1,466 research outputs found
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KEWIRAUSAHAAN PADA PAGUYUBAN REMAJA KUSUMA KELURAHAN KELAPA INDAH KOTA TANGERANG
Pemberdayaan masyarakat yang berpotensi untuk dikembangkan salah satunya adalah melalui paguyuban remaja. Paguyuban Remaja Kusuma, merupakan suatu perkumpulan remaja dilingkungan RT.02 RW.04, Kelurahan Kelapa Indah, Kota Tangerang. Adapun potensi yang dapat dikembangkan adalah program yang bersifat produktif dalam hal ini yaitu kewirausahaan. Tim melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat, berupaya mengoptimalkan program dan potensi Paguyuban Remaja Kusuma khususnya dalam bidang kewirausahaan. Melaui program Pengabdian Kepada Masyarakat, tim sebagai fasilitator berupaya mewujudkan suatu program pemberdayaan masyarakat berbasis kewirausahaan yang meliputi pelatihan dan pendampingan. Adapun tujuan dari program ini adalah pertama, membentuk mitra yang terampil dan ahli dalam berwirausaha, kedua, membentuk mitra yang kreatif dan inovatif, dan ketiga, membentuk mitra yang mandiri. Adapun metode pelaksanaan program dilaksanakan yaitu pertama penyuluhan, metode ini meliputi self building mitra. Kedua, pendampingan, metode ini merupakan implementasi dari program penyuluhan. Berdasarkan hasil pelaksanaan pada tahap penyuluhan, diketahui bahwa ada peningkatan kesadaran, motivasi, dan minat mitra terhadap kewirausahaan, selain itu belum optimalnya pelaksanaan program pada tahap pendampingan
Kepemimpinan Transformasional Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Kinerja Profesional Guru di MAN 2 Ponorogo
ABSTRAK
Wardani, Ria Ayu Kusuma. 2023. Kepemimpinan Transformasional Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Kinerja Profesional Guru di MAN 2 Ponorogo. Skripsi. Jurusan Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing, Dr. Ahmad Sulton M.Pd.I.
Kata Kunci: Kepemimpinan Transformasional, Kepala Madrasah, Kinerja Profesional Guru
Kepemimpinan adalah salah satu sifat yang harus dan wajib dimiliki oleh seorang pemimpin. Salah satu bentuk kepemimpinan yang ada adalah kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan Transformasional adalah suatu gaya kepemimpinan dimana seorang pemimpin dapat mempengaruhi dan membawa anggotanya kearah perubahan organisasi menjadi lebih baik. Jenis kepemimpinan ini dirasa cocok digunakan dalam sebuah lembaga madrasah, mengingat bahwa lembaga madrasah saat ini memiliki tingkat persaingan sangat ketat. Oleh karena itu, sebuah lembaga harus memiliki pelayanan pendidikan yang berkualitas, bermutu, dan sesuai dengan perkembangan zaman. Kunci dari semua itu adalah dari sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan memiliki kinerja baik. Kepala Madrasah harus dapat memimpin dan membawa anggotanya (guru dan karyawan) agar dapat terus mengaktualisasikan diri dan meningkatkan kinerja profesional serta kompetensi dalam mengajar maupun mengelola lembaga.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui 1) idealized influence (pengaruh ideal), 2) inspirastional motivation (motivasi inspriratif), 3) intellectual stimulation (rangsangan intelektual) kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja professional guru di MAN 2 Ponorogo.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan memperoleh data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Adapun subjek dalam penelitian ini meliputi Kepala Madrasah, Waka (Wakil Kepala) Humas, dan tenaga pendidik (guru) MAN 2 Ponorogo. Teknis analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan tiga tahapan yakni, 1) kondensasi data (data condensation), 2) penyajian data (data display), 3) penarikan kesimpulan (conclusions drawing). Pengecekan keabsahan data pada penelitian ini menggunakan peningkatan ketekunan, triangulasi sumber dan triangulasi teknik.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) idealized influence (pengaruh ideal) kepala madrasah yaitu dapat menciptakan lingkungan madrasah yang positif, memiliki visi, misi, dan tujuan madrasah yang jelas, memiliki hubungan baik antar guru dan karyawan. 2) inspirastional motivation (motivasi inspriratif) kepala madrasah yaitu memiliki komunikasi yang lancar antar guru dan karyawan, menerapkan reward dan punishman, serta memiliki kebiasaan outbound atau tadabbur alam untuk menjaga kerja sama antar guru atau karyawan. 3) intellectual stimulation (rangsangan intelektual) kepala madrasah yaitu kegiatan workshop atau diklat serta rapat atau sharing musyawarah mengenai persoalan madrasah
RIA for salmon IGFBP
Salmon plasma contains at least three insulin-like growth factor binding proteins (IGFBPs) with molecular masses of 41, 28 and 22 kDa. The 41-kDa IGFBP is similar to mammalian IGFBP-3 in size, type of glycosylation and physiological responses. In this study, we developed a radioimmunoassay (RIA) for the 41-kDa IGFBP. The 41-kDa IGFBP purified from serum was used for antibody production and assay standard. Binding of three different preparations of tracer were examined; 125I-41-kDa IGFBP, 125I-41-kDa IGFBP cross-linked with IGF-I (125I-41-kDa IGFBP/IGF-I) and 41-kDa IGFBP/125I-IGF-I. Only binding of 41-kDa IGFBP/125I-IGF-I was not affected by added IGFs, and therefore it was chosen for the tracer in the RIA. Plasma 41-kDa IGFBP levels measured by RIA were increased by growth hormone treatment (178.9 ± 4.9 ng/ml) and decreased after fasting (95.0 ± 7.0 ng/ml). The molarities of plasma 41-kDa IGFBP and total IGF-I were comparable, and they were positively correlated, suggesting that salmon 41-kDa IGFBP is a main carrier of circulating IGF-I in salmon, as is mammalian IGFBP-3 in mammals. During the parr-smolt transformation (smoltification) of coho salmon, plasma 41-kDa IGFBP levels showed a transient peak (182.5 ± 10.3 ng/ml) in March and stayed relatively constant thereafter, whereas IGF-I showed peak levels in March and April. Differences in the molar ratio between 41-kDa IGFBP and IGF-I possibly influence availability of IGF-I in the circulation during smoltification
Pengaruh Imbalan Karyawan dan Hukuman Karyawan terhadap Kinerja Karyawan dengan Motivasi Kerja sebagai Variabel Mediator (Studi pada Karyawan Kusuma Agrowisata Kota Batu)
Imbalan karyawan dan hukuman karyawan sangat erat hubungannya
dengan pemberian motivasi, sehingga akan berdampak pada Kinerja karyawan.
Kinerja karyawan mempengaruhi tercapainya keberhasilan perusahaan yang akan
datang. Peningkatan kinerja karyawan yang baik sangat dibutuhkan guna
mencapai tujuan perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
Imbalan Karyawan terhadap motivasi kerja, imbalan karyawan terhadap kinerja
karyawan, hukuman karyawan terhadap motivasi kerja, hukuman karyawan
terhadap kinerja karyawan, dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan.
Jenis penelitian yang digunakan adalah explanatory research dengan
pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan Kusuma
Agrowisata Kota Batu sebesar 177 orang. Sampel dalam penelitian ini berjumlah
64 orang yang berdasarkan pada perhitungan rumus Slovin. Teknik sampling yang
digunakan dalam penelitian ini adalah propotional random sampling dengan
mengambil sampel dari setiap baggian yang ada di Kusuma Agrowisata Kota
Batu. Metode pengumpulan data yang digunkan adalah dengan menyebarkan
kuesioner dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan yaitu analisis statistik
deskriptif dan analisis statistik inferensial dengan menggunakan analisis jalur path
(path analysis) dengan uji t sebagai penguji hipotesis.
Kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan menunjukkan Imbalan
karyawan berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi kerja dengan nilai
signifikansi sebesar 0,000, hukuman karyawan terhadap motivasi kerja
berpengaruh secara signifikan dengan sebesar 0,003, motivasi kerja berpengaruh
secara signifikan terhadap kinerja karyawan dengan nilai signifikansi sebesar
0,022, imbalan karyawan berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja
karyawan dengan nilai signifikansi sebesar 0,007, dan hukuman karyawan
berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan dengan nilai signifikansi
sebesar 0,019
EFFECTIVENESS OF PEER-BASED HEALTH EDUCATION WITH AUDIO-VISUAL MEDIA IN ENHANCING EMERGENCY TRIAGE COMPETENCE
Background: Emergency conditions necessitate prompt and appropriate management to mitigate the risks of disability and mortality. A fundamental component of emergency care is triage, which serves to prioritise patient treatment based on the severity of their condition and guide the necessary clinical interventions. This study aimed to assess the effectiveness of peer-led health education supported by audio-visual media in improving students\u27 comprehension of emergency triage procedures.Methods: A quasi-experimental study with a non-equivalent control group pretest-posttest design was implemented. The research population comprised second-semester nursing students from STIKES Hutama Abdi Husada Tulungagung. A purposive sampling method was used to select 41 participants. The educational intervention was delivered through peer-led sessions and supplemented with audio-visual media. Data were gathered using a validated structured questionnaire and analysed employing the Wilcoxon signed-rank test and the Mann-Whitney U test.Results: Analysis using the Wilcoxon signed-rank test yielded a statistically significant result (p = 0.000) in both intervention groups, demonstrating that the health education provided had a meaningful impact on students\u27 understanding of emergency triage. Furthermore, the Mann-Whitney U test indicated a mean rank of 35.43 for participants in the peer education group and 47.57 for those in the audio-visual group, with a significance level of p = 0.019. Conclusion: The findings confirm that both peer-led and audio-visual-based health education methods are effective in increasing nursing students\u27 knowledge of emergency triage. Nevertheless, the audio-visual approach demonstrated superior outcomes and is, therefore, recommended as the preferred strategy for enhancing triage competency in educational settings
“Russia and Turkey in the Geopolitics of Eurasia & the Theory of Median Space: Thesis-Synthesis-Antithesis”
The aim of this thesis is to address the issue of the broader geopolitical architecture of Eurasia using as a case study the Russian-Turkish diachronic relations which are being examined through an original and fresh geopolitical/geocultural theoretical framework introduced also in the pages of this research.
The introduction presents a brief overview of the aims, issues and questions that this study expects to achieve, approach and bring up for discussion.
This research is divided into three parts and each part contains two chapters.
Part I deals with the general theoretical framework within which this study is going to be delivered. Chapter 1 critically assesses the existing theoretical geopolitical debate and aims to designate the reasons for the urgent need for the articulation of a new theoretical perspective. Chapter 2 introduces an original approach in the geopolitical theory under the label of the ‘Integrated Geopolitical/Geocultural Theory of the Median Space’. The suggested model makes two major propositions. First that there is a diachronic ‘Median Space’ identity in a specific geographical space which was never disappeared in the midst of the eternal ‘East’-‘West’ competition and is surviving even today. Second, within the Median Space region there is a specific ‘pattern’ on the implementation of International Relations which also remained unchanged throughout the centuries since all the regional and extra-regional actors are operating, consciously or unconsciously, according to its precepts.
Having presented this newly introduced framework Part II and Part III of the research are trying through textual and empirical analysis, respectively to provide the necessary evidence that strengthen the abovementioned new geopolitical model.
Part II through a historical-sociological-anthropological perspective tries to prove the first proposition about the viability of a Median Space mentality. Thus, as a case-study, it examines the diachronic geocultural and geopolitical identity of Russia and Turkey in chapters 3 and 4, respectively.
Part III by engaging International Relations macroscopic and microscopic analysis through chapters 5 and 6, respectively aims to address the second proposition about the specific pattern that is being followed by all actors interacting in the Median Space. Chapter 5, in a macroscopic way examines the suggested pattern through a historical scrutiny of the relations between the spaces that nowadays is being characterized as Turkey and Russia. Chapter 6, in a microscopic way, depicts the contemporary developments of the region and tries to extract the evidence that could support the second Median Space proposition. Initially this chapter examines the ‘energy’ component through an analysis of the contemporary ‘energy game’ and then it approaches the ‘security’ component by moving from a micro-level to a macro-level International Relations analysis starting from the Caucasus area and expanding through the Black Sea-Straits-Aegean system to the whole Median Space region.
Conclusion recapitulates the findings of this research
Pengaruh Content Marketing terhadap Customer Engagement dengan Global Marketing Trends in a New Normal (Covid-19) sebagai Variabel Moderasi: Penelitian pada Akun Instagram @Bumikayom
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konten pemasaran terhadap keterlibatan konsumen yang dimoderasi dengan variabel tren pemasaran global di tengah kondisi new normal (COVID-19) khususnya pada media sosial Instagram. Pada penelitian ini terdapat dua hipotesis yang akan diuji. Dalam pengujiannya, penelitian ini menggunakan analisis moderasi subgroup dengan alat uji Aplikasi AMOS versi 24. Untuk melakukan pengujian pada penelitian ini diperoleh responden sebanyak 170 orang pengikut aktif Instagram @bumikayom. Hasil dari hipotesis pertama penelitian ini adalah Content Marketing berpengaruh terhadap Customer Engagement. Sedangkan untuk hipotesis kedua didapatkan hasil bahwa Global Marketing Trends in A New Normal (COVID-19) memoderasi hubungan antara Content Marketing dengan Customer Engagement. Meskipun pengaruh yang dihasilkan dari adanya moderasi tersebut hanyalah pengaruh yang kecil, secara tidak langsung hal ini juga membuktikan bahwa tidak selalu membuat konten pemasaran (Content Marketing) dengan mengikuti trend atau situasi yang ada dapat mempengaruhi tingginya keterlibatan konsumen (Customer Engagement) khususnya di media sosial Instagram.This study aims to determine the effect of content marketing on customer engagement which is moderated by global marketing trend variables in the midst of new normal conditions (COVID-19), especially on Instagram social media. In this study there are two hypotheses to be tested. In testing, this study used a subgroup moderation analysis with the AMOS Application test version 24. To test this study, 170 respondents were active followers of @bumikayom. The results of the first hypothesis of this study are that Content Marketing influences Customer Engagement. Whereas for the second hypothesis, the
result shows that Global Marketing Trends in A New Normal (COVID-19) moderates the relationship between Content Marketing and Customer Engagement. Although the effect resulting from the moderation is only a small effect, this also implies that not always creating content marketing by following trends or situations can affect customer engagement especially on social media Instagram
GAMBARAN STATUS GIZI KURANG DAN KEJADIAN PENYAKIT ISPA PADA BALITA DI DESA BATUR, KECAMATAN GETASAN, KABUPATEN SEMARANG
Kelompok usia yang sangat rentan terhadap masalah status gizi adalah kelompok anak usia 1–5 tahun. Status gizi pada balita berkaitan langsung dengan pola konsumsi dan penyakit infeksi. Penyakit infeksi terkait lingkungan dapat meliputi diare, Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA),dan pneumonia. Rendahnya status gizibalita dapat meningkatkan kejadian sakit pada balita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan gizi terhadap kejadian penyakit pada balita usia 12-60 bulan Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif dengan rancangan cross sectional study. Populasi penelitian yaitu seluruh balita di Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang yang mengikuti penimbangan Posyandu Balita yang tersebar di 19 dusun. Teknik pengambilan sampel secara random sampling dengan responden penelitian adalah ibu yang memiliki balita berusia 12 – 60 bulan dengan status gizi kurang. Data didapat dari sumber sampel sebanyak 35 balita dengan status gizi kurang. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi diantaranya umur ibu, pendidikan, pekerjaan, kebiasaan makan balita, dan lingkungan fisik rumah. Permasalahan Gizi kurang erat kaitannya dengan kejadian penyakit pada balita, namun kondisi badan panas (demam), batuk, dan pilek kerap dialami oleh balita yang menandai gejala ISPA. Kasus status gizi kurang pada balita di Desa Batur dikategorikan masih tinggi dilihat dari hasil penimbangan bulan september 2017 sebesar 10,29%.
The age groups that are particularly vulnerable to nutritional status are groups of children aged 1 - 5 years. The nutritional status of children under five is directly related to consumption pattern and infectious diseases. Illnesses related to environmental condition may include diarrhea, upper respiratory tract infections (ISPA), and pneumonia. The low nutritional status of children under five can increase the incidence of illness in toddlers. The purpose of this study was to determine the relationship of nutrition to disease incidence in children aged 12 - 60 months. The method used is descriptive approach with cross sectional study design. The research population is all children under five in Batur Village, Getasan Subdistrict, Semarang Regency which follow Balita Posyandu weighing spread in 19 hamlets.Sampling was done by random sampling with the respondents of the researchwere mothers who have children aged 12 - 60 months with less nutritional status. Data obtained from the sample source as many as 35 children under-five with less nutritional status. Factors that affect nutritional status include maternal age, education, occupation, toddler eating habits, and the physical environment of the house. Problems Nutrition is less closely related to the incidence of disease in toddlers, but the condition of fever, coughs, and colds are often experienced by toddlers that indicate symptoms of upper respiratory tract infections. Cases of underweight status of children under five in Batur village are still considered high in terms of weighing in September 2017 of 10.29%
Salmon IGFBP-1 RIA
Fish plasma/serum contains multiple insulin-like growth factor binding proteins (IGFBPs), although their identity and physiological regulation are poorly understood. In salmon plasma, at least three IGFBPs with molecular masses of 22, 28 and 41 kDa are detected by Western ligand blotting. The 22-kDa IGFBP has recently been identified as a homolog of mammalian IGFBP-1. In the present study, a radioimmunoassay (RIA) for salmon IGFBP-1 was established and regulation of IGFBP-1 by food intake and temperature, and changes in IGFBP-1 during smoltification were examined. Purified IGFBP-1 from serum was used for standard, tracer preparation and antiserum production. Crosslinking 125I-IGFBP-1 with salmon IGF-I eliminated interference by IGFs. The RIA had little cross-reactivity with salmon 28- and 41-kDa IGFBPs (< 0.5%) and measured IGFBP-1 as low as 0.1 ng/ml. Fasted fish had significantly higher IGFBP-1 levels than fed fish (21.6 ± 4.6 ng/ml vs 3.0 ± 2.2 ng/ml). Plasma IGFBP-1 was measured in individually tagged one-year old coho salmon reared for 10 weeks under four different feeding regimes as follows: high constant (2% body weight/day), medium constant (1% body weight/day), high variable (2% body weight/day - 0.5% body weight/day) and medium variable (1% body weight/day - 0.5% body weight/day). Fish fed with high ration had lower IGFBP-1 than those with medium ration. Circulating IGFBP-1 increased following a drop in feeding ration to 0.5% and returned to the basal levels when feeding ration was increased. Another group of coho salmon were reared for nine weeks under different water temperatures (11℃ or 7℃) and feeding rations (1.75, 1 or 0.5% body weight/day). Circulating IGFBP-1 levels were separated by temperature during the first four weeks; a combined effect of temperature and feeding ration was seen in week seven; only feeding ration influenced IGFBP-1 level thereafter. These results indicate that IGFBP-1 is responsive to moderate nutritional and temperature changes. There was a clear trend that circulating IGFBP-1 levels were negatively correlated with body weight, condition factor (body weight/body length3 x 100), growth rates and circulating 41-kDa IGFBP levels but not IGF-I levels. During parr-smolt transformation of coho salmon, IGFBP-1 levels showed a transient peak in late April, which was opposite to changes in condition factor. Together, these findings suggest that salmon IGFBP-1 is inhibitory to IGF-action. In addition, IGFBP-1 responds to moderate changes in dietary ration and temperature, and shows a significant negative relationship to condition factor
CUNGKRING : TOKOH PUNAKAWAN WAYANG KULIT PURWA INDRAMAYU : Deskripsi Terhadap Gerak, Rias Dan Busana Tokoh Cungkring Pada Wayang Kulit Purwa Lingkung Seni “Langen Kusuma”
Wayang kulit purwa Indramayu merupakan salah satu kesenian wayang kulit purwa. Wayang kulit purwa Indramayu memiliki ciri khas, seperti gerakan, wanda, busana, rias, ukuran tubuh dan sebagainya.
Penelitian yang berjudul “Cungkring: Tokoh Punakawan Wayang Kulit Purwa Indramayu (Deskripsi Terhadap Gerak, Rias dan Busana Tokoh Punakawan Cungkring Pada Wayang Kulit Purwa Lingkung Seni “Langen Kusuma”) ini, mengungkapkan beberapa perumusan masalah diantaranya 1). Ingin mengetahui gerak pada tokoh punakawan Cungkring pada wayang kulit purwa Indramayu. 2). Ingin mengetahui rias tokoh punakawan Cungkring pada wayang kulit purwa Indramayu. 3). Ingin mengetahui busana tokoh punakawan Cungkring pada wayang kulit purwa Indramayu
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif, yaitu suatu penelitian yang melukiskan secara sistematis, aktual mengenai sifat-sifat suatu indifidu, gejala, keadaan dan lain lain yang merupakan objek penelitian tersebut. Selain itu juga menggunakan metode deskripsi analisis, artinya data terkumpul, dianalisis dengan menggunakan teori-teori yang relevan. Tokoh punakawan Cungkring merupakan tokoh wayang pada wayang kulit purwa Indramayu dibuat berdasarkan pakem yang memiliki ciri khas seperti, gerakannya, rias dan busanannya memiliki makna tersendiri. Bentuk rias dan busana yang sederhana ini merupakan sifat punakawan yang telah meninggalkan kehidupan keduniawian untuk mencapai kesempurnan hidup dengan cara makrifat dan menjalankan sareat Allah SWT supaya hidup sempurna di dunia dan di akherat.
Gerakan Cungkring yang mengacungkan tangan depan ke atas dan tangan belakang diacungkan ke bawah memiliki makna tentang kehidupan jika kita perhatikan seperti tingkah laku, gaya hidup, bergaul
- …
