3 research outputs found

    PENGARUH PROFITABILITAS, LEVERAGE, DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGUNGKAPAN SUSTAINABILITY REPORT DENGAN KOMITE AUDIT SEBAGAI VARIABE MODERASI

    No full text
    Sustainability report merupakan alat yang dapat digunakan oleh pemerintah maupun perusahaan-perusahaan sebagai bentuk pertanggung jawaban kepada masyarakat. Meskipun belum ada kewajiban untuk mengungkapan sustainability report yang artinya masih sukarela, namun saat ini pengungkapan laporan tersebut menempati posisi yang sama penting dengan laporan keuangan. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis profitabilitas, leverage, dan ukuran perusahaan terhadap pengungkapan sustainability report dengan komite audit sebagai variabel moderasi. Populasi penelitian menggunakan perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2020-2022 sebanyak 72 perusahaan, dan menghasilkan sebanyak 19 perusahaan yang digunakan sebagai sampel penelitian. Sampel penelitian ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang di gunakan yaitu teknik dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi Moderated Regression Analysis (MRA). Hasil penelitian membuktikan bahwa profitabilitas memiliki pengaruh negatif secara signifikan terhadap pengungkapan sustainability report. Leverage memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap pengungkapan sustainability report. Ukuran perusahaan memiliki pengaruh positif secara signifikan terhadap pengungkapan sustainability report. Kemudian, komite audit mampu memoderasi dengan memperkuat pengaruh profitabilitas terhadap pengunkapan sustainability report. Selain itu, komite audit tidak dapat memoderasi pengaruh leverage dan ukuran perusahaan terhadap pengungkapan sustainability report. Keterbatasan dalam penelitian ini hanya mendapatkan sampel 19 perusahaan dari 72 perusahaan pertambangan yang ada di Indonesia. Sehingga saran untuk perusahaan agar dapat memperhatikan laporan keberlanjutan. Untuk penelitian selanjutnya, peneliti menyarankan agar dapat memperluas atau memperbarui model penelitian dengan menggunakan objek penelitian yang berbeda untuk meningkatkan nilai adjusted R-Squared. Selain itu, peneliti menyarakan agar penelitian dimasa depan memperpanjang periode pengamatan dan menggunakan perusahaan sektor lain atau dapat melakukan studi lintas negara

    Reform of Mahar Law: An Analysis of the Pre-Islamic Shigar Marriage Tradition

    No full text
    Abstract : In the marriage practices of pre-Islamic Arab (Jahiliyah) society, which were rife with injustice, particularly in nikah shigar a form of exchange marriage where the dowry was not a gift from the groom to the bride but rather a compensation involving the exchange of the bride’s sister to the groom’s brother this practice reduced women to mere objects of family transactions, disregarding their dignity and autonomy. The purpose of this study is to analyze the influence of Jahiliyah marriage traditions, particularly nikah shigar, on the reform of Islamic family law, with a focus on the transformation of the dowry concept from a form of compensation to a mandatory right and a symbol of spiritual-emotional commitment. The method used is qualitative with a historical-normative approach, relying on a literature review of primary sources (the Qur’an, Hadith, and historical texts) and secondary sources (books, journals, and academic works). The analysis is conducted critically to identify continuities and discontinuities between pre-Islamic traditions and Islamic law. The main findings indicate that Islam introduced revolutionary reforms by completely abolishing practices like nikah shigar and similar customs. The dowry was reformed into iwadl, a mandatory financial and symbolic gift from the husband to the wife, affirming women’s economic and legal independence. Consequently, women were no longer treated as objects of exchange but as sovereign legal subjects. Marriage shifted from a transactional family arrangement to a bond based on mawaddah wa rahmah (love and compassion). This dowry reform serves as strong evidence that pre-Islamic traditions acted as a catalyst for fundamental changes in the Islamic family law system, while also affirming the principle of gender justice at the core of Islamic teachings.  Abstrak : Dalam praktik pernikahan masyarakat Arab Pra-Islam (Jahiliyah) yang sarat ketidakadilan, khususnya nikah shigar, sebuah bentuk pernikahan tukar-menukar di mana mahar bukanlah pemberian dari mempelai pria kepada wanita, melainkan kompensasi berupa penyerahan saudara perempuan mempelai wanita kepada saudara mempelai pria. Praktik ini mereduksi perempuan menjadi objek transaksi keluarga, mengabaikan martabat dan otonomi mereka. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh tradisi pernikahan Jahiliyah, khususnya nikah shigar, terhadap reformasi hukum keluarga dalam Islam, dengan fokus pada transformasi konsep mahar dari bentuk kompensasi menjadi hak wajib dan simbol komitmen spiritual-emosional. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan historis-normatif, mengandalkan studi literatur terhadap sumber primer (Al-Qur’an, Hadis, dan kitab sejarah) serta sekunder (buku, jurnal, dan karya akademik). Analisis dilakukan secara kritis untuk mengidentifikasi kontinuitas dan diskontinuitas antara tradisi pra-Islam dan hukum Islam. Temuan utama menunjukkan bahwa Islam melakukan reformasi revolusioner dengan menghapus habis praktik nikah shigar dan sejenisnya. Mahar direformasi menjadi “iwadl” pemberian wajib finansial dan simbolis dari suami kepada istri, yang menegaskan kemandirian ekonomi dan hukum perempuan. Dengan demikian, perempuan tidak lagi diperlakukan sebagai barang tukar, melainkan sebagai subjek hukum yang berdaulat. Pernikahan pun bergeser dari ikatan transaksional keluarga menjadi ikatan berbasis mawaddah wa rahmah (cinta dan kasih sayang). Reformasi mahar ini menjadi bukti kuat bahwa tradisi pra-Islam justru menjadi katalisator bagi perubahan mendasar dalam sistem hukum keluarga Islam, sekaligus menegaskan prinsip keadilan gender yang menjadi inti ajaran Islam

    Otomatisasi Chat dan Implementasi Auto Reply pada Whatsapp API Gateway untuk Membantu Penjualan UMKM

    No full text
    WhatsApp adalah salah satu aplikasi pesan yang sangat populer, terutama di Indonesia. Oleh karena itu, banyak pelaku UMKM menggunakan WhatsApp sebagai media komunikasi dengan pelanggan mereka. Namun seiring bertambahnya pesan dan pelangggan, mengelola pesan akan semakin sulit. Penulis membuat WhatsApp API Gateway sebagai solusi untuk mengelola WhatsApp melalui antar muka web dengan fitur broadcast untuk mengirim pesan ke lebih dari satu kontak hanya dengan sekali klik, campaign untuk pesan marketing, order untuk pemesanan produk, dan auto reply berupa chatbot untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pelanggan. Dataset untuk chatbot didapatkan dengan mengambil riwayat pesan WhatsApp pelanggan yang tidak bersifat sensitif kemudian dikelola dan dilabeli satu per satu. Model chatbot dibuat menggunakan algoritma deep learning LSTM dengan hasil evaluasi akurasi 97,75%. Implementasi auto reply pada UMKM berhasil menjawab 19 dari 25 pesan dengan rata-rata delay balasan auto reply sekitar 1,117 detik. Broadcast dan campaign terbukti dapat mengirim chat WhatsApp ke semua penerima secara terjadwal dengan delay antara penerima sekitar 5-7 detik. Auto reply membantu penjual UMKM sehingga tidak perlu menjawab pesan pertanyaan WhatsApp pelanggan secara manual dan fitur broadcast untuk mengirim pesan secara masal dengan satu klik serta campaign untuk kebutuhan marketing dari UMKM. ============================================================================================================================= WhatsApp is one of the most popular messaging apps, especially in Indonesia. Therefore, many UMKM players use WhatsApp as a medium of communication with their customers. However, as the number of messages and customers increases, managing messages becomes increasingly difficult. The author created a WhatsApp API Gateway as a solution to manage WhatsApp through a web interface with broadcast features for broadcasting messages to multiple contacts with just one click, campaign for marketing messages, order for product orders, and auto-reply using chatbot to answer customer questions. The dataset for the chatbot was obtained by collecting non-sensitive WhatsApp message histories from customers, which were then managed and labeled one by one. The chatbot model was created using the LSTM deep learning algorithm, with evaluation results showing an accuracy of 97,75%. Broadcasts and campaigns are proven to send WhatsApp chats to all recipients on a scheduled basis with a delay between recipients of about 5-7 seconds. Auto reply helps UMKM sellers so that they don't need to answer customer WhatsApp question messages manually and broadcast feature to send mass messages with one click and campaigns for marketing needs from UMKM
    corecore