1,721,931 research outputs found
Perbaikan Tanah untuk Meningkatkan Efektivitas dan Efisiensi Pemupukan Berimbang dan Produktivitas Lahan Kering Masam
Abstrak. Potensi lahan kering masam tersedia cukup luas untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian, kendala utama tingkat kemasaman yang tinggi, hara makro primer dan sekunder rendah, C-organik rendah, kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa rendah. Kandungan Al dan Fe tinggi, sehingga menghambat ketersediaan hara, dan dapat berkumpul di daerah perakaran serta meracuni tanaman. Tanah masam lahan kering terletak pada kondisi yang berombak sampai bergelombang, sehingga penataan lahan berdasarkan konservasi tanah perlu dilakukan. Perbaikan tanah merupakan tindakan untuk mengurangi pengaruh kemasaman tanah, ketersediaan Al, dan Fe dengan memberikan bahan ameliorant seperti kapur pertanian, dolomit, bahan organik dan biochar. Penataan lahan dapat dilakukan dengan penanaman disesuaikan dengan kemiringan lahan, pembuatan teras, pengaturan saluran pembuangan air, dan perbaikan tanah di daerah perakaran juga perlu dilakukan. Pemupukan berimbang sangat efektif dan efisien dilakukan pada lahan kering masam yang sudah baik, dan kendala kemasaman diminimalis. Pemupukan berimbang dilakukan berdasarkan pada status hara tanah dan kebutuhan hara oleh tanaman. Abstract. The potential for acid upland is enough available to be developed into agricultural land, the main constraints are high acidity, low primary and secondary macro nutrients, low C-organic, cation exchange capacity and low base saturation. Al and Fe content are high, thus inhibiting nutrient availability, and can gather in rooting and poisoning plants. Upland acid soil is in a choppy to undulating condition, so land management based on soil conservation needs to be done. Soil improvement is an action to reduce the effect of soil acidity, availability of Al, and Fe by providing ameliorant materials such as agricultural lime, dolomite, organic matter and biochar. Land use planning can be done by planting in accordance with the slope of the land, making terraces, regulating the drainage system, and repairing the soil in the root zone. Balanced fertilization is very effective and efficient done on acidic upland that is already good, and minimizing acidity constraints. Balanced fertilization is based on soil nutrient status and nutrient requirements of the plant
UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU MELALUI PENDAMPINGANGURU PADA IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING(CTL) PADA SISWA SEKOLAH DASAR
Abstract: Kasno .2017. The low competence of class V teachers in SD Negeri 1 Kebonagung UPTD Pendidikan Kecamatan Tegowanu Grobogan District became the main problem faced by the principal as the control holder in the school. Efforts are made to overcome these problems is by teacher assistance activities in teaching activities by applying the CTL method. The aim is to improve teacher competence especially on applying CTL learning model. The technique is done with the implementation of managerial supervision. This research was conducted in two cycles, To measure the improvement of teacher competence in the leveling done by conducting assessment activities at the end of each cycle. Data analysis is done by comparing the results on the initial conditions, the results of cycle I, the results of cycle II. The results showed that the improvement of the competence of class V teachers can be evidenced by the improvement of all aspects of teacher competence assessment. Ridings on the RPP in the initial condition only get the value of 15, in the first cycle only 17, in the second cycle increased to 26. Student observation results in learning activities in 2 cycles of implementation of learning activities showed significant improvement. Where in the initial condition only get the value of 25, in the first cycle only 40, in the second cycle increased to 72, and on the implementation of learning activities with the application of CTL approach, obtained results that in the initial conditions to get the amount of 40, increased to 50, and improved quite well to 82 in the second cycle. From the above description it can be concluded that the assistance activities conducted by the principal proved effective in improving the competence of class V teachers in teaching at SD Negeri 1 Kebonagung UPTD Pendidikan Kecamatan Tegowanu Grobogan District Keywords: competence, mentoring, CTL Abstrak: Kasno.2017.Rendahnya kompetensi guru kelas V di SD Negeri 1 Kebonagung UPTD Pendidikan Kecamatan Tegowanu Kabupaten Grobogan menjadi pokok permasalahan yang dihadapi oleh kepala sekolah sebagai pemegang kendali di sekolah.Upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan kegiatan pendampingan guru dalam kegiatan mengajar dengan menerapkan metode CTL.Tujuannya adalah untuk meningkatkan kompetensi guru khususnya pada penerapan model pembelajaran CTL.Adapun teknik yang dilakukan adalah dengan pelaksanaan supervisi manajerial.Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, Untuk mengukur peningkatan kompetensi guru dalam mengajat dilakukan dengan melakukan kegiatan penilaian pada setiap akhir siklus.Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil pada kondisi awal, hasil siklus I, hasil siklus II.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Peningkatan kompetensi guru kelas V dapat dibuktikan dengan peningkatan semua aspek-aspek penilaian kompetensi guru. Penilaan terhadap RPP pada kondisi awal hanya mendapatkan nilai 15, pada siklus pertama hanya 17, pada siklus kedua meningkat menjadi 26. Hasil observasi siswa dalam kegiatan pembelajaran dalam 2 siklus pelaksanaan kegiatan pembelajaran menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Di mana pada kondisi awal hanya mendapatkan nilai 25, pada siklus pertama hanya 40, pada siklus kedua meningkat menjadi 72, dan pada aspek pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan penerapan pendekatan CTL, diperoleh hasil bahwa pada kondisi awal mendapatkan jumlah sebesar 40, mengalami peningkatan menjadi 50, dan meningkat cukup baik menjadi 82 pada siklus kedua. Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh kepala sekolah terbukti efektif meningkatkan kompetensi guru kelas V dalam mengajar di SD Negeri1 Kebonagung UPTD Pendidikan Kecamatan Tegowanu Kabupaten Grobogan Kata Kunci :kompetensi, pendampingan, CT
STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN “GUDEG CAKAR BU KASNO MARGOYUDAN” DALAM USAHA MENGHADAPI PERSAINGAN BISNIS KULINER
Media digital dan media konvensional saling melengkapi satu sama lain. Pelaku bisnis kuliner perlu mengingat jargon “The power of social media”, pelaku bisnis kuliner pun sebaiknya memiliki situs web atau portal khusus, akun Instagram, Twitter, dan sosial media lainnya yang dapat digunakan sebagai media untuk menyebarkan dan membagikan informasi positif. Promosi melalui media konvensional pun masih relevan digunakan sebagai media promosi, terutama untuk promosi bisnis offline seperti bisnis kuliner yang dilakukan oleh “Gudeg Cakar Bu Kasno Margoyudan”. Namun hingga tahun 2019 “Gudeg Cakar Bu Kasno Margoyudan” dapat bertahan ditengah persaingan bisnis kuliner meski tidak pernah menggunakan media konvensional atau media sosial sebagai media promosi.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui strategi komunikasi pemasaran yang dilakakan oleh “Gudeg Cakar Bu Kasno Margoyudan” dalam usaha untuk menghadapi persaingan bisnis kuliner. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil wawancara, obsevasi, dan dokumentasi dianalisis berdasarkan elemen-elemen dari strategi komunikasi pemasaran. Strategi komunikasi pada hakikatnya adalah perpaduan antara perencanaan (planning) dan manajemen (management) (Effendy, 2003 h. 301). George R. Terry (1977, h. 34-36) membagi empat fungsi dasar manajemen, yaitu Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling yang disingkat POAC. Komunikasi pemasaran diimplementasikan dengan 4P yang terdiri dari product, price, place, dan promotion yang dipadukan untuk menghasilkan respon yang diinginkan dari target (Kotler & Armstrong, 2008: 62-63).
Hasil yang didapat dalam penelitian ini menunjukkan bahwa “Gudeg Cakar Bu Kasno Margoyudan” memiliki strategi dalam mengimplementasikan setiap elemen 4P. “Gudeg Cakar Bu Kasno Margoyudan” tidak menerapkan semua cara dalam melakukan promosi, namun mereka menerapkan Public Relations and Publicity dan pemasaran dari mulut. Strategi tersebut berhasil membuat mereka bertahan dalam persaingan bisnis kuliner
Pengelolaan Hara Terpadu pada Lahan Sawah Tadah Hujan sebagai Upaya Peningkatan Produksi Beras Nasional
Abstrak. Beras merupakan makanan pokok bagi bangsa Indonesia dan strategis bagi keamanan pangan nasional. Produksi beras dapat ditingkatkan melalui ektensifikasi lahan, peningkatan mutu intensifikasi dan indeks pertanaman padi. Lahan sawah tadah hujan berpotensi besar untuk menjadi lahan pertanian produktif jika tingkat kesuburan tanahnya ditingkatkan melalui penerapkan pemupukan berimbang sesuai karakteristik tanahnya. Lahan sawah non irigasi seluas 3,30 juta ha, salah satunya adalah sawah tadah hujan. Pengembangan lahan sawah tadah hujan menjadi sangat relavan dengan peningkatan kebutuhan pangan nasional. Makalah ini bertujuan untuk menelaah pengelolaan lahan sawah tadah hujan untuk meningkatkan produksi padi nasional. Faktor pembatas yang sering dihadapi antara lain ketersediaan air hujan yang sulit diprediksi serta kesuburan tanah yang rendah akibat kandungan C-organik dan N-total yang rendah. Kegagalan panen dapat terjadi akibat akibat kekurangan air pada awal tanam musim hujan maupun saat menjelang panen pada musim kedua. Perbaikannya dapat dilakukan dengan tanam gogo rancah pada musim tanam pertama, dan sistem culik pada musim tanam ke dua. Pemberian bahan pembenah tanah seperti kompos jerami, pupuk kandang, biochar dan kapur pertanian/dolomit terutama untuk tanah yang bereaksi masam ditujukan untuk meningkatkan kesuburan tanah sebelum dilakukan pemupukan. Teknologi pemupukan berimbang yang dapat diterapkan pada lahan sawah tadah hujan, antara lain Urea 250-300 kg ha-1, SP-36 50-75 kg ha-1, dan KCl 50 kg ha-1, pemberian bahan organik minimal 2 t ha-1, serta pengembalian jerami sisa hasil panen ke dalam tanah. Pemupukan berimbang dapat meningkatkan hasil padi dari 1,8-3,5 t ha-1 menjadi 5,0-5,8 t ha-1. Abstract. Rice is a staple food for the Indonesian people and a strategic comodity for national food security. Rice production can be increased through land extensification, improved quality of intensification and rice cropping index. Rainfed lowland rice fields could be very potentially productive for agriculture when the level of soil fertility is improved by applying balanced fertilization that based on the soil characteristics. Non-irrigated rice field area is 3.30 million ha, including the rainfed rice fields. The development of rainfed rice fields is very relevant to the increasing national food needs. The goal of this paper is to examine the management of rainfed lowland rice fields to increase the national rice production. Some of the limiting factors are the unpredictable rainwater availability and low soil fertility due to low C-organic and N-total content. Harvesting failures could be caused by water stress at the beginning of the planting stage in the rainy season or just before harvesting in the second season. This could be prevented by planting upland scaffolding in the first planting season, and the kidnap system in the second growing season. The application of soil enhancers is intended to increase soil fertility before fertilizer application, such as straw compost, manure, biochar and agricultural lime or dolomite especially for acidic soils. Balanced fertilization technology that can be applied to rainfed lowland rice fields are Urea 250-300 kg ha-1, SP-36 50-75 kg ha-1, and KCl 50 kg ha-1, providing organic material at least 2 t ha-1, and the return of the remaining crop straw to the ground. Balanced fertilization can increase rice yield from 1.8-3.5 t ha-1 to 5.0-5.8 t ha-1
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Risalah hasil penelitian tanaman pangan tahun 1991/ Penyunting : Astanto Kasno (dkk)
xiv, 352 hal.: ilus.; 25 c
Kacang tanah : inovasi teknologi dan pengembangan produk/ Penyunting : Astanto Kasno (dkk)
vi, 448 hal.: ilus.; 25 c
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
