1,720,964 research outputs found
4. Studi perubahan nilai sosial pada masyarakat etnis Samawa di Kawasan Tambanga PT. Newmont Nusa Tenggara
Abstrak
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengkaji perubahan nilai budaya masyarakat Etnis Samawa ditinjau dari perubahannya dalam mengaplikasikan nilai sosial. Penelitian menggunakan metode survei yang didesain dengan model studi kasus. Objek penelitian adalah masyarakat Etnis Samawa yang berdomisili di pusat pertumbuhan, yaitu Desa Maluk dan Desa Benete. Pengumpulan data menggunakan teknik triangulasi, yaitu: pengamatan lapang (field observation), wawancara terstruktur (structured interview), wawancara mendalam (in-depth interview) dan studi pustaka (desk study). Analisis data menggunakan metode deskriptif. Data disajikan dalam bentuk tabel dan uraian-uraian penjelasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum masuk proyek pertambangan, landasan masyarakat Etnis Samawa dalam mengaplikasian nilai sosial atau dalam menjalin hubungan antar sesama lebih menghargai orang yang berpengalaman atau berketurunan, berkemampuan umum (generalis), memiliki status sosial, dan mempunyai hubungan kekerabatan. Setelah masuk proyek pertambangan landasan masyarakat tersebut berubah dengan lebih menghargai orang berpendidikan dan berprestasi; dan mulai menghargai kemampuan yang bersifat khusus (spesialis) dan hubungan individu atau hubungan kerja. Kecenderungan perubahan aplikasi nilai sosial tersebut menandakan berubahnya masyarakat dari ciri-ciri masyarakat tradisional pedesaan menuju ciri-ciri masyarakat modern perkotaan.
Abstract
This study mainly aims at examining the change of the Samawa cultural values perceived from the application of social value. The survey method is applied to this case study. The research object is the Samawa ethnic group living in the development center, namely the Maluk and Benete villages. Data are collected by technical triangulation, i.e. by combining some of the research techniques, namely field observation, structured interview, in-depth interview and desk study. The descriptive method is used in analysing the data. The data is provided in tables and explanation. The results show that foundations of Samawa in application social values in people relationship before the establishment mining project are: more respecting experienced people, have high social status, generalist and from close relative. After the establishment of mining project the foundation change to be respecting educated and expert people, specialist, from similar job background. This indicates the changes from rural traditional culture to urban modern.
 
6. Studi perubahan aplikasi nilai teori pada masyarakat etnis Samawa di kawasan pertambangan PT. Newmont Nusa Tenggara
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan nilai budaya masyarakat Etnis Samawa ditinjau dari aplikasi nilai teori (landasan masyarakat dalam bertindak dan berprilaku). Penelitian menggunakan metode survei yang didesain dengan model studi kasus. Objek penelitian adalah masyarakat Etnis Samawa yang berdomisili di pusat pertumbuhan, yaitu Desa Maluk dan Desa Benete. Pengumpulan data menggunakan teknik triangulasi, yaitu:dengan mengawinkan 4 teknik secara bersamaan, yakni: pengamatan lapang (field observation), wawancara terstruktur (structured interview), wawancara mendalam (in-depth interview) dan studi pustaka (desk study). Analisis data menggunakan metode deskriptif. Data disajikan dalam bentuk tabel dan uraian-uraian penjelasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum masuk proyek pertambangan, landasan masyarakat dalam mengaplikasian nilai teori didasari oleh nilai-nilai mistis sistemis; pengalaman, perasaan dan gerak intuisi; menggunakan peralatan tradisional, kegiatan gotong royong dan tolong menolong masih menggunakan barang dan tenaga kerja (basiru) berdasarkan kebiasaan. Setelah masuk proyek pertambangan, meskipun masih didasari oleh nilai mistis sistemis, tapi penyelenggaraan semakin praktis, mulai menggunakan kekuatan berfikir yang rasional dan ilmiah; peralatan semakin modern dan kegiatan gotong royong dan tolong menolong menggunakan uang atas dasar efisiensi. Perubahan-perubahan tersebut menunjukkan perubahan masyarakat dari ciri-ciri masyarakat tradisional pedesaan menuju cirri-ciri masyarakat modern perkotaan.
Abstract
This study mainly aims at examining the change of the Samawa cultural values perceived from the application of theoretical values (basic philosophy, attitude and behavior). The survey method is applied to this case study. The research object is the Samawa ethnic group living in the development center, namely the Maluk and Benete villages. Data are collected by technical triangulation, i.e. by combining some of the research techniques,namely field observation, structured interview, in-depth interview and desk study. The descriptive method is used in analysing the data. The result of the research showed that basic principle of society to apply theoretical value before mining project are mistic systems, experience, feeling and intuition, using traditional tools, helping each other in daily life, using their goods and labourers based on customary attitude. After the establishment of mining project, although the people life is still based on the value of mistic systemic, the application is more practical, starting to use rasional and logical thought, using modern tools, helping each other based on remuneration for the sake of efficiency. Those changes indicate the cultural movement from rural to urban society
5. Perubahan nilai politik pada masyarakat local etnis Samawa di kawasan pertambangan PT. Newmont Nusa Tenggara
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan nilai politik masyarakat local etnis Samawa di Kawasan Tambang PT. NNT. Penelitian menggunakan metode survei yang didesain dengan model studi kasus. Objek penelitian adalah masyarakat Etnis Samawa yang berdomisili di pusat pertumbuhan, yaitu Desa Maluk dan Desa Benete. Pengumpulan data menggunakan teknik triangulasi, yaitu: pengamatan lapang, wawancara terstruktur terhadap 102 responden yang dipilih secara acak sederhana (simple random sampling), wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat dan studi pustaka. Analisis data dilakukan secara deskriptif yaitu data yang dikumpulkan, diklasifikasikan kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan uraian-uraian penjelasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan proyek tambang telah merubah nilai politik masyarakat Etnis Samawa dari ciri-ciri nilai politik masyarakat tradisional pedesaan menuju ciri-ciri nilai politik masyarakat modern perkotaan. Sebelum dalam mengaplikasian nilai kuasa atau politik sebagian besar masih didasari atas keputusan orang lain, berorinetasi pada stabilitas dan cenderung menolak nilai budaya luar yang datang dari masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi yang lebih rendah. Setelah masuk proyek pertambangan berubah, sebagian besar dilandasi oleh keputusan sendiri, berorientasi pada perubahan atau kemajuan; dan cenderung menerima nilai budaya dari luar yang datang dari masyarakat yang lebih maju. Perubahan tersebut manandakan bahwa masyarakat Etnis Samawa dalam mengaplikasikan nilai kuasa atau politik berubah.
Abstract
This study mainly aims at examining the change of the Samawa cultural values perceived from the application of political value. The survey method is applied to this case study. The research object is the Samawa ethnic group living in the development center, namely the Maluk and Benete villages. Data are collected by technical triangulation, i.e. by combining some of the research techniques, namely field observation, structured interview, in-depth interview and desk study. The descriptive method is used in analysing the data
4. Studi perubahan nilai budaya masyarakat etnis samawa di kawasan tambang PT. Newmont Nusa Tenggara: Aplikasi nilai teori
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan nilai budaya masyarakat Etnis Samawa ditinjau dari aplikasi nilai teori, yaitu landasan masyarakat dalam bertindak dan berprilaku. Penelitian menggunakan metode survei yang didesain dengan model studi kasus. Objek penelitian adalah masyarakat Etnis Samawa yang berdomisili di pusat pertumbuhan, yaitu Desa Maluk dan Desa Benete. Pengumpulan data menggunakan teknik triangulasi, yaitu:dengan mengkombinasikan 4 teknik secara bersamaan, yakni: pengamatan lapang, wawancara terstruktur, wawancara mendalam dan studi pustaka. Analisis data menggunakan metode deskriptif. Data disajikan dalam bentuk tabel dan uraian-uraian penjelasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum masuk proyek pertambangan, masyarakat Etnis Samawa dalam mengaplikasikan nilai teori dilandasi oleh nilai-nilai mistis sistemis, pengalaman, perasaan dan gerak intuisi; menggunakan peralatan tradisional, dan dalam melakukan kegiatan gotong royong dan tolong menolong masih menggunakan barang dan tenaga kerja (basiru) menurut kebiasaan. Setelah masuk proyek pertambangan, meskipun masih dilandasi oleh nilai mistis sistemais, tapi penyelenggaraan semakin praktis, mulai menggunakan kekuatan berfikir secara rasional dan ilmiah; peralatan semakin modern dan kegiatan gotong royong dan tolong menolong menggunakan uang atas dasar efisiensi. Perubahan-perubahan tersebut menandakan masyarakat Etnis Samawa mulai berubah dari ciri-ciri masyarakat tradisional pedesaan menuju ciri-ciri masyarakat modern perkotaan.
ABSTRACT
This study examined changes in cultural values of Samawa ethnics, as perceived from the application of theoretical values such as basic philosophy, attitude and behavior. Samawa ethnic groups living in development centers such as Maluk and Benete villages were the object of this research. Data were collected with a technical triangulation method, combining several research techniques, namely: field observation, structured interview, in-depth interview and desk study. Collected data were analyzed with descriptive statistics. The research results were, as follows. In the period before the establishment of mining project, the ethnic groups applied theoretical values which were based on systematical mystics, experience, feeling and intuition; used traditional tools, carried out the gotong royong, helped each other in daily life, used goods and labors on cultural bases. After the project, the groups applied more practical values. They used more logical and scientific values, modern utensils and efficient economic decisions. These changes in cultural values shifted the Samawa society to modern urban society, from traditional rural society
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
PERILAKU EKONOMI MASYARAKAT MISKIN DI SEKITAR KAWASAN HUTAN GUNUNG RINJANI PULAU LOMBOK
The objectives of this research are (1) to describe behavior of household economy; (2) to analyze factors affecting the behavior of household economy; and (3) to analyze income and outcome of households on basic equilibrium level and on actual equilibrium level. The results of the research showed that the community forest programs (HKm) given to the community living around the forests had opened job opportunities and income sources to the community living around Mount Rinjani Forest, and community incomes were far above basic equilibrium level. Factors which consistently and positively affected the economic behavior of community households were the area of HKm land occupied, the diversity of household works, the access of their villages to the center of economic activities and the area of land they utilized other than HKm land. On the other hand, household incomes from government subsidies (such as BLT and Raskin) and other sources outside the thriving labor tended to make household labors became lazier and poorer, which significantly and negatively affected working time and incomes of households
3. ANALISIS RANTAI PEMASRAN BAWANG MERAH DI KABUPATEN BIMA
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) memetakan rantai pemasaran bawang merah di Kabupaten Bima; (2) menganalisis fungsi pelaku pemasaran bawang merah di Kabupaten Bima; dan (3) menganalisis margin pemasaran bawang merah pada tingkat pelaku dan tingkar rantai di Kabupaten Bima.Metodologi penelitian yang digunakan adalah deskriptif.
Ditemukan bahwa pemasaran bawang merah di Bima melibatkan tiga rantai, yaitu:(i)Petani (P)-Pedagang pengumpul desa (PPD)–Pedagang pengecer (PP) Bima–Konsumen (K) di Bima; (ii) P–PPD–Pedagang antar pulau/besar (PAP/B)–PPdi Mataram - K; dan (iii) P – PPD – PAP/B – PPdi Provinsi lain – K di Provinsi Lain. Proporsi aliran produksi bawang merah adalah 42% melalui Rantai I, 25% melalui Rantai II, dan 34% melalui Rantai III.Harga yang diterima petani bawang merah tidak berbeda menurut rantai pemasaran, yakni: Rp. 1.800.000 per kwintal.Fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan olehpetani adalah penjualan, penyimpanan, pengangkutan, sortasi, dan penanggungan risiko. Semua fungsi ini juga dilakukan oleh PPD, dan PAP/B, ditambah dengan fungsi-fungsi berikut: pembelian, pembiayaan, penanggungan risiko, dan informasi pasar.Semua fungsi pemasaran yang dilakukan oleh PPD dan PAP/B adalah juga dilakukan oleh PP, kecuali: fungsi pembiayaan. Marjin pemasaran pada Rantai I adalah 12,84 persen dari harga konsumen, lebih rendah dibandingkan dengan margin pemasaran pada Rantai II yang sebesar 11,51% dari harga konsumen. Margin rantai pemasaran III tidak dianalisis karena data tidak lengkap. Perbedaan margin pemasaran antar rantai pemasaran tersebut adalah terutama disebabkan oleh faktor selisih harga konsumen dan harga petani, bukannya oleh faktor biaya pemasaran. Proporsi margin pemasaran terhadap harga jual masing-masing jenis pedagang bervariasi antar rantai pemasaran: PPD menerima antara 5,71% dan 6,25%; PAP/B antara 0,52% dan 5,21%; dan Pengecer antara 2,26% dan 7,02%.
Penerapan manajemen rantai pemasaran berpotensi untuk menurunkan beban biaya pemasaran yang ditanggung para pelaku dan untuk meningkatkan pendapatan petani bawang di kabupaten Bima. Ini dapat diupayakan melalui: (i) koordinasi vertikal untuk meminimalisasi repetisi fungsi pemasaran lintas pelaku; dan (ii) koordinasi horizontal (kelompok) petani untuk meraih manfaat dari skala ekonomi bersama.
ABSTRACT
The study’s objectives are (1) to map the marketing chains of onion in Bima district; (2) to analyze the functions of the marketing players; and (3) to analyze the marketing margins at actor and chain levels. For the objectives, the study used the descriptive methodology.
It was found that the marketing of onion in Bima involved three different chains of onion, namely:(i)Farmer(P)-Villlage CollectorTrader (PPD)–Retail Trader(PP) in Bima–Consumer (K) Bima; (ii) P–PPD–InterIsland/Big Trader (PAP/B)–PPin Mataram - K; and (iii) P – PPD – PAP/B – PPin onthet province – K in other province. The flows of onion products by chains were 42% chain I, 25% chain 2 and 34% chain 3. The price received by farmers IDR 1,800,000 was not different across the markating chains.
Marketing functions carried out by farmers included: saling, storing, transporting, sorting/grading, and risk bearing.All these functions were alo carried out by PPD, and PAP/B, together with: buying, financing, and market information. PP carried out the same functions as those of PPD dan PAP/B, exept for the financing function. Measured as percentage of the selling price, the marketing margin was 12.84 % of the consumers’ pricein the first chain, higher than the margin in the second chain which was 11,51%. The marketing margin for the third chain was not calculated because of incomplete data. The marketing margin difference was mainly because of consumer-farmer price margin factor rather than marketing cost factor. The marketing margins by actors were varied: PPD received between 5.71-6.25%; PAP/B received between 0.52%-5.21%; and PP received between 2.26%-7.02%.
Applicantion of effective marketing chain manajemen was considered potensial to reduce the burden of marketing cost bared by the chain actors, and to increase farmer incomes in Bima. This should include (i) vertical coordination to minimize number of functions repetitively done by two or more chain actors; and (ii) horizontal coordination of the farmers to achieve the benefits of farmer group’s economics of scale
- …
