JURNAL KONVERSI
Not a member yet
137 research outputs found
Sort by
ANALISIS CEMARAN MIKROBA DALAM SEDIAAN OBAT BENTUK LARUTAN ORAL
Obat sediaan larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. Kontaminasi bakteri pada obat dapat terjadi pada prosespengolahan bahan awal, produksi dan penyimpanan. Pengujian secara mikrobiologi perlu sekali dilakukan untuk menjamin obat bebas dari cemaran mikroba. Analisis cemaran mikroba kali ini mengunakan 3 parameter. Parameter pertama yaitu uji Total Aerobic Microbial Count (TAMC) dengan metode pour plate menggunakan media TSA (Trypticase Soy Agar) , parameter kedua yaitu Total Yeasts and Molds Count (TYMC) dengan metode poure plate menggunakanmedia SDA(Sabouraud Dextrose Agar) dan parameter ketiga yaitu identifikasi Escherichia coli dimana kontrol positif akan dilanjutkan pengujian dengan metode vitek setelah dilakukan proses pewarnaan Gram. Pengujian ini dilakukan di Laboratorium Quality Control bagian Mikrobiologi QC PT. Kalbe Farma, Tbk. dari tanggal 3 Maret-12 Maret 2020. Berdasarkan hasil pengujian, dapat disimpulkan bahwa sampel tidak mengandung mikroba, kapang, dan khamir serta negatif Escherichia coli sesuai dengan persyaratan metode analisa PT. Kalbe Farma, Tb
UJI FISIKA DAN KIMIA MINYAK PELUMAS “X” UNTUK TURBINE GENERATOR DI PT INTERTEK UTAMA SERVICES
Pelumas merupakan zat kimia berupa cairan pada umumnya, ditempatkan di antara dua permukaan yang saling berinteraksi untuk membentuk suatu lapisan tipis yang dapat mengurangi friksi atau gesekan dan mencegah keausan. Faktor utama penentu kualitas pelumas yaitu dari base oil dan zat aditif yang ditambahkan. Penambahan zat aditif dalam pelumas sanga t mempengaruhi karakteristik dan kualitas dari pelumas. Minyak pelumas sangat berperan penting untuk mesin, seperti halnya darah untuk manusia. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui kualitas minyak pelumas “X” untuk turbine generator dengan uji fisika dan kimia. Beberapa parameter uji fisika dalam percobaan pada sampel minyak pelumas “X” yaitu, viskositas kinematik (40 dan 100) ˚C yang mengacu pada ASTM D 455 diuji menggunakan viscometer Oswald dan titik nyala yang mengacu pada ASTM D 92 diuji secara Cleveland Open Cup menggunakan flash point tester. Parameter kimia yang diuji diantaranya, kadar air yang mengacu pada ASTM D 6304 dilakukan secara Karl Fischer dan nilai angka asam total yang mengacu pada ASTM D 664 dilakukan secara potensiometri. Berdasarkan hasil percobaan minyak pelumas “X”, diperoleh nilai viskositas kinematik 40 °C berada pada rentang (31,07-31,45) cSt. Viskositas kinematik 100 °C berada pada rentang (5,35-5,40) cSt. Titik nyala berada pada rentang (210-220) °C. Kadar air berada pada rentang (21-73) ppm dan nilai angka asam total sebesar 0,05 mg KOH/g. Hasil tersebut memenuhi standar acuan pada SNI 7069-14:2019 tentang Klasifikasi dan Spesifikasi Minyak Pelumas Turbin untuk parameter viskositas 40 °C, titik nyala dan angka asam total, beserta standar mutu produsen minyak pelumas “X” untuk parameter viskositas kinematik 100 °C dan kadar air
PEMBUATAN PELET PROBIOTIK DARI LIMBAH AMPAS TAHU UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PAKAN TERNAK
Tahu merupakan makanan khas di Indonesia yang terbuat dari kedelai. Makanan ini terkenal meluas di lingkungan masyarakat karena harganya yang terjangkau, mudah diperoleh dan memiliki kandungan gizi yang tinggi. Tahu diproduksi dengan memanfaatkan sifat protein, yaitu menggumpal saat bereaksi dengan asam. Penggumpalan protein oleh asam cuka berlangsungbegitu cepat sehingga sebagian air yang semula tercampur akan terperangkap didalamnya. Pengeluaran air yang terperangkap didalamnya menggunakan tekanan. Semakin besar tekananyang diberikan, semakin banyak air yang dikeluarkan dari gumpalan protein. Gumpalan protein itulah yang kemudian disebut sebagai tahu. Dari hasil proses pembuatan tahu ini menghasilkan limbah dari filtrasi berupa limbah cair dan padat, limbah padat dikenal dengan ampas tahu yang masih memiliki kandungan protein yang tinggi. Penggunaan probiotik telah lama digunakan dan dirasakan manfaatnya oleh para petani ikan dalam pemanfaatan pakan yang efisien. Pemberian probiotik dalam pakan dimaksudkan untuk meningkatkan daya cerna ikan terhadap pakan dengan meningkatkan enzim pencernaan yang dapat menghidrolisis protein menjadi senyawa lebih sederhana sehingga mudah diserap dan digunakan sebagai deposit untuk pertumbuhan. Melalui percobaan ini, dibuat pemanfaatan ampas tahu yang masih memiliki kandungan protein yang cukup tinggi sebagai pelet pakan ternak khususnya ikan lele tanpa penambahan probiotik dan dengan penambahan probiotik dengan berbagai variasi dosis untuk mengetahui perbandinganperkembangan berat dan panjang ikan lele. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P15 terhadap ikan lele memberikan hasil yang optimal dengan penambahan berat 0,67 gram dan panjang 22,4 cm
UJI DISOLUSI KAPSUL LANSOPRAZOL SECARA SPEKTROFOTMETRI UV-VIS DAN PENETAPAN KADAR SECARA KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI
Lansoprazol merupakan kelompok obat pompa proton inhibitor. Pompa proton inhibitor memiliki efek penghambatan sekresi asam yang kuat pada lambung, dapat menekan sekresi asam lambungdengan membentuk batas disulfida irreversible dengan H+/K+ -ATPase. Untuk menjamin kualitas dan keamanan obattersebut maka perlu dilakukan pengujian. Pengujian yang dilakukan pada sediaan obat berbentuk kapsul adalah uji disolusi dan penetapan kadar. Uji disolusi diperlukan untuk mengetahui banyaknya zat aktif terlarut yang memberikan efek terapi optimal dan juga tidak layak untuk dikonsumsi dan dilakukan menggunakan Spektrofotometri UV-Vis, diperoleh hasil kadar zat aktif terlarut pada tahap asam rata-rata 4,20% ≥ 10% danhasil kadar zat aktif terlarut padatahap dapar rata-rata 103,32% ≥ 85%. Simpangan baku relatif diperoleh sebesar 0,187% ≤ 2,0%. Penetapan kadar lansoprazol diperlukan untuk mengetahui kadar sesungguhnya dalam sediaan, dilakukan dengan cara kromatografi cair kinerja tinggi dan diperoleh hasil rata-rata sebesar 105,49%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengujian disolusi, simpangan baku relatif, dan penetapan kadar kapsul lansoprazol memenuhi syarat sesuai dengan Farmakope Indonesia Edisi VI
INOVASI VARIAN HEAT STABILIZER DENGAN PENAMBAHAN EPOXIDIZED CANOLA OIL
Heat stabilizer adalah antioksidan yang digunakan untuk melindungi polimer dari degradasi yang disebabkan oleh adanya panas selama proses pembuatan maupun saat pemakaian. Heatstabilizer diaplikasikan sebagai bahan aditif dalam pembuatan polyvinyl chloride (PVC). Penambahan heat stabilizer dapat membuat polimer memiliki long-term stability dan initial colourstability yang baik pada saat pengujian ketahanan panas pada suhu tinggi. Heat stabilizer murni memiliki harga yang cukup mahal karena biaya produksinya yang tinggi. Salah satu cara untuk mendapatkan produk heat stabilizer yang harga jualnya lebih terjangkau, diminati di pasar lokal, dan mendukung kualitas yang baik adalah dengan mennyampur heat stabilizer murni dengan minyak epoksi. Minyak epoksi berasal dari minyak nabati yang telah dilakukan proses epoksidasi. Minyak nabati dapat digunakan menjadi produk pengganti petrokimia yang murah dan ramah lingkungan, sehingga banyak digunakan sebagai plasticizer dan stabilizer PVC. Salah satu minyak nabati terepoksidasi yang dapat digunakan adalah epoxidized canola oil. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat inovasi varian heat stabilizer dengan menggunakan epoxidized canola oil. Heat stabilizer murni dicampurkan dengan epoxidized canola oil, kemudian dilakukan pengamatan pada visual sample serta dilakukan percobaan dengan alat roll mill untuk mengetahui formulasi manakah yangpaling baik dijadikan sebagai varian baru heat stabilizer dan memiliki initial colour yang menyerupai heat stabilizer murni. Berdasarkan hasil pengujian, formulasi optimum yang dapat dijadikan varian baru heat stabilizer adalah konsentrasi 10% dan 15%, karena memiliki initial colour yang baik dan menyerupai heat stabilizer murni berdasarkan hasil sampling trial roll mill
PENGARUH PENAMBAHAN THICKENER POLY URETHANE PADA PRODUK POLIMER DISPERSI TERHADAP PARTIKEL DISTRIBUSI POLIMER
Polimer adalah suatu molekul besar yang tersusun secara berulang dari unit molekul (disebut monomer). Dispersi polimer didefinisikan sebagai sistem yang memiliki fase kontinu berupaliquid dan fase terdispersi berupa padatan, dalam hal ini polimer merupakan fasa terdispersi. Ukuran partikel memengaruhi sifat suatu polimer dispersi dan dapat menjadi indikator kualitas suatumaterial, sedangkan thickener response merupakan nilai respon sampel setelah ditambahkan thickener atau pengental yang diukur menggunakan alat viskometer Brookfield. Pada penilitianmenyajikan analisa pengaruh penambahan thickener dengan variasi ukuran partikel distribusi polimer. Berdasarkan hasil pengujian, ukuran partikel dispersi polimer mempengaruhi thickener response. Semakin besar ukuran partikel dispersi polimer maka nilai thickener response semakin kecil, jika ukuran partikel dispersi polimernya kecil maka nilai thickener response akan semakin besar. Pada sampel A1 memiliki ukuran partikel 141 nm dengan nilai thickener response 27156 mPa.s sedangkan pada sampel A10 memiliki ukuran partikel 124 nm dengan nilai thickener response 52450 mPa.s. Dengan demikian nilai ukuran partikel berbanding terbalik dengan nilai thickener response
PERBANDINGAN KOMPOSISI HIDROKARBON LIQUEFIED PETROLEUM GAS ANTARA SAMPEL LPG DI KILANG, SPBE DAN AGEN MENGGUNAKAN GC - LPG
Liquefied Petroleum Gas (LPG) adalah campuran dari berbagai unsur hidrokarbon yang berasal dari gas alam, dengan menambah tekanan dan menurunkan suhunya, gas berubah menjadi cair. Komponennya didominasi propana (C3H8) dan butana (C4H10). LPG juga mengandung hidrokarbon ringan lain dalam jumlah kecil, misalnya etana (C2H6) dan pentana (C5H12). Proses pembuatan gas LPG diproduksi dari gas hidrokarbon yang berasaldari kilang minyak dan kilang gas, kemudian dikemas didalam tabung. Salah satu kualitas mutu gas LPG dapat diketahui dengan analisis komposisi hidrokarbon. Analisis mutu komposisi dilakukan karena kandungan dalam LPG pada proses distribusi dari kilang hingga ke konsumen memungkinkan adanya perubahan komposisi, oleh karena itu perlu dilakukan analisis komposisi sesuai dengan standar agar menjaga kepuasan konsumen. Analisis komposisi LPG dapat diketahui dengan menggunakan Gas Chromatography-Liquefied Petroleum Gas (GC-LPG). Data hasil analisis komposisi dibandingkan dengan standar mutu berdasarkan ASTM D2163 dan KepDirjen Migas Nomor 116.K/10/DJM/2020 dari segi kualitas rantai pasok dari kilang, SPBE hingga ke agen
PENAMBAHAN RICEBRAN WAX PADA FORMULASI BEESWAX COATING TERHADAP KARAKTERISTIK EDIBLE COATING
Dalam pola makan manusia, buah-buahan dianggap sebagai sumber penting yang menyediakan energi, serat makanan, dan zat gizi mikro seperti vitamin, mineral, flavonoid, dan fitokimia lainnya. Di antara produk hortikultura, buah-buahan memiliki kadar air yang tinggi dan ini adalah faktor yang menyebabkan umur simpannya pendek. Cara untuk mengontrol proses ini dengan benar adalah menunda pematangan pascapanen. Edible coating merupakan bahan yang digunakan pada permukaan makanan untuk membungkus dan aman untuk dikonsumsi bersama dengan makanan. Komponen utama penyusun edible coating dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu hidrokoloid, lipid, dan komposit (campuran). Beeswax adalah salah satu lilin alami yang diproduksi dan dibutuhkan lebah sebagai bahan konstruksi untuk sarangnya, yang umumnya tersusun atas ester asam lemak dan berbagai senyawa alkohol rantai panjang, Ricebran wax merupakan lilin keras berwarna kekuningan hingga kecoklatan yang diperoleh sebagai produk sampingan dari proses dewaxing dalam pemurnian minyak dedak, yang terdiri dari campuran ester alkohol lemak dan asam lemak. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan ricebranwax pada beeswax coating terhadap karakteristik edible coating. Variabel bebas pada penelitian ini meliputi konsentrasi ricebran wax (0; 25; 50; 75;100)%, sedangkan variabel terikat pada penelitian ini meliputi pH, densitas (gr/ml), viskositas (cp). Prosedur pada penelitian ini meliputi: pembuatan beeswax dan ricebran wax coating dan analisis karakteristik edible coating. Hasil karakteristik beeswax coating (pH, densitas, viskositas) terhadap konsentrasi ricebran wax (0; 25; 50; 75;100)%, adalah pH menunjukkan kecenderungan meningkat dengan nilai pH sebesar 8,84; 8,88; 8,89; 8,93; dan 9,06, densitas menunjukkan kecenderungan menurun dengan nilai densitas sebesar 1,02; 1,018; 1,011; 1,008; 1,004 gr/ml, viskositas sebesar 32,8; 29,48; 25,3; 23,85; 20,33 cp
PENGARUH SURFAKTAN TERHADAP SIFAT WATER RESISTANT PADA PRODUK POLIMER EMULSI UNTUK BAHAN BAKU CAT
Penelitian ini membahas tentang penggunaan surfaktan yang tepat pada bahan baku cat. Perbedaan jenis surfaktan yang terkandung dalam komponen utama mempengaruhi hasil pengujian sifat water resistant produk polimer. Pengujian sifat water resistant dilakukan untuk menjamin kualitas danmengetahui ketahanan cat terhadap air dengan pengujian berbagai jenis surfaktan.. Percobaan ini bertujuan mengetahui pengaruh dari surfaktan terhadap sifat water resistant-nya.. Percobaan dilakukan dengan menguji kualitas polimer emulsi dari berbagai jenis penambahan surfaktan. Pengujian sampel dilakukan pada beberapa parameter yaitu uji pemerian, pengukuran nilai pH, pengukuran viskositas, penetapan solid content, analisis ukuran partikel, pengaplikasian film dan whitening appearance. Hasil pengujian kemudian dibandingkan dengan spesifikasi perusahaan yang mengacu pada metode internal. Berdasarkan percobaan dapat disimpulkan bahwa produk polimer emulsi pada standar, formula 1 sampai 4 secara berturut-turut memiliki nilai pH 7,78; 7,79; 8,01; 7,84; dan 7,84. Hasil pengukuran viskositas (1340; 1725, 560, 3450, dan 1150)cP. Hasil penetapan solid content (54,22; 55,85; 55,6454,56; dan 58,52)%. Hasil pengukuran ukuran partikel (125,6; 190,5; 176,5; 126,1; dan 152,7)nm. Hasil dari penarikan film untuk formula 1 didapat hazy dan untuk standar, formula 2, 3 dan 4 hasil yang didapat clear. Hasil dari whittening appearance pada standar dan formula 3 menunjukkan perubahan warna menjadi putih di hari ke-5, pada formula 2 dan 4 perubahan warna putih kebiruan di hari ke-5 dan pada formula 1 mampu mempertahankan warna kebiruan-nya hingga hari ke-7. Berdasarkan hasil pengujian parameter pH, solid content, ukuran partikel, dan whitening appearance telah memenuhispesifikasi. Parameter viskositas menunjukkan hasil yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan. Berdasarkan hasil pengujian terhadap standar dan empat formula surfaktan yang diuji, dapat disimpulkan bahwa jenis surfaktan yang digunakan pada formula 1 dapat digunakan sebagai pengganti dari surfaktan standar. Hal ini merujuk pada hasil formula 1 dihasilkan data pengujian yang lebih baik dari jenis surfaktan lainnya
BIOKONVERSI LIMBAH ORGANIK MENGHASILKAN LIPID BERNILAI EKONOMIS MENGGUNAKAN MIKROALGA AURANTIOCHYTRIUM DARI HUTAN BAKAU BUNAKEN, SULAWESI UTARA
Modernisasi dan industrialisasi telah merevolusi sektor pangan dan pertanian yang mengarah pada peningkatan dramatis dalam produktivitas dan pemasarannya. Dampaknya adalah peningkatan produksi makanan dan limbah agroindustri. Untuk mengatasi problematika masalah sampah secara terpadu, perlu dikembangkan strategi berkelanjutan yang sangat tergantung pada pemahaman tentang tantangan teknologi dan ekonomi. Terkait dengan itu, perlu dieksplorasi teknologi untuk mengkonversi limbah organik menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, antara lain melalui biokonversi menggunakan mikroalga. Salah satu mikroalga yang menarik perhatian besar dunia industri dunia adalah spesies Aurantiochytrium sp. yang saat telah dikembangkan di Eropa dan Amerika pada skala industri. Mikroalga spesies Aurantiochytrium dikenal memiliki habitat hutan bakau dan pertumbuhannya yang cepat dalam produksi asam lemak tak jenuh ganda (lemak tak jenuh rantai panjang PUFA) dengan nilai ekonomi tinggi. Meski Indonesia dikenal sebagai negara dengan hutan bakau terluas di dunia, tetapi kajian teknik kultivasi mikroalga Aurantiochytrium belum banyak dipublikasikan dengan isolat lokal Indonesia. Produk yang dapat dihasilkan dari mikroalga ini salah satunya yaitu omega-3 DHA (Docosahexaenoic acid). Asam lemak tak jenuh rantai ganda (Polyunsaturated Fatty Acids/ PUFA) omega-3 sangat dibutuhkan tubuh manusia, seperti pencegah penyakit jantung dan diabetes, pertumbuhan sel otak dan lain sebagainya. Produksi PUFA secara ekonomis dari biokonversi mikroalga Aurantiochytrium tergantung dari nutrisi yang digunakan. Karenanya, tujuan penelitian ini adalah mempresentasikan teknik kultivasi mikroalga heterotropik menggunakan mikroalga Aurantiochytrium yang masih jarang dipaparkan pada publikasi nasional. Kedua, memaparkan kemampuan biokonversi limbah organik dengan mikroalga Aurantiochytrium yang berasal dari hutan bakau Bunaken, Sulawesi Utara. Penelitian ini dimulai dengan isolasi sampel mikroalga dari hutan bakau Bunaken dan melakukan teknik isolasi direct plating hingga dihasilkan isolat murni. Setelah itu, dilakukan kultivasi dengan sumber nutrisi dari limbah melon, limbah apel, limbah molasses dan limbah air kelapa. Kultivasi dilakukan dalam tiga tahapan, masing-masing tahap standing culture (SC, 48 jam), pre-culture (PC, 48 jam) dan main culture (MC, 120 jam). Pada tahap kultivasi utama (MC) perbandingan sumber nitrogen dan sumber karbon masing-masing 12,5 gram (sumber nitrogen) dan 37,5 gram (sumber karbon). Sumber karbon berasal dari molasses (hasil samping pabrik gula), sampah buah melon, sampah buah apel dan air kelapa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mikroalga mikroalga Aurantiochytrium dapat tumbuh pada media yang digunakan. Selain itu, biomassa yang dihasilkan berwarna kuning cerah berbau amis seperti ikan. Dari variable jenis limbah organik yang dipakai, sampah limbah buah melon menghasilkan biomassa tertinggi, yaitu 99,4 gram/ liter. Potensi produk omega-3 yang dihasilkan bermanfaat untuk dikembangkan di sektor perikanan, peternakan, nutrisi, kosmetika dan farmasi. Oleh karena itu, dengan penelitian ini, kedepan topik penelitian biokonversi ini semoga dapat bermanfaat untuk dikembangkan dalam menghasilkan produk-produk yang memiliki nilai tambah ekonomi bagi negara demi terwujudnya negara dengan nilai gizi masyarakat dalam program ketahanan pangan dan obat-obatan nasiona