1,720,956 research outputs found

    Sifat Mekanik Beton Ringan Expanded Polystyrene dengan Perlakuan Panas dan Penambahan Serat Polyprophylene (2024)

    No full text
    Beton ringan sebagai bahan material yang memiliki berat jenis lebih ringan dibanding beton normal pada umumnya, menjadikannya sebagai bahan yang diminati untuk bahan dasar pembuatan elemen non struktural suatu bangunan, misalnya partisi pracetak. Salah satu jenis agregat ringan yang dapat digunakan sebagai penyusun beton adalah expanded polystyrene (EPS). EPS memiliki ketahanan terhadap panas yang baik, penyerapan air yang rendah, dan harganya ekonomis. Berat satuan EPS tergolong ringan, namun memiliki sifat mekaniknya yang buruk. Penambahan serat polyprophylene pada beton ringan EPS diharapkan dapat memperbaiki ikatan dan daya lekat pada bahan penyusunnya, sehingga mencegah terjadinya retak-retak dan menambah daktilitas pada komponen beton ringan. Permasalahan yang akan diteliti di dalam penelitian ini adalah sifat mekanik beton ringan EPS dengan perlakuan panas dan penambahan serat polyprophylene. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kekuatan tekan, modulus elastisitas, dan kekuatan tarik belah dan kekuatan lentur dari beton ringan. Evaluasi tersebut menjadi dasar penentuan teknis terhadap layak atau tidaknya penggunaan material yang diteliti sebagai komponen beton struktural. Dengan demikian, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran atau referensi bagi para pelaku konstruksi dalam bidang penelitian, industri, dan perancangan elemen struktur Penelitian ini dimulai dengan studi literatur terhadap penelitian-penelitian yang berkaitan dengan evaluasi penggunaan EPS sebagai agregrat ringan dan pengaruh penambahan serat polyprophylene pada beton. Persiapan alat dan bahan pengujian dilakukan setelah studi literatur selesai dikerjakan. Tahap pengujian terdiri dari dua (2) macam, yaitu pengujian pendahuluan (pengujian pada agregat ringan, berupa organic impurities, staining, loss on ignition, grading, bulk density, dan clay lumps) dan pengujian utama (pengujian pada beton yang meliputi uji kuat tekan, modulus elastisitas, dan kuat tarik belah, dan kuat lentur). Pengujian mengacu pada ASTM C330-09 tentang Standar Specification for Lightweight Aggregates for Structural Concrete. Benda uji berupa silinder beton dengan diameter 150 mm dan tinggi 300 mm yang akan diuji pada usia beton 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari. Pada pengujian kuat tekan, modulus elastisitas, dan kuat tarik belah digunakan sekurang-kurangnya 3 silinder untuk tiap variasi pengujian, sementara pengujian kuat lentur membutuhkan sekurang-kurangnya 3 balok dengan dimensi 200x200x700mm untuk tiap variasi pengujian. Berdasarkan hasil penelitian, kekuatan desak rata-rata menurun berturut-turut 12%, -54%, 6%, dan -23% pada umur beton 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari. Penurunan nilai kekuatan desak beton serat ini disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan air untuk melarutkan serat polyprophylene. Pada pengujian kekuatan tarik belah meningkat berturut-turut -35%, -18%, 13%, dan 25% pada umur beton 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari. Penggunaan serat polyprophylene pada silinder beton dapat meningkatkan kekuatan tarik belah beton sebesar 25% pada umur beton 28 hari dibandingkan dengan beton non serat. Peningkatan nilai kekuatan lentur (MOR) beton serat berturut-turut sebesar 22%, 38%, -11%, dan 28% pada umur beton 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari terhadap beton non serat

    Perilaku Lentur Balok Laminasi Kayu Glugu dan Sengon dengan Sambungan Epoksi dan Paku (2022)

    No full text
    Kayu laminasi atau kayu glulam struktural (glued laminated timber) telah menjadi inovasi yang cukup berkembang dalam meningkatkan mutu kayu untuk digunakan sebagai elemen struktural suatu bangunan. Berbagai penelitian telah dilakukan sebagai upaya optimasi metode, antara lain dengan memvariasikan jenis kayu, dimensi, dan jumlah lamina. Penelitian untuk memeriksa pengaruh sambungan mekanis sebagai sambungan tambahan pada kayu laminasi dibutuhkan untuk memperluas inovasi metode, tetapi jumlah penelitian tersebut masih minim. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh jarak antar paku sebagai sambungan mekanis tambahan pada perilaku lentur balok laminasi, yang sudah direkatkan dengan lem epoksi. Dalam penelitian ini, balok laminasi kayu glugu-sengon-glugu berdimensi 5 x 7 cm diuji lentur satu titik dengan variasi jarak antar paku sebesar 5, 10, 15, dan 20 cm. Berdasarkan hasil penelitian, penambahan sambungan paku dapat meningkatkan kekuatan lentur maksimum (MOR) sebesar 29% (47,67 MPa), 46% (54,01 MPa), 17% (43,12 MPa), dan 4% (38,49 MPa) pada variasi jarak antar paku 20 cm, 15 cm, 10 cm, dan 5 cm, dibandingkan dengan balok tanpa sambungan paku atau BK (36,91 MPa). Peningkatan nilai modulus elastisitas (MOE) terjadi pada variasi jarak antar paku 20 cm, 15 cm, dan 10 cm sebesar 19% (7213,22 MPa), 29% (7808,98 MPa), dan 16% (7016,08 MPa), sedangkan pada variasi jarak antar paku 5 cm terjadi penurunan sebesar (5% (5758,97 MPa), jika dibandingkan dengan BK (6042,20 MPa). Dari hasil tersebut, jarak optimal antar paku sebagai sambungan mekanis pada kayu laminasi diperkirakan 15 cm

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Get PDF
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado
    corecore