201 research outputs found
Malaysian Journal of Library & Information Science 1996-2000: A Bibliometric Study
A bibliometric examination of all the journal articles published in the Malaysian Journal of Library & Information Science from 1996-2000 was carried out. The range of articles published per volume is between 14 and 17; average number of references per article is 22.5; the average length per article is 41.2 pages; 53(69. 74%) of the articles are research oriented, the percentage of multi-authored papers is slightly higher at 52.6% or 40 papers out of a total of 76, Zainab Awang Nga, the most prolific author contributed 12 articles followed by B. K. Sen (10 papers), Tiew Wai Sin (8 papers), C. R. Karisiddappa, Nor Edzan Nasir, V. L. Kalyane, Teh Kang Hai, and B. M. Gupta (3 papers each); 36 (45%) of the authors are geographically affiliated to Malaysia, authors affiliated to library schools were well represented (55.2%), the most productive institution is Faculty of Computer Science and Information Technology, University of Malaya with 26 out of 80 author's affiliation, the most popular subject is Scientific and Professional Publishing, 30 (39.5%) articles contained author's self-citation, while the rate of journal self-citation is found to be 27.6% and most of the articles (67.1 %) contained no formal acknowledgement
Keragaman Genetik dan Ketahanan terhadap Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxysporum f.sp cepae) Bawang Merah (Allium cepa L. var. aggregatum) Indonesia
Bawang merah (Allium cepa L. var. aggregatum) merupakan komoditas
strategis yang bernilai ekonomi tinggi. Bawang merah memiliki fungsi penting
bagi masyarakat Indonesia karena sebagai komponen utama hampir semua bumbu
masakan, sehingga selalu dibutuhkan baik oleh kalangan rumah tangga maupun
industri masakan. Komoditas bawang merah juga memiliki nilai ekspor yang
cukup tinggi sehingga berperan dalam peningkatan ekonomi nasional. Oleh sebab
itu, untuk memenuhi permintaan konsumen baik dalam maupun luar negeri, maka
peningkatan produksi harus terus dilakukan, salah satunya dengan perakitan
varietas unggul berproduktivitas tinggi. Penyakit layu fusarium yang disebabkan
oleh cendawan Fusarium oxysporum f.sp cepae merupakan salah satu penyakit
penting yang mempengaruhi produksi bawang merah, sehingga penting untuk
menyertakan karakter ketahanan terhadap penyakit layu fusarium dalam perakitan
varietas unggul bawang merah.
Pengumpulan plasma nutfah dari berbagai wilayah di Indonesia, telah
dilakukan oleh Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB sebagai langkah
awal dalam pemuliaan tanaman bawang merah. Plasma nutfah yang terkumpul
sebanyak 19 genotipe diantaranya genotipe Batu Ijo, Bauji, Bentanis, Bima
Brebes, Bima Curut, Biru Lancor, Katumi, Kramat 1, Lembah Palu, Maja
Cipanas, Manjung, Mentes, Palasa, Pancasona, Pikatan, Rubaru, Super Philip,
Tajuk, and Trisula. Tahapan kedua dalam pemuliaan tanaman adalah identifikasi
keragaman genetik dan karakter-karakter yang diinginkan dalam plasma nutfah
yang berhasil terkumpul. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengidentifikasi
keragaman genetik berdasarkan marka morfologi dan molekuler, dan ketahanan
terhadap penyakit layu fusarium dari 19 genotipe bawang merah.
Hasil analisis marka morfologi menunjukkan terdapat keragaman pada 19
genotipe bawang merah. Keragaman tersebut terlihat pada fenotipe tanaman
diantaranya pada karakter jumlah daun, panjang daun, intensitas warna hijau
daun, diameter daun, bentuk umbi secara membujur, warna dasar kulit luar umbi
kering, intensitas warna dasar kulit umbi kering, ukuran umbi, tinggi umbi,
diameter umbi, rasio tinggi/diameter umbi, posisi diameter terluas umbi, lebar
leher umbi, bentuk ujung batang, dan bentuk ujung akar. Keragaman juga terlihat
pada hasil dendrogram yaitu terpisahnya genotipe kedalam empat kelompok pada
koefisien ketidakmiripan 0.38. Kelompok 1 terdiri dari genotipe Batu Ijo;
Kelompok II terdiri dari genotipe Bentanis; kelompok III terdiri dari genotipe
Bauji, Manjung, Mentes, Katumi, Kramat 1, Maja Cipanas, Bima Curut, Super
Philip, Pikatan, Bima Brebes, Tajuk, Trisula, Pancasona, dan Biru Lancor;
kelompok IV terdiri dari genotipe Lembah Palu, Palasa, dan Rubaru. Karakterkarakter
penting dalam pengamatan morfologi bawang merah, berdasarkan PC1,
PC2, dan PC3 dalam analisis komponen utama adalah ukuran umbi, tinggi umbi,
diameter umbi, lebar leher umbi, bentuk ujung akar, panjang daun, intensitas
warna hijau daun, diameter daun, jumlah daun, bentuk umbi, rasio
panjang/diameter umbi, intensitas warna umbi, dan jumlah daun.
Hasil analisis marka molekuler juga menunjukkan adanya keragaman yang
terlihat pada hasil pita polimorfik sebesar 92.11% dari total pita yang dihasilkan
dan terpisahnya genotipe kedalam lima kelompok pada koefisien ketidakmiripan
0.38. Kelompok I terdiri dari genotipe Bima Brebes dan Manjung; kelompok II
terdiri dari genotipe Mentes, Pancasona, Kramat 1, Katumi, Maja Cipanas,
Pikatan, Super Philip, dan Biru Lancor; kelompok III terdiri genotipe Tajuk,
Bauji, dan Trisula; kelompok IV terdiri dari genotipe Bentanis, Batu Ijo, dan
Bima Curut. Kelompok V terdiri dari genotipe Lembah Palu, Palasa, dan Rubaru.
Hasil analisis ketahanan terhadap penyakit layu fusarium menunjukkan
adanya keragaman tingkat ketahanan terhadap penyakit layu fusarium pada 19
genotipe bawang merah yang diuji. Keragaman tingkat ketahanan tersebut
meliputi rentan, agak rentan, dan tahan. Genotipe Bima Brebes, Bima Curut,
Bauji, Bentanis, Pancasona, Manjung, Mentes, Kramat 1, Maja Cipanas, dan
Super Philip tergolong kedalam genotipe rentan. Genotipe Lembah Palu, Pikatan,
Palasa, Trisula, Katumi, Tajuk, dan Biru Lancor tergolong kedalam genotipe agak
rentan. Genotipe Batu Ijo dan Rubaru merupakan genotipe yang tergolong tahan
Keragaan enam genotipe terung (Solanum melongena L.) di tiga lokasi
Penelitian ini dilaksanakan di tiga lokasi (Bogor, Brebes, dan Kediri)
menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) satu faktor pada tiap
lokasi. Bahan tanam yang digunakan yaitu dua galur terung uji (G44 dan G80) dan
empat varietas terung sebagai pembanding (L.U., Sriti, Bruno, dan Jafana).
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai keragaan enam
genotipe terung di tiga lokasi, serta mendapatkan informasi mengenai kestabilan
genotipe yang diuji. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat interaksi
antara genotipe dan lingkungan yang berbeda antara terung bulat dan terung
panjang. Berdasarkan nilai bobot per buah pada rerata genotipe, genotipe G44
merupakan genotipe terung bulat yang mempunyai bobot per buah paling tinggi.
Genotipe LU merupakan genotipe dengan nilai jumlah buah per tanaman dan bobot
buah per tanaman paling tinggi dibandingkan genotipe terung bulat lain pada
pengujian di lokasi Bogor. Berdasarkan nilai bobot per buah pada analisis stabilitas
Finlay-Wilkinson, genotipe uji G44 dan G80 merupakan genotipe yang paling stabil
dibandingkan dengan genotipe lain pada jenis terung yang sama. Nilai bobot per
buah pada terung bulat berkorelasi positif dengan karakter panjang buah, diameter
buah dan panjang tangkai buah, sedangkan pada terung panjang nilai bobot per buah
berkorelasi positif dengan karakter panjang buah, diameter buah, dan tinggi
tanaman
Daya Hasil Cabai Keriting dan Rawit (Capsicum annuum L.) IPB di Rembang, Jawa Tengah
Penelitian ini bertujuan untuk menguji daya hasil cabai keriting dan rawit
IPB dibandingkan dengan varietas pembanding di Rembang, Jawa Tengah.
Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari hingga Juli 2015 di Desa Pragu,
Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Rancangan percobaan
yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan
menggunakan enam genotipe cabai keriting, lima genotipe cabai rawit, dan lima
varietas pembanding. Hasil analisis ragam genotipe cabai keriting menunjukkan
bahwa pengaruh genotipe uji terdapat pada sebagian besar peubah yang diamati
kecuali tebal daging buah dan tinggi tanaman. Hasil analisis ragam genotipe cabai
rawit menunjukkan bahwa pengaruh genotipe uji terdapat pada sebagian besar
peubah yang diamati kecuali diameter buah, tebal daging buah, umur berbunga,
umur panen, tinggi tanaman, diameter batang, lebar tajuk, dan persentase tanaman
hidup. Beberapa genotipe cabai keriting dan cabai rawit yang dievaluasi
mempunyai keunggulan dari varietas pembanding. Genotipe cabai keriting F6
120159-7-2-4-2, Yuni 4-7-2, SSP dan genotipe cabai rawit IPB C160 x C174
dapat dilepas sebagai varietas baru dataran rendah
Keragaman Genetik Bawang Merah (Allium cepa var. aggregatum) di Indonesia Berdasarkan Marka Morfologi, Metabolomik dan Molekuler.
Bawang merah (Allium cepa var aggregatum) di Indonesia termasuk salah
satu tanaman Allium yang penting dan telah lama diusahakan oleh petani di
Indonesia secara intensif. Penggunaan bawang merah telah banyak diketahui
sebagai perasa dalam makanan ataupun digunakan sebagai bahan obat-obat herbal.
Permintaan bawang merah terus meningkat setiap tahunnya seiring dengan
pertambahan penduduk. Sehingga komoditi bawang merah terus dikembangkan di
Indonesia. Bawang merah yang ditemukan di Indonesia memiliki bentuk morfologi
yang beragam. Disetiap daerah memiliki genotipe lokal, genotipe tersebut
berkembang mengikuti keinginan dari selera konsumen. Keragaman bentuk
bawang merah yang ada di Indonesia dapat diidentifikasi berdasarkan marka
morfologi, metabolomik dan marka molekuler.
Pengetahuan keragaman genetik sangat penting dalam program pemuliaan,
karena hal ini merupakan dasar dalam pengembangan tanaman selanjutnya.
Eksplorasi dan identifikasi merupakan kegiatan utama dalam program pemuliaan
dengan cara mengumpulkan dan mengoleksi semua sumber keragaman genetik
yang tersedia. Kegiatan dilanjutkan dengan karakterisasi semua sifat yang dimiliki
pada sumber keragaman genetik yang dapat dijadikan sebagai informasi dasar
untuk melanjutkan program pemuliaan.
Empat puluh genotipe bawang merah yang dikoleksi oleh Pusat Kajian
Hortikultura Tropika (PKHT) dari berbagai daerah di Indonesia merupakan materi
genetik yang digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisa beberapa genotipe bawang merah (Allium cepa var. aggregatum)
berdasarkan penanda morfologi, kandungan senyawa metabolit dan penanda
molekuler RAPD.
Keragaman karakter morfologi pada tanaman terlihat dari perbedaan fenotipe
tajuk dan umbi. Analisis keragaman morfologi bawang merah berdasarkan 21
karakter morfologi menunjukkan koefisien ketidakmiripan sebesar 0.59 sehingga
membagi 40 genotipe bawang merah menjadi 2 kelompok utama. Subkelompok Ia
terdiri dari BM72 dan BM14. Subkelompok Ib terdiri BM07, BM09, BM63, BM18,
BM68, BM06, BM12, BM28, BM77, BM21, BM62, BM76, BM58, BM25, BM59,
BM45, BM24, BM22B, BM67, BM56, BM75, BM65, BM60, BM29, BM20,
BM74, BM64, BM03. Subkelompok Ic terdiri dari BM19, BM10, BM05, BM57,
BM47, BM26, BM66, BM02. Kelompok II terdiri genotipe BM78 dan BM01.
Analisis morfologi berdasarkan 14 karakter morfologi umbi menunjukkan koefisien
ketidakmiripan sebesar 0.48 dan membagi 40 genotipe bawang merah kedalam 2
kelompok utama. Subkelompok Ia terdiri dari BM07, BM72, BM14, BM09, BM58,
BM66, BM18, BM68, BM63, BM06. Subkelompok Ib terdiri dari BM77, BM28,
BM59, BM10, BM75, BM67, BM57, BM47, BM26, BM05, BM22B, BM62,
BM56, BM21, BM25, BM60, BM29, BM45, BM24, BM20, BM76, BM65, BM03,
BM74, BM64, BM02 dan kelompok II terdiri dari BM19, BM12, BM78, BM01.
Tiga belas karakter yang dapat dijadikan karakter penciri pada 40 genotipe
bawang merah yaitu melunaknya tajuk, kelengkungan tajuk, jumlah daun batang
semu, diameter daun, ukuran umbi, tingkat membelah bagian umbi, diameter umbi,
posisi umbi pada diameter terluas, lebar leher umbi, bentuk umbi membujur, bentuk
umbi pada ujung batang, warna dasar kulit umbi kering dan intensitas warna kulit
umbi kering.
Senyawa dari turunan sulfur yang dihasilkan sejumlah genotipe berbeda-beda
seperti farnesyl acetate (BM07), methylsulfanyl-4,5,6,7-tetrahydrobenzo[
c]thiophene (BM26), nonadecane (BM29), allyl-dimethylcyclopropane
(BM45), lanosterol (BM47), stearic acid (BM60), propyl alcohol (BM21), palmitic
acid dihasilkan oleh sebagian besar genotipe. Senyawa lain yang juga ditemukan
pada 40 genotipe bawang merah triterpenoid, karotenoid, volatile, senyawa
aromatik, gliserida, alkane, vitamin D3.
Keragaman genetik ditunjukkan pita amplifikasi polimorfik sebesar 100%
dari 229 total pita yang dihasilkan. Analisis kluster yang ditampilkan pada
dendrogram menunjukkan koefisien ketidakmiripan sebesar 0.41 sehingga
membagi 40 genotipe bawang merah kedalam dua kelompok utama. Kelompok I
terdiri dari BM12, BM09 dan BM07. Subkelompok IIa terdiri dari BM74, BM72,
BM68, BM67, BM77, BM78, BM76, BM75, BM66 dan BM65. Subkelompok IIb
terdiri dari BM21, BM22B, BM19, BM20, BM18, BM14, BM10, BM06, BM05,
BM02, BM03 dan BM01. Subkelompok IIc terdiri dari BM64, BM63, BM62,
BM60, BM59, BM58, BM57, BM56, BM47, BM45, BM29, BM28, BM26, BM25
dan BM24.
Genotipe BM01 dan BM07 potensial dikembangkan dalam program
pemuliaan tanaman. Genotipe tersebut memiliki perbedaan pada karakter tajuk dan
umbi serta memiliki senyawa spesifik pada kelompok sulfur
Keragaan Produksi Kentang G2 Genotipe IPB Asal Stek dan Umbi di Garut Jawa Barat.
Konsumsi kentang terus meningkat seiring meningkatnya penduduk, namun
total produksinya mengalami penurunan pada tahun 2015, maka diperlukan usaha
memperoleh varietas yang berproduktivitas tinggi. Institut Pertanian Bogor telah
merakit genotipe kentang yaitu PKHT-2, PKHT-3, PKHT-4, PKHT-6, PKHT-9,
PKHT-10, dan PKHT-12. Petani umumnya menggunakan benih dari hasil panen
sebelumnya. Benih yang digunakan secara terus menerus dapat menyebabkan
rendahnya produksi, maka perlu adanya alternatif teknik perbanyakan di lapang.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan genotipe IPB asal stek buku tunggal
dengan keragaan produksi G2 tertinggi dan membandingkan hasil produksi kentang
antara tanaman yang berasal dari bahan tanam stek buku tunggal dengan umbi di
lapang. Penelitian dilaksanakan pada Februari-Juli 2017 di Desa Tambakbaya,
Kecamatan Cisurupan dan Desa Margamulya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten
Garut. Percobaan pertama menggunakan stek buku tunggal genotipe PKHT-2,
PKHT-3, PKHT-4, PKHT-6, PKHT-9, PKHT-10, PKHT-12, Atlantik, Granola,
Medians dan Intan. Percobaan kedua menggunakan bahan tanam stek buku tunggal
dan umbi dari genotipe PKHT-4, Intan dan Medians. Hasil penelitian menunjukan
keragaan produksi pada bahan tanam stek buku tunggal dipengaruhi oleh genotipe.
Genotipe PKHT-6 menghasilkan keragaan produksi dan hasil tertinggi dibanding
genotipe maupun varietas pembanding yaitu 18,32 ton ha-1. Ketiga genotipe pada
percobaan kedua menggunakan bahan tanam umbi yaitu PKHT-4, Intan dan
Medians menghasilkan potensi hasil lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman
genotipe yang sama asal stek buku tunggal. Tanaman PKHT-4 asal umbi
menghasilkan potensi hasil lebih tinggi dibandingkan varietas pembandingnya
yaitu 17,00 ton ha-1
Kajian Keanekaragaman Morfologi, Metabolit Primer dan Molekuler Sumber Daya Genetik Kacang-kacangan Underutilized Indonesia
Kacang-kacangan underutilized Indonesia dapat dikembangkan sebagai
varietas komersil seperti kedelai dikarenakan kacang-kacangan tersebut juga kaya
nutrisi sama seperti kedelai. Selain sebagai bahan pangan sumber protein, kacangkacangan
underutilized dapat dimanfaatkan sebagai sumber minyak nabati, pakan,
obat-obatan maupun pupuk hijau. Indonesia memiliki keanekaragaman sumber
daya genetik kacang-kacangan underutilized yang melimpah, namun informasi
potensi genetik dan keragamannya belum banyak diketahui. Kegiatan eksplorasi,
koleksi dan karakterisasi plasma nutfah berdasarkan morfologi, metabolit primer
dan molekuler sangat diperlukan dalam pengembangan varietas unggul baru dan
merupakan tahap awal dalam kegiatan pemulian tanaman kacang-kacangan
tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang keragaan
morfologi dan metabolit primer kacang-kacangan underutilized Indonesia. Analisis
lebih lanjut untuk mengidentifikasi keragaman genetik dan hubungan kekerabatan
antar aksesi kacang-kacangan underutilized berdasarkan penanda morfologi,
metabolit primer dan molekuler ISSR.
Materi genetik yang digunakan dalam penelitian ini adalah 31 aksesi kacangkacangan
underutilized dan satu varietas pembanding yang terdiri atas 8 spesies
meliputi 1����� aksesi spesies Vigna unguiculata (14 aksesi kacang tunggak dan 4
aksesi kacang panjang), 2 aksesi spesies V. subterranea (kacang bogor), 2 aksesi
spesies Phaseolus lunatus (koro kratok), 1 aksesi spesies P. vulgaris (kacang
merah), 1 aksesi spesies Canavalia ensiformis (koro pedang), 2 aksesi spesies
Mucuna pruriens (koro benguk), 5 aksesi spesies Psophocarpus tetragonolobus
(kecipir) dan 1 varietas spesies Glycine max (kedelai) sebagai tanaman
pembanding. Analisis morfologi dilakukan menggunakan rangkuman deskriptor
International Board for Plant Genetic Resources Institute dan Guidelines for The
Conduct of Test for Distinctness, Homogeneity and Stability. Analisis kandungan
metabolit primer menggunakan analisis proksimat. Analisis molekuler
menggunakan 11 primer ISSR dengan ekstraksi DNA menggunakan metode cethyl
trimethyl ammonium bromide. Data morfologi, metabolit primer dan molekuler
dianalisis menggunakan analisis gerombol dan konstruksi dendogram
menggunakan perangkat lunak PBSTAT-CL. Analisis komponen utama
menggunakan perangkat lunak MINITAB v.16.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 31 aksesi kacang-kacangan
underutilized dan 1 varietas kedelai yang diamati terdapat 64 karakter beragam dan
2 karakter seragam dari 66 karakter morfologi yang diamati. Karakter sifat kualitatif
memiliki keragaman yang lebih luas dibandingkan dengan karakter sifat kuantitatif.
Kandungan metabolit primer sumber daya genetik kacang-kacangan underutilized
yang diuji berkisar antara 16.72-31.29% protein, 0.35-14.94% lemak dan 26.67-
59.31% karbohidrat. Analisis molekuler menggunakan 11 primer ISSR berhasil
mengamplifikasi 80 pita DNA dengan tingkat polimorfisme 100%.
Hasil analisis gerombol pada 31 aksesi kacang-kacangan underutilized dan
satu varietas pembanding yang diuji berdasarkan penanda morfologi dan molekuler
ISSR mampu menjelaskan pengelompokan aksesi secara tegas pada tingkat
intraspesifik maupun interspesifik. Hal ini berarti deskriptor yang dikembangkan
maupun penanda molekuler yang digunakan mampu mengidentifikasi keragaman
genetik kacang-kacangan underutilized yang diuji. Penanda molekuler ISSR dapat
mengelompokkan sumber daya genetik kacang-kacangan underutilized yang diuji
berdasarkan asal geografis. Karakter yang informatif sebagai penciri morfologi
kacang-kacangan underutilized adalah karakter antosianin pada hipokotil, bulu
pada permukaan batang, bulu pada permukaan bawah daun, lebar daun terminal,
rasio panjang dan lebar daun terminal, panjang polong tua, pengkerutan polong tua
dan warna utama biji.
Keanekaragaman 31 aksesi kacang-kacangan underutilized dan satu varietas
pembanding berdasarkan penanda morfologi, metabolit dan ISSR menunjukkan
hubungan kekerabatan yang dekat antar jenis kacang-kacangan dengan tingkat
keragaman pada tingkat interspesik kurang dari 40% dan keragaman pada tingkat
intraspesifik kurang dari 25%. Hasil analisis komponen utama mendukung hasil
analisis gerombol. Persamaan hasil pengelompokan antara analisis morfologi dan
molekuler ISSR meningkatkan keakuratan informasi yang diperoleh dan
mencerminkan keragaman genetik sumber daya genetik kacang-kacangan
underutilized Indonesia yang diuji sehingga informasi yang diperoleh dapat
mendukung dalam pengembangan tanaman kacang-kacangan di masa yang akan
datang.
Kacang-kacangan underutilized yang dikategorikan potensial untuk dijadikan
sebagai alternatif pensubtitusi kedelai adalah kecipir. Hal ini dikarenakan kecipir
memiliki kandungan protein, lemak dan karbohidrat pada biji relatif sama dengan
kedelai, namun panjang polong, jumlah biji per polong, ukuran biji kecipir dan
bobot biji 100 g lebih tinggi kecipir dibandingkan kedelai. Berdasarkan kandungan
metabolit primer dan morfologi biji, kecipir aksesi PT3 memiliki kemiripan paling
tinggi dengan kedelai sehingga aksesi PT3 yang berasal dari Klaten tersebut dapat
dijadikan varietas lokal yang potensial dikembangkan menjadi varietas komersil
unggul
Karakteristik Morfologi Dan Molekuler 18 Genotipe Cabai Hias (Capsicum Spp.)
Pengkajian mengenai cabai hias di Indonesia masih terbatas. Karakterisasi berdasarkan morfologi dan penanda molekuler genotipe cabai hias (Capsicum spp.) sebagai penelitian awal untuk program pemuliaan perlu dilakukan. Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) yang terdiri atas 18 genotipe cabai hias sebagai perlakuan dengan tiga ulangan. Terdapat tiga jenis karakter yang diamati pada penelitian ini, yakni kuantitatif, kualitatif dan molekuler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antar 18 genotipe cabai hias berdasarkan karakter morfologi dan molekuler. Analisis molekuler menunjukkan tingkat polimorfisme yang sangat tinggi sebesar 98.18%. Berdasarkan analisis gerombol pada molekuler dengan koefisien kemiripan 54% terbagi menjadi 4 kelompok yaitu (1) kelompok A meliputi IPB H1, IPB H10, IPB H3, Triwarsana 1-5, IPB H4, IPB H2, IPB Ungara, dan IPB H6, (2) kelompok B meliputi IPB H5, Triwarsana 1-3, IPB Seroja, IPB H13, Triwarsana 1-1, IPB H7, IPB H12, dan IPB H9, (3) kelompok C adalah IPB H8, (4) kelompok D adalah IPB H11, sedangkan berdasarkan karakter kualitatif dengan koefisien kemiripan sebesar 54% membentuk 5 kelompok yaitu (1) kelompok A meliputi IPB H1, IPB H3, IPB H8, IPB Ungara, (2) kelompok B meliputi IPB H2 dan IPB H6, (3) kelompok C meliputi IPB H4, Triwarsana 1-5, Triwarsana 1-1, IPB H13, IPB Seroja, Triwarsana 1-3, IPB H10, (4) kelompok D meliputi IPB H5, IPB H12, IPB H7, IPB H9, (5) kelompok E adalah IPB H11
Uji Daya Hasil Genotipe Kentang (Solanum tuberosum L.) IPB di Kabupaten Cianjur Jawa Barat.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi kentang nasional, adalah melakukan pengembangan varietas baru berdaya hasil tinggi dan berkualitas sebagai bibit bermutu. Uji daya hasil merupakan salah satu tahapan dalam kegiatan perakitan varietas baru untuk mengetahui kestabilan hasil dan kemampuan adaptasi dari suatu genotipe terhadap lingkungan tumbuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi daya hasil beberapa genotipe kentang IPB di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Pasir Sarongge, Cianjur, Jawa Barat pada bulan Februari hingga Mei 2018. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) satu faktor dengan tiga ulangan. Faktor yang diamati berupa genotipe dengan sepuluh taraf percobaan. Bahan tanam yang digunakan adalah enam genotipe kentang IPB, yaitu PKHT-02, PKHT-03, PKHT-04, PKHT-06, PKHT-10, PKHT-12 dan empat varietas pembanding, yaitu Granola, Atlantik, Medians, Intan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe PKHT-10 memiliki kualitas umbi yang cocok untuk kentang industri dan memiliki produktivitas lebih tinggi dari varietas Atlantik. Genotipe lain yang memiliki produktivitas tidak berbeda dengan Granola yaitu, PKHT-02, PKHT-03, PKHT-04, dan PKHT-06. Genotipe yang memiliki hasil lebih tinggi dan tidak berbeda dengan varietas pembanding diharapkan berpotensi sebagai alternatif dan dapat dikembangkan sebagai varietas kentang baru
Analisis Konflik Tokoh Dalam Novel Pak Guru Karya Awang Surya
Analysis of Character Conflict in Pak Guru's Novel Awang Surya's work. Literary work as an imaginary, fiction that offers various problems of man and humanity, life and life. One form of work literature is a novel. Like other literary works, in novels there are conflicts too or problems that are often raised by the author to represent the idea exist in everyday life, with the above facts, the author is interested in conducted a study entitled "Analysis of Character Conflict in Pak Guru's Novel" Awang Surya's work". Research problems (1) How is the conflict of characters in the novel? Mr. Guru by Awang Surya? (2) How does the author express the conflict of characters in the novel Pak Guru by Awang Surya? This research uses qualitative approach with the type of library research and using the method descriptive. Data collection techniques through hermenuetic techniques. In analyzing the data refers to various relevant theories, namely using the Theory of Assessment Nurgiyantoro's (2009) fiction about character conflict and the theory of literary criticism development Indonesia Sukada (1993) on how the author presents character conflicts. Results The study concluded that the conflicts contained in the novel Pak Guru by Awang Surya is (1) internal conflict and external conflict. Internal conflict is a conflict that occurs in the heart, soul of a character or temporary story characters External conflict is a conflict that occurs between a character and something else outside himself, perhaps with the natural environment or perhaps the human environment. The internal conflict was experienced by the characters of Musa and Nasimah while the external conflict happened to the figure of Musa and the teachers of SDN, Musa and Mr. Sarkowi, Musa with Alfan, Musa with Bu Eni, Musa with Nasimah. (2) Author's way Presenting character conflicts analytically and dramatically. Analytics is the way The author describes the conflict of the characters in the story directly explaining the name characters and physical images while dramatic is in an indirect way, namely through conversations or dialogues described by characters when facing problem. The dominant character conflict expressed by the author is the character conflict analytically, because the author describes the story more provide direct explanations without dialogue. Then the author's way revealing character conflicts dramatically illustrated by dialogue directly between the characters contained in the novel Pak Guru by Awang Surya
- …
