1,721,018 research outputs found

    BLIMBINGSARI: MODAL SOSIAL DAN PERAN PEMDA DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DI KABUPATEN JEMBRANA, BALI

    Get PDF
    ABSTRACTPoverty is the biggest problem in the world and also as an enemy for all nations and we have commitment inorder to reduce the poverty . In order to reducing the poverty in the country especially in Blimbingsari,the Local Government needs to develop the economy of their own region so that the regions(society/people) have their own welfare. In this paper the researcher, will explain about the role of theLocal Government in kabupaten Jembrana, west Bali, Propince of Bali in order to developed the economyespecially in Blimbingsari population, Melaya, Jembrana until they create an new entrepreneurs.From that problem and statement above, the researcher make the main research question is that “how theSocial Capital of the society and the local government role in order to develop the society economy inBlimbingsariâ€. From that main research question, the researchr make a research problem in three researchquestion i.e.: (1). What kind of role that the local government do for developing the economic inBlimbingsari? (2). What kind of the social capital that the society do for developing the economic inBlimbingsari? (3). What kind of national program for developing the economic in Jembrana, especially inBlimbingsari?Keyword: Development, Poverty, Role, Local Government, and Social Capital.ABSTRAKKemiskinan adalah masalah terbesar di dunia dan juga sebagai musuh bagi semua bangsa dan kami memilikikomitmen untuk mengurangi kemiskinan. Dalam rangka untuk mengurangi kemiskinan di negara terutama diBlimbingsari, Pemerintah Daerah perlu mengembangkan perekonomian daerah mereka sendiri sehinggadaerah (masyarakat / orang) memiliki kesejahteraan mereka sendiri. Dalam makalah ini peneliti, akanmenjelaskan tentang peran Pemerintah Daerah di kabupaten Jembrana, Bali barat, Propince Bali dalamrangka mengembangkan ekonomi terutama di populasi Blimbingsari, Melaya, Jembrana sampai merekamembuat pengusaha baru.Dari masalah itu dan pernyataan di atas, peneliti membuat pertanyaan penelitian utama adalah bahwa"bagaimana Modal Sosial masyarakat dan peran pemerintah daerah dalam rangka mengembangkanperekonomian masyarakat di Blimbingsari". Dari pertanyaan penelitian utama, researchr membuat masalahpenelitian di tiga pertanyaan penelitian mis .: (1). Apa peran bahwa pemerintah daerah lakukan untukmengembangkan ekonomi di Blimbingsari? (2). Apa jenis modal sosial yang masyarakat lakukan untukmengembangkan ekonomi di Blimbingsari? (3). Apa jenis program nasional untuk mengembangkan ekonomi diJembrana, terutama di Blimbingsari?Kata kunci: Pengembangan, Kemiskinan, Peran, Pemerintah Daerah, dan Modal Sosial

    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUASAN KERJA KARYAWAN SEKTOR PERBANKAN DI BALI

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan sektor perbankan di Bali, menganalisis peran manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) dalam meningkatkan kepuasan kerja dan  menganalisis dampak kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan khususnya di sektor perbankan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu literature review, dimana tujuan dari metode ini yaitu untuk memahami perubahan yang terjadi pada isu tertentu dalam hal ini terkait kepuasan kerja di sektor perbankan di Bali. Hasil dari literature review dari beberapa jurnal menunjukkan faktor-faktor dalam kepuasan kerja di sektor perbankan Bali yaitu motivasi, stress kerja, kompensasi, dan gaya kepemimpinan. Praktik manajemen SDM menjadi sangat penting, dimana penerapan manajemen SDM yang mendukung kepuasan adalah melalui kompensasi dan pemberian reward kepada karyawan. Penting bagi perusahaan untuk memperhatikan kepuasan kerja karyawan, karena kepuasan sangat menentukan kinerja karyawan. Hal ini ditunjukan dengan hasil review beberapa penelitian yang menyatakan karyawan yang tidak puas dengan pekerjaannya akan menghambat penyelesaian tugas-tugasnya. Oleh karena itu, pemahaman terhadap faktor-faktor kepuasan kerja karyawan menjadi sangat penting yang diharapkan mampu berdampak positif pada kinerja organisasi secara keseluruhan

    Strategi Pengembangan Pantai Salukaili untuk Meningkatkan Kunjungan Wisatawan di Kecamatan Baras, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan melalu strategi pengembangan Objek Wisata Pantai Salu Kaili di Kecamatan Baras, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Dalam penelitian ini digunakan 2 jenis data yaitu data kualitatif dan kuantitatif dengan menggunkanan pengambilan sample menggunakan metode purposive sampling dengan melibatkan 10 responden, dengan menggunakan analisis SWOT yang terdiri dari Matriks IE, IFAS/EFAS serta Matriks SWOT. Dari hasil penelitian ini menunjukan 10 indikator internal dan 10 eksternal. Dari 10 indikator internal terdapat 2 indikator kelemahan dan 8 indikator kekuatan, dari 10 indikator eksternal terdapat 9 indaktor peluang dan 1 indikator ancaman. Dari indikator tersebut kekuatan dan peluang memiliki range 3.00-4.00, dari hasil penelitian menunjukan total skor dari IFAS sebesar 3.08 sedangkan EFAS memiliki total skor 3.29. angka tersebut menunjukan Objek Wisata Pantai Salu Kaili berdada di kuadran I yang berarti pada posisi pertumbuhan. Dalam analisis SWOT yang telah dilakukan, terdapat beberapa alternatif strategi yang dapat diterapkan yakni, membangun kembali fasilitas yang sangat berpengaruh terhadap kenyamanan wisatawan, meningkatkan promosi di media social, salah satunya dengan membuat video pengenalan pantai, sehingga lebih banyak sebaran pengunjung, menghadirkan orang untuk menjadi pemandu wisata, Meningkatkan kinerja, hal seperti ini juga sangat berpengaruh ketertarikan orang untuk datang

    ANALISIS STRATEGI BAURAN PEMASARAN JASA PERHOTELAN PADA BEBERAPA HOTEL BINTANG LIMA KUTA - BADUNG

    Get PDF
    ABSTRACTThis study aims to (1) Identify and analyze internal environmental factors owned by Five Star Hotels, (2) Identify and analyze external environmental factors faced by Five Star Hotels, (3) Formulate and choose appropriate alternative marketing services for Five Star Hotels, based on analysis. The data used in this study consisted of two types, namely primary data and secondary data. The analysis in this study begins by identifying the company's internal and external environmental factors. The strategy formulation is carried out through three stages of implementation. The first stage is the input stage (the input stage) using IFE and EFE matrices. The second stage is the matching stage (using the SWOT matrix). Based on the SWOT matrix analysis.The third stage is the decision stage (the decision stage) by using AHP to set priorities for the right marketing strategy for the company. The tool used was the Microsoft Excel 2010 computer program. The results showed that the five-star hotel in Kuta Bali was in an internal strategy position of 3.62 and an external strategy of 3.51 meant that it could still increase sales and productivity of the hotel was still good.Keywords : Internal Factor Analysis, External Factor Analysis, Marketing Strategy.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk (1) Mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor lingkungan internal yang dimiliki Hotel Bintang Lima, (2) Mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor lingkungan eksternal yang dihadapi Hotel Bintang Lima, (3) Merumuskan dan memilih alternatif strategi pemasaran jasa yang tepat bagi Hotel Bintang Lima, berdasarkan analisis. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Analisis dalam penelitian ini dimulai dengan mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal perusahaan. Perumusan strategi dilakukan melalui tiga tahap pelaksanaan. Tahap pertama adalah tahap masukan (the input stage) dengan menggunakan matriks IFE dan EFE. Tahap kedua adalah tahap pencocokan (the matching stage) dengan menggunakan matriks SWOT. Berdasarkan analisis matriks SWOT, Tahap ketiga yaitu tahap pengambilan keputusan (the decision stage) dengan menggunakan AHP untuk menetapkan prioritas strategi pemasaran yang tepat bagi perusahaan. Alat bantu yang digunakan adalah program komputer Microsoft Excel 2010. sehingga dari hasil tersebut menunjukkan hotel bintang lima di kuta Bali ada pada posisi internal strategi 3,62 dan external strategi 3,51 artinya masih bisa meningkatkan penjualan dan produktivitas hotel masih baik.Kata Kunci: Analisa Faktor Internal, Analisa Faktor External, Strategi Pemasaran

    The Role of Founders\u27 Entrepreneurial Mindset in Shaping the Journey of Digital Startups

    Get PDF
    This study investigates the critical role of entrepreneurship in driving the growth and success of digital startups, highlighting its significance in fostering innovation, technological advancement, and economic transformation. Using a qualitative approach, semi-structured interviews were conducted with ten digital startup founders to explore the opportunities, challenges, and strategies shaping their ventures. The findings reveal that entrepreneurship enables startups to leverage technological advancements, access global markets, and optimize operational costs through digital tools, scalable platforms, and partnerships with accelerators and venture capitalists. Despite these opportunities, digital startups face significant challenges, including limited funding access, intense competition, and regulatory compliance issues. The research identifies effective strategies such as adopting agile methodologies, building robust networks, fostering innovation, and emphasizing leadership, team-building, and customer-centric approaches as critical to sustaining growth and achieving long-term success. By addressing gaps in existing literature that often focus on technological and operational factors, this study underscores the strategic importance of entrepreneurship in navigating the complexities of the digital business landscape. The implications extend beyond academic discourse, providing actionable insights for entrepreneurs to refine their approaches, policymakers to create enabling regulatory environments, and ecosystem stakeholders to support innovation. These findings contribute to a deeper understanding of entrepreneurship’s transformative potential and its role in empowering digital startups to thrive in a dynamic and competitive global economy

    ANALISIS STRATEGI BAURAN PEMASARAN JASA PERHOTELAN PADA BEBERAPA HOTEL BINTANG LIMA KUTA - BADUNG

    No full text
    ABSTRAKAnalisis Strategi Bauran Pemasaran Jasa Perhotelan Pada Hotel Bintang Lima, Kuta Kabupaten Badung memiliki industri dibidang jasa Perhotelan, Industri hotel dan restoran di Bali diprediksi akan tumbuh sekitar 6% pada tahun 2018. Pertumbuhan industri perhotelan tidak terlepas dari image Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya sebagai salah satu negara tujuan wisata di dunia. Bali merupakan salah satu tempat tujuan wisata di Indonesia yang ditunjang oleh sarana akomodasi berupa penyediaan jasa perhotelan. Hotel Bintang Lima merupakan salah satu hotel bintang lima di Kuta Bali yang menggunakan konsep Green hotel ramah lingkungan. Hotel Bintang Lima yang produktivitasnya belum maksimal melakukan langkah-langkah yang tepat dalam menetapkan strategi pemasaran agar mampu memaksimalkan tingkat hunian, menguasai pasar, dan bersaing dengan sukses, sehingga dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor lingkungan internal yang dimiliki Hotel Bintang Lima, (2) Mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor lingkungan eksternal yang dihadapi Hotel Bintang Lima, (3) Merumuskan dan memilih alternatif strategi pemasaran jasa yang tepat bagi Hotel Bintang Lima, berdasarkan analisis. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Analisis dalam penelitian ini dimulai dengan mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal perusahaan. Perumusan strategi dilakukan melalui tiga tahap pelaksanaan. Tahap pertama adalah tahap masukan (the input stage) dengan menggunakan matriks IFE dan EFE. Tahap kedua adalah tahap pencocokan (the matching stage) dengan menggunakan matriks SWOT. Berdasarkan analisis matriks SWOT,Tahap ketiga yaitu tahap pengambilan keputusan (the decision stage) dengan menggunakan AHP untuk menetapkan prioritas strategi pemasaran yang tepat bagi perusahaan. Alat bantu yang digunakan adalah program komputer Microsoft Excel 2010. sehingga nantinya dapat meningkatkan penjualan dan produktivitas hotel.Kata Kunci: analisis strategi, bauran pemasaran, hotel bintang lima, Kuta, Badun

    LPD MODEL AND FUNCTION IN INCREASING THE INDIGENEOUS BALI ECONOMY

    No full text
    ABSTRACKThe Village Credit Institution in Bali as a savings and loan business entity owned by a customary village, functions and aims primarily to encourage the economic development of rural communities through targeted savings and effective capital distribution. From the description above, the problem research formulation is how the existence and function of LPD in improving the economy of the Balinese people. The purpose of this research is to determine of the Model and the function of LPDs in improving the economy of the Balinese people. The research methodology is a qualitative descriptive method with observations, interviews, triangulation and documentation. The findings and results of the study are (1). Village Credit Institutions (LPD) as a financial institution that carries out the activities of collecting and channeling community funds operating in a customary village administration area on the basis of kinship between villagers. (2). By relying on the number of villagers and the close family ties within the LPD village, they continue to develop their institutions. (3). LPD has a function and purpose as a forum for village wealth in the form of money or other securities. As one of the Customary Village Owned Enterprises (BUMDA) directed at efforts to improve the standard of living of the village manners and support the development of the Customary Village. (4). Encourage development and maintain the economic resilience of the indigeneous Village society through targeted savings and effective capital distribution). (5). Model of LPD is the Indigeneous helping the small entrepreneurship in order to increasing the economic development so that the welfare of the people in bali increasing. (6). Creating equity and business opportunities for villagers and rural labor. (7). Increasing purchasing power, expediting payment and money flow in villages, and preserving Hindu culture, customs and religion. The conclusion is that the LPD still exists and the LPD is able to improve the economy of the Balinese community in general and improve the national economy in particular.Keywords: Existence; Model; LPD Function; Economy; Society

    Pengaruh Kualitas Pelayanan, Citra Destinasi, dan Electronic Word of Mouth terhadap Minat Wisatawan Berkunjung Kembali ke Tanah Lot: The Effect of Service Quality, Destination Image, and Electronic Word of Mouth (e-WOM) on Tourists’ Revisit Intention to Tanah Lot

    No full text
    Pariwisata merupakan salah satu sektor penting yang memberikan kontribusi besar bagi perekonomian indinesia. Tanah Lot sebagai salah satu destinasi wisata utama di bali memiliki daya tarik yang kuatbagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, keberlnjutan kunjungan wisatawan sangat di pengaruhi oleh Kualitas Pelayanan, Citra Destinasi,serta perkembangan e-WOM. Oleh karna itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Kualitas Pelayanan, Citra Destinasi, dan Electronic Word of Mouth (e-WOM) terhadap Minat Wisatawan Berkunjung Kembali ke Tanah Lot dalam konteks manajemen destinasi. Populasi dalam penelitian ini adalah wisatawan yang pernah mengunjungi Tanah Lot. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling dengan jumlah responden sebanyak 100 orang. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan SPSS 26 for Windows. Teknik analisis data meliputi uji validitas, uji reliabilitas, analisis deskriptif, uji asumsi klasik, regresi linear berganda, analisis korelasi parsial dan berganda, koefisien determinasi, serta uji t dan uji F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua hipotesis diterima. Kualitas Pelayanan tidak berpengaruh signifikan terhadap Minat Berkunjung Kembali (t hitung = 0,750 < t tabel = 1,985; signifikansi = 0,455 > 0,05). Sebaliknya, Citra Destinasi berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Minat Berkunjung Kembali (t hitung = 6,840 > t tabel; signifikansi = 0,000 < 0,05). Demikian pula, e-WOM berpengaruh signifikan secara parsial (t hitung = -3,957; |t hitung| > t tabel; signifikansi = 0,000 < 0,05). Secara simultan, ketiga variabel tersebut berpengaruh signifikan terhadap Minat Berkunjung Kembali (F hitung = 31,736 > F tabel = 3,090; signifikansi = 0,000), dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,498. Artinya, ketiga variabel independen memberikan kontribusi sebesar 49,8% terhadap Minat Berkunjung Kembali, sedangkan sisanya sebesar 50,2% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Penelitian ini berkontribusi secara teoretis dengan menunjukkan bahwa citra destinasi dan e-WOM berpengaruh signifikan terhadap minat berkunjung kembali, sedangkan kualitas pelayanan tidak. Secara praktis, hasil penelitian ini menjadi masukan bagi pengelola Tanah Lot untuk fokus pada penguatan citra destinasi dan e-WOM. Secara akademis, penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi penelitian selanjutnya

    MODEL PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT ADAT SEBAGAI STRATEGI DALAM PERCEPATAN PEMBANGUNAN EKONOMI NASIONAL (STUDI KASUS ADAT BETAWI DKI JAKARTA)

    Get PDF
    DKI Jakarta adalah ibu kota Indonesia yang sistem perekonomian sudah terbuka seluruh komponen perekonomian berada diJakarta. Namun pada prakterknya Jakarta masih memiliki sistem adat yaitu adat Betawi. Kehadiran lembaga perekonomian berlandaskan kebudayaan Betawi mengangkat perekonomian masyarakat di Jakarta khusunya masyarakat ekonomi menengah kebawah. Berdasarkan permasalahan diatas maka peneliti merumuskan permasalahan yaitu, Bagaimana cara masyarakat Adat Betawi membangun sistem perekonomian masyarakatnya. Bagaimana bentuk lembaga ekonomi masyarakat adat diDKIJakarta dalam menjalankan roda perekonomian.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara masyarakat adat membangun sistem perekonomiannya; untuk mengidentifikasi bentuk lembaga ekonomi masyarakat adat di Indonesia. Peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif (mix method) dengan tipe penelitian case study. Data dikumpulkan dan dianalisis secara observation, wawancara, dan dokumen. Hasil dan temuan penelitin ini cara masyarakat Adat Betawi membangun sistem perekonomian masyarakatnya dengan melakukan pemberdayaan masyarakat adat yang didasarkan pada konsep bahwa setiap warga masyarakat memiliki kewajiban untuk mendukung kegiatan adatnya masing-masing. Bentuk lembaga ekonomi masyarakat Adat Betawi di DKIJakarta yang berhasil adalah koperasi jasa “Jakarta Tentram Sejahtera (JTS)”. Lembaga adat atau jenis usaha yang ada pada Koperasi JTS bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan modal dalam mengembangkan usahanya masing-masing maupun dalam menjual hasil usahanya tersebut. JTS merupakan salah satu model yang bisa digunakan sebagai percepatan pembangunan ekonomi nasional. Dengan adanya Koperasi Jasa JTS ini maka masyarakat adat Betawi mengalami peningkatan ekonomi dan kesejahteraan hidupnya.Kata kunci: Adat Betawi, Ekonomi Berbasis Adat, Ekonomi Nasional, Koperasi Jasa JTS.MODEL OF ECONOMIC EMPOWERMENT OF INDIGENOUS PEOPLES AS A STRATEGY IN ACCELERATING NATIONAL ECONOMIC DEVELOPMENT (CASE STUDY OF BETAWI CUSTOM, IN DKI JAKARTA)Indigenous based on economic institutions aim to maintain the local wisdom of the community as well as accelerate national economic development. People's economic lives are improved through the empowerment of customs. The research formulation is (1). How do Betawi Indigenous people build their people's economic system? (2). What is the shape of indigenous economic institutions in DKI Jakarta? The purpose of this research is to find out how indigenous peoples build their economic systems; to identify the form of indigenous economic institutions in Indonesia. Researchers used qualitative and quantitative descriptive methods (mix methods) with case study types. Data is collected and analyzed in observations, interviews, and documents. The results and findings are (1). the way the Betawi Indigenous people build their community's economic system by empowering indigenous peoples based on the concept that every citizen has an obligation to support their own indigenous activities. (2). The form of betawi indigenous economic institution in DKI Jakarta that succeeds is the service cooperative "Jakarta Tentram Sejahtera (JTS)". The traditional institution or type of business in JTS Cooperative aims to provide convenience for the community to get capital in developing their own business or in selling the proceeds of the business. JTS is one of the models that can be used as an acceleration of national economic development. With this JTS Service Cooperative, betawi indigenous people experienced an increase in their economy and welfare.Keywords: Betawi Customs, Indigenous Based Economy, National Economy, JTS Service Cooperativ

    The Relationship between Regulatory Environment, Social Capital, Infrastructure, and Entrepreneurial Success on the Performance of Indonesian MSMEs

    Get PDF
    This research investigates the intricate relationships between the regulatory environment, social capital, infrastructure, and entrepreneurial success in Indonesian Micro, Small, and Medium-sized Enterprises (MSMEs). Employing Structural Equation Modeling with Partial Least Squares (SEM-PLS) analysis on a diverse sample of 200 businesses, the study unravels the direct and indirect effects of these factors. Results indicate that a favorable regulatory environment, robust social capital, and adequate infrastructure significantly contribute to the success of MSMEs. Furthermore, social capital and infrastructure act as mediators, magnifying the impact of the regulatory environment on entrepreneurial success. These findings carry practical implications for policymakers and practitioners seeking to enhance the MSME ecosystem in Indonesi
    corecore