64 research outputs found
LAJU PERTUMBUHAN, EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, KANDUNGAN POTASIUM TUBUH, DAN GRADIEN OSMOTIK POSTLARVA VANAME (Litopenaeus Vannamei, Boone) PADA POTASIUM MEDIA BERBEDA
Effect of K+ concentration on growth rate, feed efficiency, potassium whole body, and osmoregulatory capacity of L. vannamei postlarvae Boone, 1931 were investigated. Treatments consisted of different concentration of K+ added to distilled water. Four treatments were set, namely A, B, C and D, where K2CO3 levels were 0, 30, 60 and 90 ppm, respectively. After the 42-days feeding trial, growth rate and potassium whole body of the shrimp under treatment D (90 ppm K2CO3) were significantly higher, while the value of osmoregulatory capacity in treatment A (0 ppm K2CO3) significantly higher than those under the other four treatments. The results indicated treatment C (60 ppm K2CO3) were the optimum K+ level for growth rate with increasing body size
KUALITAS AIR DAN PERTUMBUHAN POPULASI ROTIFER Brachionus rotundiformis STRAIN TUMPAAN PADA PAKAN BERBEDA
Tujuan dari penelitian adalah membandingkan pertumbuhan populasi rotifer Brachionus rotundiformis yang diberi perlakuan pakan mikroalga Nannochloropsis oculata dan ikan mentah, serta mendapatkan data kualitas air dari medium kultur dengan pakan berbeda. Pengambilan sampel rotifer di desa Tumpaan Kabupaten Minahasa Selatan, berupa areal reklamasi dan tempat pembuangan air limbah rumah tangga. Rotifer kemudian diidentifikasi dan dikultur klon sehingga tersedia stok untuk penelitian. Perlakuan pakan menggunakan mikroalga Nannochloropsis oculata dan ikan mentah jenis tongkol (Euthynus sp.). Mikroalga sebelumnya diperbanyak lewat kultur menggunakan media KW21 dalam kondisi laboratorim. Ikan mentah sebanyak 3 g digunakan sedangkan kepadatan rotifer adalah 10 ind/ml. Pengambilan data populasi rotifer dimulai dari hari pertama hingga mencapai puncak populasi, sedangkan data kualitas air pada wadah kultur diambil pada akhir penelitian yaitu berupa data suhu, salinitas, DO, pH, ammonia, nitrat, dan nitrit. Hasil penelitian pertumbuhan populasi rotifer dengan pakan ikan mentah menunjukkan puncak populasi lebih tinggi (190 ind.ml-1) dibanding kultur dengan pemberian mikroalga (93 ind. ml-1). Nilai kualitas air yang terlihat berbeda adalah nilai ammonia yaitu pada media dengan pakan mikroalga 1,24 mg/l, sedangkan pada media ikan mentah adalah 9,80 mg/l
VIABILITAS ROTIFER Brachionus rotundiformis STRAIN MERAS PADA SUHU DAN SALINITAS BERBEDA
Rotifer jenis Brachionus rotundiformis merupakan salah satu spesies zooplankton yang dijumpai mendominasi perairan tambak di beberapa lokasi di Sulawesi Utara, antara lain di pertambakan Meras, Manado. Rotifer strain lokal ini telah diteliti untuk mengetahui potensi reproduksinya melalui kajian viabilitas lewat pemeliharaan pada suhu dan salinitas berbeda menggunakan pakan Chlorella sp. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kultur individu. Perlakuan yang digunakan adalah kombinasi suhu (250C, 300C, 350C) dengan salinitas (30 ppt, 35 ppt, 40 ppt). Percobaan diawali inokulasi telur generasi pertama ke dalam multiwellplate. Tiap cekungan wadah diisi satu individu dengan kepadatan pakan 3x106 sel/ml. Pengamatan dilakukan dua kali sehari dengan interval 12 jam. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan metode life table. Hasil penelitian menunjukkan tingkat lulus hidup tertinggi sekitar 91% sampai 5 hari dicapai pada suhu 250C dengan salinitas 35 ppt, demikian juga harapan hidup terlama pada kondisi demikian yaitu sampai 8 hari. Sedangkan harapan hidup terpendek hanya 3,62 hari dicapai pada suhu 300C dengan salinitas 30 ppt. Puncak fertilitas tertinggi yaitu 7,3 didapatkan pada suhu 300C dengan salinitas 40 ppt, namun kombinasi suhu 250C dengan salinitas 35 ppt merupakan perlakuan optimal untuk laju pertumbuhan melalui hasil nilai Ro tertinggi yaitu 14,23
DESKRIPSI, KEANEKARAGAMAN JENIS DAN KELIMPAHAN KEPITING (BRACYURA DECAPODA) DI PERAIRAN BAHOWO KELURAHAN TONGKEINA KECAMATAN BUNAKEN KOTA MANADO
The waters of Bahowo is located in North Sulawesi Province, Tongkeina Village, District of Bunaken, which is one of the mangrove ecotourism destinations with a high density of mangrove ecosystems. Crab sampling activities were carried out by the cruise method with a distance of 500 meters at each observation station. The steps in this research are; collecting specimens, identifying and taking pictures. After that, the transect line is used to determine density and species diversity. then determined 3 different stations with a distance of 150 m each. Each transect station is 10 x 10 meters consisting of 100 quadrants with a distance between 1 meter quadrants. Determination of the quadrant where sampling is done randomly at each station Results of research in the waters of Bahowo, obtained the number of crabs that is 125 individuals. From the results of identification of crabs that have been obtained there are 15 species, namely: Scylla serrate, S. olivacea, S. tranquabarica, S. paramamosain, Thalamita crenata, Thalamita danae, Portunus pelagicus, Portunus trituberculatus, Metopograpsus thukuhar, Cardisoma carnivex, Myalamita crenata, Thalamita danae, Portunus pelagicus, Portunus trituberculatus, Metopograpsus thukuhar, Cardisoma carnivex, Myomenita eumolpe, Austruca annulipes, Paraleptuca chlorophthalmus, Galasimus vomeris. Galasimus vomeris type crabs showed the highest abundance of 2.8 ind / m2, while the lowest in Cylla olivacea and S. tranquabarica, which was 0.1 ind / m2. Keywords: Species diversity, abundance, BrachyuraAbstrakPerairan Bahowo terletak di Provinsi Sulawesi Utara Kelurahan Tongkeina Kecamatan Bunaken yang menjadi salah satu tempat destinasi ekowisata mangrove dengan kepadatan ekosistem mangrove yang cukup tinggi..Lokasi kelurahan ini terletak di sebelah utara Kota Manado yang termasuk wilayah konservasi mangrove. Kegiatan pengambilan sampel kepiting dilakukan dengan metode jelajah (cruise method) dengan jarak 500 meter pada masing-masing stasiun pengamatan. langkah-langkah dalam penelitian ini adalah mengumpulkan spesimen, mengidentifikasi dan mengambil gambar   Setelah itu, garis transek digunakan untuk menentukan kepadatan dan keanekaragaman jenis. kemudian ditentukan 3 stasion berbeda dengan jarak masing-masing 150 m. Masing-masing station transek berupa 10 x 10 meter yang terdiri 100 kuadran dengan jarak antara kuadran 1 meter. Penentuan kuadran tempat pengambilan sampel dilakukan secara acak pada masing-masing stasion Hasil penelitian di perairan Bahowo, didapatkan jumlah kepiting yaitu 125 individu. Dari hasil identifikasi kepiting yang telah dilakukan didapat ada 15 spesies yaitu: Scylla serrate, S. olivacea, S. tranquabarica, S. paramamosain, Thalamita crenata, Thalamita danae, Portunus pelagicus, Portunus trituberculatus, Metopograpsus thukuhar, Cardisoma carnivex, Myomenippe spp, Perisesarma eumolpe, Austruca annulipes, Paraleptuca chlorophthalmus, Galasimus vomeris. Kepiting jenis Galasimus vomeris menunjukan kelimpahan tertinggi yaitu 2,8 ind/m2, sedangkan yang terendah pada Scylla olivacea dan S. tranquabarica, yaitu 0,1 ind/m2. Kata kunci :Keanekaragaman jenis, kelimpahan, BrachyuraÂ
PERAN KERANG PENYARING PARTIKEL TERHADAP KERAGAMAN MAKROBENTHOS DI AGGREGASI KERANG
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi jenis, kelimpahan, keragaman, dan kesamaan makrobenthos yang berada di dalam posisi aggregasi di lokasi berbeda. Observasi telah dilakukan di 2 stasion Tiwoho dan Blongko, selama April, 2021. Makrobentos diambil dengan meletakan ‘Core’ (PVC) dengan diameter 15 cm pada posisi tengah dan pinggir aggregasi besar, serta aggregasi kecil di 2 lokasi. Materi yang ada di dalam ‘Core’ diangkat, dimasukkan di dalam plastik yang berlabel, selanjutnya disortir, diidentifikasi, dihitung, dan foto di laboratorium. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 4 kali sebagai ulangan pada posisi aggregasi yang berbeda. Jumlah jenis dan individu makrobenthos dianalisa dengan menggunakan 2 Arah ANOVA, di mana posisi dalam aggregasi dan stasion adalah sebagai faktor utama. Mengetahui keragaman dilakukan melalui perhitungan Indeks ‘Simpon’ dan kesamaan dengan Indeks ‘Evenness’. Hasil menunjukkan bahwa jumlah jenis dan jumlah individu (kelimpahan) makrobenthos bervariasi di antara posisi dalam aggregasi kerang, namun tidak dipengaruhi oleh baik posisi dalam aggregasi dan stasion. Keragaman dan kesamaan jenis makrobenthos dikategorikan tinggi, walaupun baik ‘Indeks Simpson’ dan ‘Evenness’ bervariasi dan tidak konsiten di antara posisi dalam aggregasi dan stasion. Jumlah individu (kelimpahan) makrobenthos nampak bebeda di antara posisi aggregasi di lokasi Blongko berdampak pada perbedaan stabilitas makrobenthos untuk kedua lokasi.
KAJIAN KESESUAIAN LAHAN EKOWISATA MANGROVE DIMENSI EKOLOGI ( KASUS PADA PULAU BUNAKEN BAGIAN TIMUR, KELURAHAN ALUNG BANUA, KECAMATAN BUNAKEN KEPULAUAN, KOTA MANADO)
Ecotourism as a form of tourism that emphasizes responsibility for nature conservation, provides economic benefits and maintains cultural needs for the local community. Mangrove forests with their uniqueness are natural resources that have the potential to be used as tourist attractions. The purpose of this study was to determine community structure, mangrove canopy cover and suitability of mangrove ecotourism land. This study used the line transect method for mangrove community structure, and hemispherical photography for the percentage of mangrove cover. The results of the study of the mangrove community structure were the highest density value, namely at station 1 on the transect 2 types of S.alba 0.16 ind / m2 relative 88.89% and the lowest density value in the type R. mucronata and R.apiculata 0.01 ind / m2 relatively 5.56% on transect 2 at station 1. The highest frequency type value at station 1 on the transect 1 type S. alba which is 1.00 relative 100% and the lowest frequency at station 1 transect 2 types R, piculate which is relative 0.50 33.33. The highest closing value of type on transect 2 standard 1 type S. alba 10.26 relative value 92.63%. Whereas the lowest type 3 transect closure is type R. piculate 0.49 the relative is 7.86%. The highest Important Value Index is at station 1 on transect 1, namely type S. alba 300 and lowest at station 1 on transect 2 types R. mucronata 30.55. The highest diversity value on transect 2, 0.43. Evenness index value (E) at station 1 on transect 1 is 0 and transect 2 is 0.39. While station 2 on transect 1 0 and transect 2 0.51. regarding the criteria for mangrove damage, at 2 stations included in the rare category with inya 50% canopy cover. The overall results of land suitability for coastal tourism in the Bunaken Island mangrove tourism category fall into the very appropriate category.Keywords: Mangrove, Ecotourism, Bunaken IslandEkowisata sebagai suatu bentuk wisata yang menekankan tanggung jawab terhadap kelestarian alam, memberikan manfaat secara ekonomi dan mempertahankan kebutuhan budaya bagi masyarakat setempat. Hutan mangrove dengan keunikan yang dimilikinya, merupakan sumberdaya alam yang sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai tempat kunjungan wisata. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas, tutupan kanopi mangrove dan kesesuaian lahan ekowisata mangrove. Penelitian ini menggunakan metode line transek terhadap struktur komunitas mangrove, dan hemispherical photography untuk persentase tutupan mangrove. Hasil penelitian struktur komonitas mangrove yaitu Nilai kerapatan tertinggi yaitu pada stasiun 1 di transek 2 jenis S.alba 0.16 ind/m2 relatifnya 88.89% dan nilai kerapatan terendah pada jenis R. mucronata dan R.apiculata 0.01 ind/m2 relatifnya 5.56% di transek 2 pada stasiun 1 .Nilai frekuensi jenis tertinggi pada stasiun 1 di transek 1 jenis S.alba yaitu 1.00 relatifnya 100% dan frekuensi terendah pada stasiun 1 transek 2 jenis R, piculate yaitu 0.50 relatifnya 33.33. Nilai penutupan jenis tertinggi pada transek 2 stasun 1 jenis S. alba 10.26 nilai relatifnya 92.63 %. Sedangkan penutupan jenis terendah transek 3 jenisR. piculate 0.49 relatifnya 7.86%. Indeks Nilai Penting tertinggi yaitu pada stasiun 1 di transek 1 yaitu jenis S.alba 300 dan terendah pada stasiun 1 di transek 2 jenis R.mucronata 30.55.Nilai keanekaragaman tertinggi pada transek 2, 0.43. Nilai indeks kemerataan (E) pada stasiun 1 di transek 1 yaitu 0 dan transek 2 0,39. Sedangkan stasiun 2 pada transek 1 0 dan transek 2 0.51. tentang kriteria kerusakan mangrove, pada ke 2 stasiun termasuk pada kategori jarang dengan tutupan kanopinya ≤ 50% . Hasil keseluruhan kesesuaian lahan untuk wisata pantai kategori wisata mangrove Pulau Bunaken masuk pada kategori sangat sesuai.Kata kunci: Mangrove, Ekowisata, Pulau Bunake
IDENTIFIKASI JENIS DAN KEANEKARAGAMAN ECHINODERMATA DI RATAAN PERAIRAN SEKITAR DESA TAMBALA KECAMATAN TOMBARIRI KABUPATEN MINAHASA
Echinoderms are very important in marine ecosystems and are useful as a component in the food chain. Echinoderms can be detritus eaters, herbivores, carnivores and omnivores. This research was conducted for 2 weeks. The methods used are the cruise method and the quadrat transect method. The roaming method is carried out at 2 stations with data collection that is 100 m long. Next, data collection using the quadratic transect method was carried out by drawing a 10 m long transect line and placing a quadratic plot in a zig-zag manner next to the transect line. There were 5 plots observed measuring 1m x 1m with a plot distance of 2 m. Determining the distance of each station is 50 m from the first transect line and other transect lines. The results of research on the waters of Tambala Village that were obtained as a whole included four classes, namely Asteroidea, Holothuroidea, Echinoidea, and Ophiuroidea with a total of 8 types. Based on data analysis using the quadratic transect method, it was obtained: at station I H' = 1.067, the highest species density of Echinometra mathaei was 6.4 ind/m2 and the relative density was 55.49%, while at station II it was obtained H'= 0.831, the density the highest species Ophiocoma erinaceus was 15.53 ind/m2 and the relative density was 54.56%.Keywords: Echinoderms, Diversity, Abundance of species
ABSTRAKEchinodermata sangat penting di dalam ekosistem laut dan bermanfaat sebagai salah satukomponen dalam rantai makanan. Echinodermata dapat bersifat sebagai pemakan detritus, herbivora, carnivora dan omnivora. Penelitian ini dilakukan selama 2 minggu. Metode yang digunakan adalah metode jelajah (cruise method) dan metode transek kuadrat. Metode jelajah dilakukan pada 2 stasiun dengan pengambilan data yaitu sepanjang 100 m. Selanjutnya pengambilan data menggunakan metode transek kuadrat dilakukan dengan menarik garis transek sepanjang 10mdan diletakkan plot kuadrat secara zig-zag di samping garis transek. Plot yang diamati sebanyak 5 buah yang berukuran 1m x 1m dengan jarak plot 2 m.Penentuan jarak tiap stasiun yaitu berjarak 50 m dari garis transek pertama dan garis transek lainnya.Hasil penelitian pada perairan Desa Tambala yang diperoleh secara keseluruhan meliputi empat kelas yaitu Asteroidea, Holothuroidea, Echinoidea, dan Ophiuroidea debngan total 8 jenis. Berdasarkan analisis data menggunakan metode transek kuadrat, maka diperoleh: pada stasiun I H’ = 1,067, kepadatan spesies tertinggi Echinometra mathaei sebesar 6,4 ind/m2 dan kepadatan relative sebesar 55,49% sedangkan pada stasiun II diperoleh H’= 0,831, kepadatan spesies tertinggi Ophiocoma erinaceus sebesar 15,53 ind/m2 dan kepadatan relatif sebesar 54,56%.Kata Kunci: Echinodermata, Keanekaragaman, Kelimpahan jeni
ASOSIASI ECHINODERMATA DENGAN KOMUNITAS PADANG LAMUN DI PERAIRAN DESA MANGON KECAMATAN SANANA KABUPATEN KEPULAUAN SULA
The purpose of this study was to determine the association between the phylum Echinodermataand the seagrass community in the waters of Mangon Village. This research was conducted in thewaters of Mangon Village, Sanana District, Sula Islands Regency in October 2022. The researchmethod used was the quadratic transect method. This method consists of 2 research stations which areabout 500m apart. The transect line is drawn straight from the beach to the sea for 100m then aquadratic plot is placed in a zig-zag manner to the left and right of the transect line. There were 10 plotsthat were observed and spaced 10m each and 3 repetitions were carried out with a distance of 50m pertransect. From this method the results obtained in the waters of Mangon Village showed that at stationone, the species found at two stations in Mangon Village waters were 7 species of Echinodermata and6 species of seagrass. Based on the person product moment correlation value, there is a correlation inthe form of a positive association between seagrasses and echinoderms at the study site. Theenvironmental parameters owned by the waters of Mangon Village, Sula Islands Regency, namely,temperature has a range of 24-28˚C, salinity has a range of 28 – 340/00, and pH has a range of 7,08-8,08. The substrate obtained is sand and sand mixed with coral fragments.Keywords: Association of Echinodermata with Seagrass Community, Mangon Village Waters
ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui asosiasi antara filum Echinodermata denganKomunitas padang lamun di perairan Desa Mangon. Penelitian ini dilakukan di perairan Desa MangonKecamatan Sanana Kabupaten Kepulauan Sula pada bulan Oktober 2022. Metode penelitian yangdigunakan adalah metode transek kuadrat, Dalam metode ini terdiri dari 2 stasiun penelitian yangmemiliki jarak sekitar 500m. Garis transek ditarik lurus dari pantai menuju laut sepanjang 100mkemudian diletakkan plot kuadrat secara zig-zag disamping kiri-kanan pada garis transek. Terdapat 10buah plot yang diamati dan diberi jarak masing-masing 10m dan dilakukan sebanyak 3 kalipengulangan dengan jarak 50m per transek. Dari Metode tersbut hasil yang didapatkan di perairanDesa Mangon menunjukan bahwa pada stasiun satu, Spesies yang ditemukan pada dua stasiun diPerairan Desa Mangon adalah 7 spesies Echinodermata dan 6 spesies lamun. Berdasarkan nilaikorelasi person product moment, terdapat korelasi dalam bentuk asosisasi positif antara lamun danEchinodermata di lokasi penelitian. Parameter lingkungan yang dimiliki oleh perairan Desa MangonKabupaten Kepulauan Sula yaitu, suhu memiliki kisaran 24-28˚C, salinitas memiliki kisaran 28 - 340/00,dan pH memiliki kisaran 7,08-8,08. Substrat yang di dapat yaitu pasir dan pasir bercampur pecahankarang.
Kata Kunci: Asosiasi Echinodermata, Komunitas Padang Lamun, Perariran Desa Mango
PENGARUH TIMBAL ASETAT (Pb (CH3COO)2) TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROALGA LAUT Nannochloropsis oculata
Microalgae are simple unicellular or multicellular microorganisms that are able to bind CO2 andcan absorb solar energy for the process of photosynthesis so that microalgae can convert inorganiccompounds into organic compounds. The organic compounds contained in microalgae arecarbohydrates, proteins, nucleic acids, and fats. The purpose of this study was to determine the growthand density of the microalgae Nannochloropsis oculata from the start of the culture to the exponentialphase and then proceed with the administration of lead acetate with 3 different concentrations. Thedensity of microalgae cells from the beginning of the culture to the exponential phase was on the 11day of observation. In the exponential phase, microalgae gave lead acetate treatment to 3 containerswith concentrations of 30 ppm, 50 ppm, 80 ppm and 1 control container without treatment. The growthof Nannochloropsis oculata cell density with lead acetate administration experienced a decrease ingrowth when compared to the control container (without lead acetate treatment).Keywords: Microalgae, Nannochloropsis oculata, Lead Acetate
ABSTRAKMikroalga merupakan mikroorganisme uniseluler atau multiseluler sederhana yang mampumengikat CO2 dan dapat menyerap energi matahari untuk proses fotosintesis sehingga mikroalga dapatmengubah senyawa anorganik menjadi senyawa organik. Senyawa organik yang terkandung dalammikroalga yaitu karbohidrat, protein, asam nukleat, dan lemak. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui pertumbuhan dan kepadatan mikroalga Nannochloropsis oculata dari awal kultur sampaipada fase eksponensial kemudian dilanjutkan dengan perlakuan pemberian timbal asetat dengan 3konsentrasi yang berbeda. Kepadatan sel mikroalga dari awal kultur sampai pada fase eksponensialyaitu pada hari ke-11 pengamatan. Pada fase eksponensial, mikroalga diberikan perlakuan timbalasetat ke dalam 3 wadah dengan konsentrasi 30 ppm, 50 ppm, 80 ppm serta 1 wadah kontrol tanpaperlakuan. Pertumbuhan kepadatan sel Nannochloropsis oculata dengan pemberian timbal asetatmengalami penurunan pertumbuhan jika dibandingkan dengan wadah kontrol (tanpa perlakuan timbalasetat).
Kata kunci : Mikroalga, Nannochloropsis oculata, Timbal Aseta
STRUKTUR KOMUNITAS HUTAN MANGROVE DI DESA BUDO KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA
Mangrove forest can grow on the muddy soil, along the coast and around the river estuaries that are affected by the tidal. The mangrove forest has a specific vegetation structure. Study on the structure of the mangrove forest community, was carried out in the Budo Village. Mangrove community structure data was taken using line transect method. A 100 m line was established from the sea perpendicular to the coast. A total of three line transects was made and each line has five 10 x 10 m plots with 20 m distance between plots. Distance between transect is 50m. This study found that three mangrove species Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, and Bruguiera gymmorrhiza were found in the three transects during this study. The highest species biodiversity index was found in transect two (H’ = 0.97). R. apiculata has the highest density and relative density 0.05 ind/m2 and 67.57%. Both R. apiculata and S. alba have the highest frequency and relative frequency of 1.00 and 50% respectively. The highest species coverage and relative coverage area is belonging to S. alba in transect two, 25,89 and 63.57%. S. alba has the highest Important value index 140.72 in transect two.Keywords: Budo Village, Mangrove Forest, Community Structure.Â
- …
