1,727,727 research outputs found
Mabu liyan: the Yawuru way
Indigenous peoples around the world describe living well from a relational perspective. For the Yawuru, the traditional owners of Broome in Western Australia, that is mabu liyan. Mabu liyan or good liyan is centred on Yawuru's sense of belonging and being, emotional strength and pride. Expressions of liyan are articulated based on collective structures and is based on a model of living well in connection with country, culture, others and with oneself. The narratives from Yawuru women and men show there is no one single conceptualisation of mabu liyan. Instead achieving and maintaining mabu liyan is related to having strong family relations, maintaining and fulfilling one's responsibility to country and culture, feeling respected and valued by others and being able to be self-determining on matters concerning one's self, one's family, community and one's country. Furthermore, conceptions and experiences of mabu liyan is intertwined with the interface of surviving in the modern world with Yawuru women and men negotiating the trade-offs in maintaining the various dimensions of living well. Starting with mabu liyan to understand Yawuru wellbeing ensures that the measures of cultural, spiritual and emotional wellbeing are grounded in Yawuru's way of knowing, seeing and being in the world. Using mixed-methods approach, this chapter will explore how conceptions and measures of mabu liyan can lay the foundation for measuring wellbeing from a relational perspective. The stories will be interwoven with findings from the Yawuru wellbeing Survey to elucidate how mabu liyan conceptions overlap and differ from orthodox wellbeing frameworks and measures.The research received both financial and in-kind support from the following organisations to which the authors are very grateful: Centre for Aboriginal Economic Policy Research (Australian National University), Kimberley Institute Limited, Bankwest Curtin Economics Centre, Nulungu Institute (University of Notre Dame), Nyamba Buru Yawuru, Nagula Jarndu, Bottles of Australia and Yawuru Prescribed Body Corporate
Yawuru’s Mabu Liyan Development Approach
Yawuru are the native title holders for the Broome region. Yawuru and other Aboriginal people in the West Kimberley talk about the concept of liyan to describe a holistic sense of wellbeing incorporating emotional and spiritual feelings of connectedness that individuals have with their families, community, culture and country. Mabu (good) Liyan is at the heart of Yawuru’s cultural and social existence. It is a cultural principle that has been maintained since Bugarrigarra, the beginning of time
Konstruksi Konsep Liyan pada Portal Hidayatullah.com: Critical Discourse Analysis
Indonesia adalah suatu kawasan dengan keberagaman, konflik seringkali menghampiri seperti pada kasus krisis hubungan sosial yang turut menjadi perhatian semua kalangan. Proyeksi pada pihak lain ikut mempengaruhi hubungan sosial dewasa ini. Setidaknya proses proyeksi selanjutnya akan menciptakan klasifikasi liyan. Liyan merupakan kategori penanda yang diperuntukkan bagi orang atau kelompok di luar sebuah pandangan. Maraknya persekusi terhadap oknum yang terjadi belakangan ini disebabkan proyeksi liyan yang telah terstruktur dalam realitas kognitif subjek. Hal demikian terjadi karena arena proses itu akan menciptakan kategori in group love dan in group hate. Singkatnya, dari proses itu melahirkan demarkasi antara kami dan mereka. Di sisi lain, Hidayatullah.com merupakan portal Islam online yang concern dalam bidang tarbiyah dan dakwah, terlibat dalam mengkonstruksi konsep liyan. Sebagai portal Islam yang banyak dikunjungi oleh pengunjung, Hidayatullah.com dengan diskursus yang dibangun akan mempengaruhi audiens.
Media Islam dalam bentuk media daring di tahun 2020 telah menjadi metode dakwah alternatif yang digunakan untuk persemaian ideologi dari gerakan keagamaan. Portal Hidayatullah.com adalah salah satunya dan pada kajian kali ini menjadi objek material dalam penelitian, karena portal Islam ini memiliki keterikatan dengan ormas Islam Hidayatullah. Kajian kali ini merupakan penelitian yang bersifat library research yang merupakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan teori Analisis Wacana Kritis dari Norman Fairclough. Fokus kajian ini adalah konsep liyan yang dibangun Hidayatullah.com dan praktik-praktik diskursif yang mengitari di antara konsep liyan.
Dari pembacaan teks yang dipublikasi, ditemukan hasil bahwa Hidayatullah.com menciptakan klasifikasi dalam bingkai in-outgroup. Sedangkan konsep liyan dideskripsikan dalam bingkai outgroup hate, yang membuat entitas tersebut tidak dapat diakomodasi keberadaannya dan menciptakan sikap dan pandangan yang eksklusif. Dalam gagasannya, liyan diidentifikasi dalam metafora negatif, seperti anti-agama, virus sekuler, pemikiran sesat, dan sebagainya. Hal itu memunculkan symbolic sentiment bagi kelompok pembaca untuk tidak ada alasan lain, selain untuk menolak, membenci dan melawan eksistensi liyan. Di sisi lain, diskursus yang dibangun oleh Hidayatullah.com bukan fenomena yang given atau alami. Sociocultural practice dan intertekstualitas adalah entitas yang berkelindan atas konsep liyan yang dikonstruksi oleh Hidayatullah.com. Di antara konsep liyan yang dikonstruksi, ditemukan praktik-praktik diskursif. Word view Islam adalah praktik diskursif dominan yang hampir ditemukan di setiap teks dalam mengkonstruksi liyan. Namun demikian, teori konspirasi Yahudi, fatwa dan tausiyah MUI, dan ghawzul fikri adalah di antara praktik diskursif lain yang membentuk konsep liyan yang dibangun Hidayatullah.com
Relasionalitas Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, teks, liyan, fenomen
Kodrat manusia bukan hanya rasional melainkan juga relasional. Komponen utama relasionalitas: Aku, Teks, Liyan (Other), Fenomen. Framework elaborasi filosofis relasionalitas memiliki kepentingan fondasional untuk interpretasi kajian sosial: riset kualitatif-fenomenologis studi-studi identitas, gerakan sosial, konflik-damai, pendidikan inter subjektif, dialog sosio politis kultural religius, kearifan lokal, atau yang sejenis. Buku ini berisi sepuluh bab. Bab 1 Introduksi, berisi bahasan tentang relasionalitas aku dan teks. Bab 2 Aku dan Teks, berisi antara lain: pembaca dan teks, imajinasi pembaca, massa, teks, dan transformasi. Bab 3 Aku dan Fenomen, berisi antara lain: hermeneutika & riset fenomenologis, narasi, dan relasi. Bab 4 Filsafat “Aku”, berisi antara lain: eksistensi, religiusitas, dan manusia. Bab 5 Framework “Aku”, berisi antara lain subjektif dan inter subjektif. Bab 6 Filsafat “Liyan”, liyan adah the other. Bahasan ini mengulas antara lain:asal usul liyan, dan know yourself. Bab 7 Perempuan dan Liyan, berisi antara lain: narasi Shamelin, dan menggembok kesadaran. Bab 8 Liyan sebagai “orang ketiga”, membahasa antara lain: liyan sebagai parameter nilai, dan zona isolative dalam ideology, agama, budaya. Bab 9 Empati dalam Riset Fenomenologis, membahas tentang empati dalam kaitannya dengan objektivitas. Bab 10 Cinta Relasional Aku dan Liyan, membahas antara lain tentang transendensi cinta dan societas adalah kita. Investigasi filosofis buku ini berasal dari pembacaan literature klasik filsafat hermeneutika terutama Heidegger, Schutz, Levinas, Recoeur, dst.Kata kunci: filsafat, interpretasi, teks, eksistens
TOKOH DEDES SEBAGAI LIYAN DALAM NOVEL AROK DEDES KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER: FEMINISME EKSISTENSIALISEM
Penelitian ini dengan judul “Tokoh Dedes sebagai Liyan dalam Novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer” penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, memahami, dan mendeskripsikan: (1) Posisi Dedes sebagai liyan, (2) budaya masyarakat patriarki yang membentuk Dedes sebagai liyan dalam dalam novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer, dan (3) penolakan Dedes terhadap Posisi liyan dalam novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini fokus untuk menganalisis tokoh Dedes menggunakan feminisme Eksistensialisme Simone De Beauvoir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, posisi Dedes sebagai liyan dalam novel Arok Dedes ditunjukkan melali aspek emosional , sosial, relasi kuasa, dan norma. Kedua, budaya masyarakat patriarki yang membentuk Dedes sebagai liyan ditunjukkan melalui budaya subordinasi, eksploitasi, objektifikasi, dan stereotip. Ketiga, penolakan Dedes terhadap posisi liyan dalam novel Arok Dedes menggunakan sarana intelektualitas, otonom diri, emosional, dan relasi.Kata kunci : perempuan, liyan, budaya masyarakat, penolakan, kekuasaan patriark
ANALISIS STRATEGI PRODUKSI PROGRAM DOKUMENTER \"SWARA LIYAN\" DI TVRI
ANALISIS STRATEGI PRODUKSI PROGRAM DOKUMENTER \"SWARA LIYAN\" DI TVRI
PANAKAWAN MENGGUGAT PE-LIYAN-AN: ANALISIS WACANA POSKOLONIAL PADA NOVEL PURAGABAYA
Tulisan ini bertujuan menemukan posisi yang di-liyan-kan dalam novel Puragabaya menggugat pe-liyan-an terhadap mereka. Metode yang digunakan untuk membaca data dalam novel adalah analisis wacana, khususnya yang digunakan oleh Sara Mills. Data tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan teori poskolonial, terutama gagasan Homi K. Bhabha mengenai mimikri dan hibriditas. Hasil analisis menunjukkan bahwa panakawan di-liyan-kan melalui penamaan, tubuh, sifat dan kebiasaan, tempat, dan peran mereka. Gambaran pe-liyan-an mereka ditunjukkan sebagai sesuatu yang alamiah. Pada akhirnya bagaimana panakawan menggugat pe-liyan-an ditunjukkan dengan praktik yang berbeda, Ogel dengan mimikrinya, sementara Jasik menolak peniruan
MASKULINITAS LAKI-LAKI KOREA AMERIKA SEBAGAI LIYAN DALAM NATIVE SPEAKER KARYA CHANG-RAE LEE
This article aims to reveal how the Korean-American male protagonist, describe as ‘Liyan’, is consumed by his white wife in Native Speaker by Chang-rae Lee’s (1996). This article argues that sexual acts committed against Henry Park by his white wife is manifested as a form of consumption towards ‘Liyan’. The theories use in this research are post-colonialism theory that is argued by Edward Said (2006) and consumption theory that is proposed by Bell Hooks (1992). This article uses descriptive analytical method. The data from the novel are described to obtain an overview of the construction of Korean-American masculinity. Later on the analysis it is found that in Native Speaker the stereotype construction towards Korean American man is not only puts Korean American man as inferior towards white masculinity, but also in the marriage relationship between Korean American man and white womenPenelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana tokoh laki-laki yang digambarkan Liyan dikonsumsi oleh istrinya yang merupakan perempuan kulit putih dalam novel Native Speaker karya Chang-rae Lee (1996). Tokoh Henry Park merepresentasi stereotipe yang dilekatkan pada laki-laki Korea Amerika. Artikel ini berargumentasi bahwa tindak seksual yang dilakukan terhadap Henry Park oleh tokoh kulit putih merupakan bentuk konsumsi terhadap Liyan. Dalam kajian poskolonial, Barat dikonstruksi sebagai Diri dan Timur sebagai Liyan. Laki-laki Asia Amerika dikonstruksi sebagai Liyan, feminine/effeminate, pasif, inferior secara seksual. Artikel ini menunjukkan bahwa novel ini telah menunjukkan wacana ideologi putih melalui pernikahan antar ras dan menegaskan Liyan sebagai Liyan. Kata-Kata Kunci: Chang-rae Lee, Korea Amerika, maskulinitas, konsumsi, Liya
- …
