Aphodinae), tiga Tribe (Coprini, Oniti dan Onthophagini), lima Genus (Copris, Phanaeus, Catharsius, Onitis, Onthophagus dan Aphodius) dan 12 jenis. Subfamili paling banyak adalah subfamili Sarabaeinae yang terdiri dari 11 jenis dan paling sedikit adalah subfamili Aphodiinae yang terdiri dari satu jenis. Kumbang tinja hanya ditemukan pada ketinggian 1300 mdpl

    Pengobatan tradisional suku anak dalam (SAD) di Kabupaten Musi Rawas Utara, Provinsi Sumatera Selatan

    No full text
    Pengobatan tradisional suku anak dalam (SAD) di Kabupaten Musi Rawas Utara Provinsi Sumatera Selatan merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang masih bertahan pada suku anak dalam. Diperkirakan terdapat sekitar 30.000 spesies tumbuhan terdapat pada hutan hujan tropis, dan 1.260 spesies diantaranya berkhasiat obat dan telah dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia termasuk didalamnya berebapa jenis gulma, akar, dedaunan dan sebagainya (Supriadi, 2001). Meski demikian, antar daerah memiliki sumberdaya yang berbeda-beda karena adanya perbedaan kondisi alam dan perbedaan keterampilan masyarakat setempat dalam memanfaatkan tumbuhan tersebut. Pada umumnya kekhasan lokal pada cara pembuatan obat, bahan-bahan yang digunakan serta cara pengolahan obat sampai dengan khasiatnya. Pada masyarakat adat suku anak dalam, terdapat beberapa jenis pengobatan tradisional yang masih dipertahankan. Pengobatan tersebut mengunakan bahan-bahan yang masih terdapat dari alam. Bahan-bahan tersebut terdapat dipedalaman hutan-hutan yang masih alami dan jarang dijangkau manusia pada umumnya. Dalam rangka pelestarian pengobatan tradisional pada suku anak dalam (SAD), maka Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat melakukan penulisan booklet pengobatan Tradisional pada suku Anak Dalam di Kabupaten Musi Rawas Utara Provinsi Sumatera Selatan

    KONSEPSI GUANXI PADA ETNIS TIONGHOA DI PADANG, STUDI KASUS : HIMPUNAN TJINTA TEMAN (HTT) PADANG

    No full text
    Tulisan ini menbahas praktik nilai-nilai guanxi oleh etnis Tionghoa dalam menjaga eksistensi kebudayaannya di Kota Padang. Eksistensi etnis Tionghoa di Kota Padang ditunjukkan identitas Kampung Pondok sebagai ruang publik dan ruang religi, tradisi hari raya imlek, dan usaha perdagangan. Asumsi dasarnya adalah bahwa sebagai etnis yang minoritas di Kota Padang memiliki kemanpuan untuk menjaga eksistensi budayanya ditengah kepungan budaya dominan (Minangkabau). Penulisan artikel ini mengunakan pendekatan antroplogi dengan metode kualitatif dalam corak studi kasus pada Himpunan Tjinta Teman (HTT) sebagai organisasi sosial budaya etnis Tionghoa. Lokasi penelitian di lakukan di Kelurahan Kampung Pondok Kecamatan Padang Barat Kota Padang. Hasil analisis penelitian menemukan bahwa etnis Tiongho sebagai masyarakat yang bermigrasi di Kota Padang manpu menjaga eksistensi kebudayaannya  melalui praktik nilai-nilai guanxi. Nilai-nilai guanxi merupakan seperangkat nilai-nilai yang dikembangkan atas dasar persamaan marga, kerabat, profesi dan teman sepermainnan. Nilai guanxi berperan sebagai modal sosial dalam menjaga keberlansungan praktik-praktik kebudayaan etnis Tionghoa di Padang. Praktik nilai guanxi ada secara implisit ada dalam berbagai kegaiatan-kegiatan sosial budaya etnis Tionghoa pada pranata sosialnya. Pranta sosial yang melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial budaya ini salah satunya adalah Himpunan Tjinta Teman (HTT) Padang. Organisasi Himpunan Tjinta Teman (HTT) Padang sangat berperan dalam menjaga nilai-nilai guanxi dalam setiap kegiatannya sebagai modal sosial untuk menjaga eksistensi budaya Tionghoa di Padang
    corecore