1,720,969 research outputs found
ANALISIS PSIKOLOGI KEPRIBADIAN HUMANISTIK NOVEL RIPTA KARYA ANITA KASTUBI
Novel Ripta karya Anita Kastubi menceritakan perjalanan hidup Ripta yang
mengaku sebagai pejuang, tetapi sebenarnya bohong. Memperhatikan isi serta
permasalahan yang terkandung dalam novel Ripta karya Anita Kastubi maka penulis
tertarik untuk melakukan analisis terhadap novel tersebut. Untuk mempermudah
proses penelitian, penulis menetapkan permasalahan yang akan dibahas adalah: (1)
unsur-unsur struktur novel Ripta karya Anita Kastubi meliputi judul, tema, tokoh dan
perwatakan, konflik, serta latar. (2) psikologi kepribadian humanistik para tokoh
dalam novel Ripta karya Anita Kastubi, meliputi kebutuhan dasar fisiologis
(physiological need), kebutuhan akan rasa aman (need for self security), kebutuhan
akan rasa cinta dan memiliki (need for love and belongingness), kebutuhan akan rasa
harga diri (need for self esteem), serta kebutuhan akan aktulisasi diri (need for self
actualization). Tujuan analisis novel Ripta yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
Tujuan umum; (1) meningkatkan dan mengembangkan kajian ilmu pengetahuan
khususnya teori-teori sastra; (2) menambah wawasan, kreativitas dalam kegiatan
penelitian khususnya bagi penulis. Tujuan khusus; (1) mendeskripsikan unsur-unsur
struktur dan keterjalinan antarunsur tersebut dalam novel Ripta karya Anita Kastubi
meliputi judul, tema, tokoh dan perwatakan, konflik, serta latar; (2) mendeskripsikan
aspek psikologi kepribadian humanistik terdiri atas lima kebutuhan bertingkat para
tokoh yang terdapat di dalam novel Ripta karya Anita Kastubi yakni kebutuhan dasar
fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan cinta dan rasa memiliki, kebutuhan rasa
harga diri, serta kebutuhan akan aktualisasi diri
ANALISIS PSIKOLOGI KEPRIBADIAN HUMANISTIK NOVEL RIPTA KARYA ANITA KASTUBI
Novel Ripta karya Anita Kastubi dianalisis dengan menggunakan dua
pendekatan yaitu pendekatan struktural dan pendekatan pragmatik. Analisis struktural
yang dibahas dalam novel Ripta karya Anita Kastubi meliputi judul, tema, penokohan
dan perwatakan, konflik, serta latar. Analisis pragmatik dititikberatkan pada psikologi
kepribadian humanistik meliputi kebutuhan dasar fisiologis, kebutuhan rasa aman,
kebutuhan cinta dan rasa memiliki, kebutuhan rasa harga diri, kebutuhan aktualisasi
diri.
Berdasarkan analisis struktural dapat disimpulkan bahwa judul novel Ripta
karya Anita Kastubi tokoh utama yaitu Ripta. Tema mayor dalam novel Ripta adalah
keberhasilan perjuangan seseorang dalam membangun dan menjaga kehormatannya
di mata keluarga dan masyarakat. Tema minor adalah: (1) kepercayaan dan kesetiaan
seorang istri kepada suaminya dapat menjaga keutuhan rumah tangga; dan (2)
kekaguman seorang anak kepada orangtuanya.
Tokoh dan perwatakan digambarkan melalui perbuatan dan pikiran para
tokohnya. Tokoh utama dalam novel Ripta karya Anita Kastubi adalah Suripto
(Ripta). Tema cerita digerakkan menjadi cerita yang utuh oleh tokoh utama yang
bernama Ripta berwatak bulat (round character) mengalami perubahan watak selama
cerita tersebut berlangsung. Tokoh-tokoh tambahannya adalah Lasmini, Hesti, Lik
Pardjo, Pak Cahyo, dan Pak Jendral. Tokoh Lasmini dan Hesti digambarkan dalam
cerita berwatak bulat. Tokoh Lik Pardjo bersifat baik hati dan suka menolong. Lik
Pardjo berwatak datar karena sejak awal penceritaan hingga akhir tidak mengalami
perubahan watak. Tokoh Pak Cahyo bersifat serakah. Pak Cahyo berwatak datar
karena sejak awal hingga akhir cerita tidak mengalami perubahan watak. Tokoh Pak
Jendral bersifat setia kawan. Watak Pak Jendral adalah data
ANALISIS PSIKOLOGI KEPRIBADIAN HUMANISTIK NOVEL RIPTA KARYA ANITA KASTUBI
Novel Ripta karya Anita Kastubi menceritakan perjalanan hidup Ripta yang
mengaku sebagai pejuang, tetapi sebenarnya bohong. Memperhatikan isi serta
permasalahan yang terkandung dalam novel Ripta karya Anita Kastubi maka penulis
tertarik untuk melakukan analisis terhadap novel tersebut. Untuk mempermudah
proses penelitian, penulis menetapkan permasalahan yang akan dibahas adalah: (1)
unsur-unsur struktur novel Ripta karya Anita Kastubi meliputi judul, tema, tokoh dan
perwatakan, konflik, serta latar. (2) psikologi kepribadian humanistik para tokoh
dalam novel Ripta karya Anita Kastubi, meliputi kebutuhan dasar fisiologis
(physiological need), kebutuhan akan rasa aman (need for self security), kebutuhan
akan rasa cinta dan memiliki (need for love and belongingness), kebutuhan akan rasa
harga diri (need for self esteem), serta kebutuhan akan aktulisasi diri (need for self
actualization). Tujuan analisis novel Ripta yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
Tujuan umum; (1) meningkatkan dan mengembangkan kajian ilmu pengetahuan
khususnya teori-teori sastra; (2) menambah wawasan, kreativitas dalam kegiatan
penelitian khususnya bagi penulis. Tujuan khusus; (1) mendeskripsikan unsur-unsur
struktur dan keterjalinan antarunsur tersebut dalam novel Ripta karya Anita Kastubi
meliputi judul, tema, tokoh dan perwatakan, konflik, serta latar; (2) mendeskripsikan
aspek psikologi kepribadian humanistik terdiri atas lima kebutuhan bertingkat para
tokoh yang terdapat di dalam novel Ripta karya Anita Kastubi yakni kebutuhan dasar
fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan cinta dan rasa memiliki, kebutuhan rasa
harga diri, serta kebutuhan akan aktualisasi diri. Analisis novel Ripta karya Anita Kastubi menggunakan metode kualitatif dengan
langkah-langkah sebagai berikut. (1) Memperoleh data dengan cara membaca dan
memahami novel, serta mendeskripsikan data-data yang ada; (2) Mengolah data
dengan mengklarifikasikan data-data yang terkait dengan unsur-unsur struktural dan
pragmatik; (3) Menganalisis dengan menggunakan pendekatan struktural dan
pragmatik.
Berdasarkan analisis struktural dapat disimpulkan bahwa judul novel Ripta karya
Anita Kastubi tokoh utama yaitu Ripta. Tema mayor dalam novel Ripta adalah
keberhasilan perjuangan seseorang dalam membangun dan menjaga kehormatannya
di mata keluarga dan masyarakat. Tema minor adalah: (1) kepercayaan dan kesetiaan
seorang istri kepada suaminya dapat menjaga keutuhan rumah tangga; dan (2)
kekaguman seorang anak kepada orangtuanya. Tokoh utama dalam novel Ripta karya
Anita Kastubi adalah Suripto (Ripta). Tema cerita digerakkan menjadi cerita yang
utuh oleh tokoh utama yang bernama Ripta berwatak bulat (round character)
mengalami perubahan watak selama cerita tersebut berlangsung. Tokoh-tokoh
tambahannya adalah Lasmini, Hesti, Lik Pardjo, Pak Cahyo, dan Pak Jendral. Tokoh
Lasmini dan Hesti digambarkan dalam cerita berwatak bulat. Tokoh Lik Pardjo
bersifat baik hati dan suka menolong. Lik Pardjo berwatak datar. Tokoh Pak Cahyo
bersifat serakah. Pak Cahyo berwatak datar. Tokoh Pak Jendral bersifat setia kawan.
Watak Pak Jendral adalah datar.
Konflik dalam novel Ripta karya Anita Kastubi meliputi konflik fisik dan
konflik batin. Dalam novel ini terdapat empat konflik fisik yaitu antara Ripta dengan
Lasmini dan Mbakyu Utomo, Ripta dengan Lasmini, Ripta dengan petugas kelurahan,
dan tentara Indonesia dengan tentara Belanda. Konflik batin dialami oleh ide Ripta
dengan ide Pak Cahyo dan Ripta dengan kata hatinya.. Latar pada novel Ripta karya
Anita Kastubi meliputi latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat
meliputi tempat terjadinya peristiwa yaitu kamar, pendhapa, dan hutan jati. Latar
waktu dalam novel Ripta yaitu pagi hari, siang hari, sore hari, dan malam hari. Latar sosial digambarkan dalam status sosial tokoh utama yaitu Ripta yang merupakan
orang yang berpengaruh di desa Ngadirekso, hal tersebut yang membedakan status
sosial Ripta dengan masyarakat desa Ngadirekso pada umumnya. Sistem sosial
budaya yang digunakan dalam novel Ripta yaitu sistem kehidupan sosial masyarakat
Jawa. Keberadaan latar-latar tersebut memberikan gambaran kepada pembaca,
sehingga membuat seolah-olah pembaca berada di dalamnya.
Analisis pragmatik lebih ditekankan pada aspek psikologi humanistik novel
Ripta karya Anita Kastubi yang meliputi kebutuhan dasar fisiologis pada diri Ripta
yang membutuhkan makanan, minuman, dan seks; kebutuhan rasa aman dialami oleh
Ripta saat bertemu tentara Belanda di tengah perjalanan saat menjalankan tugas
pertamanya; kebutuhan rasa cinta dan memiliki dialami oleh Ripta terhadap Hesti dan
Lasmini; kebutuhan rasa harga diri dialami Ripta pada waktu masih muda yaitu pada
saat seluruh warga desa mengenalnya sebagai seorang pejuang dan memuji
keberaniannya; kebutuhan aktualisasi diri dialami Ripta ketika bertekad untuk
mewujudkan cita-citanya sebagai pahlawan.
Aspek-aspek psikologi kepribadian humanistik novel Ripta karya Anita
Kastubi pada diri tokoh tambahan yaitu: (1) Kebutuhan dasar fisiologis terdapat pada
tokoh Lasmini dan Hesti; (2) Kebutuhan rasa aman terdapat pada Lasmini, Hesti, Lik
Pardjo, dan Pak Cahyo; (3) Kebutuhan rasa cinta dan rasa memiliki terdapat pada
tokoh tambahan Lasmini, Hesti, Lik Pardjo, serta Pak Jendral; (4) Kebutuhan rasa
harga diri terdapat pada tokoh Lasmini, Hesti, Lik Pardjo, serta Pak Jendral.
Kebutuhan rasa harga diri pada tokoh Pak Cahyo tidak terpenuhi dengan baik; (5)
Kebutuhan aktualisasi diri terdapat pada tokoh tambahan Lasmini, Hesti, dan Pak
Jendral
PENGARUH VARIASI PENGGUNAAN LIMBAH STYROFOAM DAN FLY-ASH TERHADAP KUAT LENTUR BETON RINGAN STRUKTURAL
Rochmat Kastubi. PENGARUH VARIASI PENGGUNAAN LIMBAH
STYROFOAM DAN FLY-ASH TERHADAP KUAT LENTUR BETON
RINGAN STRUKTURAL. Skripsi. 2015. Surakarta : Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.
Tujuan penelitian ini adalah : Meninjau kuat lentur (kekuatan beton
untuk menahan gaya vertikal yang arahnya tegak lurus dengan sumbu beton)
beton dengan bahan tambah fly-ash dan limbah styrofoam, untuk mendapatkan
kuat lentur yang sesuai dengan standar beton ringan struktural.
Penelitian ini disebut penelitian eksperimen. Adapun sampel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah beton berbentuk balok (panjang 600mm,
lebar 150mm, dan tinggi 150mm) sebanyak 39 buah benda uji dengan mutu beton
25 MPa. Identifikasi kuat lentur dan pengujiannya dilakukan setelah perawatan 28
hari. Komposisi penambahan agregat fly-ash yaitu pada persentase 0%, 20%, 30%
dan 40%. Sedangkan komposisi penggantian limbah Styrofoam yaitu pada
persentase 0%, 20%, 30% dan 40%.
Hasil penelitian kuat lentur optimal yaitu sebesar 2,847 MPa, didapatkan
pada persentase penggantian 30% fly-ash dan 20% limbah Styrofoam. Dengan
demikian, berbagai persentase bahan tambah fly-ash dan limbah Styrofoam yang
digunakan dalam penelitian ini tidak dapat digunakan untuk menghasilkan beton
ringan struktural. Untuk itu perlu dicoba dengan bahan tambah lain. Ini
menunjukkan bahwa beton dengan bahan tambah fly-ash dan limbah Styrofoam,
dalam campuran beton didapatkan hasil kuat lentur yang belum sesuai dengan
beton struktural.
Kata Kunci :limbah styrofoam, fly-ash, beton ringan struktural
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
