1,720,968 research outputs found
Institusi dakwah kajian elementer
Munculnya fenomena ketidakpuasan masyarakat muslim terhadap institusi maupun organisasi keagamaan Islam mapan (establish) dalam bentuk gerakan dan organisasi baru telah menimbulkan respon serius bagi para sarjana yang konsen mengamati Perkembangan Studi Dakwah dari beragam perspektif. Pendekatan doktrin sudah dilalui dan hampir sampai pada terminal ‘stagnan’, sementara pendekatan popular mengikuti perkembangan sains dan teknologi terkesan ‘liar’, dalam arti muncul seperti unpredictive, massive dan uncontrolled.
Gerakan keagamaan yang terorganisir muncul dalam bentuk bervariasi, tidak lama paca gelombang aksi-aksi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang menamakan diri sebagai ‘penyelemat agama’ dan satu-satunya ‘petugas’ yang mendapat mandat dari Tuhan. Peledakan bom, aksi petrus dan ancaman kekerasan terjadi dalam sekala terbatas yang dilakukan kelompok muslim yang mengklaim mendapat mandat suci tersebut.
Gerakan serupa kemudian muncul dalam bantuk relatif lebih lunak, namun memiliki dampak spiritual terhadap munculnya fenomena keagamaan lainnya. Fenomena hijrah, kerajaan lokal, juru kunci pemecah masalah, nabi baru dan fenomena sekte keagamaan, hadir seolah menjadi pembenar munculnya institusi-institusi keagamaan lainya, termasuk institusi dakwah. Millenarianisme dan mesianisme makin ditunggu-tunggu dan mengharap sekaligus ditakuti dengan segala pengorbanan.
Fenomena tersebut dan respon akademik sekaligus terhadap fenomena itu, sudah dilakukan. Bahkan, respon itu telah menemukan semacam ‘benang merah’ di tengah pergumulan kebangkitan agama. Respon para sarjana terhadap keagungan peradaban Islam misalnya, beberapa tulisan dalam bentuk buku dapat dijadikan acuan penting, seperti Covering Islam yang ditulis oleh Akbar S. Ahmed, The Venture of Islam oleh Marshal Hodgson dan The Preaching of Islam yang ditulis oleh T.W Arnold. Ketiganya telah menunjukan bagaimana Islam sejak dideklarasikannya 14 abad lalu disebarkan melalui misi dakwah.
Kerja sarjana-sarjana tersebut, memang tidak dijuduli spesifik dakwah, namun Islam dilihatnya lebih makro, kecuali narasi yang diberikan Arnold. Bahkan, ia explisitly menulisnya secara langsung. Mengacu pada beberapa contoh analisis sarjana-sarjana tersebut, institusi dakwah merupakan sub dari studi Islam dan lebih bersifat movement spiritual, atau seperti ‘gizi’ lemak dalam suatu penyebaran Islam. Institusi merupakan perwujudan artefaknya yang tangible maupun intangible, seperti gagasan dibalik tulisan-tulisan.
Perkembangan terakhir studi maupun riset terkait lembaga dakwah sudah melewati wilayah makro dan merambah wilayah yang bersifat kauistik, lokal dan bahkan veriveral. Misalnya, institusi Pesantren oleh Zamachsyari Djafier, gerakan dakwah Laskar Jihad oleh Noorhaidi, Ahmadiyah oleh Iskandar Zulkarnaen, Mistik Islam oleh Simuh dan lainnya. Dalam sekala lebih luas, di samping tulisan yang telah disebut di atas, masih ada M. Amien Rais tentang Ikhwanul Muslimin, Hew Wei-Weng tentang Muslim Tionghoa, A. Azra tentang Jaringan Ulama, Julian Millie tentang Tablig, dan lainnya, yang merupakan respon terhadap fenomena baru institusi misi dakwah
Pengembangan Seni Anak Usia Dini
Potensi dan peran seni dalam diri anak usia dini bisa dikesampingkan begitu saja. Seni telah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak, di mana dalam kesehariannya, mereka selalu dipenuhi oleh bunyi (musik) dan citra lambang (menggambar). Warna-warni dari berbagai pencitraan yang bergerak disekitanya, telah menjadi topik atau obyek penelitian pertama dari seeorang anak usia dini atau anak kecil. Buku ini membahas berbagai hal terkait seni dalam pendidikan anak usia dini, mulai dari seni tari, seni musik, seni drama, seni rupa, seni dan pendidikan karakter, kreativitas, dan perkembangan anak. Semuany dikupas secara tuntas dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh para pembaca, siapapun
Al ahadith al qusdiyyah
Buku ini membahas dan menyajikan berbagai pendekatan terkait dengan kegiatan pembelajaran, model pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, keterampilan mengajar, komunikasi pembelajaran, teknik dan taktik pembelajaran disertai dengan cara penilaiannya.Idealnya, pendekatan dan strategi pembelajaran yang digunakan guru hendaknya disesuaikan dengan keragaman dan kemampuan peserta didik. Hal itu menunjukkan bahwa pemahaman guru terhadap keragaman karakteristik dan kemampuan peserta didik mutlak diperlukan
- …
