1,721,002 research outputs found
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH DALAM PEMBELAJARAN IPA
Tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dalam pembelajaran IPA. Secara spesifik, tujuan penulisan artikel ini untuk; pertama, mengetahui hakikat dan unsur pembelajaran kooperatif. Kedua, mengetahui kelebihan dan kekurangan pembelajaran kooperatif serta pembelajaran kooperatif tipe Make a Match. Berdasarkan temuan hasil penelitian terdahulu diperoleh bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dapat meningkatkan semangat dan keaktifan siswa, meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa, serta meningkatkan hasil belajar IPA. Dengan demikian, disarankan bagi guru untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match dalam pembelajaran IPA di kelas
Model Pembelajaran Learning Cycle 5E dalam Pembelajaran IPA
Guru memegang peranan yang sangat penting dalam mengkondisikan suasana pembelajaran, sehingga guru dan siswa dapat secara bersama-sama dalam proses belajar mengajar yang kondusif sehingga tujuan dari pembelajaran dapat tercapai. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah ilmu yang mempelajari tentang benda-benda yang ada di sekitar kita atau fenomena alam dan gejala yang menyertainya. Dalam proses pembelajaran IPA dari dulu sampai sekarang dipandang menjadi sesuatu yang sulit, padahal IPA mempelajari hal-hal yang dapat dilihat, dirasakan dan dipikirkan. Kesulitan siswa dalam mempelajari IPA paling tidak ditentukan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Tulisan ini bertujuan membantu guru dalam menentukan sebuah model pembelajaran IPA sehingga kesulitan belajar siswa dalam mempelajari IPA dapat diatasi. Salah satu model pembelajaran yang bisa dijadikan rujukan adalah model pembelajaran Learning Cycle 5E yaitu suatu model pembelajaran yang memungkinkan siswa menemukan konsep sendiri atau memantapkan konsep yang dipelajari, mencegah terjadinya kesalahan konsep, dan memberikan peluang kepada siswa untuk menerapkan konsep-konsep yang telah dipelajari pada situasi baru. Learning Cycle 5E meliputi 5 tahapan, yaitu engagement, exploration, explanation, elaboration, dan evaluation
PERAN URGEN GURU DALAM PENDIDIKAN
Guru sebagai pelaku utama dalam penerapan program pendidikan di sekolah memiliki peran yang sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Peran guru meliputi: mendidik, pembimbing, melatih, menasehati, melakukan pemharuan, menjadi model dan teladan, memiliki kepribadian, peneliti, mendorong kreativitas, membangkitkan pandangan, melakukan pekerja rutin, memindah kemah, membawa cerita, menjadi aktor, emansipator, mengawetkan, sebagai kulminator, dan melakukan evalusi. Peran guru dalam perkembangan pendidikan meliputi: penanaman nilai, membangun karakter, sentral pembelajaran, memberi bantuan dan dorongan, melakukan pengawasan dan pembinaan, mendisiplinkan anak, dan panutan bagi lingkungan
TELAAH KOMPARASI KONSEP PEMBELAJARAN MENURUT IMAM AL-ZARNUJI DAN IMAM AL-GHOZALI
This study is a descriptive qualitative by using a comparative analysis. The data primary data of this study are ta'lim al-muta'allim book and ayyuhal walad book. While the secondary data are on the basis of Imam al-Ghazali thoughts about education, Islamic education both classical and contemporary, and the thoughts of Moslem education figures.In this study, the data is collected by using documentation method and analyzed by intellectual biography. The comparison method were was used in for data discussion. The result of the study revealed that the concept of study and learning according to imam al-Zarnuji is a metal process.The core of learning itself is characteristic and manner shaping. Imam al-Zarnuji's learning concept stesses more on moral both for teacher and students. The interaction between students and teachers must support the ethics and moral without killing the learning creativity and dynamic. While according to imam al-Ghazali, learning is the process of soul to understand the meaning of something as an effort to shape good character in order to get closer to Allah the almighty (taqarrub). Although the learning concept according to imam al-Ghazali stresses on moral, it tends to pay extra attention toward the teachers as al-Mu'allim (knowledge transporters). A teacher must have good role or moral when he/she teaching. The comparison between learning concept and learning according to imam al-Ghazali and imam al-Zarnuji are on the basis of ontology (tauhid), epistimology (knowledge) dan aksiology (akhlaq/moral). These are sourced on al-Qur'an dan al-Hadits
Upaya Mengatasi Miskonsepsi Siswa pada Materi Sistem Saraf Melalui Penggunaan Peta Konsep
<p><em>The purpose of this research is to overcome student’s misconception towards nervous system material through concept map. This research applies action research as the method which consists of four steps in namely: </em><em>planning, action, observation, and reflection. The subject of this research is class B of the 9th-grade students of SMPN 2 Legok Kabupaten Tangerang. The total of students is 34 students. This action research was held in October 2012</em><em>. The results of research reveal that the application of concept map in nervous system learning material is able to overcome misconception problem of the students. </em><em>Cycle 1 reveals that the misconception reduced to as much as 36.5% and it increases in cycle 2 for as much as 40.6%.</em></p></jats:p
Kepemimpinan: Sebuah Kajian Literatur
This study aims to explain the understanding of management, scope of management, and leadership of Islamic education. Library studies are used as a method of research. The data is retrieved, collected, and analyzed from scientific books and journals that have similar topics, then used as writings and summations. The results showed that management activities cover a broad spectrum, ranging from activities to determining the direction of the organization in the future, creating organizational activities, encouraging cooperation between fellow members of the organization, and overseeing activities in achieving the goals. Islamic education leadership is a leadership process in Islamic education to move, influence, motivate, and direct people within educational institutions to achieve the goals that have been formulated
Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran IPA di Madrasah Ibtidaiyah
Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan hakikat IPA, pembelajaran IPA, dan pendekatan saintifik dalam pem-belajaran IPA di Madrasah Ibtidaiyah. Metode penulisan artikel ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan didasarkan pada hasil pengamatan, pengalaman, dan kajian pustaka dari berbagai sumber informasi. Hakikat IPA meliputi empat unsur, yaitu produk, proses, apli-kasi dan sikap. Produk dapat berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum. Proses merupakan prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmi-ah; metode ilmiah meliputi pengamatan, penyusunan hipotesis, peran-cangan eksperimen, percobaan atau penyelidikan, pengujian hipotesis melalui eksperimentasi, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesim-pulan. Aplikasi merupakan penerapan metode atau kerja ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari. Sikap merupakan rasa ingin tahu tentang obyek, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar. Pembelajaran IPA di SD/MI dipergunakan metode ilmiah dengan mengembangkan ketrampilan proses dasar untuk SD/MI kelas rendah dan ketrampilan proses terintegrasi untuk SD/MI kelas tinggi. Pendekatan saintifik dalam pembelajaran meliputi meng-amati, menanya, mengasosiasi, mencoba, dan membentuk jejaring/mengkomunikasikan
Kemampuan Mahasiswa Calon Pendidik Madrasah Ibtidaiyah Dalam Menerapkan Pembelajaran Terpadu
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan calon pendidik madrasah ibtidaiyah (mahasiswa) dalam menerapkan pembelajaran terpadu di madrasah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis RPP dan lembar penilaian proses pembelajaran terpadu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan (keterampilan) mahasiswa calon pendidik madrasah ibtidaiyah dalam menerapkan pembelajaran terpadu sebesar 77% berkategori baik, dengan keterampilan membuka dan menutup pembelajaran sebesar 76.6% (baik), keterampilan menjelaskan konsep, prinsip, dan prosedur dalam pembelajaran terpadu sebesar 78.4% (sangat baik), keterampilan melaksanakan pembelajaran sesuai rancangan yang telah disusun sebesar 79.0% (sangat baik), keterampilan menggunakan alat, media, dan sumber belajar sebesar 80.0% (sangat baik), keterampilan bertanya (berkomunikasi) sebesar 77.9% (sangat baik), keterampilan mengadakan variasi dalam pembelajaran sebesar 75.6% (baik), keterampilan mengelola kelas sebesar 75.3% (baik), dan keterampilan mengevaluasi sebesar 75.6% (baik)
Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat dalam Pembelajaran IPA
Ilmu Pengetahuan Alam sebagai salah satu mata pelajaran di madrasah erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari peserta didik dalam dalam masyarakat. Kecenderungan saat ini, pembelajaran IPA disampaikan secara konvensional dimana peserta didik hanya mempelajari IPA sebagai produk, menghafalkan konsep, teori, dan hukum. Dalam hal ini, guru masih cenderung menggunakan model pembelajaran langsung, karena dinilai lebih praktis dan mudah mencapai tujuan pembelajaran. Akibatnya, pembelajaran lebih berpusat pada guru, sehingga pembelajaran IPA sebagai proses, sikap dan aplikasi tidak tersentuh dalam pembelajaran. Model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat merupakan model pembelajaran yang berusaha untuk menyajikan IPA dengan menggunakan masalah-masalah dari dunia nyata, memanfaatkan konteks sosial untuk menggali dan menganalisis isu, serta memecahkan masalah sebagai dampak dari sains dan teknologi. Milsanya aplikasi dalam penggunaan Sains Teknologi Masyarakat adalah bioteknologi
PENINGKATAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA MELALUI PENDEKATAN INKUIRI TERBIMBING
The purpose of this research is to investigate the improvement of students’ science process after implementing guided inquiry approach. This research was conducted at the sixth grade of elementary school of SD Islam Al Ikhlas Cipete in 2008/2009 academic year. This research used classroom action research. Moreover, the research instruments consist of lesson planning, students’ sheet, and observation sheet. This research measures some skills such as observing, predicting, measuring, using devices, doing exercises, interpreting data, communicating, and summarizing. Meanwhile, data were obtained through test and observation sheet. Furthermore, from this research, there was only one aspect skill which has achieved the indicator of success. Three skills such as observing, measuring and doing exercises had achieved > 70% since the first cycle. Meanwhile, four skills such as predicting, interpreting data, communicating, and summarizing did not improve significantly. It caused by those skills were hard to be mastered by the sixth grade students due to those skills demand students’ high level thinking. Therefore, to improve those skill aspects, the teacher should be more intensive in guiding students in order to students be able to learn general concepts, scientific principles, and developing creativity in solving science problems individually. The average percentage for process skills improve 10.55% from 62.89% to 73.44% with category was good. Thus, students’ science process skills of the sixth grade of SD Islam Al Ikhlas Cipete could be improved by using guided inquiry approach
- …
