1,724,661 research outputs found
Pendidikan Kristiani Intergenerasi sebagai Upaya Memulihkan Kehidupan Bergereja
Pelayanan dalam gereja yang cenderung memisahkan jemaat berdasarkan usia dan generasi dapat memperlebar gap generasi bahkan berdampak pada perpecahan jemaat. Gap generasi merusak relasi persekutuan dalam gereja. Tulisan ini bertujuan menawarkan konsep pendidikan kristiani intergenerasi sebagai upaya pemulihan kehidupan bergereja. Hasil yang dicapai melalui penelitian studi kepustakaan yang relevan adalah konsep pendidikan kristiani intergenerasi di gereja. Pendidikan intergenerasi dalam gereja dimaknai sebagai upaya pemulihan kehidupan bergereja. Pendidikan kristiani intergenerasi dapat memperkuat persekutuan dan meminimalisir peselisihan akibat kesenjangan generasi
STRATEGI PEMBELAJARAN PAK BERBASIS NILAI KRISTIANI DALAM MENUMBUHKAN KARAKTER SISWA DI ERA DIGITAL
Perkembangan teknologi digital membawa tantangan yang signifikan bagi proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK), terutama dalam pembentukan karakter siswa yang beriman, berintegritas, dan mampu bersikap kritis terhadap arus informasi. Penelitian ini bertujuan mengkaji strategi pembelajaran PAK yang berlandaskan nilai-nilai Kristiani dan dinilai relevan dalam memperkuat karakter peserta didik pada era digital. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif, melalui penelaahan literatur akademik, jurnal nasional dan internasional, serta buku ilmiah yang membahas pembelajaran PAK dan internalisasi nilai Kristiani. Temuan kajian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang mengintegrasikan nilai Kristiani, seperti keteladanan guru, aktivitas refleksi iman, penggunaan teknologi digital secara edukatif, serta kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan gereja, berkontribusi nyata terhadap pembentukan moral, spiritualitas, dan identitas Kristiani siswa. Strategi tersebut tidak hanya mendorong pemahaman kognitif tentang ajaran Kristen, tetapi juga membimbing siswa menerapkan nilai kasih, kejujuran, tanggung jawab, dan empati dalam berbagai situasi, termasuk ketika berinteraksi di ruang digital yang kerap memunculkan dilema moral. Pembelajaran PAK berpotensi menghasilkan peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki karakter Kristiani yang kuat dan mampu menunjukkan perilaku etis dalam menghadapi dinamika era digital yang kompleks
Dasar Gagasan Pendidikan Kristiani Intergenerasional dalam Gereja
Abstract. Currently, it seems that the categorial approach dominates the ministry in the church. However, this categorial ministry also has several disadvantages, one of which is that the church will become compartmentalised based on age category groups. This shortcoming can be overcome by implementing an intergenerational ministry. For this reason, this paper aims to emphasise the basic idea of Intergenerational Christian Education in the church. This objective will be achieved using the literature study method. The results achieved include insights related to the basic idea of Intergenerational Christian Education that are useful as a foundation in its application and development. Through this study it can be concluded that Intergenerational Christian Education has a strong theological foundation so that it can be applied in education in the Church.Abstrak. Saat ini terlihat bahwa pendekatan kategorial mendominasi pelayanan dalam gereja. Namun pelayanan kategorial ini juga memiliki sejumlah kekurangan, salah satunya gereja akan menjadi terkotak-kotak berdasarkan kelompok kategori usia. Kekurangan ini dapat diatasi dengan menerapkan pelayanan yang bersifat intergenerasinal. Untuk itu tulisan ini bertujuan untuk menegaskan dasar gagasan Pendidikan Kristiani Intergenerasional dalam gereja. Tujuan ini akan dicapai menggunakan metode studi pustaka. Hasil yang dicapai mencakup wawasan terkait dasar gagasan Pendidikan Kristiani Intergenerasional yang bermanfaat sebagai fondasi dalam penerapan dan pengembangannya. Melalui kajian ini dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Kristiani Intergenerasional memiliki landasan teologis yang kuat sehingga dapat diterapkan dalam pendidikan di Gereja
Etika kristiani, jilid II, kewajiban moral dalam hidup keagamaan = Christliche Ethik, Spezielle Moraltheologie, 1
Edisi bahasa Indonesia dari buku panduan teologi moral ini yang membahas etika kristiani secara komprehensif dan jilid II ini membahas Kewajiban Moral dalam Hidup Keagamaan.Maumerexiv, 216 halaman ; 23 c
Etika kristiani, jilid III, kewajiban moral dalam hidup pribadi = Christliche ethik, spezielle moraltheologie, 2
Edisi bahasa Indonesia dari buku panduan teologi moral ini yang membahas seluruh bidang etika kristiani secara komprehensif dan jilid 3 ini berisi kewajiban moral dalam hidup pribadi.Maumerexiii, 219 halaman ; 23 c
Virtue dalam Pendidikan Karakter Kristiani
Abstract. This paper aimed to construct virtue-based Christian Character Education. Moral decadence among students is often associated with the failure of education to instill good values on an early age. The method used in this study is a literature study. The results of this study showed that virtue is built on the tradition of Christian teaching and society as an encounter basis in a community. It can be concluded that virtue-based Christian Character Education is a means of forming a noble character, taking into account various aspects of living together.Abstrak. Tulisan ini bertujuan untuk mengkonstruksi Pendidikan Karakter Kristiani yang berbasiskan virtue. Dekandensi moral di kalangan remaja seringkali dikaitkan dengan kegagalan pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan sejak dini. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah studi pustaka. Hasil studi ini menunjukkan bahwa virtue dibangun dari tradisi pengajaran Kristen dan masyarakat sebagai dasar perjumpaan bersama dalam sebuah komunitas. Dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Karakter Kristiani berbasis virtue menjadi sarana membentuk karakter yang luhur, dengan mempertimbangkan berbagai aspek dalam kehidupan bersama
Model Pendidikan Kristiani bagi Kaum Lanjut Usia di Era Pandemi Covid-19
Artikel ini membahas tentang pergumulan para lansia yang tidak dapat mengikuti kegiatan-kegiatan gerejawi secara langsung selama masa pandemi COVID-19. Pembatasan perjumpaan secara langsung menjadi tantangan tersendiri bagi gereja, secara khusus dalam melayani kaum lansia. Untuk mengatasi persolan tersebut, maka desain pendidikan Kristiani kepada kaum lansia harus memerhatikan kebutuhan utama kaum lansia di masa pandemi ini. Gereja harus memikirkan model pendidikan Kristiani yang tepat untuk membina kaum lansia. Gereja harus memberikan perhatian dan kepedulian yang dikemas dengan cara-cara yang kreatif dengan mempertimbangkan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dapat membantu kaum lansia untuk tetap bisa mengembangkan potensi dirinya. Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan (library research) untuk menggali apa yang menjadi kebutuhan kaum lansia untuk mendapatkan pendidikan Kristiani di tengah keterbatasan mereka di era pandemi COVID-19. Penulis mempertimbangkan tawaran Gentzler tentang desain pendidikan Kristiani bagi kaum lansia yang disebut dengan model pelayanan SENIORS, yaitu Spirituality, Education, Nutritition and Health, Intergenerational Opportunities, Outreach, Recreation, dan Social Activities. Tujuh bidang ini harus diperhatikan dalam melakukan pendidikan Kristiani bagi kaum lansia, sehingga mereka tidak menjadi terabaikan selama pandemi
Inovasi Pendidikan Kristiani dalam Peran Gereja untuk Meningkatkan Spiritualitas Anak Marginal di Era Kontemporer
There are challenges faced by marginalized children in society, especially in obtaining an education that is not only academic but also leads to the development of spiritual welfare and practical building. As a spiritual institution, the church has a significant role and potential to create Christian education innovations relevant to marginalized children, considering that they are by the teachings of faith that can shape character and strengthen their faith and spirituality. This study aims to provide an understanding and strategy of how the church's role in Christian education innovation can contribute to the spiritual well-being of marginalized children. Using descriptive qualitative methods and a literature study approach, it was found that Christian education is precious for marginalized children. Hence, the church plays a vital role in developing and teaching Christian values ??to them.
Abstrak
Adanya tantangan yang dihadapi oleh anak-anak marginal dalam masyarakat, khususnya dalam memperoleh pendidikan yang tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga mengarah pada per-kembangan kesejahteraan rohani dan membangun afektif. Gereja sebagai lembaga kerohanian memiliki peran dan potensi besar untuk menciptakan inovasi pendidikan kristiani yang relevan bagi anak-anak marginal, mengingat sesuai dengan ajaran iman yang dapat membentuk karakter dan memperkuat iman dan keroahnian mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman dan strategi bagaimana peran gereja dalam inovasi pendidikan kristiani dapat memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan rohani anak marginal. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan studi pustaka, didapatkan bahwa pendidikan kristiani sangat berharga bagi anak marginal, sehingga gereja berperan penting dalam mengembangkan dan mengajarkan nilai-nilai kristiani bagi mereka
Pendidikan Kristiani sebagai Sarana Pembentukan Karakter Kristiani Anak dalam Keluarga, Gereja dan Sekolah
Pendidikan Kristiani merupakan wadah untuk membentuk karakter kristiani anak dalam keluarga, gereja dan sekolah. guna mencapai tujuan membentuk iman kristiani anak, maka perlu meneladankan sikap hidup sesuai dengan nilai-nilai kristiani
Humanisme dalam Perspektif Iman Kristiani
Istilah ''humanisme'' memiliki sejumlah arti yang kesemuanya kurang-lebih menunjuk pada suatu pandangan dunia yang sangat terpusatkan pada manusia daripada yang suprahuman atau yang abstrak. Dalam arti dasarnya, humanisme secara sederhana berarti pandangan-tentang- manusia, yakni penaruhan segenap perhatian pada umat manusia, di manapun mereka berada dan apa pun statusnya. Dalam arti sempit, kata "humanisme" menunjuk pada gerakan filsafat dan kesusastraan yang berawal di Italia pada abad ke-14 hingga sekitar abad ke-17 dan tersebar ke seluruh negara Eropa dan merupakan bagian dasariah dari gerakan Renaissance.
Konsep Kristiani tentang manusia lahir dengan latarbelakang filosofis dan historis tertentu. Pelbagai pandangan tentang manusia senantiasa menantang dan menuntut pengambilan sikap umat Kristiani sepanjang masa. Dewasa Ini ada begitu banyak pemikir Kristiani yang berkompeten berusaha untuk membuat sintesis pribadi tanpa pertentangan dengan prinsip-prinsip kepercayaan dan humanisme Kristiani.
Dewasa ini, dalam dunia dan masyarakat modern, umat beriman pada umumnya dan umat Kristiani pada khususnya mendap~t tantangan dari humanisme 'sekular' non-Kristiani, khususnya humanisme agnostik dan ateistik modern. Kedua bentuk humanisme tersebut menjadi partner dialog kontemporer umat Kristiani.
Sebagai agama yang manusiawi dan sungguh memanusiakan manusia, agama Kristen sangat berkaitan dengan humanisme. Humanisme Kristiani tidak hanya mengacu pada konsep tertentu tentang manusia, tetapi juga dan terutama mengacu pada prinsip utamanya yaitu inkarnasi. Gereja menandaskan bahwa misteri tentang manusia hanya dapat dipahami dalam misteri inkarnasi. Tentu saja iman Kristiani tidak mutlak bertentangan dengan semua bentuk humanisme. Akan tetapi, umat Kristiani tidak menerima humanisme yang menghendaki agar manusia terpisahkan dari Allah dan menjadikan kodratnya sebagai tujuan dalam dirinya sendiri. Melalui dialog para humanis dan umat Kristiani dapat dan harus belajar dari yang lain dan juga tentang diri mereka sendiri guna meningkatkan situasi hidup manusia
- …
