1,720,990 research outputs found

    Performa reproduksi udang windu Penaeus monodon pascainjeksi hormon pmsg dan antidopamin

    No full text
    Salah satu masalah utama pada unit pembenihan udang windu Penaeus monodon adalah ketidakmampuan induk untuk matang gonad secara alami. Kematangan gonad induk udang hanya dapat dicapai dengan ablasi tangkai mata, yaitu menghilangkan produksi dari hormon penghambat gonad (GIH). Meski metode ini sangat mudah, ablasi dapat menyebabkan gangguan metabolisme asam lemak, perilaku renang udang menjadi miring, penurunan kualitas gamet, stres dan kematian. Ablasi mata juga menjadi isu terkait dengan animal welfare yang dapat menjadi kendala dalam perdagangan ekspor. Manipulasi reproduksi secara hormonal telah diketahui mampu mempercepat pematangan gonad. Pada penelitian ini, manipulasi reproduksi pada udang dilakukan dengan menggunakan premix hormon oocyte developer (Oodev®) yang mengandung hormon PMSG (pregnant mare serum gonadotropin) dan antidopamin (AD), yang terbukti telah mampu meningkatkan kematangan gonad di beberapa ikan dan udang vaname jantan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis peran Oodev® dalam meningkatkan performa reproduksi induk windu jantan alam dan betina tambak. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif metode pengganti ablasi tangkai mata dalam menginduksi pematangan gonad udang windu. Penelitian dilakukan dengan 2 tahap yaitu: tahap 1 yaitu induksi pematangan udang jantan alam dan tahap 2 yaitu induksi pematangan udang betina tambak. Percobaan 1 dan 2 menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan berupa penyuntikan dengan dosis 0,5 dan 1 mL/kg, serta ablasi sebagai kontrol. Setiap perlakuan terdiri dari 25 individu sebagai ulangan. Penyuntikan hormon dilakukan sebanyak 2 kali dengan interval 1 minggu. Pada penelitian tahap 1, parameter yang diamati yaitu persentase induk matang, bobot tubuh, bobot spermatofor, jumlah spermatozoa, persentase spermatozoa normal, analisis asam lemak daging dan gambaran histologi organ reproduksi. Penelitian tahap 2, parameter yang diamati yaitu persentase induk matang, bobot tubuh, jumlah betina kawin, fekunditas relatif, dan diameter telur. Selama proses pematangan induk dipelihara di bak indoor kapasitas 10 ton dengan sistem flow-through, diberi pakan cumi dan kerang sebanyak 4% bobot tubuh perhari. Parameter air meliputi suhu, salinitas, pH, dan DO yang dijaga agar tetap berada pada kondisi optimum dengan sistem flow-through dan filtrasi. Hasil penelitian tahap 1 menunjukkan induk jantan alam yang diinjeksi dengan dosis 0,5 mL/kg mampu menghasilkan induk matang terbanyak yaitu 84%. Induk yang diinjeksi (dosis 0,5 dan 1) matang 1 kali, sedangkan induk ablasi berematurasi. Induk yang diinjeksi mampu matang lebih singkat dan serentak dalam 7 hari, dibandingkan induk ablasi yang matang 7-21 hari. Kualitas spermatofor dan sel sperma yang dihasilkan sama antara perlakuan (P>0,05). Analisis regresi menunjukkan hubungan antara bobot tubuh dan bobot spermatofor bersifat linier dan sama antara perlakuan dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,61. Begitu pula regresi linier bobot spermatofor dengan jumlah sel sperma sama antara perlakuan dan menghasilkan nilai R2 sebesar 0,42. Analisis total asam lemak induk injeksi yaitu 2,64 dan 2,65 menunjukkan peningkatan yang cenderung lebih tinggi dibandingkan induk ablasi yaitu 2,26. Gambaran histologi organ reproduksi induk yang diinjeksi Oodev® tidak menunjukkan adanya anomali atau sama dengan induk ablasi. Hasil penelitian tahap 2 menunjukkan induksi Oodev® 0,5 mL/kg mampu menghasilkan induk betina tambak yang matang sebesar 75% lebih banyak dari ablasi yaitu sebesar 53%. Persentase induk matang yang memijah relatif sama yaitu sekitar 39%. Induk ablasi yang matang kembali lebih banyak dari induk injeksi dengan lama waktu pematangan lebih singkat. Fekunditas relatif dan diameter telur yang dihasilkan tidak berbeda antar perlakuan. Induksi pematangan gonad udang secara hormonal melalui penyuntikan Oodev® pada udang jantan alam dapat mempercepat pematangan gonad dibandingkan metode ablasi tangkai mata. Udang jantan dapat matang gonad secara serentak (100%) dalam waktu 1 minggu yang disertai dengan produksi spermatofor, pengaruh hormon kemudian menurun setelah periode maturasi (setelah 7 hari) dan selanjutnya tidak ada proses rematurasi. Hasil ini memungkinkan induksi maturasi udang jantan secara serentak dan terkontrol. Kondisi tersebut tidak terjadi pada udang jantan yang diablasi tangkai mata yang memiliki variasi dalam waktu pematangan gonad. Proses rematurasi terus terjadi pada udang yang diablasi sampai hari ke-21, dimana jumlah udang yang matang gonad semakin menurun. Seperti pada udang jantan, penyuntikan Oodev® pada udang betina tambak juga dapat mempercepat pematangan gonad namun membutuhkan lama waktu yang lebih lama (7 hari). Induksi pematangan gonad udang windu melalui penyuntikan Oodev® mampu mempercepat pematangan gonad jantan dan betina secara serentak dengan jumlah induk matang gonad yang lebih banyak dari pada udang yang diablasi. Hasil ini diharapkan dapat menjadi alternatif pengganti metode ablasi tangkai mata di dalam mempercepat pematangan gonad udang windu

    INFLUENCE OF DIETARY PHYTIC ACID AND PHYTASE ON GROWTH, DIGESTIBILITY, AND VERTEBRAL PHOSPHORUS OF JUVENILE JAPANESE FLOUNDER, Paralichthys olivaceus

    No full text
    Triplicate groups of juvenile Japanese flounder (0.56 g) were fed with six experimental diets to examine the effects of phytic acid, with or without phytase on growth performances, nutrient digestibility, and vertebral phosphorus (P) content. Diet without both phytic acid (PA) and phytase supplementation was used as control. One diet was added with 10 g PA/kg without phytase supplement. Four diets were formulated to contain two levels of phytase (1,000 FTU or 2,000 FTU phytase/kg diet) combined with 2 levels of PA (10 and 20 g/kg diet). All diets were added with 10 g/kg in-organic P to meet flounder requirement. After 50 days culture, fish fed 10PA/2,000P grew significantly (P<0.05) higher than other groups, but did not differ from fish fed 10PA/1,000P. In contrast, fish fed 10PA/0P had the lowest growth but was not different from control diet (0PA/0P). Addition of either PA or combined with phytase had no significant (P>0.05) effects on feed intake and FCR. However, fish fed 10 g PA/kg combined with phytase had significant (P<0.05) higher whole body lipid, ash, and P than other groups. Moreover, P digestibility and vertebral P content were significantly increased by dietary phytase. This finding suggested that dietary phytase had potential to enhance the growth and nutrient utilization in juvenile Japanese flounder fed diet containing phytic acid. Specifically, inclusion of 2,000 FTU phytase/kg diet gave better performances when diet containing PA at level of 10 g/kg diet

    PENGARUH LAMA WAKTU PERENDAMAN EMBRIO DI DALAM LARUTAN 17a-METILTESTOSTERON TERHADAP NISBAH KELAMIN IKAN TETRA KONGO (Micralestes interruptus)

    Full text link
    lkan tetra kongo (Micralestes interrupfus) merupakan salah satu jenis ikan hias bernilai ekonomistinggi, khususnya ikan jantan. Oleh sebab itu, perlu upaya untuk memperoleh keturunan kelamin tunggal jantan melalui perendaman telur dengan menggunakan hormon 17rrmetiltestosteron

    PERFORMA FOTOSINTESIS Kappaphycus sp. (strain Sumba) YANG DIUKUR BERDASARKAN EVOLUSI OKSIGEN TERLARUT PADA BEBERAPA TINGKAT SUHU DAN CAHAYA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan cahaya terhadap laju fotosintesis Kappaphycus sp. (strain Sumba) yang diukur berdasarkan perubahan oksigen terlarut. Pengukuran laju fotosintesis Kappaphycus sp. pertama-tama dilakukan pada suhu 20oC, 24oC, 28oC, dan 32oC pada tingkat cahaya 353 μmol photons m-2 s-1 untuk mendapatkan kurva fotosintesis versus suhu (kurva P-T). Selanjutnya, pengukuran laju fotosintesis dilakukan pada suhu 20oC, 24oC, dan 28oC dengan intensitas cahaya 9, 22, 46, 58, 87, 137, 245, 353, 487, 608, dan 789 μmol photons m-2 s-1 dan juga pengukuran laju respirasi pada tingkat cahaya 0 μmol photons m-2 s-1 untuk menghasilkan kurva fotosintesis versus cahaya (kurva P-I). Beberapa parameter fotosintesis yaitu: laju fotosintesis maksimum (Pmax), koefisien fotosintesis (α), intensitas cahaya jenuh (Ek), dan intensitas cahaya kompensasi (Ec) dihitung dengan cara memplotkan kurva P-I terhadap model persamaan regresi non linear P = {Pmax x tanh (α / Pmax x I)} + Rd. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa laju fotosintesis tertinggi sebesar 6,92 μg O2 gww-1 min-1 dicapai pada suhu 28oC dengan tingkat cahaya 353 μmol photons m-2 s-1. Pada suhu 20oC, 24oC, dan 28oC, laju fotosintesis mencapai tingkat maksimum (Pmax) pada intensitas cahaya (Ek) 86,1; 154,2; dan 162,4 μmol photons m-2 s-1. Suhu yang optimum untuk aktivitas fotosintesis berkorelasi erat dengan suhu pada lingkungan budidaya di alam

    APLIKASI INSEMINASI BUATAN PADA UDANG WINDU, Penaeus monodon ALAM MENGGUNAKAN SUMBER DAN JUMLAH SPERMATOFOR YANG BERBEDA

    Full text link
    Salah satu kendala utama dalam domestikasi udang windu adalah rendahnya tingkat perkawinan secara alami dalam wadah budidaya. Hal yang sama terjadi pada udang windu alam yang digunakan di unit pembenihan. Salah satu upaya untuk mendapatkan telur fertil adalah melalui inseminasi buatan (IB). Inseminasi buatan merupakan teknik mentransfer spermatofor dari induk jantan dengan cara memasukkannya ke dalam telikum udang betina. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa reproduksi udang windu betina alam pasca-inseminasi menggunakan sumber dan jumlah spermatofor induk jantan alam yang berbeda. Penelitian dilakukan dua tahap yaitu 1) IB menggunakan spermatofor induk jantan dari perairan Sulawesi Selatan (SS) dan spermatofor induk jantan dari Aceh (SA) dan 2) IB menggunakan jumlah spermatofor berbeda yaitu satu spermatofor (S-1) dan dua spermatofor (S-2) pada udang windu betina alam. Inseminasi spermatofor dilakukan pada induk udang windu betina setelah dua hari moulting. Hasil yang diperoleh pada IB tahap pertama menunjukkan bahwa daya tetas telur udang windu betina alam lokal tidak dipengaruhi oleh sumber (lokasi) asal udang jantan, di mana daya tetas telur relatif sama pada kedua perlakuan, yaitu 61,6% pada SS dan 61,7% pada SA. IB pada tahap kedua menunjukkan bahwa daya tetas telur fertil yang diperoleh pada S-2 sebesar 40,5%; lebih rendah dari S-1 sebesar 44%.One of the main constraints in the domestication of black tiger shrimp is very low natural mating in the tank. Similar condition have been happened in commercial hatcheries. An effort to improve the eggs fertility is through artificial insemination (AI). This study aimed to know reproductive performance of wild black tiger shrimp after insemination with different sources and numbers of spermatophore. This study consisted of two trials.The first one was AI using spermatophores of wild male obtained from two different locations, namely from South Sulawesi (SS) and Aceh (SA). The second trial was AI using different numbers of spermatophore namely one spermatophore (S-1) and two spermatophores (S-2). AI was applied to the females at two days post-moulting. The results of the first trial showed that the hatching rate (HR) was not affected by the source of the male which was 61.6% for SS and 61.7% for SA. The second trial indicated that female inseminated S-2 had lower HR than S-1 (40.5% vs 44%)

    フィターゼ添加による海産魚類のミネラル利用性改善に関する栄養学的研究

    Full text link
    鹿児島大学博士(水産学)Doctor of Philosophy in Fisheries Science学位論文の要旨thesi

    Aquafeed development and utilization of alternative dietary ingredients in aquaculture feed formulations in Indonesia

    Full text link
    Fish production from aquaculture in Indonesia continues to grow rapidly from 1.7 million mt in 2009 to 4.0 million mt (excluding seaweed) in 2013. This is consistent with the increase of total aqua feed production from 995,000 mt in 2009 to 1.42 million mt in 2013 and about 90% of feed distributed to the farming area is produced by the feed industry. To meet the demand from the rapidly growing aquaculture industry, there is a need to develop new high-quality protein ingredients to reduce dependence on fish meal (FM). Despite high production of local FM in Indonesia, only around 5% of total production is used for aquafeed and the rest is exported mainly to Japan. Efforts toward reduction of using FM in commercial diets have been done in particular for freshwater species. Nowadays the content of FM in commercial diet for freshwater species is around 5-11%. Shrimp and marine species are still formulated to contain FM in range of 20-30% for shrimp and > 30% for marine species.Utilization of plant ingredients in particular soy bean meal (SBM) has partially replaced FM as dietary protein. However, SBM is also obtained entirely by import as all national production of soybean in the country are for tempe and tofu processing. Since almost 70% of components in commercial diet is imported ingredients, prices of commercial aquafeed increased through the years and are not competitive compared with price of fish in particular those categorized as low value species like carp, tilapia, catfish, Pangasius and milkfish. In several areas in Indonesia including Sumatera and Kalimantan Island, small-scale feed industry or on-farm feed making has been developed by individual or farmer group due to the limited access to commercial diets. Generally, the farmers use local feed ingredients which are available in their areas such as local fish meal, copra/palm cake meal, rice bran and tapioca. However, the quality of the diets produced varies among groups. Many nutritional studies have been conducted to find alternative protein sources. Local animal sources including shrimp head meal, blood meal, golden snail and vermi meal can be included in diet at rate of 8-30% for grouper species. The use of plant ingredients has been extensively evaluated particularly on herbivorous and omnivorous species to develop least-cost diet formulation. Plant ingredients containing > 20% protein such as copra cake meal, rubber seed, Leucaena leaf, and aquatic weed could be used in diet at different levels from 10-60% depending on the species. The presence of anti-nutritional compounds in plant ingredients is the main constraint in their use in aquafeed. Bio-processing using proper microorganism has been developed to improve their quality. More focus and in-depth research to minimize the negative effects of anti-nutritional compounds and to develop technique of their mass production are recommended

    PENGARUH KADAR TRIPTOPAN PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN KRABLET KEPITING BAKAU, Scylla serrata SELAMA MASA PENDEDERAN

    Full text link
    Kepiting bakau bersifat kanibal dan cenderung memiliki laju pertumbuhan yang lambat ketika diberi pakan buatan. Triptopan adalah salah satu asam amino esensial untuk pertumbuhan dan merupakan prekursor pembentukan serotonin yang dapat mengontrol sifat agresif pada beberapa vertebrata. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis optimum triptopan pakan terhadap pertumbuhan dan sintasan krablet selama masa pendederan. Empat dosis penambahan L-triptopan dalam pakan yaitu: 0% (A); 0,25% (B); 0,5% (C); dan 1,0% (D) dengan kadar triptopan dalam pakan berturut-turut 0,41%; 0,52%; 0,67%; dan 0,96%; serta kontrol berupa pakan rebon kering (E) yang mengandung triptopan sebanyak 0,79%. Hewan uji yang digunakan adalah krablet kepiting bakau berumur 3-5 hari sejak memasuki stadia krablet. Krablet dipelihara dalam bak fiber berukuran 1,0 m x 1,0 m x 0,5 m sebanyak 15 unit dengan kepadatan masing-masing 50 ekor/m2. Selama lima minggu pemeliharaan, krablet diberi pakan uji sebanyak 30%-15%/hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krablet yang diberi pakan mengandung triptopan 0,67% menunjukkan laju pertumbuhan tertinggi dan berbeda nyata (P<0,05) dengan krablet yang diberi pakan mengandung triptopan 0,41%. Rasio efisiensi protein tertinggi juga didapatkan pada krablet yang diberi pakan mengandung triptopan 0,67% dan berbeda nyata (P<0,05) dengan krablet yang diberi pakan rebon. Sintasan, konsumsi pakan harian, rasio konversi pakan, dan komposisi proksimat total tubuh krablet relatif sama di antara perlakuan, meskipun ada kecenderungan terbaik pada krablet yang diberi pakan mengandung 0,67% triptopan.The main constrain in mud crab culture is high cannibalism which are triggered by several factors such as limited space, lack of feed and large size variation. Mud crab also has relative slow growth when fed artificial diet. Tryptophan is an essential amino acid for growth and precursor of serotonin which can control natural aggressiveness in vertebrates. This study was conducted to obtain optimum level of tryptophan in diet for mud crab during nursery. Four test diets were formulated to contain different levels of supplemental L-tryptophan at: 0%, 0.25%, 0.5%, 1.0%, and as the control diet was dried mysid, so the tryptophan levels of the test diets were 0.41% (A), 0.52% (B), 0.67% (C), 0.96% (D), and 0.79% (mysid, E) respectively. Crablets (3-5 days post-methamorphosis) with average initial weight of 0.039 g were randomly distributed into 15 of 1.0 m x 1.0 m x 0.5 m fibre glass tank with density of 50 ind./tank. The crablets were fed daily the test diets at 30% to15% of biomass. After five weeks feeding trial, crablet fed the diet containing 0.67% of tryptophan had significantly (P<0.05) higher weight gain compared to crablet fed diet containing 0.41% of tryptophan. Highest protein efficiency ratio was also obtained in crablet fed the diet containing 0.67% of tryptophan and significantly different (P<0.05) with crablet fed dried mysid (control). Final carapace width, feed conversion ratio, and survival rate were not significantly different (P>0.05) among the treatments

    THE USE OF SEAWORM MEAL IN MATURATION DIET AS PARTIAL SUBSTITUTION OF FRESH DIET FOR POND REARED TIGER SHRIMP BROODSTOCK

    Full text link
    The purpose of this experiment was to evaluate the effects of using seaworm meal in artificial diet as partial substitution of freshfeed for maturation of tiger shrimp. This experiment started by growing-out tiger shrimp with initial weight around 60 g for four months until reaching maturation phase where shrimp weight were over 90 g for female. Tiger shrimp was selected and stocked into 10 ton concrete tank with stocking density of 50 shrimps with ratio of female : male of 1:1. Dietary treatments were different levels of seaworm meal at 0% (SW0), 10% (SW10) and 20% (SW20). SW0 was positive control without seaworm meal but breeder was fed with frozen seaworm. Test diets were fed as a combination of 60% test pellet and 40% fresh feed. Artificial insemination was carried out for all females before ablation to obtain fertile eggs. Results showed that after ablation, number of female matured was highest in group fed SW10 (13 breeders) and the lowest in female fed control group (7 breeders). Number of female spawned was also highest in female fed SW10 and the lowest was in positive control. Fecundity was very low in all treatments ranged from 12,000-79,700 eggs/spawn. Even though female bearing spermatophore through insemination, number of spawning hatched was very low, only three spawned in each of SW0 and SW10 and two spawned in SW20. Based on number of breeders matured and spawning rate, breeder fed with SW10 gave better performance than other two diets. Technique of artificial insemination needs to be improved to increase the number of fertile eggs
    corecore