102,670 research outputs found
Geant description of the aluminum shielding of the vertex detectors
LHCb 2000-019, VELO Internal Note Geant description of the aluminum shielding of the vertex detectors T. J. Ketel 2000 019 The geometry of an aluminum box around the silicon vertex detectors is described using GEANT volume shapes. The effect of multiple scattering in the aluminum is investigated for different shapes in the beam region
ANALISIS TERJADINYA GAGAL PEMBAKARAN PADA KETEL UAP DI KM.NGGAPULU
ABSTRAK
Mochamad Syaefudin, NIT: 561911217228 T, 2023 “Analisis Terjadinya Gagal
Pembakaran pada Ketel Uap di KM.Nggapulu”, Program Diploma IV,
Program Studi Teknika, Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang,
Pembimbing I: H.Amad Narto ,MPd.,Mar.E. dan Pembimbing II: Andi
Prasetiawan, S.ST., M.M
Tersedianya uap panas adalah hal yang penting bagi kelancaran
pengoperasian pesawat-pesawat yang membutuhkan uap panas, kegiatan
operasional kapal dapat terhambat jika produksi uap panas tidak tercukupi karena
terjadi masalah, disebabkan kurangnya perawatan atau sebab lain sehingga tidak
lancarnya pembakaran pada ketel uap. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk
mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi tidak menyalanya pembakaran
pada ketel uap di Km.Nggapulu, Untuk mengetahui dampak dari tidak
menyalanya pembakaran pada ketel uap di KM.Nggapulu, Untuk mengetahui
upaya yang dilakukan apabila ketel uap di KM.Nggapulu terjadi gagal
pembakaran.
Metode penelitian yang digunakan pada skripsi ini adalah kualitatif. Sumber
data yang diambil dari data primer dan sekunder. Observasi, wawancara dan
dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan sehingga
didapatkan teknik keabsahan data
Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukan dapat disimpulkan
bahwa penyebab tidak menyalanya pembakaran adalah pelakasanaan PMS yang
tidak teratur, kotornya komponen-komponn Main burner (automizer, elektroda,
solenoid valve), kondisi pipa gas buang buntu akibat jelaga, komposisi udara pada
furnance terlalu banyak akibat kebuntuan pada pipa gas buang. Kualitas bahan
bakar kurang baik, dan pelaksanaan pembersihan tidak teratur Dampak apabila
ketel uap mengalami kegagalan pembakaran adalah kesulitan dalam
mengoperasikan yagng pengoperasiannya membutuhkan uap panas, kebutuhan
uap panas untuk akomodasi penumpang atau abk kapal tidak terpenuhi, dan
apabila kapal menggunakan bahan bakar jenis MFO, maka bahan bakar MFO tidk
dapat diturunkan viskositasnya, karena uap panas yang digunakan tidak tercukupi.
Upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan pengecekkan dan perawatan pada
automizer, melakukan pengecekkan dan perawatan main burner (elektroda dan
nozzle), membersihkan heater bahan bakar, mengganti solenoid valve,
menurunkan viskositas bahan bakar, dan melakukan pembersihan pada saluran
gas buang ketel uap
ANALISIS KEBOCORAN PIPA PEMBENTUKAN UAP KETEL BANTU DI MV. KT 05
ABSTRAKSI
Prakasa, Muhammad Yan Hamanda, 541711206423 T, 2022, “Analisis Kebocoran
Pipa Pembentukan Uap Ketel Bantu di MV.KT 05”, Skripsi Program Studi Teknika,
Diploma IV, Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, Pembimbing Materi I: Abdi
Seno, M.Si, M.Mar.e., Pembimbing Metodologi Penelitian dan Penulisan II: Darul
Prayogo, M.Pd.
Auxiliary boiler (ketel bantu) merupakan sebuah bejana yang tidak terbuka
dan mampu memproduksi uap lebih dari tekanan 1 atmosfer, dengan melakukan
metode memanaskan air yang terdapat dalam ketel bersama gas panas dari
pembakaran bahan bakar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor
yang menyebabkan kebocoran pada pipa pembentukan uap ketel bantu, dampak
yang ditimbulkan serta upaya yang dilakukan terkait dengan faktor penyebab yang
disebutkan sehingga ketel uap bantu dapat bekerja optimal.
Penelitian ini dilakukan selama penulis melaksanakan praktek laut diatas
kapal MV. KT 05 selama kurang lebih dua belas bulan. Metode penelitian yang
digunakan penulis adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisa data Fishbone
dan Analisis SWOT. Penulis juga mengumpulkan data berdasarkan hasil observasi,
wawancara dan studi pustaka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab kebocoran pipa
pembentukan uap ketel bantu adalah Tekanan uap berlebih, kurangnya intensitas
blow down, Kualitas air tidak sesuai, kualitas umur pada pipa, crew yang kurang
memperhatikan pelaksanaan perawatan, pelaksanaan perawatan yang tidak sesuai
dengan manual book. Dampak yang ditimbulkan terkait dengan faktor-faktor
penyebabnya adalah memuainya material pipa pembentukan uap, kualitas air
menjadi tidak sesuai yang mengakibatkan terjadinya korosi pada bagian dalam
dari pipa pembentukan uap, memicu adanya sifat korosif pada air yang
mengakibatkan pipa dapat terkorosi, menipisnya kualitas bahan pada pipa
pembentukan uap, rusaknya bagian-bagian pada ketel uap terutama pada pipa
pembentukan uap, terjadinya kerusakan serta ketidaksesuaian ph pada air
pengisian ketel. Upaya yang dilakukan terkait dengan faktor-faktor penyebabnya
adalah membuka semua aliran pemakaian steam pada permesinan serta tanki-tanki
yang membutuhkan steam, melakukan perbaikan dumping valve dan
membersihkan kondensor, melakukan blow down, melakukan pembersihan kerak
pada ketel, menambal/ mengelas pipa yang berlubang, pemberian chemical pada
ketel dan mengecek kadar Ph pada air pengisian ketel, mematuhi sistem
pelaksanaan perawatan berdasarkan jadwal PM
TDS Sebagai Indikator Solenoid Valve Untuk Simulator Instrumen Pengolah Air Ketel Berbasis Arduino
Salah satu faktor yang mempengaruhi umur pakai ketel uap adalah kualitas air umpannya. Air ketel harus diolah sedemikian rupa sehingga memiliki syarat untuk umpan ketel. Jumlah zat padat terlarut, total dissolve solids (TDS) merupakan bagian dari parameter fisika air. Besarnya jumlah padatan terlarut dalam air ini dapat diukur dengan TDS meter. Persyaratan ini diperlukan untuk mencegah terjadinya endapan yang membentuk kerak, korosi, pembentukan deposit, dan kontaminasi uap. Air baku dilewatkan ke kolom-kolom pengolah air. Output kolom terdiri dua katup (valvesolenoid) yang bekerja membuang air apabila nilai TDS tertentu belum tercapai, dan mengumpankan ke kolom pengolah berikutnya apabila nilai TDS tertentu sudah dipenuhi. Nilai TDS ini sebagai indikator bekerjanya katup. Membuka dan menutupnya katup yang berada di setiap kolom pengolah air ini dikendalikan oleh arduino. Pada ketel bertekanan 2351-2600 psig standart nilai padatan yang terlarut dalam air sebesar 25 ppm. Hasil penelitian menunjukkan Katup A akan terbuka jika nilai TDS ? 25 ppm dan katup B terbuka jika nilai TDS >25 ppm.
Pengaruh Biochar, Abu Ketel dan Pupuk Kandang Sapi Terhadap Kadar C-organik dan Nitrogen Tanah Berpasir serta Pertumbuhan Awal Tanaman Tebu(Saccharum officinarum L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi biochar, abu ketel, pupuk kandang dan kombinasinya terhadap kadar C-organik, nitrogen, bahan organik dan nisbah C/N tanah berpasir serta pertumbuhan awal tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) di Asembagus, Situbondo yang dilaksanakan di lapang KP. Asembagus (Balittas), Situbondo pada bulan Januari sampai dengan Juli 2013. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan satu faktor yakni bahan organik. Perlakuan yang diberikan adalah tanpa bahan organik sebagai kontrol, biochar 10 t/ha, abu ketel 10 t/ha, pupuk kandang sapi 10 t/ha, biochar 5 t/ha + pupuk kandang sapi 5 t/ha dan abu ketel 5 t/ha + pupuk kandang sapi 5 t/ha. Perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Pengamatan dilakukan hingga 16 minggu setelah tanam. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan pupuk kandang sapi 10 t/ha memberikan pengaruh nyata terhadap kadar C-organik, nitrogen, bahan organik tanah berpasir. Nisbah C/N tanah terendah terdapat pada tanah kontrol. Namun aplikasi perlakuan mampu menurunkan nisbah C/N tanah awal yang termasuk kriteria tinggi. Perlakuan abu ketel 10 t/ha dan kombinasi biochar 5 t/ha + pupuk kandang sapi 5 t/ha berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan tanaman tebu. Hingga 16 minggu setelah tanam, aplikasi pupuk kandang sapi lebih efektif untuk meningkatkan kadar C-organik, N-total dan bahan organik tanah berpasir dibandingkan dengan aplikasi biochar dan abu ketel. Aplikasi pupuk kandang sapi 10 t/ha pada tanah berpasir mampu meningkatkan kadar Corganik dan bahan organik tanah sebesar 57,44 % dan kadar N-total sebesar 15,9 %. Aplikasi biochar pada tanah berpasir memiliki nisbah C/N tanah lebih tinggi dibandingkan dengan aplikasi abu ketel dan pupuk kandang sapi. Aplikasi abu ketel 10 t/ha dan kombinasi biochar 5 t/ha + pupuk kandang sapi 5 t/ha mampu meningkatkan jumlah anakan per tanaman tebu sebesar 10,53 % jika dibandingkan dengan kontrol
ANALISIS KURANG OPTIMALNYA PERAWATAN AIR PENGISIAN KETEL UAP DI MV. ANDHIKA KANISHKA
ABSTRAKSI
Bonanta Novalianto. 2023. NIT : 551811236952 T, “Analisis Kurang
Optimalnya Perawatan Air Pengisian Ketel Uap Di MV. ANDHIKA
KANISHKA”, Skripsi. Program Diploma IV, Program Studi Teknika,
Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, Pembimbing I : Dr. Agus Tjahjono,
M.M, M.Mar. E, Pembimbing II : Yustina Sapan,S.ST,MM
Ketel uap adalah bejana tertutup yang dapat menghasilkan uap panas dengan
tekanan lebih besar dari satu atmosfer, dengan jalan memanaskan air yang berada
di dalam tabung tertutup tersebut dengan media gas panas hasil dari pembakaran
campuran bahan bakar dan udara pada saat kapal sedang dalam pelayaran
(voyage) maupun pada saat kapal sedang berlabuh. Penelitian ini di ambil karena
adanya saat dilakukan pengujian air ketel, didapat hasil bahwa kadar alkalinitas,
pH yang terkandung di dalam air berada di atas batas normal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: apa saja faktor penyebab, dampak apa
saja yang terjadi serta upaya apa saja yang dilakukan untuk mengatasi
permasalahan kurang optimalnya kualitas air pengisian pada ketel uap. Metode
pengumpulan data yang dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan studi
pustaka. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan
menggunakan teknik analisis data SWOT.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyebab kurang optimalnya air
pengisian ketel uap adalah adanya kebocoran pipa evaporator pada fresh water
generator, ketidaksesuaian pelaksanaan PMS dengan instruction manual book,.
Dampaknya kualitas pada air pengisian ketel uap mengalami penurunan
dikarenakan air laut ikut masuk ke dalam air pengisian ketel uap . Upaya yang
dilakukan adalah melakukan perbaikan pada pipa evaporator,melakukan uji tes
kualitas air sesuai dengan PMS,dan memberikan chemical dosing sesuai dengan
prosedur
Pengaruh Blotong, Abu Ketel, Kompos Terhadap Ketersediaan Dan Serapan P Serta Pertumbuhan Tebu (Saccharum Officinarum L.) Di Lahan Tebu Karangduren Pabrik Gula Kebon Agung, Malang
Permasalahan yang terjadi di lahan tebu Karangduren adalah rendahnyaketersediaan P di dalam tanah serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan tebu. Hal tersebut dapat mengakibatkan rendahnya produksi tebu. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1.Mengetahui pengaruh pemberian blotong, abu ketel dan kompos terhadap pH, kandungan C-organik dan P-tersedia dalam tanah, 2.Mempelajari pengaruh pemberian blotong, abu ketel dan kompos terhadap pertumbuhan, berat kering tanaman dan serapan-P tebu, 3.Mencari hubungan antara C-organik, pH, P-Tersedia, berat kering, serapan P dan Pertumbuhan Tebu. Penelitian dilaksanakan di lahan PG Kebon Agung yang berada di desa Karangduren Kabupaten Malang pada November 2014 hingga April 2015. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok sederhana dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari Kontrol (P0); perlakuan abu ketel 60 t ha-1 (P1); pada perlakuan kompos 3 t ha-1(P2); perlakuan blotong 60 t ha-1 (P3); perlakuan abu ketel 30 t ha-1 dan blotong 30 t ha-1 (P4); perlakuan abu ketel 15 t ha-1 dan blotong 45 t ha-1 (P5); perlakuan abu ketel 30 t ha-1 dan blotong 30 t ha-1 ditambah pupuk hayati 80 L ha-1 (P6). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian abu ketel, blotong dan kompos dapat memperbaiki sifat kimia tanah dan meningkatkan pertumbuhan tebu hingga 4 BST (Bulan Setelah Tanam). Hasil terbaik dalam memperbaiki sifat kimia tanah dan pertumbuhan tebu secara menyeluruh terjadi pada perlakuan abu ketel60 t ha-1 (P1). Pemberian abu ketel60 t ha-1 mampu meningkatkan pH tanah sebesar 6,12%, meningkatkan kandungan C-Organik sebesar 46,03% dan kandungan P-tersedia sebesar 328,39 % dibandingkan keadaan tanah awal sebelum diberi perlakuan.Pemberian abu ketel60 t ha-1 (P1) juga mampu meningkatkan pertumbuhan tebu seperti tinggi tebu, panjang batang, jumlah batang, jumlah daun, jumlah klorofil, berat kering tebu dan serapan P tebu.Terdapat pengaruh positif antara kandungan C-Organik dan P-Tersedia dalam tanah terhadap tinggi batang, jumlah daun dan jumlah batang. Kandungan C-Organik, pH dan P-Tersedia berpengaruh terhadap serapan P dan hasil bobot kering teb
RANCANG BANGUN MODEL KETEL SEBAGAI PENUNJANG PEMBANGKIT KALOR PADA SISTEM ORGANIC RANKINE CYCLE (ORC)
Penggunaan sinar matahari sebagai sumber energi panas (khususnya di indonesia) memiliki banyak keterbatasan. Keterbatasan tersebut antara lain, energi panas dari matahari hanya tersedia di siang hari dan tidak optimal saat mendung dan hujan. Oleh karena itu diperukan pembangkit kalor sebagai penunjang, yang dapat menaggulangi kelemahan sistem yang ada. Ketel merupakan salah satu Solusi alternatif sebagai penunjang operasi sistem ORC saat cuaca mendung, hujan atau saat malam hari. Ketel berfungsi sebagai pemanas air pengganti energi panas matahari. Suplai air panas ke epavorator yang semula dihasilkan dari solar kolektor diganti dengan air panas yang berasal dari ketel. Sumber panas untuk ketel berasal burner biomassa. Pengujian ketel dilakukan dengan memvariasikan tiga debit yang berbeda yaitu: 7 liter/menit, 24 liter/menit dan 43 liter/menit. Hasil pengujian dengan debit 7 liter/menit, 24 liter/menit dan 43 liter/menit menghasilkan ?T rata-rata berturut-turut sebesar 10,4 OC, 0,46 OC dan 0,37OC sedangkan Effisiensi ketel maksimum terjadi pada debit 7 liter/menit, pada yaitu sebesar 0,032%. Dari rancangan yang dihasilkan dan pengjian yang dilakukan ketel mampu berfungsi sebagai pembangkit atau penyuplai panas di sistem ORC untuk menggantikan solar collector ketika sumber panas dari iradiasi matahari tidak diperoleh
Pengaruh Pengolahan Tanah Dan Pemberian Bahan Organik (Blotong Dan Abu Ketel) Terhadap Porositas Tanah Dan Pertumbuhan Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) Pada Ultisols.
Penggunaan mekanisasi pertanian berupa traktor dan alat pengolah tanah akan berdampak terhadap sifat fisik tanah yaitu penurunaan porositas tanah, peningkatan berat isi tanah, penurunan kemampuan tanah menyimpan air dan sulitnya akar tanaman tebu melakukan penetrasi di dalam tanah. Hal tersebut akan berdampak pada petumbuhan tanaman tebu pada fase vegetatif awal sehingga tanaman tidak tumbuh secara optimal. Blotong dan abu ketel merupakan limbah dari pabrik yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik yanag dapat memperbaiki sifat fisik tanah. Tujuan dari penelitian ini yaitu: 1) Mengetahui pengaruh pengolahan tanah dan pemberian bahan organik (blotong dan abu ketel) terhadap porositas tanah. 2) Mengetahui pengaruh pengolahan tanah dan pemberian bahan organik (blotong dan abu ketel) terhadap pertumbuhan tinggi tanaman tebu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September hingga Desember 2013 mengunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas K0 = Kontrol ( Plowing 2 kali + Harrowing 1 kali + Furrowing 1 kali), K1 = (Plowing 2 kali + Harrowing 1 kali + Furrowing 1 kali blotong 40 t ha-1 dan abu ketel 40 t ha-1 disebar), K2 = (Plowing 1 kali + Harrowing 1 kali + Furrowing 1 kali blotong 40 t ha-1 dan abu ketel 40 t ha-1 disebar), K3 = (Subsoiling 2 kali + Harrowing 1 kali + Furrowing 1 kali blotong 40 t ha-1 dan abu ketel 40 t ha-1 disebar), K4 = (Subsoiling 2 kali + Harrowing 1 kali + Furrowing 1 kali blotong 40 t ha-1 dan abu ketel 40 t ha-1 dimasukkan dalam larikan). Pengamatan tersebut dilakukan pada pengamatan 0, 3, 6, dan 9 MST. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan K4 = (Subsoiling 2 kali + Harrowing 1 kali + Furrowing 1 kali blotong 40 t ha-1 dan abu ketel 40 t ha-1 dimasukkan dalam larikan) dapat memperbaiki sifat fisik tanah yaitu dapat meningkatkan porositas tanah dibandingkan perlakuan kontrol sebesar 50,2 %. Perlakuan tersebut juga dapat meningkatkan tinggi tanaman secara berturut-turut yaitu 10,13 cm; 17,35 cm; dan 34,59 cm
Pengaruh Pemberian Abu Ketel, Blotong, dan Kompos Terhadap Struktur Tanah dan Pertumbuhan Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) Pada Inceptisol di Pabrik Gula Kebon Agung
Penurunan hasil gula di PG Kebon Agung disebabkan kurang optimalnya pertanaman tebu pada lahan kering sehingga menurunkan produktivitas dan rendemen gula. Hasil rata-rata produksi dan rendemen PG Kebon Agung pada tahun 2013/2014 mencapai 823,27 ku/ha dengan rendemen 7,91 %. Namun, terjadi penurunan hasil pada musim giling 2014/2015 sekitar 757,45 ku/ha dan rendemen 7,07 %. Keberhasilan produksi penanaman tebu di lahan kering sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan tanaman pada awal masa pertumbuhannya. Struktur tanah merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap pola pertumbuhan tanaman. Struktur tanah yang baik untuk pertanaman tebu adalah tanah yang gembur sehingga aerasi udara dan perakaran berkembang sempurna, oleh karena itu upaya pemecahan bongkahan tanah atau agregat tanah menjadi partikel-partikel kecil akan memudahkan akar tanaman tumbuh dan berkembang cepat, namun absorpsi air dan hara bisa terbatas karena kurangnya kontak antara akar dan padatan tanah. Di sisi lain limbah PG Kebon Agung berupa abu ketel, blotong dan kompos belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal limbah tersebut mengandung berbagai unsur hara yang mampu mendukung pertumbuhan tanaman tebu. Oleh karena itu, pemberian abu ketel, blotong, dan kompos perlu dilakukan agar sifat fisik tanah tidak rusak, pertumbuhan dan produksi tanaman dapat optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian kombinasi abu ketel, blotong dan kompos terhadap struktur tanah, pertumbuhan dan produksi tanaman tebu varietas PSJK 922. Penelitian dilaksanakan di Perkebunan PG Kebon Agung di Malang Jawa Timur. Perkebunan tersebut terletak di Desa Karangduren, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang dan di Laboratorium Fisika dan Kimia Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya pada bulan Oktober 2014 sampai dengan Juni 2015. Variabel pengamatan meliputi berat isi, berat jenis partikel, porositas total, kemantapan agregat, c-organik, KTK, perakaran, tinggi tanaman, jumlah tunas/anakan tebu, rendemen, dan produksi. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 ulangan. Terdapat 7 perlakuan, yaitu P0 (kontrol), P1 (abu ketel 60 t ha-1), P2 (kompos 3 t ha-1), P3 (blotong 60 t ha-1), P4 (abu ketel 30 t ha-1+ blotong 30 t ha-1), P5 (abu ketel 15 t ha-1+ blotong 45 t ha-1), dan P6 (abu ketel 30 t ha-1+ blotong 30 t ha-1+ pupuk hayati 80 L ha-1). Data dianalisis dengan analisis ragam dan apabila uji F 5% nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan 5%. Uji korelasi dilakukan untuk mengetahui hubungan antar variabel pengamatan. Aplikasi pemberian kombinasi abu ketel, blotong dan kompos terhadap struktur tanah mampu memberikan pengaruh terhadap nilai awal kemantapan agregat sebelum aplikasi dengan kelas sangat stabil menjadi sangat stabil sekali pada semua perlakuan, meskipun tidak secara nyata pada pengamatan 5 BSP. Nilai tertinggi kemantapan agregat terdapat pada abu ketel 60 t ha-1 (P1) yaitu 3,56 mm. Perlakuan abu ketel 60 t ha-1 (P1) hanya mampu meningkatkan tinggi tanaman tertinggi hingga pengamatan 5 BSP yaitu 293,9 cm. Parameter jumlah tunas tebu tidak dipengaruhi terhadap pemberian kombinasi abu ketel, blotong dan kompos hingga pengamatan 5 BSP. Nilai produksi tebu terbaik hingga 7 BSP ditunjukkan oleh perlakuan abu ketel 60 t ha-1 (P1) dengan nilai 1985 Ku/Ha dan perlakuan abu ketel 30 t ha-1+ blotong 30 t ha-1 (P4) memiliki nilai rendemen tinggi dengan perlakuan lain yaitu 11,53 % hingga 5 BSP
- …
