1,720,963 research outputs found
Ilmu ketatanegaraan Melayu abad ke-19: Kajian terhadap karya Raja Ali Haji
Makalah ini ingin mengetengahkan Raja Ali Haji (1808-1873) sebagai ilmuwan dalam bidang ilmu ketatanegaraan Melayu. Karya beliau Gurindam Dua Belas, Bustan al-Katibin dan Tuhfat al-Nafis telah mengangkat kesarjanaan beliau dalam bidang sastera dan sejarah. Dalam kajian ini penulis mendapati karya beliau Thamarat al-Muhimmah juga memiliki kehebatan yang tersendiri dan dapat dianggap sebagai karya besar dalam ilmu ketatanegaraan Melayu. Sebagai seorang penasihat raja yang berketurunan raja dalam Kesultanan Riau-Lingga, dan telah mendapat pendidikan yang luas terutama sekali dalam ilmu-ilmu agama, tujuan beliau menulis risalah ini adalah agar ia menjadi buku panduan (handbook) bagi para raja, orang besar, dan penjawat awam dalam melaksanakan tugas dan peranan masingmasing. Antara perkara penting yang beliau bahas dalam risalah ini adalah: kepentingan akidahkepentingan ilmupelantikan raja dan pemakzulannyahukum menerima hadiah dan rasuahprinsip keadilanhubungan agama dan negaratugas penjawat awamtugas raja atau penguasakepentingan pemeliharaan jiwa, raga, dan kehormata
Pandangan Islam terhadap tradisi dan kemodenan
Umat Islam hari ini, tidak terkecuali para intelektualnya, mengalami dilema dalam menyikapi tradisi. Golongan modenis dan pascamodenis beranggapan bahawa tradisi adalah beban yang harus dilupakan untuk maju ke hadapan. Pada ekstrim yang berlawanan, golongan tradisionalis pula cenderung mengkuduskan tradisi sehingga menganggap segala yang diperturunkan tidak boleh diganggu gugat dan harus diterima sebagaimana adanya tanpa apa-apa perubahan. Ada juga yang menyerukan agar kita mengambil jalan tengah dengan menerima apa yang benar dan baik dan menolak apa yang salah dan buruk, tanpa suatu penjelasan ilmiah yang mencukupi. Makalah ini akan cuba menjelaskan nilai dan tempat yang wajar bagi tradisi atau turath mengingat bahawa ketidakjelasan dalam hal ini telah menyebabkan berlakunya banyak kekeliruan dan perpecahan di kalangan umat Islam, sehingga saling menyesatkan dalam perkara-perkara yang remeh, kecil atau furË. Makalah ini juga mengkritik pendekatan liberal dalam berhadapan dengan turath yang dapat mengakibatkan keruntuhan autoriti keagamaan (religious authority). Di samping itu makalah ini juga membahas bagaimanakah sikap yang sewajarnya ada pada umat Islam dalam menghadapi modeniti (modernity) Barat, juga mengkritik pendekatan golongan modenissekular yang cenderung meniru dan menerima secara a priori modeniti Barat. Ia berusaha memberikan perspektif yang jelas terhadap modeniti Barat, dan konsep pembangunan dan kemajuan berdasarkan kepada pandangan alam (worldview) Islam
Faktor kegemilangan tamadun Islam : pengajaran dari masa lalu
This article is an attempt to analyse the factors behind the rise and fall of Islamic civilisation. The author contends that looking at the achievement of Muslims in the past is inadequate. Hence, the article underlines the civilisational foundations laid down since the Prophet’s era. It stresses the holistic development of human being, the strengthening of Islamic identity through the concept of Tawhid, the culture of knowledge, and aspects of morality and social solidarity (‘asabiyyah). The author also relates the decline of Islamic civilization with the corruption in these foundations such as epistemological confusion, the loss of knowledge culture and social solidarity, the loss of adab or morality and the despotic nature of Muslim leadership
Dewesternisasi Ilmu
Banyak cabaran telah muncul di tengah-tengah kekeliruan manusia di sepanjang sejarah, tetapi barangkali tidak ada yang lebih serius dan lebih merosak ke atas manusia daripada cabaran yang dibawa peradaban Barat hari ini. Saya berani mengatakan cabaran terbesar yang muncul secara diam-diam pada zaman kita adalah cabaran ilmu, sesungguhnya bukan sebagai lawan kejahilan, tetapi ilmu yang difahami dan disebarkan ke seluruh dunia oleh peradaban Barathakikat ilmu telah menjadi bermasalah kerana ia telah kehilangan tujuan hakikinya akibat daripada pemahaman yang tidak adil. Ilmu yang seharusnya menciptakan keadilan dan perdamaian, justeru membawa kekacauan dalam kehidupan manusiailmu yang untuk pertama kalinya dalam sejarah itu telah membawa kekacauan kepada tiga kerajaan alam: haiwan,tanaman dan bahan galian.(copied from articles)
Revitalisasi Tauhid, Menghadang Pluralisme Agama
Judul Buku : Islam dan Pluralisme Agama: Memperkukuh Tawhid di Zaman Kekeliruan Penulis : Khalif Muammar | Penerbit : Center for Advanced Studies on Islam, Science and Civilization (CASIS), Universiti Teknologi Malaysia | Tahun : 2013 | Jumlah Hal : 198 ha
Secularisation of ethics and contemporary moral crisis
Secularisation of ethics is one of the dimensions of secularism that gives a direct impact on man’s way of life. Secularism as a philosophical program that began hundreds of years ago in Europe provided a materialistic and hedonistic parameter to measure human development and happiness. This study highlights the effects of modern moral philosophy, in particular Kantianism, utilitarianism, and emotivism, upon contemporary moral crises. It refuted the claim of the proponents of the secularisation of ethics that religion, particularly the belief in God, is not essential in morality. The failure of modern Western ethics in providing a universal and effective ethical theory has led to the marginalisation of ethics in all aspects of life. The secularisation of ethics which brings about deconsecration of values has negated God’s authority and affirmed man’s autonomy to decide on moral values, resulting in the dissolution of absolute moral standards and universal moral values. This research, therefore, reiterates the central role of Divine ethics and specifically Islamic ethics in providing universal and absolute moral obligations which has the capacity to save mankind from the perils of ethical relativism and moral bankruptcy
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
