1,721,070 research outputs found
Perjalanan DPRD Provinsi Jawa Barat 1945-2016
Buku ini merupakan referensi bagi rakyat Jawa Barat agar mengetahui perjalanan Lembaga Wakil Rakyat Daerah Jawa Barat dari masa ke masa sekaligus mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi. Isi buku ini dapat divermati dari mulai perubahan kelembagaan sampai kinerja para wakil rakyat Jabar dari periode ke periode sejak kemerdekaan hingga era reformasi berkelanjutan
Manajemen komunikasi : Implementasi keterbukaan informasi publik
Sejak lahir Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, terdapat kewajiban “tambahan” Badan Publik dalam memberikan pelayanan kepada publik. Layanan yang pokok dan merupakan amanah dari undang-undang tersebut adalah memberikan informasi publik. Setiap Badan Publik, baik Pemerintah maupun non-Pemerintah harus dapat mengelola informasi yang baik dalam kerangka memberikan pelayanan terbaik kepada publik. Dalam konteks keilmuan Komunikasi, mengelola layanan informasi merupakan bagian kajian manajemen komunikasi. Oleh karena itu, buku ini merupakan hasil kajian atas pemahaman terhadap implementasikan peraturan perundang-undangan keterbukaan informasi publik dengan menggunakan pendekatan Manajemen Komunikasi, sehingga berjudul Manajemen Komunikasi: Implementasi Keterbukaan Informasi Publik. Dalam paparan bab per bab dijelaskan secara teoretis tentang Manajemen Komunikasi yang diperdalam dengan implementasi dari peraturan perundang-undangan Keterbukaan Informasi Publik. Hal itu menjadi kelebihan buku ini karena dapat menjadi pedoman bagi Badan Publik untuk mengelola informasi yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan sekaligus juga sejalan dengan kajian keilmian Manajemen Komunikasi
Aktualisasi kearifan lokal dalam digitalisasi penyiaran Indonesia
Digitalisasi penyiaran nampaknya tidak dapat ditawar lagi karena selain merupakan tuntutan globalisasi informasi, juga memberikan manfaat dan peluang yang besar bagi perkembangan sistem penyiaran nasional. Sejumlah negara di dunia, termasuk negara-negara tetangga di Asia Tenggara sudah bermigrasi, sehingga sistem penyiaran nasional mereka sudah digitalisasi total.
Selama ini, lembaga penyiaran televisi dan radio dalam menyebarluaskan isi siaran menggunakan frekuensi gelombang radio. Frekuensi radio adalah jumlah getaran elekromagnetik untuk satu periode, sedangkan spektrum frekuensi radio adalah kumpulan frekuensi radio.
Penggunaan frekuensi radio didasarkan pada ruang jumlah getaran dan lebar pita yang hanya dapat dipergunakan oleh satu pihak, misalnya, penggunaan secara bersamaan pada ruang dan jumlah getaran serta lebar yang sama atau berhimpitan yang akan saling mengganggu (interference).
Dalam studi komunikasi, frekuensi dikategori sebagai milik publik atau publik domain. Terdapat tiga pemaknaan atas status frekuensi sebagai publik domain, yaitu benda publik, milik publik, dan ranah publik. Oleh karena itu, pemanfaatannya pun sebesar-besarnya harus untuk kepentingan publik, bukan kepentingan pribadi atau golongan tertentu. Namun, kanal frekuensi yang dipergunakan oleh televisi dan radio tersebut jumlahnya sangat terbatas, sehingga pemanfaatan kanal diatur oleh Pemerintah dengan melalui proses perijinan terhadap Pemerintah.
Sebagai contoh, Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 13 Tahun 2010 tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Perhubungan No. KM-15 Tahun 2003 tentang Rencana Induk (Master Plan) Frekuensi Radio Penyelenggaraan Frekuensi Khusus untuk Keperluan Radio Siaran FM (Frequency Modulation) memberikan kanal di wilayah layanan Jawa Barat. Sedikitnya terdapat 311 Kanal Frekuensi Radio FM bagi wilayah layanan Jawa Barat. Provinsi Jawa Barat yang terdiri dari 27 kabupaten/kota dibagi dalam 83 wilayah layanan dengan mempertimbangkan kondisi geografi serta potensi ekonomi untuk berkembangnya peluang usaha. Untuk televisi analog baik untuk stasiun lokal maupun berjaringan diatur dalam Keputusan Menteri No. 76 Tahun 2003 tentang Rencana Induk (master plan) frekuansi Radio Penyelenggaraan Telekomunikasi Khusus untuk Keperluan Televisi Siaran Analog pada Pita Ultra High Frequency (UHF). Frekuensi yang digunakan oleh televisi pada kisaran 478 s.d. 806 MHz UHF.
Peluang sebagai efek dari digitalisasi penyiaran juga bagi perkembangan persebaran konten lokal daerah-daerah yang ada di Indonesia yang sangat potensial. Berbagai informasi kearifan lokal daerah-daerah di Indonesia dengan berbagai bentuk dapat melanglang buana disaksikan oleh masyarakat dunia. Kendati kontek kearifan lokal daerah-daerah ke-Indonesiaan itu dapat ditayangkan oleh Sistem Siaran Jaringan (SSJ) atau Stasiun Siaran Lokal (SPL). Nilai-nilai kearifan lokal yang seperti apa yang harus diangkat ke permukaan untuk disebarkan pada khalayak masyarakat dunia? Pertanyaan tersebut akan terjawab dengan rangkaian tulisan dalam buku ini yang ditutup dengan lampiran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran
Konten lokal digitalisasi dan Pandemi Covid-19 di Lembaga Penyiaran Jawa Barat
Buku ini mengangkat topik “Akses Masyarakat Terhadap Lembaga Penyiaran” dengan mencakup tema:
1. Peluang dan tantangan peningkatan kontribusi lembaga penyiaran dalam mendorong tumbuhnya media yang mampu menyajikan Isi Siaran Yang Berkualitas, Sehat, Edukatif dan Ramah Anak;
2. Pola perilaku masyarakat tentang akses media, jenis program siaran yang dibutuhkan oleh masyarakat dan penilaian masyarakat tentang aspek program siaran;
3. Langkah-langkah manajerial pengelolaan lembaga penyiaran yang mampu menyajikan isi siaran yang sehat dan ramah anak, pemirsa cerdas;
4. Pola-pola hubungan pelaku media dengan pemirsa dan stakeholders penyiaran
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
