1,720,973 research outputs found
PENGEMBANGAN BUKU PANDUAN PELATIHAN REGULASI EMOSI SISWA DI SMKN 1 KALITENGAH LAMONGAN
ABSTRAK Pengembangan buku panduan pelatihan regulasi siswa yag diberikan kepada siswa di SMKN 1 Kalitengah Lamongan ini bertujuan untuk membantu siswa yang memiliki tingkat regulasi emosi yang rendah, agar siswa mampu meregulasi emosinya dengan baik. Untuk mengetahui tingkat regulasi emosi siswa tersebut yakni dengan memberikan angket regulasi emosi agar diisi oleh siswa. Sehingga dari angket tersebut dapat diketahui banyaknya siswa yang memiliki tingkat regulasi emosi rendah. Tidak hanya dari hasil angket tersebut, dapat diketahui dari hasil wawancara kepada guru BK di sekolah tersebut bahwa banyaknya siswa yang menunjukkan sikap yang memiliki tingkat regulasi emosi rendah seperti siswa suka berbicara jorok, suka marah-marah kepada teman, suka menyendiri dan terlihat semangat tiba-tiba menjadi malas. Selain beberapa hal di atas, siswa di sekolah tersebut diberikan angket kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan materi-materi mengenai regulasi emosi dalam buku panduan tersebut. Setelah mengetahui kebutuhan materi yang dibutuhkan siswa, kemudian peneliti membuat media yang berupa buku panduan itu. Saat peneliti selesai membuat media tersebut, peneliti melaksanakan penilaian akseptabilitas produk kepada uji ahli materi dan uji ahli media. Setelah melakukan uji ahli materi dan media, peneliti melaksanakan uji lapangan skala kecil dan uji praktisi (konselor). Dari hasil penilaian akseptabilitas yang dilakukan oleh 8 siswa yang memiliki tingkat regulasi emosi rendah mendapat penilaian sebanyak 94,9%. Sebelum melaksanakan uji lapangan skala kecil produk buku panduan telah diuji oleh ahli media, ahli materi, dan uji praktisi (konselor), dimana hasil prosentase dari uji ahli media sebesar 87,5%, ahli materi sebesar 96,6% dan uji ahli calon praktisi (konselor) sebesar 97,3%. Yang mengartikan bahwa produk buku panduan telah memenuhi kriteria akseptabilitas sangat baik dan tidak perlu direvisi. Keyword : Pengembangan Buku Panduan, Regulasi Emosi, SiswaABSTRACT The guidebook development of students’ emotion regulation training that given to students of SMKN 1 Kalitengah Lamongan aims to help the students who have low emotion regulation, so they can manage their emotion. The students fill the questionnare to find out about the level of their emotion regulation, so the number of students who have low emotion regulation can be known. The result not only can be found from the questionnare but also from the interview of guidance ccounselor in that school. The interview reveals how many students who indicate low emotion regulation behaviour, such as the students who like to utter swear word, easily irritated by his friend, dissociate from others, and suddenly become lazy. Besides several points above, the students were given the requirement questionnare to fulfill the contents about emotion regulation in the guidebook. After knowing the requirement materials that students need, researcher make a media which is the guidebook. After the researcher finished making the media, the researcher do product acceptability examination to material experts examination and media experts examination. After doing test activity, researcher do minor-scale field test and practical examination (counselor). Based on the acceptability test which done by eight students, the students who have low emotion regulation got 94.9%. Before doing minor-scale field test, guidebook product had been examined by media expert, material expert, and pratictioner expert (counselor) and get 87.5% from media expert examination, 96.6% from material expert examination, and 97.3% from practitioner expert examination which indicates that guidebook product has been fulfilled excellent acceptability criteria and no need to revise. Keyword: Guidebook Development, Emotion Regulation, Student
STUDI KASUS TENTANG PERILAKU MEMBOLOS SISWA DI SMA NEGERI 1 PLUMPANG TUBAN
Penelitian ini dilatar belakangi oleh seringnya perilaku membolos yang muncul di SMA Negeri 1 Plumpang Tuban. Sehingga perlunya pengkajian terkait dengan perilaku membolos siswatentang apa saja bentuk-bentuk perilaku membolos, faktor yang mendorong siswa berperilaku membolos, keterlibatan orang tua dalam perilaku membolos siswa, dampak yang ditimbulkan dari perilaku membolos, persepsi siswa terhadap perilaku membolos dan penanganan yang dilakukan oleh guru Bimbingan dan Konseling. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas X dan XI yang sering membolos. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk-bentuk perilaku membolos yang dilakukan oleh siswa di SMA Negeri 1 Plumpang Tuban yaitu membolos satu hari penuh dan membolos pada saat jam pelajaran tertentu. Faktor yang mendorong siswa berperilaku membolos meliputi faktor dari diri siswa sendiri, faktor keluarga dan faktor lingkungan. Keterlibatan orang tua dalam perilaku membolos siswa utamanya adalah orang tua tidak terlibat langsung dalam perilaku membolos siswa yaitu dilihat dari pola asuh orang tua. Dampak dari perilaku membolos meliputi psikis, akademik dan non akademi serta penanganan yang sudah dilakukan oleh guru Bimbingan dan Konseling adalah pemberian layanan informasi, guru Bimbingan dan Konseling memanggil siswa yang berperilaku membolos untuk dilaksanakan bimbingan, pemanggilan orang tua, serta kerjasama dengan kepala sekolah, wali kelas dan orang tuasiswa. Kata kunci : Studi, Perilaku, Membolos, Sisw
PERBEDAAN TINGKAT ASERTIF MAHASISWI FAKULTAS ILMU OLAHRAGA DAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN ANGKATAN 2016 TERKAIT IPK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari tau signifikansi tingkat asertif dari kedua fakultas tersebut dan apakah tingkat asertif berpengaruh terhadap prestasi akademik yang dilihat dari FIO. Tingkat Asertif individu dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain karakteristik subjek, jenis kelamin, lingkungan, dan Self-Esteem. Hasil penelitian menunjukan bahwa Mahasiswi FIO memiliki tingkat Asertif yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswi FIP. dengan jumlah nilai sig mahasiswi FIO sebesar 0, 785 dibandingkan mahasiswi FIP yang memiliki nilai sig sebesar 0,116. Selain itu terdapat perbedaan karakteristik mata kuliah, yang membentuk mahasiswi FIO lebih asertif daripada mahasiswi FIP. Sedangkan hasil dari uji korelasi menunjukan bahwa terdapat hubungan yang rendah antara tingkat Asertif Mahasiswi dengan Prestasi akademik mereka yaitu sebesar 0,137 untuk Mahasiswi FIO dan 0,241 untuk mahasiswi FIP dengan menggunakan pedoman dari sugiyono Kata kunci : Asertif, Prestasi Akademik, Mahasisw
PERBEDAAN TINGKAT ASERTIF MAHASISWI FAKULTAS ILMU OLAHRAGA DAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN ANGKATAN 2016 TERKAIT IPK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari tau signifikansi tingkat asertif dari kedua fakultas tersebut dan apakah tingkat asertif berpengaruh terhadap prestasi akademik yang dilihat dari FIO. Tingkat Asertif individu dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain karakteristik subjek, jenis kelamin, lingkungan, dan Self-Esteem. Hasil penelitian menunjukan bahwa Mahasiswi FIO memiliki tingkat Asertif yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswi FIP. dengan jumlah nilai sig mahasiswi FIO sebesar 0, 785 dibandingkan mahasiswi FIP yang memiliki nilai sig sebesar 0,116. Selain itu terdapat perbedaan karakteristik mata kuliah, yang membentuk mahasiswi FIO lebih asertif daripada mahasiswi FIP. Sedangkan hasil dari uji korelasi menunjukan bahwa terdapat hubungan yang rendah antara tingkat Asertif Mahasiswi dengan Prestasi akademik mereka yaitu sebesar 0,137 untuk Mahasiswi FIO dan 0,241 untuk mahasiswi FIP dengan menggunakan pedoman dari sugiyono Kata kunci : Asertif, Prestasi Akademik, Mahasisw
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
