1,720,977 research outputs found
Pengembangan Bioformulasi sebagai Perlakuan Benih untuk Mengendalikan Penyakit Hawar Daun Bakteri dan Meningkatkan Hasil Benih Padi
Hawar daun bakteri (HDB) merupakan penyakit penting pada tanaman
padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo),
terutama di daerah tropis seperti Indonesia. Penyakit ini dapat menyerang seluruh
bagian tanaman padi mulai dari benih, bibit, dan tanaman dewasa, sehingga
menurunkan hasil padi serta kerugian ekonomi. Potensi rizobakteri Bacillus
subtilis 5B dan Pseudomonas diminuta A6 sebagai agens hayati telah dievaluasi
dapat mengendalikan penyakit HDB. Formula agens hayati dengan bahan
pembawa yang tepat dapat meningkatkan stabilitas produk dan daya hidup serta
tidak mempengaruhi efikasi agens hayati. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan
umum untuk mendapatkan formula agens hayati terbaik guna meningkatkan
produksi benih padi serta menurunkan gejala serangan penyakit HDB.
Penelitian ini terdiri atas tiga percobaan, yaitu: 1) pengembangan
bioformulasi agens hayati Bacillus subtilis 5B + Pseudomonas diminuta A6 dalam
tiga jenis bahan pembawa (gipsum, talk, dan zeolit); 2) pengujian pengaruh
perlakuan benih dengan bioformulasi terhadap daya simpan benih padi IR64
selama 6 bulan penyimpanan, dan 3) pengujian pengaruh perlakuan benih dengan
bioformulasi terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil benih padi di lapangan.
Daya simpan agens hayati tergantung pada bahan pembawa yang digunakan
dalam bioformulasi. Setelah disimpan selama 1 bulan, populasi agen hayati pada
bahan pembawa talk tertinggi (43.0 x 107colony forming unit (cfu)) sedangkan pada
zeolit (5.33 x 107 cfu) dan gipsum (0.47 x 107 cfu) lebih rendah dibandingkan
kontrol (16.0 x 107 cfu). Namun, populasi agens hayati mulai menurun seiring
dengan pertambahan periode simpan. Populasi agens hayati pada bioformulasi
talk pada bulan ketiga (1.15 x 107cfu) nyata lebih tinggi dibandingkan kontrol (1.0
x 107cfu) dan perlakuan lainnya 0.25 x 107 cfu pada zeolit dan 0 pada gipsum.
Benih yang telah diinokulasi dengan Xoo dan diberi perlakuan formula agens
hayati serta disimpan selama 6 bulan mengalami penurunan populasi Xoo dari
konsentrasi awal 4.9 x 108 cfu. Pengaruh perlakuan bioformulasi zeolit 2.5 g dapat
meningkatkan daya berkecambah benih (89.11%) dibandingkan kontrol (79.72%).
Perlakuan talk 5 g (daya berkecambah: 84.5%) dan gipsum 5 g (daya
berkecambah: 85.67%) memberikan pengaruh yang tidak berbeda dengan zeolit
2.5 g dalam meningkatkan daya berkecambah. Perlakuan bioformulasi gipsum 5 g
dapat meningkatkan indeks vigor benih (72%) dibandingkan kontrol (64%).
Perlakuan bioformulasi talk 2.5 g (67.61%), talk 5 g (70.28%), gipsum 1 g
(66.33%), zeolit 1 g (69.33%) dan zeolit 2.5 g (70.22%) memberikan pengaruh
yang tidak berbeda dengan perlakuan gipsum 5 g dalam meningkatkan indeks
vigor benih.
Secara umum, perlakuan benih dengan bioformulasi belum dapat
meningkatkan pertumbuhan bibit di persemaian. Namun, bibit yang diberikan
perlakuan bioformulasi talk 1 g menghasilkan tinggi bibit dan panjang akar tertinggi
dibandingkan kontrol dan perlakuan lainnya. Perlakuan benih dengan bioformulasi
talk 5 g menghasilkan jumlah anakan tertinggi (26) dibanding kontrol dan perlakuan
dengan bioformulasi lain. Keparahan penyakit HDB pada perlakuan benih dengan
formula talk 5 g juga paling rendah, yaitu 0.25%. Perlakuan benih dengan
bioformulasi berbahan pembawa talk 1 g dapat meningkatkan persentase gabah
bernas sebesar 25.6% dari perlakuan kontrol
Biomatriconditioning, Perendaman Akar Atau Penyemprotan Tanaman Dengan Agens Hayati Untuk Mengendalikan Hawar Daun Bakteri, Meningkatkan Hasil Dan Mutu Benih Padi
Penyakit hawar daun bakteri (HDB) yang disebabkan oleh bakteri
Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo), menurunkan produksi padi hingga 80%.
Sifat patogen Xoo adalah terbawa benih, ditularkan melalui udara, tular tanah,
bahkan tular air. Penelitian ini terdiri atas dua percobaan. Percobaan I bertujuan
memperoleh konsentrasi agens hayati (Pseudomonas diminuta A6 + Bacillus
subtilis 5/B) terbaik untuk perendaman akar bibit, yang efektif mengendalikan
HDB, meningkatkan hasil dan mutu benih padi di rumah kaca. Percobaan I
menggunakan rancangan lingkungan rancangan acak kelompok dan rancangan
perlakuan petak terbagi. Petak utama adalah perlakuan benih dan anak petak
adalah konsentrasi agens hayati untuk perendaman akar bibit. Hasil percobaan I
menunjukkan, biomatriconditioning (matriconditioning dengan agens hayati P.
diminuta A6 + B. subtilis 5/B 4.5 x 108
cfu mL-1) meningkatkan daya tumbuh,
indeks vigor dan bobot kering bibit padi dibandingkan kontrol negatif.
Biomatriconditioning juga meningkatkan tinggi tanaman, bobot kering tanaman,
jumlah anakan per rumpun, jumlah anakan produktif per rumpun, dan jumlah
gabah total per rumpun, serta menurunkan tingkat keparahan penyakit HDB.
Perendaman akar dalam suspensi P. diminuta A6 dan B. subtilis 5/B 106
cfu mL-1
meningkatkan jumlah anakan produktif per rumpun. Perlakuan perendaman akar
menurunkan tingkat keparahan penyakit HDB pada umur 91 HST.
Biomatriconditioning dilanjutkan dengan perendaman akar dalam suspensi agens
hayati 108
cfu mL-1 menurunkan populasi Xoo terbawa benih dibandingkan
kontrol (benih dengan Xoo tanpa perlakuan benih tanpa perendaman akar bibit).
Percobaan II bertujuan memperoleh konsentrasi agens hayati filosfir F112
terbaik untuk penyemprotan tanaman, yang efektif mengendalikan HDB,
meningkatkan hasil dan mutu benih padi di lapangan. Percobaan II menggunakan
rancangan lingkungan rancangan acak kelompok dan rancangan perlakuan petak
terbagi. Petak utama adalah perlakuan benih dan anak petak adalah konsentrasi
agens hayati untuk penyemprotan tanaman. Hasil percobaan II menunjukkan,
biomatriconditioning meningkatkan bobot kering bibit umur 21 HST
dibandingkan kontrol negatif. Biomatriconditioning mengurangi keparahan
penyakit HDB pada 72 HST, meningkatkan bobot gabah bernas per rumpun, dan
viabilitas benih hasil panen. Penyemprotan tanaman dengan F112 108
cfu mL-1
menurunkan keparahan penyakit HDB 72 HST dibandingkan kontrol tanpa
penyemprotan maupun penyemprotan dengan bakterisida (streptomisin 0.1%),
meningkatkan jumlah anakan produktif, bobot gabah panen, dan viabilitas benih
hasil panen dibandingkan kontrol tanpa penyemprotan
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.</p
- …
