169,880 research outputs found

    δ¹³Cvalues of sediment organic matter in the Arabian Sea oxygen minimum zone

    No full text
    Freeze-dried core tops from 8 stations between 900 and 3000 m for sedimentary organic matter were decalcified with 2N HCl, washed, freeze-dried, and subjected to analysis via a Flash EA 1112 Series (Thermo Scientific) analyser, coupled via a Conflo II interface to a Finnigan DELTA plus mass spectrometer as described by Lengger et al. (2014; doi:10.1111/gbi.12081). Standards for δ¹³C analysis were acetanilide and benzoic acid and samples were analysed in duplicate

    δ¹³Cvalues of downcore sediment organic matter at station PA900 in the Arabian Sea oxygen minimum zone

    No full text
    Freeze-dried core tops from 8 stations between 900 and 3000 m for sedimentary organic matter, and punches from 0.7 µm GFF filters for suspended particulate organic matter, were decalcified with 2N HCl, washed, freeze-dried, and subjected to analysis via a Flash EA 1112 Series (Thermo Scientific) analyser, coupled via a Conflo II interface to a Finnigan Delta^plus^ mass spectrometer as described by Lengger et al. (2014; sediment) and Pitcher et al. (2011; doi:10.1038/ismej.2011.60; filters). Standards for δ^13^C analysis were acetanilide and benzoic acid and samples were analysed in duplicate

    Perancangan Film Dokumenter Tari Lengger Lanang Banyumas

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk merancang film dokumenter berjudul “Tari Lengger Lanang”. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, studi literatur dan wawancara. Berdasarkan data yang terkumpul, peneliti mendapatkan penjelasan universal mengenai sejarah dan perkembangan tari Lengger Lanang di Banyumas, serta pertunjukan tari Lengger Lanang diiringi alunan calung, sehingga peneliti dapat mencapai target pasar di berbagai kalangan usia. Penelitian ini menghasilkan film dokumenter tentang sejarah, perkembangan, serta sistem pertunjukan tari Lengger Lanang. Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah pemahaman akan sejarah Lengger dapat meluruskan stigma negatif yang menempel pada penari Lengger Lanang, bahwasanya laki-laki yang memiliki anugerah tubuh yang pandai menari tidak perlu mendapat stigma negatif.Aprilia, R. (2021). Eksistensi Lengger Lanang Langgeng Sari Banyumas. Imaji: Jurnal Seni Dan Pendidikan Seni, 19(1).Ayawaila, G. R. (2008). Dokumenter: dari Ide sampai Produksi. FFTV-IKJ.Effendy, O. U. (2003). Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Citra Aditya Bakti.Gunawan, I. (2022). Metode Penelitian Kualitatif: teori dan praktik. Bumi Aksara.Hartanto, S. I. (2019). Perspektif Gender pada Lengger Lanang Banyumas. Pantun, 1, 145–153.Irianto, A. M. (2017). Kesenian Tradisional sebagai Sarana Strategi Kebudayaan di Tengah Determinasi Teknologi Komunikasi. Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa Dan Sastra, 12(1), 90–100.Jati, R. P. (2021). Film Dokumenter sebagai Metode Alternatif Penelitian Komunikasi. Avant Garde, 9(2), 141–155.Kusumastuti, E. (2009). Ekspresi Estetis dan Makna Simbolis Kesenian Laesan. Harmonia: Journal of Arts Research and Education, 9(1).Lawrence, E., & Kurniawan, D. (2014). Perancangan Film Dokumenter Seni Pertunjukan Topeng Malang. Jurnal DKV Adiwarna, 1(4).Lengger Banyumas, S. P. T. (n.d.). Lengger Banyumas sebagai Seni Pertunjukan Tradisi: Perekat Sosial Masyarakat dan Pemertahanan Ekologi Lingkungan.Nugrahani, F. (2014). Metode penelitian kualitatif. Solo: Cakra Books, 1(1), 3–4.Nugroho, S. (2019). Teknik Dasar Videografi.Pratiwi, E. (2018). Dinamika Kesenian lengger Banyumas pada Tahun 1965-1998. Risalah, 5(4).Priyadi, S. (2003). Beberapa Karakter Orang Banyumas. Bahasa Dan Seni, 31(1), 14–35.Priyanto, W. P. (2010). Representasi Indhang dalam Kesenian Lengger di Banyumas. Imaji, 8(1).Raco, J. (2018). Metode penelitian kualitatif: jenis, karakteristik dan keunggulannya.Raharjo, T. A., Rahardjo, T., & Widagdo, M. B. (2022). Negosiasi Identitas Penari Cross Gender pada Lengger Lanang. Interaksi Online, 10(3), 68–83.Septianingsih, E. (2012). Eksploitasi Ekonomi dan Seksual Para Penari Lengger. Komunitas: International Journal of Indonesian Society and Culture, 4(2).Suraji, R. (2010). Religiusitas Tari Lengger Desa Gerduren Kecamatan Purwojati Banyumas. Media Aplikom, 1(2), 123–139.Utami, C. D. (2010). Film Dokumenter sebagai Media Pelestari Tradisi. Acintya, 2(1).Wati, M. S., & Jati, R. P. (2021). Visualisasi pada Dokumenter “Lengger.” Pantarei, 5(2).

    analisis seni pertunjukan lengger dan nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya pada kelompok Lengger "Ngesti budaya" di kelurahan mangunharjo Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo

    No full text
    ABSTRAK   Pangestuti, Nunik Rahayu. 2011. Analisis Seni Pertunjukan Lengger Dan Nilai-Nilai Yang Terkandung Di Dalamnya Pada Kelompok Lengger "Ngesti Budaya" Di Kelurahan Mangunharjo Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Program Studi Pendidikan Seni Tari, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Hj. Purwatiningsih, M.Pd, (II) Tri Wahyuningtyas, S.Pd, M.Si .   Kata Kunci : Analisis, Nilai-nilai, Seni pertunjukan Lengger.   Seni Lengger merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional kerakyatan. Lengger adalah sebutan untuk para penari wanita. Lengger yang berkembang sekarang cenderung dipandang negatif oleh sebagian kalangan masyarakat karena seni Lengger dianggap sarat dengan nuansa erotik dan minuman keras. Oleh karena itu sangat perlu digali nilai-nilai positif yang dapat ditransformasikan kepada anak-anak usia sekolah bahwa seni Lengger bukan hanya mengandung sisi-sisi negatif yang kemudian muncul anggapan seni Lengger harus ditinggalkan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk seni pertunjukan Lengger pada kelompok Lengger "Ngesti Budaya", dan (2) mendeskripsikan nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam kesenian Lengger pada kelompok Lengger "Ngesti Budaya" di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data penelitian yang berkaitan tentang gambaran bentuk pertunjukan dan Nilai-nilai yang terkandung dalam seni Lengger "Ngesti Budaya" di Kelurahan Mangunharjo Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo diperoleh dengan cara observasi, wawancara, kajian pustaka dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa (1) bentuk pertunjukan Lengger "Ngesti Budaya" di Kelurahan Mangunharjo kota Probolinggo ini hampir sama dengan pertunjukan Tandhak atau Tayub di berbagai daerah di Jawa Timur, yaitu diawali dengan tari pembuka yang dinamakan tari Remo Lengger atau Lengger Remo. Perbedaannya jika pada Lengger atau Tayub pada umumnya menggunakan selendang yang dikalungkan untuk menarik penonton ke panggung, tapi pada Lengger "Ngesti Budaya" ini hanya mempersilahkan para penonton agar ikut menari atau mbeso tanpa ada paksaan. Untuk mengubah citra negatif yang melekat pada seni Lengger, kelompok Lengger "Ngesti Budaya" menolak adanya minum-minuman. Bahkan mereka rela membubarkan pertunjukan jika ada penari atau penonton yang mbeso mabuk atau minum-minuman. (2) Nilai-nilai yang terkandung dalam seni pertunjukan Lengger "Ngesti Budaya" diantaranya sebagai berikut; (a) nilai ilmu pengetahuan, yang terkandung dalam seni pertunjukan Lengger "Ngesti Budaya"adalah tentang adanya unsur gerak tari, unsur musik, dan unsur seni suara, (b) nilai ketrampilan, lebih mengarah pada gerakan-gerakan secara spontanitas yang dilakukan oleh para penari Lengger, kekhasan suara para penari dalam melantunkan lagu atau kidungan-kidungannya serta kesesuaian dan ketepatan antara gerak dan musik yang mengiringinya, (c) nilai estetika/keindahan, terdapat pada tata rias dan busana yang dikenakan, ragam gerak, olah vocal, serta musik yang mengiringi pada seni pertunjukan Lengger "Ngesti Budaya". Dari perpaduan dan menyatukan kelima unsur tersebut, sehingga ditemukan nilai harmonisnya, (d) nilai moral, yaitu adanya nilai kesopanan yang diperlihatkan melalui penolakan-penolakan para penari Lengger pada tradisi suwelan yang sudah menjadi ciri khas pada pertunjukan tandhak tayub, (e) nilai religius, yaitu para seniman Lengger mengingatkan agar kita selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mematuhi perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya dengan cara penolakan terhadap minum-minuman keras. Dengan terungkapnya nilai-nilai yang ada di dalam seni pertunjukan Lengger "Ngesti Budaya" ini, diharapkan dapat menjadi pertimbangan bahwa Lengger menjadi salah satu kesenian tradisional daerah yang patut dilestarikan dan dibanggakan.

    KESENIAN LENGGER ING DESA CIKAKAK KECAMATAN WANGON KABUPATEN BANYUMAS : KAWONTENAN PURWANIPUN, KAWONTENAN ING WANCI SAMENIKA, PROSESI PAGELARAN SAHA PAEDAHIPUN

    No full text
    The research describes about the early history, present existence, steps to perform, and function of the art of Lengger in Desa Cikakak Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas. The research heads into describe history of the art of Lengger in the beginning, the existence nowadays, procession of the performance, and the function. The research used qualitative method. The results show; (1) the early history of the art of Lengger is devided into 5, that are; (a) the art of Lengger meant to propagate Islam on Java, (b) the art of Lengger originaly the typical art from Banyumas, (c) the art of Lengger is known come from Banjarwaru, (d) the Lengger dancers were played by male before, (e) the art of Lengger is also called as the art of Lengger Calung or Calung Banyumasan. (2) The existence art of Lengger nowadays is devided into 3, that are; (a) the art of Lengger is played by female unlikely in advance played by male, (b) the facilities in performance is added by modern facilities, (c) the existence of the Lengger run into enhtusiasts decrease caused by lack of neighborhood safety condusiveness. (3) procession of the performance is devided into 2 steps, that are; (a) place preparation, arrange the facilities and prepare the offerings, (b) the Lengger performance is devided into 2 sessions, that are day perfomance and night performance. (4) the function of Lengger art for society and performer Lengger art are: (a) entertainment (b) spiritual (c) build the harmony among residents (d) economical (e) education (f) conservationist tradition function Keywords: art,Lengger, Cikakak, Wangon, Banyuma

    EKSISTENSI KESENIAN LENGGER BUNDENGAN DI DESA SRUNI KELURAHAN JARAKSARI KECAMATAN WONOSOBO KABUPATEN WONOSOBO JAWA TENGAH

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan eksistensi kesenian Lengger Bundengan di Desa Sruni Kelurahan Jaraksari Kecamatan Wonosobo Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah,kaitannya dengan sejarah dan bentuk penyajian.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif objeknyaKesenian Lengger Bundengan di Desa Sruni Kelurahan Jaraksari Kecamatan Wonosobo Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah. Metode pengumpulan data dilakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi, keabsahan data di perolehmelalui triangulasi data dan sumber. Analisis data di mulai dari pengumpulan data, redukasi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan.Hasil penelitian eksistensi kesenian Lengger Bundengan di Desa Sruni Kelurahan Jaraksari Kecamatan Wonosobo Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah kaitannya dengan (1) sejarah kesenian lengger ada sejak tahun 1910 di rintis oleh Bapak Gondhowinangun, ketika itu masih sederhana (2) bentuk penyajian (a) gerakan sederhana, (b) musik di iringi dengan Kowangan/Bundengan, (c) tempat pertunjukan (3) tanggapan masyarakat terhadap eksistensi telah diakui dan berkembang di masyarakat

    MOTIVASI SISWA BELAJAR TARI LENGGER DI SANGGAR TARI RUKUN PUTRI BUDAYA DUSUN GIYANTI KELURAHAN KADIPATEN KECAMATAN SELOMERTO KABUPATEN WONOSOBO

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan motivasi siswa belajar tari Lengger di sangar tari Rukun Putri Budaya. Penelitian ini difokuskan pada motivasi siswa belajar tari Lengger, meliputi: dorongan dari dalam diri, orang tua, maupun masyarakat, serta sarana dan prasarana sebagai faktor pendukung. Penelitian ini mengunakan deskriptif kualitatif. Penelitian ini difokuskan pada motivasi siswa sanggar belajar tari Lengger di Dusun Giyanti. Pengumpulan data diperoleh melalui dokumentasi dan teknik wawancara mendalam. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata- kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti sumber tertulis dan foto. Alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini, adalah: alat tulis, buku catatan, perekam video, serta kamera foto. Analisis data yang digunakan, adalah reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi, dengan teknik triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukan bahwa motivasi menurut sumbernya dibedakan menjadi dua yaitu (1) motivasi intrinsik, dorongan dari dalam diri ini sangat berpengaruh dalam berkembangnya potensi siswa sanggar Rukun Putri Budaya sebagai penari Lengger. Motivasi intrinsik pada penari Lengger, yaitu a) melestarikan kesenian rakyat, b) memperoleh tambahan uang. Kendala motivasi intrinsik, seperti a) pulang malam, b) digoda laki-laki, c) tarian yang keras- keras. (2) motivasi ekstrinsik, dorongan dari luar yang sangat berpengaruh dalam berkembangnya potensi siswa. Faktor pendukung motivasi ektrinsik, yaitu a) keluarga, b) masyarakat, c) sarana dan prasarana, sarana dan prasarana yang disediakan berupa a) iringan, b) kostum, c) sesaji

    Implementasi Nilai Toleransi Dan Cinta Tanah Air Pada Kelompok Kesenian Tari Lengger Krido Budoyo (Studi Kasus di Kelompok Kesenian Krido Budoyo Desa Krakal Dawung, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo)

    No full text
    This study aims to describe the implementation of the value of tolerance in the arts groups Tari Lengger Krido Budoyo Village Krakal Dawung, District Kertek, Wonosobo regency in 2015, describes the implementation of patriotism in art groups Tari Lengger Krido Budoyo Village Krakal Dawung, District Kertek, Wonosobo 2015, describes the obstacles that hinder the implementation of the value of tolerance in the arts groups Tari Lengger Krido Budoyo Village Krakal Dawung, District Kertek, Wonosobo regency in 2015, describes the obstacles that hinder the implementation of patriotism in art groups Tari Lengger Krido Budoyo Village Krakal Dawung, Subdistrict Kertek, Wonosobo regency in 2015, describes a solution to overcome obstacles in the implementation of the value of tolerance in the arts groups Tari Lengger Krido Budoyo Village Krakal Dawung, District Kertek, Wonosobo regency in 2015, describes a solution to overcome obstacles in the implementation of patriotism in art groups Tari Lengger Krido Budoyo in the village of Krakal Dawung Sub Kertek, Wonosobo regency in 2015. This research is a qualitative descriptive study. Subjects in this study were community leaders and villagers in the village of Krakal Dawung, District Kertek, Wonosobo. The object of research is the implementation of the values of tolerance and love of the homeland in the arts Dance group Lengger Krido Krakal Dawung Budoyo Village, District Kertek, Wonosobo. Data collection techniques in this study is an interactive that includes interviews, observation, and documentation. This study uses two kinds of triangulation, the first triangulation of data sources in the form of information from places, events and documents containing records relating to the intended data. Second, triangulation techniques or methods of collecting data derived from interviews, observations, and documents. The results of this study can be concluded that: 1) Implementation of Value Tolerance Group of Art Dance Lengger Krido Budoyo Village Krakal Dawung, District Kertek, Wonosobo regency in 2015, namely: a) Wants to cooperate with others despite differences in religion, b) Respect between religious communities, c) Maintain harmony in daily activities. 2) Implementation of patriotism in art groups Tari Lengger Krido Budoyo Village Krakal Dawung, District Kertek, Wonosobo regency in 2015, namely: a) Using Indonesian language is good and true, b) Liking culture of the archipelago, c) Liked made in Indonesia. 3) Constraints Hinder Implementation of Value Tolerance Group of Art Dance Lengger Krido Budoyo Village Krakal Dawung, District Kertek, Wonosobo regency in 2015, namely: a) Limiting interaction, b) Attitude fanatical adherents to the religion of their own, c) Disruption of harmony in daily activities / lack of own tolerance to others. 4) Constraints that impede implementation of patriotism in art groups Tari Lengger Krido Budoyo Village Krakal Dawung, District Kertek, Wonosobo regency in 2015, namely a) The existence of several youths slang, b) Influenced by the western culture that considers cultural dances the past is considered to be old-fashioned, c) Tempted by the products from abroad, for example necklace. 5) The solution to overcome obstacles in the implementation of the value of tolerance in the arts groups Tari Lengger Krido Budoyo Village Krakal Dawung, District Kertek, Wonosobo regency in 2015, namely: a) advise to the individual to want to reduce the nature of bigotry against religion, b) is to be reduced bigotry towards religious nature, c) is more sensitive and has tepo sliro towards others. 6) The solution to overcome obstacles in the implementation of patriotism in the arts Dance group Lengger Krido Krakal Dawung Budoyo Village, District Kertek, Wonosobo regency in 2015, namely: a) required to learn to get used to practicing in the Indonesian language is good and true, b) explain to more love in their own cultural heritage, c) Stronghold Call to love the product itself

    KEBERADAAN KESENIAN CALENGSAI (CALUNG LENGGER BARONGSAI) DI KABUPATEN BANYUMAS PROVINSI JAWA TENGAH

    No full text
    Penelitian ini betujuan untuk mendeskripsikan keberadaan kesenian Calengsai (Calung Lengger Barongsai) di Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Objek material dalam penelitian ini adalah kesenian Calengsai di Kabupaten Banyumas. Objek formal dalam penelitian ini adalah keberadaan kesenian Calengsai di Kabupaten Banyumas yang meliputi: sejarah, fungsi, dan bentuk penyajian kesenian Calengsai. Subjek dalam penelitian ini adalah mantan pamong budaya Purwokerto Timur, pelaku seni, dan penari kesenian Calengsai. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Uji keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik.Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) sejarah kesenian Calengsai berawal dari permintaan Bupati Banyumas untuk meningkatkan nilai jual kesenian lengger Banyumasan, 2) fungsi kesenian Calengsai yaitu sebagai hiburan atau tontonan, dan sebagai pendidikan, 3) bentuk penyajian kesenian Calengsai meliputi: a) gerak khas Banyumasan yang dikolaborasikan dengan atraksi Barongsai, b) musik gending Ricik-ricik Banyumasan, Gunung Sari Kalibagoran, dan Renggong Lor, c) tata rias putri cantik dan tata rias putra gagah, d) tata busana meliputi: mekak, jarik, sanggul, kalung kace, sampur, giwang, gelang, kalung, menthul, sirkam, baju rompi, celana 3⁄4, sabuk cinde, iket, binggel, dan slepe, e) tata cahaya menggunakan lampu general pada saat malam hari dan sinar matahari pada saat siang hari, f) tempat pementasan di lapangan terbuka. Kesenian Calengsai saat ini jarang dipertunjukan karena beberapa faktor, di antaranya faktor regenerasi penari lengger cina yang sulit dan adanya produk kesenian baru yang diciptakan.Kata Kunci: keberadaan, kesenian, Calengsa

    MOTIVASI SISWA BELAJAR TARI LENGGER DI SANGGAR RUKUN PUTRI BUDAYA DUSUN GIYANTI KELURAHAN KADIPATEN KECAMATAN SELOMERTO KABUPATEN WONOSOBO

    No full text
    Hasil penelitian menunjukan bahwa motivasi menurut sumbernya dibedakan menjadi dua yaitu (1) motivasi intrinsik, dorongan dari dalam diri pada penari Lengger, yaitu a) melestarikan kesenian rakyat, b) memperoleh tambahan uang. Kendala motivasi intrinsik, seperti a) pulang malam, b) digoda laki- laki, c) tarian yang keras- keras. (2) motivasi ekstrinsik, dorongan dari luar dari penari, yaitu a) keluarga, b) masyarakat, c) sarana dan  prasarana, sarana dan  prasarana  yang  disediakan  berupa a) iringan, b) kostum, c) sesaji
    corecore