34 research outputs found

    Kacang Tanah

    No full text
    vi.315 hal.;ill.;24 c

    Khazanah Ilmu-Ilmu Keislaman

    No full text

    Prospek Pengembangan Kacang Tanah di Lahan Kering Masam dan Lahan Pasang Surut

    Full text link
    Lahan kering masam Ultisol tersebar luas di hampir 25% dari total daratan Indonesia. Diperkirakan lahan kering masam di Sumatera dan Kalimantan mencapai 16,8 juta ha yang dapat digunakan untuk mengembangkan areal pertanian. Lahan pasang surut potensial seluas 9,34 juta ha, hingga kini baru sekitar 3,6 juta ha yang telah dimanfaatkan untuk pemukiman transmigrasi dan swadaya petani. Kontribusi lahan tersebut terhadap produksi kacang tanah nasional saat ini kurang dari 10%, padahal kekurangan produksi nasional rata-rata 200.000 t/tahun dan USAha tani kacang tanah pada lahan tersebut paling menguntungkan. Pengembangan kacang tanah pada lahan kering masam berhadapan dengan kemasaman tanah tinggi, pH rata-rata <4,50, kejenuhan Al tinggi, miskin kandungan hara makro terutama P, K, Ca, dan Mg, dan kandungan bahan organik rendah, sedangkan untuk lahan pasang surut selain hal tersebut juga masalah pengendalian air. Lahan pasang surut umumnya memiliki kemasaman tanah tinggi (pH rendah), miskin hara yang esensial bagi kacang tanah, yakni P, K, dan Ca, serta unsur Al dan Fe yang bersifat racun bagi tanaman. Karenanya, masalah hara dan peluang keracunan Al dan Fe harus diatasi agar sesuai untuk kacang tanah. Terhadap masalah biofisik tersebut diantisipasi dengan teknologi pengendalian pH, Fe, dan Al dengan ameliorasi lahan menggunakan kapur dan pupuk kandang. Penanaman varietas toleran lahan masam, seperti Kelinci dan Tapir akan mengurangi penggunaan kapur. Pada lahan pasang surut untuk masalah luapan air dikendalikan dengan teknologi pengelolaan air makro dan mikro. Untuk mendapatkan hasil kacang tanah sekitar 1,5–2,0 t/ha polong kering, dosis pupuk 45 kg N, 90 kg P 2 O 5 dan 50 kg K 2 O per hektar pada populasi 250.000 tanaman/ha atau jarak tanam 40 cm x 10 cm dan 1 tanaman/rumpun dapat digunakan sebagai patokan. Dengan demikian, pengembangan kacang tanah di lahan kering masam dan lahan pasang surut memiliki harapan yang baik karena: (a) secara alamiah kacang tanah adaptif pada lahan masam, (b) bernilai ekonomis dan memiliki keunggulan komparatif dibanding tanaman pangan lainnya, (c) permintaan kacang tanah dalam negeri sangat besar, dan (d) tersedia teknologi generik seperti: pengelolaan air, pengendalian Al, Fe, dan pH, varietas toleran, dan pengelolaan LATO. Guna mendapatkan hasil yang optimal dalam pengembangan lahan kering masam atau lahan pasang surut, disarankan bahwa teknologi generik yang tersedia disintitesis melalui pengkajian sehingga didapatkan teknik produksi lebih spesifik

    “Talam 1” Varietas Kacang Tanah Unggul Baru Adaptif Lahan Masam dan Toleran Aspergillus Flavus

    No full text
    Galur kacang tanah (Arachys hipogaea L.), J/91283-99-C-90-8 adalah keturunan dari persilangan pasangan induk betina varietas Jerapah dengan induk jantan ICGV 91283, yang dilakukan pada tahun 1999. Seleksi dan penggaluran dilakukan menggunakan metode pedigri. Galur J/91283-99-C-90-8 tergolong ke dalam kacang tanah tipe Spanish (2 biji/polong) dan bijinya berwarna merah muda dengan ukuran biji sedang sesuai dengan preferensi pasar domestik, terutama untuk kacang garing. Dalam pengujian galur J/91283-99-C-90-8 memiliki keunggulan dalam hasil, toleransi terhadap lahan masam dan Aspergilus flavus. serta tahan terhadap penyakit bercak daun. Pada lingkungan yang relatif produktif hasilnya mencapai 2,5 t/ha polong kering lebih tinggi dari hasil varietas pembanding Jerapah (2,30 t/ha polong kering), dan potensinya mencapai 3,2 t/ha polong kering. Kacang tanah galur J/91283-99-C-90-8 disetujui untuk dilepas sebagai varietas unggul baru dengan nama TALAM 1 pada tanggal 13 Juli 2010 Selain itu, galur tersebut menunjukkan toleran terhadap kutu kebul

    Buletin Agronomi Vol. XVII No.2

    No full text
    Stability analyses for yield across environment were conducted for a set ofrice (Oryza sativa L.) varieties, Twelve rice varieties (743,744,637,669,661,672,556,030,733,041,557)were tested in randomized block design with 4 replication at 25 locations in wet season 1980/198 I, Data on grain yield were analyzed with Ebernart and Russel method to evaluate yield varietal stability, The line 743 was the top yielder (45 persent higher than the lowes variety 557). The mean yield among 744, fi37, 669, 689,661,672,556,030,733 and 041 did not differ significantly. The however were higher than the mean overall varieties. Yield stability analyses indicated that the line 030 had a regression coefficient greater than one, and 661 had a regression coefficient significantly less than one. The other lmes had a regression coefficient did not differ significantly than one. However, all the lines had highly signijicant variances due to deviation from the regression, indicating that none ofthe varieties studied studied could be identified as a stable variety
    corecore