1,720,974 research outputs found
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
MODAL SOSIAL BAGI ORANG TUA SISWA TIDAK MAMPU (Studi Pada Orang Tua Siswa Tidak Mampu di SMK Negeri 1 Surabaya)
Penelitian ini membahas tentang modal sosial dalam lingkup kekerabatan yang dibangun oleh orang tua siswa tidak mampu di SMK Negeri 1 Surabaya dalam upaya untuk memperoleh pinjaman uang yang digunakan untuk membayar biaya pendidikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana peran modal sosial dalam upaya untuk membayar biaya pendidikan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori modal sosial Robert D Putnam. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk modal sosial terdiri dari tiga, yaitu jaringan sosial berupa jalinan relasi dengan keluarga, tetangga dan teman. Kepercayaan berupa saling memberikan dukungan moril saat ada masalah, kesediaan kerabat memberikan pinjaman uang, kesediaan kerabat berbagi informasi terkait tempat meminjam uang, menitipkan anak pada tetangga dan norma berupa hutang harus dibayar tepat waktu, ada denda jika telat membayar hutang, harus bernegosiasi dengan kerabat apabila belum bisa membayar hutang dan saling menjaga tutur kata dan sikap
Perubahan Sosial Masyarakat Pasca Revitalisasi Wisata Waduk Tanjungan
Revitalisasi dilakukan sebagai upaya menghidupkan kembali Waduk Tanjungan menjadi daerah destinasi wisata. Konsep baru yang ditawarkan yaitu ekowisata yang berarti wisata dengan basis konservasi lingkungan. Proses revitalisasi wisata dilakukan dengan dukungan pemerintah melalui dana yang dianggarkan. John Maynard Keynes juga menjelaskan bahwa peran pemerintah dapat menciptakan perubahan dalam sosial ekonomi masyarakat. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui perubahan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat setelah keberadaan wisata. Metode penelitian ini yaitu penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnometodologi. Lokasi penelitian di Desa Tanjungan, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. Subjek penelitian adalah masyarakat Desa Tanjungan yang rutinitas bekerja dan bertugas diarea wisata. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa revitalisasi dilakukan melalui pembekalan yang diberikan perguruan tinggi serta dukungan pemerintah dengan menggunakan dana Desa. Proses revitalisasi ikut serta melibatkan masyarakat dalam pembangunan baik dalam perencanaan hingga realisasi program. Perubahan struktur sosial yang terjadi semenjak keberadaan wisata yaitu munculnya peranan baru, perubahan pola interaksi dan kegiatan masyarakat. Perubahan dalam struktur ekonomi yaitu menculnya peluang kerja, peningkatan pendapatan, perubahan mata pencaharian dan adanya pajak. Hal ini juga memberikan perubahan struktur budaya yang berkaitan pada aspek nilai yaitu tradisi,bahasa,agama dan penggunaan teknologi
HABITUS MASYARAKAT PETANI DI KAWASAN WISATA KEDUNG MARON
Wisata kedung maron terletak di desa Depok kecamatan Bendungan kabupaten Trenggalek. Mayoritas masyarakat desa Depok bermata pencaharian sebagai seorang petani. Kebiasaan yang dilakukan masyarakat petani sehari-hari mengelola sawah atau ladang miliknya. Munculnya wisata kedung maron ini menimbulkan adanya bentuk perlawanan dari masyarakat sekitar. Bentuk perlawanan itu berupa wacana yang diutarakan oleh masyarakat setempat khususnya para petani. Wacana itu muncul setelah wisata kedung maron resmi didirikan. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui habitus masyarakat petani di kawasan wisata kedung maron Trenggalek. Penelitian ini menggunakan perspektif teori dari Pierre Bordieu mengenai habitus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini kualitatif dengan pendekatan struktural genetis. Lokasi penelitian bertempat di dusun Soko. Subyek penelitian ialah lembaga/tokoh masyarakat yang memiliki keterkaitan dengan pembangunan wisata dan masyarakat petani. Hasil penelitian ini menunjukkan empat poin penting. Pertama kegiatan bertani tidak hanya dilakukan oleh masyarakat desanya, tetapi juga oleh perangkat desa yang dilakukan sebagai kegiatan sampingan. Hal itu menimbulkan adanya berbedaan yaitu terdapat petani subsiten dan petani non-subsiten. Kedua pada mula pembangunan wisata putri maron melibatkan beberapa tokoh masyarakat termasuk para petani. Awalnya masyarakat mengikuti segala jenis kegiatan yang ada di tempat wisata. Pemerintah mewacanakan bahwa pembangunan wisata meningkatkan perekonomian masyarakat dan belum dapat memberdayakan masyarakat secara luas. Ketiga wacana dari pemerintah tidak terlaksana, sehingga menimbulkan adanya bentuk perlawanan yang dilakukan masyarakat salah satunya adalah dengan tidak mengikuti kegiatan gotong-royong. Keempat habitus masyarakat petani dipengaruhi oleh dua hal yaitu muncul dari dalam diri dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan (eksistensi). Kata Kunci: Pariwisata, Habitus, Masyarakat Petan
- …
