7 research outputs found
Analisis Konsentrasi Minyak Atsiri dari Sereh Sebagai Aditif dalam Pembuatan Lotion Anti Nyamuk
Tanaman sereh wangi (Cymbopongon nardus L.) merupakan sumber minyak atsiri yang diperoleh dengan cara ekstraksi. Sereh wangi memiliki banyak manfaat. Minyak Atsiri sereh memiliki banyak keunggulan untuk pembuatan lotion anti nyamuk diantaranya baunya yang menyengat dan bersifat alami, sehingga aman untuk kulit. Penelitian ini untuk menentukan konsentrasi terbaik dari minyak atsiri sereh. Penelitian ini menggunakan metode ekstrasi maserasi dengan mencampurkan simplisia batang sereh dengan air kemudian diaduk, lalu didiamkan selama beberapa waktu. Analisis yang dilakukan antara lain yaitu uji viskositas, uji bau citronella, uji pH dan uji iritasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari variasi konsentrasi minyak atsiri (0%,0,5%,1%,1,5%,2%) hasil terbaiknya adalah formula V yaitu dengan konsentrasi 2%, dan aman untuk kulit atau tidak panas saat digunakan, dengan pH 7,2, serta berbau menyengat khas citronella. Dengan variasi konsentrasi minyak atsiri itu berpengaruh sangat nyata terhadap viskositas lotion
PENYUSUNAN HSSE PLAN PT MULIA GRAHA ABADI PADA KONTRAK PENGADAAN JASA PERBAIKAN DAN INSTALASI WELLHEAD LENGKAP DENGAN AKSESORISNYA DI PT PERTAMINA EP ZONA 4
Health, Safety, Security and Environment (HSSE) Plan adalah rencana kerja dan program kesehatan, keselamatan kerja dan lingkungan yang akan dilaksanakan oleh mitra kerja selama periode kontrak kerja berlangsung. PT Mulia Graha Abadi sebagai mitra kerja/kontraktor dari PT Pertamina EP Zona 4 dalam menjalankan aktivitas pekerjaan pengadaan jasa perbaikan dan instalasi wellhead lengkap dengan aksesorisnya di PT Pertamina EP Zona 4 wajib menyusun HSSE Plan sebelum pekerjaan dilaksanakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membahas lebih lanjut mengenai dokumen HSSE Plan PT Mulia Graha Abadi yang akan diterapkan pada kontrak pekerjaan di PT Pertamina EP Zona 4. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Metode ini dipilih dikarenakan penelitian ini hanya menfokuskan pada penyusunan dokumen HSSE Plan PT Mulia Graha Abadi untuk pekerjaan di PT Pertamina EP Zona 4. Data yang digunakan merupakan gabungan dari dokumen-dokumen, hasil wawancara, serta observasi yang dilakukan oleh peneliti terhadap dokumen HSSE Plan. HSSE Plan PT Mulia Graha Abadi disusun dalam 8 (delapan) elemen antara lain: komitmen manjemen; tujuan kebijakan HSSE dan strategi; organisasi , tanggung jawab, sumber daya, standar dan dokumentasi; manajemen bahaya dan dampak; perencanaan dan prosedur; implementasi dan pemantauan kinerja; audit dan tinjauan manajemen; dan manajemen K3LL-pencapaian lainny
Analisis Efisiensi Penukar Ion Sistem Demineralisasi Pada Pengolahan Air di Proses Produksi Electroplating
Resin penukar ion pada sistem demineralisasi merupakan media yang digunakan dalam proses pengolahan air baku untuk menghasilkan air bebas mineral yang digunakan untuk proses produksi khususnya proses plating. Kemampuan resin penukar ion dalam mengambil ion pengotor dalam air baku memiliki keterbatasan, sehingga setelah beberapa waktu tertentu resin penukar ion tidak mampu lagi mengambil ion pengotor dalam air baku sehingga perlu dilakukan regenerasi. Penelitian ini bertujuan untuk dapat meninjau efisiensi resin anion dan kation dalam pengolahan air di proses produksi electroplating. Dalam penelitian ini akan di analisis efisiensi resin penukar ion dengan menggunakan data pengamatan nilai konduktivitas air bahan baku dengan air hasil proses demineralisasi. Dari penelitian ini didapatkan nilai efisiensi pada proses pengolahan air demineralisasi memiliki nilai 51.41% untuk resin kation dan 83.47% untuk resin anion, lama siklus regenerasi resin yang di dapat adalah 50 jam untuk pemakaian secara terus menerus, resin anion sudah mengalami penurunan kualitas dikarenakan nilai efisiensi resin yang diperoleh di bawah 80% sehingga sudah mengalami kejenuhan. Sedangkan perolehan nilai efisiensi resin anion di atas 80% menunjukkan kualitas resin anion masih sangat baik
PENGARUH WAKTU PEMANASAN TRANSESTERIFIKASI MINYAK EKSTRAK LUMUT SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN BIODIESEL
Kebutuhan bahan bakar minyak dalam negeri meningkat seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi. Hal ini mendorong para peneliti senantiasa mencari solusi memecahkan masalah krisis bahan bakar di Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan mengganti bahan bakar fosil dengan yang dapat diperbaharui. Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif berbahan baku minyak nabati dan hewani yang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan bahan bakar minyak bumi. Lumut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Kadar asam lemak bebas (FFA) yang tinggi didalam minyak lumut dapat dikonversikan menjadi Fatty Acid Methyl Ester (biodiesel). Tujuan dari penelitian ini adalah memanfaatkan lumut sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Metoda yang dilakukan untuk pembuatan metil ester (biodiesel) dalam penelitian ini adalah esterifikasi dan dilanjutkan dengan proses transterifikasi. Untuk mendapatkan minyak lumut dilakukan dengan cara ekstraksi menggunakan soklet dengan perbandingan beberapa pelarut (heksana, benzena, dietil eter) dan waktu yang divariasikan (1, 1½, 2) jam. Selanjutnya pada proses esterifikasi bodiesel ditambahkan katalis asam (H2SO4), dan dilanjutkan dengan proses transesterifikasi dengan penambahan katalis NaOH dengan variabel waktu pemanasan (15, 30, 45, 60, 75, 90) menit. Hasil penelitian menunjukan bahwa untuk ekstraksi minyak lumut pelarut yang cocok adalah dietil eter dengan yield 31,0% dengan waktu eksraksi 1½. Dengan kadar FFA yaitu 13,91mg/g dan bilangan iod 11,26%. Sedangkan pada produk (biodiesel) didapatkan hasil maksimal pada pemanasan selama 60 menit dengan suhu 60oC yaitu dengan yield 78,79%. Dengan berat jenis 0,882 gr/ml, kadar FFA 1,13 mg/g dan kadar air 0,597
PERBANDINGAN KAPASITAS ADSORPSI KARBON AKTIF DARI KULIT SINGKONG DENGAN KARBON AKTIF KOMERSIL TERHADAP LOGAM TEMBAGA DALAM LIMBAH CAIR ELEKTROPLATING
Elektroplating adalah pelapisan logam dengan menggunakan teknik elektrokimia atau elektrolisa. Pada proses elektroplating menghasilkan limbah cair yang mengandung logam berat seperti nikel (Ni), Kromium (Cr), dan Tembaga (Cu). Salah satu alternatif pengolahan limbah cair industri elektroplating adalah dengan metode adsorpsi yaitu menggunakan adsorben karbon aktif. Kulit singkong mengandung karbon, selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang cukup tinggi yaitu sebesar 59,31%, 50 %, 35 %, dan 30 % yang berarti kulit singkong dapat dijadikan salah satu bahan baku pembuatan karbon aktif. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan kapasitas adsorpsi terbaik dari karbon aktif kulit singkong dengan karbon aktif komersil pada logam tembaga (Cu) dalam limbah cair elektroplating. Penelitian ini menggunakan metode adsorpsi dengan aktivasi kimia NaOH 0,3 N dan suhu karbonisasi 350oC. Variabel yang digunakan adalah ukuran mesh yaitu 60, 80, 100 mesh dan variasi massa yaitu 0,2 gram, 0,4 gram, 0,6 gram, 0,8 gram dan 1,0 gram. Pada percobaan ini kapasitas adsorpsi terbaik dari karbon aktif kulit singkong terhadap logam Cu adalah pada variasi massa 1,0 gram dan mesh 100 dengan konsentrasi kadar logam Cu teradsorpsi sebesar 4,77 mg/L. Karbon aktif komersil sebagai pembanding memiliki nilai adsorpsi sebesar 5,87 mg/L , artinya karbon aktif komersil memiliki nilai adsorpsi yang sedikit lebih baik dari bio-adsorben karbon aktif kulit singkong
PENGENDALIAN KUALITAS PRODUKSI ROMA SANDWICH MENGGUNAKAN METODE STATISTIK QUALITY CONTROL (SQC) DALAM UPAYA MENURUNKAN REJECT DI BAGAIAN PACKING
PT. Mayora Indah Tbk merupakan perusahaan yang bergerak dalam sector indusutri makanan dan minuman. Dalam menjalankan kegiatan produksinya, perusahaan selalu berupaya untuk menghasilkan produk yang baik dan menekan terjadinya reject. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya reject hasil biskuit roma sandwich dan bagaimana pengendalian kualitas produk biskuit roma sandwich di PT. Mayora Indah Jatake 2 dengan menggunakan metode statistik. Analasis pengendalian kualitas dilakukan menggunakan metode statistik berupa check sheet, histogram, peta kendali, diagram sebab-akibat dan metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA). Hasil analisis menggunakan checksheet menunjukkan bahwa dalam proses produksi masih terdapat reject biskuit yang tinggi sebesar 19,28%, kemudian hasil dari peta kendali menunjukan bahwa adanya titik berfluktuasi sangat tinggi dan tidak beraturan yang menunjukkan bahwa proses produksi masih mengalami penyimpangan, oleh sebab itu masih diperlukan analisia lebih lanjut dengan menggunakan diagram sebab-akibat (fishbone diagram). Dari analisis sebab-akibat dapat diketahui faktor penyebab penyimpangan/reject berasal dari faktor manusia, metode, dan material. Selanjutnya berdasarkan analisis menggunakan metode FMEA prioritas utama perbaikan berdasarkan nilai RPN tertinggi yang harus dilakukan oleh PT. Mayora Indah diantranya yaitu Membuat jalur biskuit dan menurunkan packing table lebih rendah dari output mesin sandwiching dengan nilai RPN sebesar 168, Membuat standar diameter teflon dan revisi pengecekan kondisi teflon di setiap minggu dengan nilai RPN sebesar 105, dan Merubah jalur stacking dari yang tidak berlawanan arah menjadi berlawanan arah nilai RPN sebesar 7
Study of Imam ash-Shaukani View of Najis Hadith is a Requirement for Valid Salat
The purpose of this study is to reveal the method used by Imam ash-ShaukÄnÄ« najis traditions in his book Nailul Auá¹Är because he is different from most scholars in this regard and the method used is a qualitative literature study with a content analysis approach and takhrij hadith. This study resulted in eight hadiths used by Imam ash-ShaukÄnÄ« to support his opinion, and some of them are authentic hadiths and some are weak, but he explained his weakness and then he left. So with this the author finds seven methods used by Imam ash-ShaukÄnÄ« to discuss these najis hadiths in the Nailul Auá¹Är book, namely al-Jam\u27u (collecting) these traditions, short mention it for some hadiths, when mention it he only quoted from ulamas before him, did not mention it hadith that had been issued by Imam Bukhari and Muslim, he was very concerned with ushul fiqh, he brought arguments from opponents of his opinion and he mentioned the differences that existed from hadith or fiqh or ushul fiqh
