1,721,122 research outputs found

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Field Work Practice Report at PT. Langkat Nusantara Kepong Bukit Lawang Gardens

    No full text
    55 HlmKegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) merupakan kegiatan menyelaraskan antara pengetahuan yang diperoleh diperkuliahan dengan praktek dilapangan mengenai serangkaian proses budidaya tanaman kelapa sawit. Secara keseluruhan penting untuk dilakukan memperkaya pengetahuan wawasan, pengalaman, dan keterampilan yang berguna untuk dijadikan modal dalam dunia kerja. Adapun kegiatan selama kegiatan PKL di PT. Langkat Nusantara Kepong Kebun Bukit Lawang yaitu terdiri dari Pemeliharaan TM, Panen, dan Sistem Penginputan Data (Barcode). Perusahaan ini sudah mendapat sertifikat BSPO guna memastikan produknya diproduksi secara berkelanjutan yang nantinya CPO dapat dijual secara global

    Field Work Practice Report at Sungei Putih Research Institute

    No full text
    75 Hlm1. Kebun entres terdiri atas klon-klon unggul yang sudah dianjurkan sebagai bahan tanam untuk pertanaman komersial. Bibit untuk kebun kayu okulasi berasal dari perbanyakan okulasi. 2. Pemberian pupuk pada tanaman karet bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dan meningkatkan produksi getah. Pemberian pupuk diketahui mampu meningkatkan produksi getah karet 10 hingga 33%. Pemupukan tanaman karet dilakukan sejak penanaman bibit hingga tanaman berumur 20 tahun. 3. Biji karet yang akan dikecambahkan dipilih yang masih segar baru jatuh dari pohon atau maksimal 4 hari setelah jatuh. Pengamatan bisa dilakukan dengan membelah biji karet dan memperhatikan warna daging bijinya. 4. Dalam kegiatan okulasi yang menggabungkan sifat unggul dari kedua klon dalam satu individu, maka diperlukan kompatibilitas dari kedua batang tanaman karet. 5. Penyulaman/ penyisipan Penyulaman merupakan kegiatan penggantian tanaman yang mati atau terhambat pertumbuhannya dengan tanaman yang baru. 6. Pengendalian gulma di perkebunan karet menggunakan tiga teknik yaitu secara manual (mekanis), kultur teknis, dan khemis. 7. Waktu yang baik untuk melakukan penyadapan adalah saat kondisi Turgor masih tinggi yaitu pada pagi hari tepatnya pukul 05:45, sesuai dengan waktu daerah masing-masing. Pengumpulan latek di mulai pukul 12.00 wib disitu para penderes mengumpulkan hasil lates kedalam ember dan pada pukul 14.00 para penderes/ penyadap pergi kegudang untuk menimbangkan hasil latek yang mereka peroleh dari pagi , setelah lates di timbang baru lateks di cek berapa kandungan air yang terdapat pada emkaret murni. 8. Kelapa sawit (Eloeis guineensis Jacq) merupakan tumbuhan tropis yang diperkirakan berasal dari Nigeria (Afrika Barat) karena pertama kali ditemukan di hutan belantara negara tersebut

    Pengaruh Pengendalian Intern dan Manajemen Risiko dalam Penerapan Good Corporate Governance di PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan

    Full text link
    Indonesia mulai menerapkan prinsip GCG sejak menandatangani letter of intent (LoI) dengan International Monetary Fund (IMF) yang salah satu bagian pentingnya adalah pencantuman jadwal perbaikan pengelolaan perusahaan (Corporate Governance) di Indonesia. Sejalan dengan langkah tersebut, pada tahun 1999, Pemerintah melalui Kep-10/M.EKUIN/08/1999 membentuk suatu lembaga yaitu Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG). Komite ini bertugas untuk lllerumuskan dan menyusun rekomendasi kebijakan nasional tentang GCG, antara lain meliputi Code for Good Corporate Governance. Selanjutnya Komite secara berkesinambungan bertugas memantau perbaikan di bidang CG di Indonesia. Kementrian Badan Usaha Milik Negara mewajibkan seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menerapkan GCG yang diatur melalui Keputusan Meliteri Negara BUMN KEP-ll 7/M-MBU/2002. Penerapan GCG di BUMN bertujuan meningkatkan nilai perusahaan dan mendorong pengelolaannya secara profesional, transparan dan efisien, akuntabilitas, adil, dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Secara sistem Kementrian BUMN telah menetapkan tahapan pelaksanaan GCG di BUMN yang diawali Tahapan Sosialisasi, Assessment, dan Review penerapan GCG. Untuk mencapapai program tersebut perusahaan menetapkan bahwa pengendalian internal dan manaj em en risiko dapat mendukung penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Selain itu good corporate governance juga berfungsi sebagai alat untuk menilai quality of managemennt dari sebuah kebijakan perusahaan. Dengan demikian GCG sebenarnya adalah penerapan sistim yang bisa menjamin keberlangsungan bisnis perusahaan dengan lebih baik (www.informasi-training.com) Terdapat tiga variabel dalam dari berbagai variable yang tercakup yaitu pengendalian internal, variabel manajemen risiko dan variabel tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Di dalam melaksanakan operasional perusahaan timbul pertanyaan, apakah pengendalian internal dan manajemen risiko yang baik dapat menjamin telah melaksanakan tata kelola perusahaan yang baik pula (good corporate governance)? Untuk itu diperlukan penelitian ilmiah dalam rangka menganalisa pengaruh pengendalian internal dan manajemen risiko terhadap penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Ada lima pilar dalam penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) yaitu adanya tranparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban dan kewajaran. Untuk membuktikan teori tersebut di atas, dilakukan penelitian ilmiah dengan tahapan perumusan daftar pertanyaan, distribusi dan pengumpulan daftar pertanyaan, koleksi dan analisis data dengan menggunakan uji korelasi dan regresi. Dari hasil pengujian diperoleh kesimpulan bahwa: 1. Pengendalian internal mempengaruhi penerapan tata kelola perusahaan yang baik ((good corporate governance). 2. Manajemen risiko mempengaruhi penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). 3. Pengendalian Internal dan Manajemen risiko mempengaruhi penerapan tata kelola perusahaan yang baik ((good corporate governance). 4. Pengaruh pengendalian internal dan manajemen risiko terhadap penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) mencapai 48.1 % sedangkan 51.9 % dipengaruhi oleh variabel lainnya. 5. Pengendalian internal lebih berpengaruh terhadap penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance ) dibanding dengan manajemen risiko. Good corporate governance merupakan pengelolaan bisnis yang melibatkan kepentingan stakeholders serta penggunaan sumber daya berprinsip keadilan, efisiensi, transparansi dan akuntabilitas. Masih ada yang mempengaruhi penerapan good corporate governance di PT.Perkebunan Nusantara III Medan, adapun faktor stakeholders yang mempunyai keterkaitan terhadap kinerja. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya, pengaruh dari stakeholder terhadap penerapan good corporate governance di PT.Perkebunan Nusantara III Medan. Penerapan pengendalian internal yang konsisten dan efektipnya manajemen risiko dalam melaksanakan operasional pekerjaan akan dapat meningkatkan penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance

    Marketing Analysis of Oranges (Citrus Sinensis L) (Case Study: Rakut Besi Village, Pamatang Silimahuta District, Simalungun Regency)

    No full text
    92 HalamanPenelitian ini bertujuan untuk Untuk mengetahui saluran pemasaran, Untuk mengetahui Fungsi pemasaran di Desa Rakut Besi Kecamatan Pamatang Silimahuta Kabupaten Simalungun, Untuk mengetahui seberapa besar biaya pemasaran jeruk di Desa Rakut Besi Kecamatan Pamatang Silimahuta Kabupaten Simalungun, Untuk mengetahui margin pemasaran,share margin pemasaran di Desa Rakut Besi Kecamatan Pamatang Silimahuta Kabupaten Simalungun, Untuk mengetahui efesiensi pemasaran di Desa Rakut Besi Kecamatan Pamatang Silimahuta Kabupaten Simalungun. Metode yang digunakan untuk penelitian ini Pengambilan sampel petani jeruk dilakukan dengan metode Quota sampling (sampel kuota). Hasil penelitian dan Pembahasan menunjukkan diketahui bahwa ada 3 saluran pemasaran yang terjadi. Yang pertama yaitu Petani→Pedagang besar. Saluran kedua Petani→Pedagang Pengumpul→Pedagang Besar. Dan saluran ketiga Petani→ Agen→Pedagang Pengumpul→Pedagang Besar. Efisiensi setiap saluran pemasaran termasuk dalam kategori efisien karena nilai efisien < 50% yaitu saluran I sebesar 17,05 %, saluran II sebesar 26.75% dan saluran ke III yaitu sebesar 25,44%. Namun dalam penelitian ini saluran pemasaran pertama lebih efisien karena nilai efisiensi lebih kecil dibandingkan saluran pemasaran yang kedua dan ketiga. This study aims to find out the marketing channel To find out the marketing function in Rakut Besi Village, Pamatang Silimahuta District, Simalungun Regency, To find out how much the marketing cost of oranges in Rakut Besi Village, Pamatang Silimahuta District, Simalungun Regency, To find out the marketing margin, share the marketing margin in Rakut Besi Village, Pamatang Silimahuta District, Simalungun Regency, To find out the marketing efficiency in Rakut Besi Village, Pamatang Silimahuta District, Simalungun Regency. The method used for this study was sampling of orange farmers carried out by the Quota sampling method. The data analysis model used is Descriptive Analysis based on surveys and observations conducted in the research area. The results of research and discussion show that it is known that there are 3 marketing channels that occur. The first is Farmer→ Wholesaler. The second channel is Farmer→Collecting Merchant→Wholesaler. And the third channel Farmer→Agent→Merchant Gatherer→Wholesaler. The efficiency of each marketing channel is included in the efficient category because the efficient value < 50%, namely channel I of 17.05%, channel II of 26.75% and channel III of 25.44%. However, in this study, the first marketing channel is more efficient because the efficiency value is smaller than the second and third marketing channels

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Field Work Practice Report at PT. Langkat Nusantara Kepong Basilam Gardens

    No full text
    103 HlmKegiatan Praktek Kerja Lapangan menyelaraskan antara pengetahuan yang diperoleh diperkuliahan dengan praktek dilapangan mengenai serangkaian proses budidaya tanaman kelapa sawit secara keseluruhan penting untuk dilakukan untuk memperkaya pengetahuan, wawasan, pengalaman, dan keterampilan yang berguna untuk dijadikan modal dalam dunia kerja. Adapun kegiatan selama kegiatan PKL di PT. Langkat Nusantara Kepong Kebun Basilam yaitu terdiri dari pembibitan, pemeliharaan TM, panen, dan pabrik. Saran, kegiatan PKL merupakan suatu kegiatan untuk yang sangat penting untuk menyatukan antara pengetahuan kampus dan keadaan lapangan sehingga diharapkan kepada seluruh mahasiswa peserta kegiatan PKL untuk mengikuti kegiatan dengan baik sehingga akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang akan berguna untuk persiapan dalam menghadapi dunia kerja

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Hubungan Antara Pola Asuh dan Intelegensi dengan Kemandirian

    No full text
    Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan analisis product moment dengan teknik pengambilan sampel Purposive Sampling dan Simple Random Sampling. Subjek penelitian ini adalah siswa-siswi SMA Budi Murni - 1 Medan dengan sampel 42 orang dari kelas XII. Alat ukur yang digunakan adalah skala pola asuh dan skala kemandirian serta Culture Fair Intelligence Test (CFIT) skala 3B. Berdasarkan analisis data menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh dan inteligensi dengan kemandirian. Hasil ini ditunjukkan dengan koefisien Freg = 6,397 dimana p > 0,05. Ini menandakan bahwa semakin tinggi rendahnya pola asuh dan semakin tinggi rendahnya inteligensu, maka akan mempengaruhi tinggi rendahnya kemandirian. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat dinyatakan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dinyatakan diterima
    corecore