82 research outputs found
Peran Perawat Dalam Meningkatkan Kualitas Pasien Peritonial Dialisis
AbstrakContinuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) merupakan salah satu terapi pengganti pada Penyakit Ginjal Tahap Akhir (PGTA). Empat area yang menjadi tanggung jawab perawat CAPD adalah predialisis, rawat inap, sebelum dan selama pelatihan CAPD, serta pada saat pasien di rumah. Merujuk pada empat peran perawat, yaitu sebagai praktisi, pengelola, peneliti, dan pendidik, maka peran perawat CAPD mempunya peran dan fungsi yang berbeda pula pada masing-masing area ini. Tujuan utama peran dan fungsi perawat di setiap area ini adalah agar layanan keperawatan yang diterima oleh pasien menjadi prima. Pada artikel ini dibahas peran perawat sebagai praktisi dan pengelola pelayanan keperawatan. Sedangkan dua peran lagi yaitu pendidik dan peneliti tidak dibahas. AbstractContinuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) is one of replacement therapy of End Stage Renal Disease (ESRD). CAPD nurse takes the responsibility in four areas. Those are pre-dialysis stage, during hospitalization, before and during peritoneal dialysis training, and patient at home. Refer to the roles of the nurses, as a care provider, manager, educator and researcher, CAPD nurse has a comprehensible role and function. This comprehensible role and function is also applied in this each area in order to get the better quality of life of the CAPD patients. In this article the role of care provider and manager are discussed. However, the other two, educator and researcher roles are not discussed
Remunerasi Perawat : Sebuah Telaah
Remunerasi adalah suatu imbalan dari suatu pekerjaan. Selain sebagai imbalan, remunerasi merupakan suatu penghargaan terhadap kerja yang dihasilkan. Remunerasi yang sesuai dengan hasil kerja yang diberikan dapat mencegah ketidakpuasan. Pekerja yang dimaksud dalam tulisan ini adalah perawat. Perawat pelaksana dalam menjalankan tugasnya di Rumah Sakit mempunyai keunikan tersendiri sebab selain menggunakan ilmu juga menggunakan fisik.Oleh karena itu, imbalan yang diterima perawat belum tidak bisa menggunakan standar penggajian karyawan lainnya.Suatu kenyataan bahwa imbalan yang diterima perawat belum dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka.Beberapa saran diajukan sebagai pertimbangan dalam menentukan sistem termasuk standar remunerasi bagi perawat. Remuneration is a repayment of services. Besides as a repayment, the remuneration is a proposed reward for the output of work. The reasonable remuneration which is appropriate with the output of work can prevent the worker’s unsatisfaction, in this case, the nurse. Nurse as a direct care provider in performing their task in the hospital have a special uniquiness, because in addition to the application of knowledge the also actively involved physically. Therefore, the awarded repayment for nurses can’t utilize the payroll standard for other workers. Input, the repayment received by nurses still can’t meet the reasonable needs of their living expenses. Several recommendation are proposed as a consideration to determine the remuneration system including standard for nurses
Bladder training modifikasi cara kozier pada pasien pascabedah ortopedi yang terpasang kateter urin di sebuah RS di Jakarta
Artikel ini adanya di Jurnal keperawatan Indonesia. Vol. 12, No. 1, Maret 200
PENGATURAN CAIRAN SECARA MANDIRI PADA KLIEN YANG MENJALANI HEMODIALISIS
Salah satu stressor yang dialamni oleh klien End Stage Renal Disease (ESRD) sebagai akibat tidak berfungsinya ginjal adalah masalah kelebihan cairan. Pengaturan pemasukan cairan akan mengurangi penambahan cairan di dalam pembluh daah antara dua waktu hemodialisis (HD). Merujuk pada teori Orem tentang Self Care, diyakini bahwa klien mempunyai kemampuan untuk mengatur pemasukan cairan secara mandiri. Berdasarkan teori ini dikembangkan suatu program untuk mengendalikan cairan untuk menolong klien HD yang mengalami kelebihan cairan di suatu rumah sakit umum di Jakarta pada tahun. Dari 24 klien HD yang berhasil menyelesaikan program ini 2 orang (8%) berada pada grafik baik, 15 orang (63%) berada pada grafik rata-rata, dan 7 orang (29%) berada pada grafik bahaya. Fluid overload is one of the stressors experienced by End Stage Renal Disease clients. The management of fluid intake will minimize the amount of fluid in blood vessel inter-dialysis time. Refer to Orem theory of self care; it is believed that hemodialysis (HD) clients have the ability to regulate the fluid intake. Based on theory; it was developed a program for helping HD clients to reduce their fluid overload in a public hospital in Jakarta. Twenty-four HD clients have completed the program successfully, who were 8% in good graphic, 63% in average graphic, and 29% in dangerous graphic
DUKUNGAN SOSIAL MENINGKATKAN “SELFCARE BEHAVIOR” ANAK
Tujuan dari peneitian adalah mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan Selfcare Behavior anak usia sekolah dengan talasemia mayor”. Penelitian merupakan penelitian cross sectional. Hipotesayang dibuktikan adalah “Adanya hubungan antara dukungan sosial dengan Selfcare behavior pada Anak Usia Sekolah dengan Talasemia Mayor”. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien usia sekolah dengantalasemia mayor di RSUPN. Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, sejumlah 131 pasien. Penelitian menggunakan instrument tentang dukungan sosial dan “selfcare behavior”. Hasil menunjukkan ada hubungan antara dukungan sosial dengan selfcare behavior dengan p = 0,0000 (α = 0,05). Penelitian ini merekomendasikan untuk meningkatkan dukungan sosial dari keluarga dan teman untuk meningkatkan kemmapuan selfcare behavior pada anak usia sekolah khusunya anak dengan talasemia
Analisis Faktor yang Memengaruhi Self Management Behaviour pada Pasien Hipertensi
Hipertensi merupakan penyakit kronik yang penanganannya diperlukan kemampuan untuk mengelola perilaku diri sendiri (self management behaviour) dalam kehidupan sehari-hari seperti; pengaturan diet, olah raga, minum obat serta kemampuan mengelola stres. Self management behaviour (SMB) merupakan landasan untuk dapat mengontrol hipertensi dan mencegah terjadinya komplikasi hipertensi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi SMB dan menganalisis faktor yang paling dominan memengaruhi SMB pada pasien hipertensi di Rumah Sakit Umum Daerah 45 Kuningan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif analitik studi cross sectional, dengan menggunakan uji chi squaredan regresi logistik. Hasil penelitian didapatkan ada hubungan antara keyakinan terhadap efektivitas terapi (p=0.005; OR=3,48), self-efficacy(p=0.003; OR=3,67), dukungan sosial (p=0.015; OR=2,87) dan komunikasi antar petugas pelayanan kesehatan dengan pasien (p=0.002; OR=3,27) dengan SMB. Komunikasi antar petugas kesehatan dengan pasien merupakan faktor paling dominan memengaruhi kesuksesan SMB sehingga kemampuan komunikasi sangat diperlukan dalam implementasi asuhan keperawatan.Kata kunci:Hipertensi, kontrol hipertensi, self management behaviour AbstractHypertension is a chronic disease which requires to be controlled with self-management behaviour, such as diet, exercise, medication and stress management. Self-management behaviour (SMB) is the basis for controlling hypertension and preventing complications of hypertension. The purpose of this study was to determine several factors affecting the SMB and to identify the most dominant factor associated with the SMB in patient hypertension in General Hospital 45 Kuningan, West Java. The data were analyzed using chi square and logistic regression tests. The results showed that there were significant relationships between belief in the effectiveness of therapy (p=0.005;OR= 3.48), self-efficacy (p=0.003; OR=3.67), social support (p=0.015; OR=2.87), and communication between health professional and patient (p=0.008; OR=3.27) and the SMB. Communication between health care workers and patients was identified to be the dominant factor affecting the SMB. Therefore, the ability to communicate effectively is a requirement in the nursing care of patients with hypertension. Key words: Hypertension, control hypertension, self management behaviour</jats:p
Kemampuan Keluarga Merawat Usia Lanjut Berdasarkan Karakteristik Keluarga dan Usia Lanjut
Sebuah kecamatan di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur mempunyai banyak usia lanjut. Tetapi belum diketahui kemampuan
keluarga merawat usia lanjut. Penelitian analitik observasional ini bertujuan mengetahui hubungan karakteristik keluarga dan
usia lanjut dengan kemampuan keluarga merawat usia lanjut. Populasi penelitian adalah keluarga dengan usia lanjut, jumlah
sampel sebanyak 319 keluarga yang ditentukan dengan two stage cluster sampling. Hasil penelitian menunjukkan 48,3% keluarga
mampu merawat usia lanjut. Sub variabel yang paling dominan berhubungan dengan kemampuan keluarga yaitu sikap keluarga.
Selanjutnya, perlu pengembangan Posyandu Usia Lanjut dengan melibatkan keluarga dan pembentukan paguyuban keluarga
dengan usia lanjut. Penelitian dengan jenis action research tentang model perawatan usia lanjut yang mengaplikasikan
keperawatan transkultural sebagai kerangka konsep penelitian perlu dilakukan
Peningkatan Pelaksanaan Supervisi Oleh Supervisor Melalui Pengawasan Bidang Keperawatan
Controlling in management has specific role in maintaining the quality of implementation as programmed by manager. This cross-sectional study was aimed to identify the correlation between controlling function of nursing directorate with the supervision carried out by all supervisors in a hospital in Jogjakarta. The supervisors were predominantly 40-50 years old (48.2%), women (80.4%), Diploma Nurse (60.7%), having 20-30 years of working experience (57.1%), never get in-service training (51.8%) and in evening duty shift (46.4%). The correlation analysis showed that controlling from nursing directorate had significant correlation with the implementation of supervision by the supervisor (r = 0,393; p = 0,003). This study concluded that the combination of controlling from nursing directorate and in-service training which is monitored by supervisor has significant correlation with the supervision implemented by the supervisor. Finding from the study suggested that good controlling and scheduled supervision using effective communication could increase the nursing performance in giving nursing care
Budaya Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien Terintegrasi Melalui SIMRS
This research aims to identify problems in reporting patient safety incidents, conduct analysis, prepare a plan of action, implement innovations in the form of integrated patient safety incident reporting culture management through the Hospital Management Information System (SIMRS), and carry out evaluations. The research method used is a case report using the ADDIE approach to managing an integrated patient safety incident reporting culture through the Hospital Management Information System (SIMRS). The research results show that the culture of reporting patient safety incidents is not yet optimal, incident reporting has yet to be integrated through SIMRS, and there are no guidelines and Standard Operational Procedures (SPO) for reporting patient safety incidents through SIMRS. In conclusion, incident reporting is influenced by various factors, namely human factors (not all safety incidents have been reported, not yet knowing how to report patient safety incidents using SIMRS), materials (work instructions already exist (manual reporting flow SOP, reporting SPO, and writing via the Home Management Information System Hospital (SIMRS) does not yet exist) method (Integrated incident reporting flow with SIMRS does not yet exist), and machine (Reporting application via the Hospital Management Information System (SIMRS) does not yet exist).
Keywords: Reporting Culture, Innovation, Patient Safety Incidents, Information Systems Hospital managemen
- …
