20,247 research outputs found

    Marche De S. M. Impériale Le Sultan Abdul Hamid Han

    No full text
    MARCHE DE S. M. IMPÉRIALE LE SULTAN ABDUL HAMID HAN Marche De S. M. Impériale Le Sultan Abdul Hamid Han ([1]) Cover ( - ) Titelseite ([1]) Marche Impériale ([2]) Abbildung ([7]) Douanaméï Humayoun ([8]

    Peranan Sultan Abdul Hamid di Kesultanan Bima (1773-1817 M)

    No full text
    Peneliti ini menemukan bahwa: 1) Abdul Hamid adalah salah satu keturunan dari Sang Bima yang merupakan pendiri Kerajaan Bima, sehingga ia berkesempatan untuk melanjutkan misi nenek moyangnya itu. Ia dilahirkan di Bima pada tahun 1176 H (lebih kurang tahun 1762 M). Ayahnya merupakan sultan ke-8 di Kesultanan Bima setelah wafat ayahnya Sultan Abdul Hamid menggantikan posisi ayahnya selama kurang lebih 44 tahun. 2) ada beberapa kebijakan yang diterapkan oleh Sultan Abdul Hamid di kesultanan Bima yakni yang pertama kebijakan politik ia memanfaatkan hubungan baiknya dengan Kompeni sebagai jalan untuk memperoleh kepentingan Kesultanan Bima. Siasat politiknya ini dijadikan sebagai sumber untuk mendapatkan alat persenjataan dan keamanan perdagangan. Kebijakan ekonomi, ia memberlakukan perdagangan bebas ala Inggris. Dan kebijakan Keagamaan, ia memperkuat posisi lembaga peradilan Islam dengan memberi nama Mahkamah Syar‟iyyah, menyempurnakan pembangunan masjid di Kampo Sigi dan ia juga mempertegas keberadaan Hukum Hadat dan Hukum Islam. 3) pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid ia berhasil menciptakan lambang kesultanan Bima. Lambang Kesultanan Bima berbentuk garuda berkepala dua gambar garuda yang menoleh ke kanan dan ke kiri di atas perisai dengan warna dasar kuning berarti kemuliaan, warna garuda biru berarti setia, warna perisai merah berarti berani. Membuktikan bahwa kekuatan dan kedaulatan Bima dapat disimbolkan dengan lambang kesultanan tersebut. Salah satu peninggalan yang berharga dari kerajaan dan kesultanan Bima yang dibuat pada masa pemerintahan Sultan Bima ke IX yakni Sultan Abdul Hamid ialah mahkota kerajaan

    MEMPERTIMBANGKAN NILAI ADIL DALAM WARISAN (Perspektif Nasr Hamid Abu Zayd)

    No full text
    Nasr Hamid Abu Zayd who has some thoughts related to the Qur'an is a contemporary Islamic critical thinker . He said that al Qur’an is a cultural product, this statement made him get under public criticism. However, besides that there are interesting things in the thought of Nasr Hamid Abu Zayd when discussing gender issues including in terms of division of inheritance which according to the author has not been known to the public. The idea that carried Nasr Hamid Abu Zayd is what the author needs to describe conceptually. Research on Gender Deconstruction Perspective Nasr Hamid Abu Zayd was done in order to answer: 1) How is the Qur'an according to Nasr Hamid Abu Zayd? 2) How is the legacy in the Qur'an according to Nasr Hamid Abu Zayd? This paper would like to reconstruct the thoughts of Nasr Hamid Abu Zayd on the Qur'an and the concept of justice in the inheritance. In order to reconstruct the thought of Nasr Hamid Abu Zayd, the author used theoretical hermeneutical of Schleirmacher’s. theory

    PEMIKIRAN GERAKAN TURKI MUDA DALAM UPAYA MENJATUHKAN SULTAN ABDUL HAMID II (1876-1909 M)

    No full text
    &lt;p&gt;The purpose of this research are (1) to find the factors of the Young Turks Movement wanted to attempt the Sultan Abdul Hamid II and (2) to describe the consideration of Young Turk Movement in bringing down Sultan Abdul Hamid II. This study uses qualitative methods presented in descriptive. The technique of data collection was done through the study of library research. Books that became reference were book related to considerations of Young Turk and Sultan Abdul Hamid II. The author did data selection from the rest of the data obtained and then did the analysis. The results of the findings in this research are first, the Young Turks are movement against the reign of Sultan Abdul Hamid II which they regard as dictator. The Young Turk cooperated with liberal opposition to get rid of Sultan abdul Hamid II from his power. Second,the consideration of Young Turk Movement in bringing down Sultan Abdul Hamid II, is build a partnership with Zionism, replacing the Sultan, assault and murder.&lt;/p&gt;</jats:p

    Physicochemical characteristics of Bt (Seeni-1) Vs. local hamid cultivar cotton seed oils

    No full text
    n investigation on physicochemical characteristics of Bt (Seeni-1) vs local Hamid cultivar (cv) cottonseed oils (CSO) was conducted. Protein in Seeni-1 seed was relatively higher than Hamid cv seed. Oil content, ash and fibre of Hamid cv were relatively higher. Ash and oil content in black (chemical delinting) and white (mechanical delinting) seed were relatively higher in Hamid cv. There were no differences between the specific gravity (sp.gr.), refractive index (R.I.) and moisture content of both oils. Free fatty acids (FFA) and iodine value (IV) in Seeni-1 were relatively higher. Saturated fatty acids (SFAs) in Hamid cv oil proved to be more than Seeni-1 oil [automatically the USFA should be higher in Seeni-1]. Phosphorus content in Seeni-1 oil was lower than that of Hamid cv, whereas there was no significant difference in the peroxide value (PV)

    KONFLIK SULTAN ABDUL HAMID II DENGAN YAHUDI (STUDI HISTORIS SENGKETA TANAH PALESTINA TAHUN 1896-1909 M)

    No full text
    TAHUN 1896-1909 M konflik antara Sultan Abdul Hamid II dengan Yahudi Zionis ini terjadi karena adanya respon Sultan Abdul Hamid II yang menolak tawaran dari Yahudi. Tawaran tersebut berupa bantuan dana kepada Kesultanan Turki Usmani, dengan jaminan mendapatkan tanah Palestina dari kekuasaan Sultan. Sikap tegas Sultan Abdul Hamid II terhadap permintahan atas tanah Palestina, membuat Yahudi berfikir bahwa upaya negosiasi secara baik-baik tidak akan berhasil. Yahudi menyusup dalam barisan pemuda revolusioner liberal dan menamakan diri mereka sebagai Gerakan Turki Muda. Selain itu, kelompok Yahudi menyusup ke dalam Organisasi Persatuan dan Kemajuan, yang membawa misi sekulerisme dan menghapuskan kekhalifahan Islam. Para aktivis Yahudi pun mendukung gerakangerakan oposisi terhadap Sultan Abdul Hamid II, seperti gerakan nasionalisme Kurdi, dan nasionalisme Balkan untuk memisahkan diri dari pemeritahan Usmani dan negara-negara Barat yang memiliki kepentingan di wilayah kekuasaan Kesultanan Turki Usmani. Penelitian ini menggunakan teori konflik menurut Paul Wehr. Teori ini digunakan untuk melihat Sultan Abdul Hamid II dan Yahudi, yang bertindak sebagai aktor terjadinya koflik dalam menyelesaikan permusuhan yang dihadapi. Selain itu, teori ini juga digunakan untuk menganalisa berbagai sikap, tindakan, dan dampak yang diciptakan kedua belah pihak, yaitu Yahudi dan sultan untuk membantu mencapai apa yang menjadi tujuan mereka. Hasil dari penelitian ini bahwa konflik yang terjadi antara Sultan Abdul Hamid dengan Yahudi dikarenakan sikap keras sultan dalam menolak dan mempertahankan tanah Palestina. Berawal keputusan yang diambil sultan tersebut, Yahudi Zionis mulai melakukan propaganda demi menjatuhkan Sultan Abdul Hamid II. Propaganda tersebut dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari memanipulasi berita terkait sultan sampai usaha pembunuhan. Meskipun dapat mengatasi beberapa masalah yang ia hadapi, tetapi konspirasi yang dilakukan musuh-musuhnya terlalu kuat dan pada akhirnya Sultan Abdul Hamid II harus di turun dari tahtanya pada tanggal 27 April 1909

    WAHYU DALAM PANDANGAN NASR HAMID ABU ZAID

    No full text
    Wahyu merupakan suatu perkara yang sangat penting dalam agama Islam bahkan menjadi asas kepada kewujudan Islam itu sendiri. Begitu pula tema wahyu dalam khazanah ‘‘ulÅ«m al-Qur’Än. Oleh sebab itu, berbagai kajian tentang wahyu banyak dilakukan oleh para pemikir Muslim, ia sentiasa dijadikan sasaran musuh Islam untuk melemahkan Islam dan umatnya. Nasr Hamid Abu Zaid adalah satu nama besar dalam dunia Pemikiran Islam yang mencoba menawarkan gagasan baru mengenai wahyu tersebut.Dalam mengkaji tradisi (turath) di bidang pemikiran terutama pada kajian‘ulÅ«m al-Qur’Än, Nasr Hamid Abu Zaid berbeda dengan para pendahulunya. Jika para pendahulunya lebih cendrung mengekor atau taqlÄ«d dengan pemikiran yang sudah ada, justru Nasr Hamid Abu Zaid lebih memilih untuk mengkritisi pemikiran- pemikiran tersebut,. Bahkan lebih jauh lagi Ia  bukan sekedar mengkritisi, tetapi tidak segan-segan untuk menolaknya. Sikap kritis Abu Zaid diwujudkan dengan menggiring, ‘‘ulÅ«m al-Qur’Än sebagaii objek kajiannya menuju taraf ilmiah rasional. Karena kajian ini  masih dianggap jalan di tempat, yakni masih berada pada wilayah teologis-mitologis. Sehingga belum ada upaya-upaya untuk menuju ke taraf yang lebih tinggi, yaitu taraf ilmiah-rasional.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan Nasr Hamid Abu Zaid tentang wahyu. Metode yang digunakan dalam penulisan adalah deskriptif analisis. langkah awal yang ditempuh adalah dengan mengumpulkan data-data primer dan sekunder kemudian mengklasifikasikan, mendeskripsikan dan selanjutnya menganalisis.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Abu Zaid mengkaji wahyu dengan analisis unsur budaya sehingga yang membedakannya dengan penafsir lainnya adalah antara wahyu dan budaya,. budaya-sosial sangat berperan dan berpengaruh penting terhadap munculnya sebuah teks. Abu Zaid menjelaskan proses  pewahyuan Alquran dengan meminjam teori model komunikasi Roman Jakobson, meskipun tidak sama persis.“Proses pewahyuan menurutnya adalah sebuah tindak komunikasi yang secara natural terdiri dari pembicara, yaitu Allah, seorang penerima, yakni Nabi Muhammad, sebuah kode komunikasi, yakni bahasa Arab, dan sebuah canel, yakni Ruh Suci (Jibril). Nasr Hamid Abu Zaid juga dipengaruhi oleh Toshihiko Izutsu, dan  al-Jurjani

    Reliability updating of experienced Hydraulic Structures by account of inspections: Case study: Poiree weir Roermond

    No full text
    The Dutch Ministry of Infrastructure and Environment manages approximately five hundred hydraulic structures and is responsible for the remaining life of these experienced structures. In this report, we developed a reliability analysis for the case study poiree weir Roermond. The inspections carried out by IV-Infra on the poiree weir Roermond concludes a rise to high risk e.g. a high probability of occurrence and major consequential loss primarily related to the observed erosion damage at the embedded poiree trestles located upstream river. The remaining life of hydraulic structures is in general the expected lifespan, on the condition that the structure does not fail in the expected lifespan also known as ‘reference period’. The remaining life can be determined as one can predict the deterioration and be able to predict in what condition the poiree weir will be. When the service life time is assumed a random variable, the strength condition can be modeled as a stochastic process, and thus the remaining life too. There is doubt concerning the structural safety because of this deterioration, a reliability assessment of experienced hydraulic structures must be therefore reviewed for use during the remaining life instead of the general reference period and are therefore not to be considered equal.The lognormal distribution with skewness k&lt;1 is an appropriate method to model the strength deterioration behavior. The future condition can’t be exactly determined because of the introduction of the deterioration model uncertainty. Nevertheless, the effect of the inspection data on the reliability level can be illustrated by the likelihood of the strength at the moment of inspection and can be estimated better with a Bayesian afterwards probability. The increase of the actual number of inspections further reduces the uncertainty of the strength deterioration.The Dutch Ministry of Infrastructure introduced the "experienced reliability level". The experienced reliability level is the minimum level of structural safety for experienced structures in main waterways. For the reference period and remaining life of 30 years, the following reliability index β = 3.3 is the lower limit for the structural safety for existing structures. The survival probabilities can then be given as reliability index, and compared with the minimum reliability level of experienced structures. To maintain the reliability level at the target level, the remaining life of the poiree weir is the period within which the minimum reliability level of experienced structures should not be less. The remaining life for without inspections and n=9 inspections is calibrated to 7 years, the increase of the number observations n=100 increases the remaining service life to 11 years. One can say that inspection increases the remaining life. This is great of importance for the planning of maintenance.Dutch Ministry of Infrastructure and EnvironmentExperienced reliability level of hydraulic structuresPoiree weir RoermondMaster project reportMaster internshi
    corecore