12 research outputs found
Muhammadiyah’s Views and Actions on the Protection of Civilians during the Japanese Invasion of the Netherlands Indies, 1941-1942
Studies on Muhammadiyah largely ignore Muhammadiyah’s perceptions of war. This study explores Muhammadiyah’s thoughts and practices on the protection of civilians in a so far neglected war, namely Japanese invasion of the Netherlands Indies in 1941-1942. Using historical research method, this study scrutinizes previously unexamined primary sources, the weekly magazine Adil, which was published by Surakarta branch of Muhammadiyah, in editions between 1941-1942. By examining edicts from the Central Board of Muhammadiyah as well as the writings of individuals affiliated with Muhammadiyah published by Adil, this study argues that Muhammadiyah was highly attentive to efforts to protect the civilians in times of war, by basing its thoughts on the interplay between Islamic principles and modern ideas about the rights of non-combatants in battle. Muhammadiyah strongly emphasized that during the war the civilians must be protected by the state. It moreover advised people to build spiritual and mental strength so that they can survive the war and advocated a self-protection of civilians by encouraging every resident of the Indies to help each other during the war. It campaigned for the protection of civilians with various methods and by establishing a special agency to organize the protection efforts. This study elucidates the role of Muhammadiyah in providing information, religious guidance and practical supports to its members and the Indonesian people in general regarding the protection of civilians in a war that finally overthrew European colonial powers in Southeast Asia.Studi-studi tentang Muhammadiyah masih mengabaikan tema persepsi Muhammadiyah tentang perang. Kajian ini mengeksplor pandangan dan tindakan Muhammadiyah terkait perlindungan warga sipil di masa perang, dalam konteks yang selama ini terabaikan, yaitu invasi Jepang ke Hindia Belanda pada 1941-1942. Dengan menggunakan metode penelitian sejarah, studi ini mengkaji sumber-sumber primer yang belum pernah diteliti sebelumnya, yaitu majalah mingguan Adil yang diterbitkan oleh Muhammadiyah cabang Surakarta, di edisi antara tahun 1941-1942. Dengan menelaah maklumat-maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta tulisan individu-individu yang berafiliasi dengan Muhammadiyah yang diterbitkan oleh Adil, penelitian ini berargumen bahwa Muhammadiyah menaruh perhatian besar pada upaya melindungi warga sipil di masa perang, dengan mendasarkan pemikirannya pada saling interaksi antara prinsip-prinsip Islam dan ide-ide modern tentang hak-hak non-kombatan dalam pertempuran. Muhammadiyah sangat menekankan bahwa selama perang warga sipil harus dilindungi oleh negara. Selain itu, Muhammadiyah mengajak masyarakat untuk membangun kekuatan spiritual dan mental sehingga mereka dapat bertahan dari perang dan menganjurkan agar warga sipil berupaya melindungi diri mereka sendiri dengan mendorong setiap penduduk Hindia untuk saling membantu selama perang. Muhammadiyah mengkampanyekan perlindungan warga sipil dengan berbagai metode dan dengan membentuk badan khusus untuk menyelenggarakan upaya perlindungan. Kajian ini menjelaskan peran Muhammadiyah dalam memberikan informasi, panduan keagamaan, dan dukungan praktis kepada anggotanya dan masyarakat Indonesia pada umumnya mengenai perlindungan warga sipil dalam perang yang akhirnya menggulingkan kekuatan kolonial Eropa di Asia Tenggara.
Ratna Sari Dewi Soekarno - Sakura di Tengah Prahara
Sukarno, Bapak Proklamator Republik Indonesia, memang unik. Dia tidak hanya dikenal sebagai pejuang republik, namun juga kekhasannya yang mampu memikat hati perempuan-perempuan cantik. Sukarno dikenal sebagai “lelanange jagatâ€. Dia ganteng, gagah, dan tulisan-tulisannya mampu membuat perempuan tersanjung dan “klepek-klepekâ€.Salah satu perempuan yang klepek-klepek itu adalah Ratna Sari Dewi Sukarno. Tentunya nama tersebut bukan nama asli. Ia bernama Naoko Nemoto, seorang warna negara Jepang.Ya, Naoko perempuan berparas ayu dan muda belia inilah yang jatuh cinta kepada Sukarno. Sebaliknya, Sukarno pun jatuh hati kepadanya.Kisah kasih antara Sukarno dengan Naoko adalah titik kisar penting untuk memahami masuknya Naoko ke dalam kehidupan sang presiden. Haru-biru cinta mereka tidak seperti kasmaran anak muda yang selalu berpikir tentang dunia yang dimiliki berdua. Ini adalah episode bersambung yang kompleks, yang dipenuhi oleh traged, intrik, dan persoalan-persoalan yang menyangkut banyak orang, bahkan negara. Bisa dikatakan, jalannya sejarah Indonesia dipengaruhi oleh peristiwa klise ini....“Kalau aku mati, kuburkanlah aku di bawah pohon jang rindang. Aku mempunyai istri, jang aku tjintai dengan segenap djiwaku. Namanya, Ratna Sari Dewi. Kalau ia meninggal, kuburkanlah ia dalam kuburku. Aku menghendaki ia selalu bersama aku†(Djakarta, 6 Djuni 1962, Soekarno).Sebuah tulisan puitis yang menyetuh kalbu. Sebuah penggambaran akan kecintaan Sukarno yang mendalam kepada gadis Sakura itu.Buku ini bertutur tentang Ratna Sari Dewi Sukarno sebagai seorang istri Presiden RI pertama. Pengkisahan yang menarik dan tertata rapi menjadikan buku ini mempunyai nilai plus. Selain sebagai buku sejarah, buku ini juga beruajar tentang tokoh Dewi Sukarno sampai relung pribadinya.Buku ini akan membantu siapa saja yang ingin mengetahui sejarah hidup Dewi Sukarno sebagai seorang istri Panglima Besar Revolusi (Sukarno) yang tak luput dari kekurangan sebagai seorang manusia biasa
Kematian Misterius Para Pembaru Indonesia : Orang-orang Cerdas yang Mati Di Tangan Bangsanya Sendiri
Ratna Sari Dewi Sukarno: sakura di tengah prahara
Buku ini adalah memoar/biografi salah seorang istri Presiden Sukarno, sejak kelahirannya hingga wafatnya sang Preside
