39 research outputs found
Stimulasi Pematangan Gonad Ikan Belanak (Mugil dussumieri) Menggunakan Hormon MT, E2, HCG dan Ovaprim.
Ikan belanak (Mugil dussumieri) dari famili Mugilidae mempunyai prospek untuk dibudidayakan terutama di daerah tropis. Ikan ini belanak memiliki penyebaran geografis yang sangat luas dan bersifat katadromous serta memiliki kemampuan beradaptasi dalam berbagai salinitas dan suhu, selain itu dapat menyesuaikan terhadap berbagai makanan di berbagai macam habitat dan memiliki pertumbuhan yang cepat serta lebih tahan terhadap hama dan penyakit. Ikan belanak memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap berbagai lingkungan sehingga sesuai untuk domestikasi spesies ke air tawar, air payau dan air asin dalam budidaya.
Ikan belanak merupakan detritus feeder yang secara efisien memperoleh makanan pada detritus dan bahan organik. Ikan belanak berperan penting dalam mengurangi kandungan bahan organik dari air dan sedimen kolam serta memperbaiki parameter kualitas air. Kebiasaan makan ikan belanak tersebut secara tidak langsung dapat mempengaruhi kelimpahan parasit oportunistik yang bergantung pada limbah organik seperti parasit eksternal udang yaitu Zoothamnium sp. dan Epistylis sp..
Budidaya di Indonesia didominasi oleh ikan karnivora (udang dan ikan kerapu) dan omnivora (ikan nila dan mas). Saat ini belum ada budidaya ikan detritivora untuk memanfaatkan sisa-sisa pakan dan buangan dari budidaya ikan karnivora dan omnivora. Ikan belanak merupakan salah satu jenis ikan detritivora yang berpotensi untuk dibudidayakan namun belum dilakukan domestikasi sehingga benihnya belum tersedia di pembenihan. Ikan belanak dapat digunakan sebagai pembersih lingkungan dan sumber protein, sehingga sudah selayaknya digali potensinya agar menjadi komoditas baru bagi budidaya perairan.
Penelitian merupakan rintisan untuk menghasilkan benih ikan belanak dalam wadah budidaya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pematangan gonad ikan belanak (Mugil dussumieri) menggunakan hormon. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari tiga perlakuan dan tiga kali ulangan individu. Terdapat dua percobaan dengan perlakuan berbeda dan dilakukan secara terpisah. Percobaan pertama menggunakan ikan berukuran 9-14.7 cm dengan hormon 17α-metiltestosteron (MT) 4 mg kg-1, estradiol-17β (E2) 0.07 mg kg-1 dan kontrol larutan fisiologis 0.9 % 0.5 ml kg-1. Percobaan kedua menggunakan ikan berukuran 10-31 cm dengan Human Chorionic Gonadotropin (HCG) 750 IU kg-1, ovaprim 0.5 ml kg-1 dan kontrol larutan fisiologis 0.9 % 0.5 ml kg-1.
Wadah yang digunakan yaitu tambak air payau 1000 m2 yang dilengkapi hapa berukuran 2 x 1 meter sebanyak tiga unit untuk masing-masing percobaan dengan kedalaman 110-120 cm. Masing-masing wadah berisi 13 ekor yang telah diaklimatisasi selama sepuluh hari. Pakan yang diberikan berupa pakan tenggelam dengan formulasi kandungan protein 32 %, Persentase pemberian pakan harian 1 % dari berat tubuh ikan dengan frekuensi pemberian dua kali per hari yaitu pada pukul 11.00 dan 17.00. Ikan belanak dipelihara selama 60 hari.
3
Percobaan pertama nilai Gonado Somatic Index (GSI) pada hari ke-60 menunjukkan bahwa pemberian estradiol-17β (1.31 ± 0.94 %) lebih tinggi dibandingkan 17α-metiltestosteron (1.00 ± 0.51 %) dan kontrol (0.54 ± 0.20 %). Hasil percobaan kedua pada hari ke-60 nilai GSI menunjukkan bahwa pemberian HCG (7.18 ± 0.59 %) lebih tinggi dibandingkan ovaprim (3.29 ± 2.66 %) dan kontrol (6.72 ± 0.32 %). Nilai Hepato Somatic Index (HSI) percobaan pertama pada hari ke-30 dan 60 tidak berbeda nyata, tetapi pada hari ke-0 lebih tinggi dibandingkan hari ke-30 dan 60. Hasil percobaan kedua menunjukkan nilai HSI pada hari ke-0, 30 dan 60 tidak berbeda nyata, tetapi pada hari ke-30 menurun dan pada hari ke-60 meningkat lagi. Sebaran frekuensi diameter telur untuk 17α-metiltestosteron menunjukkan kisaran 16-240 μm lebih tinggi dibandingkan estradiol-17β dengan kisaran 9-209 μm dan kontrol 16-80 μm pada hari ke-60. Sebaran frekuensi diameter telur pada percobaan kedua untuk kontrol hari ke-30 menunjukkan kisaran 9-144 μm, HCG 9-441 μm sedangkan ovaprim hanya 9-111 μm. Ukuran diameter telur pada HCG lebih tinggi dibandingkan ovaprim dan kontrol.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa induksi hormon 17α-metiltestosteron dan estradiol-17β pada ikan belanak ukuran 9-14.7 cm dapat meningkatkan kematangan gonad TKG I sampai TKG II sedangkan induksi hormon HCG pada ikan belanak ukuran 10-31 cm dapat meningkatkan kematangan gonad TKG I sampai TKG III
Pengaruh Hormon Oksitosin dan Keberadaan Induk Jantan terhadap Keseragaman Waktu Melahirkan pada Ikan Plati Koral Xiphophorus maculatus
Ikan plati koral merupakan ikan yang bereproduksi dengan cara melahirkan (livebearer). Permasalahan yang dihadapi dalam budidaya ikan plati koral ialah ketidakseragaman waktu induk melahirkan anak dalam suatu pemijahan masal. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh hormon oksitosin dan keberadaan induk jantan terhadap keseragaman waktu melahirkan pada ikan plati koral. Dosis hormon oksitosin yang digunakan adalah 0, dan 0.2 ml L-1, dan jumlah induk jantan yang digunakan adalah 0, 1, 2, dan 3 ekor. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan dosis hormon oksitosin meningkatkan jumlah induk yang melahirkan. Dosis hormon oksitosin yang dikombinasikan keberadaan induk jantan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap keseragaman waktu melahirkan ikan plati koral. Jumlah induk ikan plati koral yang melahirkan hanya dipengaruhi oleh dosis hormon oksitosin dengan persentase induk melahirkan tertinggi sebesar 53.33% pada dosis 0.2 ml L-1 oksitosin. Perlakuan hormon dan keberadaaan induk jantan juga tidak memiliki interaksi dalam memengaruhi persentase keseragaman waktu melahirkan pada ikan plati koral
Kloning Sekuens Parsial dan Analisis Ekspresi Gen Insulin-Like Growth Factor (IGF-I) pada Pertumbuhan Ikan Nilem Osteochilus hasselti.
Ikan nilem termasuk komoditas budidaya ikan air tawar di Indonesia. Pertumbuhan merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan budidaya ikan nilem. Salah satu gen yang berperan dalam regulasi pertumbuhan ialah insulin-like growth factors-I (IGF-I). Gen IGF-I diduga bertanggung jawab terhadap perbedaan pertumbuhan ikan dalam satu populasi dan dapat digunakan sebagai salah satu metode untuk seleksi ikan dengan pertumbuhan yang cepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan sekuenss parsial gen IGF-I dan menganalisis tingkat ekspresinya pada ikan nilem berukuran besar dan kecil. Ikan nilem yang telah berumur empat minggu dari pemijahan massal dipelihara selama empat bulan. Pemeliharaan ikan dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu yang berukuran panjang total 6,15±0,8 cm (kecil) dan 11,3±1,01 cm (besar) untuk analisis ekspresi gen. Sekuens gen IGF-I diisolasi menggunakan primer yang didesain berdasarkan pangkalan data bank gen. cDNA disintesis dari mRNA yang diekstraksi dari organ hati. Pada hari terakhir pemeliharaan, masing-masing sebanyak empat ekor ikan berukuran besar dan kecil dibedah, kemudian organ hatinya diambil pada jam ke-0, ke-3, ke-6, dan ke-12 setelah pemberian pakan untuk ekstraksi RNA total. Analisis tingkat ekspresi dilakukan menggunakan metode semi kuantitatif PCR. Hasil analisis sekuenssing menunjukkan bahwa susunan nukleotida parsial IGF-I ikan nilem berukuran 267 bp yang menyandikan 88 asam amino residu. Sekuens nukleotida dan asam amino residu IGF-I tersebut memiliki kesamaan 86,6-93,5% dengan ikan kelompok cyprinids. Tingkat ekspresi relatif mRNA IGF-I/β-aktin ikan kelompok besar lebih tinggi dibandingkan kelompok kecil. Peningkatan ekspresi gen terjadi pada jam ke-3 setelah pemberian pakan. Dengan demikian, gen IGF-I berpotensi digunakan sebagai marka molekuler dalam seleksi untuk menghasilkan ikan nilem yang tumbuh cepat
Evaluasi Pemanfaatan Ekstrak Gracilaria verrucosa Terhadap Sistem Imun dan Pertumbuhan Udang Vaname Litopenaeus vannamei.
Indonesia merupakan salah satu pengekspor terbanyak udang di dunia yang
terus melakukan peningkatan produksi udangnya. Namun upaya ini sering
terkendala karena adanya serangan penyakit pada budidaya udang. Peningkatan
imunitas nonspesifik dapat mengurangi kerentanan udang terhadap penyakit.
Imunostimulan yang berasal dari rumput laut merupakan salah satu bahan yang
dapat menimbulkan respons imunitas alami udang sehingga tahan terhadap
penyakit. Rumput laut jenis Gracilaria verrucosa merupakan salah satu alga
merah yang banyak terdapat di perairan Indonesia dan saat ini sudah
dibudidayakan di tambak. Bahan aktif rumput laut dari jenis Gracilaria spp.
adalah sulfat polisakarida yang dapat menstimulasi sistem imun udang. Pemberian
imunostimulan melalui pakan merupakan metode yang umum digunakan untuk
meningkatkan sistem imun maupun mendukung pertumbuhan udang. Selain itu
stimulasi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain dosis dan durasi pemberian
pakan imunostimulan serta keamanannya bila diaplikasikan di lapangan. Tujuan
umum penelitian ini untuk mengevaluasi pemanfaatan ekstrak G. verrucossa
terhadap sistem imun dan pertumbuhan udang vaname Litopenaeus vannamei.
Penelitian pertama bertujuan untuk mengetahui komposisi kimia ekstrak
rumput laut G. verrucosa. Rumput laut diekstrak menggunakan pelarut etil asetat
tiga bagian untuk selanjutnya dianalisis. Hasil analisis komposisi kimia ekstrak
etil asetat rumput laut G. verrucosa menunjukkan bahwa ekstrak mengandung
sulfat (24,21 %), karbohidrat (13,41 %), dan galaktosa 0,46 mg L-1. Komposisi
kimia lain dari bahan ekstrak etil asetat adalah kandungan protein sebanyak 3,64%.
Hasil analisis pirolisis GC-MS menunjukkan bahwa ekstrak G verrucosa
mengandung senyawa monosakarida dalam bentuk α-L-galactopyranoside dengan
bobot molekul 178 kDa, methil 3,6-anhydro-α-L-galactopyranoside dengan bobot
molekul 176 kDa, dan 4-O-β-D-galactopyranosyl 342 kDa.
Penelitian tahap kedua bertujuan untuk mendapatkan dosis optimum ekstrak
yang dapat meningkatkan sistem imun, sintasan dan mendukung pertumbuhan
udang vaname. Penelitian ini menggunakan tiga dosis ekstrak G. verrucosa yaitu
1, 2, dan 3 g kg-1 yang diformulasikan dalam pakan. Sebagai kontrol, udang diberi
pakan tanpa ekstrak G. verrucosa. Udang diberi pakan perlakuan selama enam
minggu. Selama periode pemeliharaan dilakukan pengamatan parameter imun
pada jam ke- 6, 24, 72, 336, dan 1008. Khusus untuk pengamatan parameter imun
secara molekular pada gen lgbp (lipopolysaccharide and -1,3-glucan binding
protein) dan alf1 (anti-lipopolisaccharide faktor 1) dilakukan pada hari kesatu, 14
dan 42. Setelah pemeliharaan selama enam minggu dilakukan penimbangan bobot
akhir udang. Uji tantang dilakukan menggunakan bakteri patogen Vibrio harveyi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak G. verrucosa yang diformulasikan
dalam pakan udang dengan dosis 1, 2, dan 3 g kg-1 dapat memberikan respons
parameter imun (THC, DHC, aktivitas fagositosis, aktivitas fenoloksidase serta
aktivitas bakterisidal) lebih tinggi dibandingkan dengan udang yang diberi pakan
kontrol tanpa ekstrak G. verrucosa. Analisis molekular menunjukkan bahwa
peningkatan induksi kedua gen yang terkait imun mulai terlihat pada hari kesatu
setelah pemberian pakan ekstrak namun terjadi penurunan pada akhir
pemeliharaan. Udang vaname yang diberi pakan mengandung ekstrak G.
verrucosa sebanyak 2 g kg-1 mengalami stimulasi sistem imun yang optimum.
Pemberian pakan mengandung ekstrak G. verrucosa pada dosis 1-3 g kg-1
menimbulkan resistan terhadap infeksi bakteri V. harveyi.
Penelitian tahap ketiga bertujuan untuk mendapatkan durasi pemberian
pakan ekstrak G. verrucosa yang baik. Eksperimen ini menggunakan tiga
perlakuan durasi, yaitu pemberian pakan ekstrak berselang-seling satu minggu,
berselang-seling dua minggu dan hanya sekali pemberian yaitu satu minggu pada
awal pemeliharaan. Kontrol merupakan udang yang diberi pakan tanpa
penambahan ekstrak G. verrucosa. Pengamatan parameter imun berupa THC,
DHC, PO, dan aktivitas fagositik dilakukan pada minggu kesatu, 3, 4 dan 6.
Penimbangan bobot udang dilakukan pada awal dan akhir pemeliharaan. Uji
tantang dengan V. harveyi dilakukan untuk mengevaluasi sintasan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa udang yang diberi pakan ekstrak pada durasi
tertentu memiliki respons imun yang lebih tinggi dibandingkan udang yang diberi
pakan kontrol. Udang yang diberi pakan ekstrak dengan durasi tertentu
mempunyai sintasan yang lebih tinggi dibandingkan udang yang diberi pakan
tanpa durasi pakan ekstrak. Pemberian pakan ekstrak berselang-seling satu
minggu dan satu minggu pemberian dapat mendukung pertumbuhan udang.
Penelitian tahap keempat dilakukan untuk menguji pakan ekstrak dengan
dosis 2 g kg-1 pada udang dengan perlakuan durasi setiap satu minggu dan satu
minggu pemberian terhadap sintasan dan pertumbuhan udang. Penelitian tahap IV
dilakukan di lapangan, pada wadah hapa (2 m2) yang diletakkan dalam satu
petakan tambak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintasan udang yang diberi
pakan ekstrak satu minggu pada awal pemeliharaan udang lebih tinggi
dibandingkan sintasan udang pada perlakuan lainnya. Pakan mengandung ekstrak
G. verrucosa yang diberikan dengan durasi tertentu belum dapat mendukung
pertumbuhan udang. Walaupun demikian biomassa akhir udang vaname yang
diberi pakan ekstrak pada durasi satu minggu lebih tinggi dibandingkan perlakuan
lainnya, dengan konversi pakan sebesar 1.01.
Hasil penelitian ini secara umum menunjukkan bahwa ekstrak rumput laut
G. verrucosa potensial sebagai imunostimulan. Pemanfaatan ekstrak G. verrucosa
pada dosis 2 g kg-1 adalah optimum dalam meningkatkan respons imun udang
vaname sehingga tahan terhadap terhadap infeksi V. harveyi. Pemberian pakan
ekstrak dengan durasi satu minggu sudah dapat meningkatkan respons imun,
sintasan dan pertumbuhan udang vaname. Aplikasi pakan yang mengandung
ekstrak G. verrucosa di lapangan menunjukkan bahwa imunostimulan ini dapat
dimanfaatkan dalam meningkatkan sintasan udang vaname guna mendukung
produktivitas budidaya L. vannamei
Fisiologi reproduksi pada pematangan gonad dan pemijahan siput gonggong (Laevistrombus turturella) dari Tanjungpinang di wadah budidaya
Siput gonggong adalah sejenis siput laut Kelas Gastropoda, Famili
Strombidae, Genus Laevitrombus, yang terkenal di Kepulauan Riau (Kepri)
sebagai makanan laut (seafood) bercita rasa enak dan mengandung protein yang
tinggi sekitar 46.65%. Harga siput gonggong hidup yang berukuran 27–32 ekor
per kilogram adalah Rp 35,000. Permintaan siput gonggong diperkirakan terus
meningkat seiring dengan pertambahan penduduk Tanjungpinang dari 202,215
orang pada tahun 2015 menjadi 205,735 orang di tahun 2016. Kenaikan
permintaan siput gonggong menyebabkan eksploitasi terhadap siput ini semakin
intensif dilakukan. Eksploitasi intensif menimbulkan tekanan terhadap populasi
siput ini sehingga stok siput gonggong di alam diperkirakan menyusut. Tidak
menutup kemungkinan suatu saat siput gonggong akan sulit ditemukan Kepri.
Upaya produksi siput gonggong melalui budidaya dan pelestarian di alam perlu
dilakukan. Upaya budidaya siput gonggong dihadapkan pada terbatasnya
informasi tentang aspek reproduksi siput ini. Keberhasilan budidaya siput
gonggong ditentukan oleh penguasaan pengetahuan dan teknologi reproduksinya.
Berdasarkan pada tahapan kegiatan pembenihan biota akuatik, maka penelitian ini
dirancang sesuai dengan alur tersebut yang diawali dengan identifikasi spesies
siput gonggong Madong-Tanjungpinang untuk kepastian taksonomi.
Tujuan umum penelitian ini adalah mengkaji fisiologi pematangan gonad
dan pemijahan siput gonggong melalui rekayasa hormonal untuk produksi benih
siput gonggong. Hasil penelitian ini dapat menyediakan informasi guna
pengembangan IPTEK budidaya siput gonggong. Penelitian ini dibagi menjadi
empat tahap, yaitu: (1) identifikasi spesies siput gonggong berdasarkan morfologi
dan karakterisasi profil genotipe siput gonggong Madong-Tanjungpinang, (2)
mengevaluasi perkembangan gonad siput gonggong yang diberi perlakuan
stimulasi hormon 17β-estradiol, (3) mengembangkan teknik penentuan jenis
kelamin siput gonggong dengan paparan suhu air yang berbeda, dan mengevaluasi
pemijahan siput gonggong (L. turturella) secara semibuatan dengan induksi
kombinasi hormon LHRH-a dan antidopamin pada induk, dan (4) mengevaluasi
paparan suhu air yang berbeda terhadap perkembangan embrio dan larva siput
gonggong (L. turturella).
Penelitian tahap pertama bertujuan untuk mengidentifikasi spesies siput
gonggong Madong-Tanjungpinang berdasarkan morfologi cangkang dan
genotipenya. Morfologi cangkang yang diamati antara lain adalah bentuk
penebalan bibir luar cangkang, takik/notch dan pengukuran morfometrik
cangkang. Morfologi cangkang siput gonggong yang diukur mengadopsi metode
morfometrik Cob. Identifikasi mengacu pada MolluscBase/WoRMS
(www.marinespecies.or.com). Genotipe siput gonggong dianalisis menggunakan
gen parsial histon H3. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa gonggong Madong-
Tanjungpinang termasuk spesies Laevistrombus turturella, dengan kerabat
terdekat adalah Strombus canarium. Genotipe gonggong Madong-Tanjungpinang
tersusun atas 343-378 bp basa penyusun sekuen gen histon H3.
Penelitian tahap kedua bertujuan untuk mendapatkan siput gonggong
matang gonad melalui manipulasi hormonal. Percobaan pada evaluasi
perkembangan gonad siput gonggong dengan stimulasi 17β-estradiol dilakukan
dengan tiga analisis, yaitu: analisis konsentrasi estradiol hemolimfa dengan
metode ELISA, karakterisasi berat molekul vitelogenin hemolimfa menggunakan
SDS-PAGE, dan pemeriksaan histologi gonad. Hasil percobaan menunjukkan
bahwa pemberian suntikan larutan 17β-estradiol pada siput gonggong (L.
turturella) menstimulasi perkembangan gonad siput gonggong yang dibuktikan
dengan ukuran diameter oosit gonad, nilai pertumbuhan bobot gonad total dan
GSI gonggong perlakuan suntikan larutan17β-estradiol (P3) lebih besar dibanding
perlakuan lainnya. Analisis SDS-PAGE menunjukkan hemolimfa gonggong
memiliki beberapa jenis protein dengan berat molekul bervariasi. Vitelogenin
siput gonggong diprediksi memiliki berat molekul 54-55 kDa.
Penelitian tahap ketiga bertujuan mendapatkan kriteria ukuran induk siput
gonggong Madong-Tanjungpinang matang gonad, penentuan jenis kelamin, serta
memijahkan induk dengan stimulasi kombinasi hormon LHRH-a dan
antidopamin, sebagai upaya pemijahan secara terkontrol dalam rangka
pembenihan spesies ini. Analisis kriteria ukuran induk gonggong Madong-
Tanjungpinang dilakukan menggunakan uji student t-test. Penentuan jenis
kelamin induk dilakukan dengan paparan suhu yang berbeda, yaitu 15 °C, 20 °C
dan 30 °C. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan uji Kruskal
Wallis. Percobaan evaluasi pemijahan siput gonggong (L. turturella) secara
semibuatan dengan induksi kombinasi hormon LHRH-a dan antidopamin pada
induk pilihan dilakukan dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan
terdiri atas: tanpa suntikan hormon, dosis 0.57μL/g bobot tubuh lunak (BB),
0.7μL/g BB dan 0.9μL/g BB. Data jumlah induk yang memijah dan jumlah telur
yang dikeluarkan induk dianalisis dengan ANOVA dan uji Duncan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ukuran panjang cangkang induk gonggong jantan
dan betina asal Madong-Tanjungpinang berbeda nyata (P<0.05), masing-masing
adalah 63.45±5.35 mm dan 66.95±5.88 mm. Penentuan jenis kelamin induk dapat
dipercepat dengan paparan suhu air sebesar 20 °C. Pemberian suntikan kombinasi
hormon LHRH-a dan antidopamin dengan dosis berbeda menunjukkan bahwa
dosis hormon yang rendah 0.5μL/g BB (P1) menghasilkan persentase jumlah siput
gonggong yang memijah 34.48%, lebih tinggi daripada dosis 0.7μL/g BB (P2,
27.59%), dosis 0.9 μL/g BB (P3, 20.69%), dan tanpa suntik (TS, 17.24%). Jumlah
telur yang dikeluarkan induk adalah 10.874-63.489 butir/ekor, dan rerata
39.347±16.667 butir/ekor. Waktu latensi paling cepat adalah 0.42 hari pada dosis
0.7 μL/g BB, dan paling lambat sebelas hari pada perlakuan 0.5 μL/g BB dan 0.9
μL/g BB.
Penelitian tahap keempat bertujuan mendapatkan suhu air yang optimal
untuk perkembangan embrio dan larva siput gonggong. Percobaan dilakukan
dengan rancangan acak lengkap tiga perlakuan dan dua ulangan. Paparan suhu
yang digunakan terdiri atas: suhu 27 °C, 29 °C dan 31 °C. Hasil percobaan
menunjukkan bahwa paparan suhu air 31 °C memberikan hasil tercepat untuk
perkembangan embrio dan larva gonggong (L. turturella)
Pola Perubahan Enzim-Enzim Pencernaan sebagai Respon terhadap Berbagai Substrat pada Ikan Gurame (Osphronemous Gouramy, Lac.)
Dalam upaya meningkatkan pemanfaatan protein pakan bagi pertumbuhan ikan gurame maka kiranya perlu untuk mengkaji pola perubahan enzim-enzim pencernaan pada ikan gurame terhadap berbagai substrat sehingga diketahui suplai protein dan karbohidrat yang tepat sesuai dengan ketersediaan enzim pencernaan dalam saluran pencernaan pada ikan gurame
Induction of Ovulation by HCG Injection in the Tropical Walking Catfish Clarias batrachus Reared under 23-25.DEG.C..
Reproductive performance of catfish Clarias sp. with probiotics Bacillus sp. NP5 addition through feed
ABSTRACT
The intensification of catfish culture requires a regular and sustainable good seeds quality. Microbial-based aquaculture with probiotic application is expected to improve the reproductive performance of catfish. The aim of this study was to evaluate the reproductive performance of catfish given probiotics Bacillus sp. NP5 with different concentrations through feed. This study used a Completely Randomized Block Design (CRBD) with the administration of probiotic Bacillus sp. NP5 at 2% concentration of 108 CFU/mL and 1010 CFU/mL in feed given and control (without probiotics), then repeated four times. Catfish broodstocks with an average size of 955 ± 261.27 g were kept in a net sized 1 m×1 m×1 m with seven broodstocks per net. Parameters observed included the Gonadosomatic Index (GSI), fecundity, number of matured eggs, frequency distribution of egg diameter, fertilization rate, and hatching rate. The result showed that the GSI value of female catfish broodstock was significantly different in sixth week as the highest value was obtained from 1010 CFU/mL probiotics with 5.19%. Moreover, the fecundity of all treatments showed significantly different results (P<0.05) as the highest value was on the concentration of 1010 CFU/mL Bacillus sp. NP5 with 137,123 ± 32,635 eggs/broodstock. This study concludes that the administration of probiotics Bacillus sp. NP5 with 1010 CFU/mL in feed given to catfish broodstock increases the fecundity (137,123 eggs/broodstock), GSI (5.19%), number of matured eggs percentage (64.50%), and hatching rate (82.53%).
Keywords: Bacillus sp. NP5, catfish, reproductive performance
ABSTRAK
Intensifikasi budidaya ikan lele menuntut penyediaan benih yang berkualitas secara teratur dan berkelanjutan. Budidaya berbasis mikroba diharapkan dapat meningkatkan kinerja reproduksi ikan lele. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi performa reproduksi ikan lele yang diberi probiotik Bacillus sp. NP5 dengan konsentrasi berbeda melalui pakan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan pemberian probiotik Bacillus sp. NP5 pada konsentrasi 108 CFU/mL dan 1010 CFU/mL sebanyak 2% dari pakan yang diberikan serta kontrol (tanpa pemberian probiotik), masing-masing dengan empat ulangan. Induk ikan lele dengan ukuran 955 ± 261.27 g dipelihara pada jaring hapa ukuran 1 m × 1 m × 1 m sebanyak tujuh ekor per jaring hapa. Parameter yang diamati meliputi indeks kematangan gonad (IKG), fekunditas, jumlah telur matang, sebaran frekuensi diameter telur, derajat pembuahan, dan derajat penetasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IKG induk betina ikan lele berbeda nyata pada minggu keenam dengan nilai tertinggi diperoleh pada perlakuan probiotik 1010 CFU/mL yaitu sebesar 5.19%. Selain itu, fekunditas semua perlakuan menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0.05) dengan nilai tertinggi pada perlakuan pemberian probiotik Bacillus sp. NP5 dengan konsentrasi 1010 CFU/mL sebesar 137,123 ± 32,635 telur/induk. Kesimpulan, pemberian probiotik Bacillus sp. NP5 dengan konsentrasi 1010 CFU/mL melalui pakan kepada induk ikan lele mampu meningkatkan nilai fekunditas 137,123 telur/induk, GSI 5,19%, persentase jumlah telur matang 64,50% dan derajat penetasan telur 82,53%.
Kata kunci: Bacillus sp., ikan lele, performa reproduksi
 
Growth Response of Four Nile Tilapia Strains Fed on Diet Containing a Recombinant Teleostean Growth Hormone
Various Nile tilapia strains arecultured in Indonesia. This study was conducted to examine the growth response of four Nile tilapia strains, namely SULTANA (superior selected tilapia strain from Selabintana), NIRWANA (tilapia strain from Wanayasa), SRIKANDI (salinity resistant improvement from Sukamandi), and red tilapia fed on diet containing recombinant Epinephelus lanceolatus growth hormone (rElGH). In the first study, red tilapia were reared in 200-L glass aquaria and fed on artificial diet with different doses of crude rElGH protein, namely 0 (control), 0.03, 0.30, and 3.00 mg/kg diet. The results showed that growth, specific growth rate (SGR), and feed conversion ratio (FCR) were notsignificantly differentamongtreatments (p>0.05), but significantly different when comparedto the control (p<0.05).The second study was performed in the hapa (2x1x1m3) settled in a concrete pond (20x10x1.5 m3). By using 3 mg rElGH/kg diet, the results ofthesecond study showed that the highest (p<0.05) SGR was obtained in SULTANA (3.73%), followed by NIRWANA (3.41%). SRIKANDI (3.36 %),and red tilapia (3.14%) strain. Lowest FCR (p<0.05) was found in SULTANA (0.84), followed by NIRWANA (0.99), SRIKANDI (1.02), and red tilapia (1.22) strains. Survival of the four strains were similar, ranging from 84.67 to 90.00% (p>0.05). The highest (p<0.05) liver and muscle glycogen, protein and fat retention, and RNA/DNA ratio were found in SULTANA, followed by NIRWANA
Effectivity of karamunting Melastoma malabathricum leaves in inhibiting ovarian development of Nile tilapia Oreochromis niloticus
ABSTRACT
Tilapia gonads mature quickly before reaching market size, caused by a diverting of feed energy from growth to reproduction. As a result, somatic growth is disrupted to achieve market size, the operational costs are high, and the rearing period is longer. This study aims to evaluate the ability of karamunting leaf extracts to inhibit the development of tilapia gonads. This study used a complete randomized design with four treatments and three replications, namely 0 mg/kg, 25 mg/kg, 50 mg/kg, and 100 mg/kg of karamunting leaf extract. Tilapia fish weighed 13–14 g were kept in an aquarium measuring 100×60×50 cm with a stocking density of 20 fish/ aquarium. Fish were fed twice a day at 8 a.m and 5 p.m in at satiation. Sampling was carried out at the beginning of the study, on day 30th and day 60th. On day 30th the result showed that the best dose in inhibiting the development of fish gonad was 100 mg/kg of karamunting leaf extract that was 1.15 ± 0.19% and the daily growth rate was increased at 2.22 ± 0.06%. On day 60th, the best dose in inhibiting gonad development was 25 mg/kg of karamunting leaf extract, which was 2.49 ± 1.24% and the daily growth rate was increased amount 3.26 ± 0.06%.
Keywords: extract, karamunting leaves, gonad development, tilapia
ABSTRAK
Gonad ikan nila cepat berkembang sebelum mencapai ukuran pasar, menyebabkan pengalihan energi pakan dari pertumbuhan ke reproduksi. Akibatnya, pertumbuhan somatik terganggu sehingga untuk mencapai ukuran pasar biaya operasional tinggi dan masa pemeliharaan lebih lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ekstrak daun karamunting dalam menghambat perkembangan gonad ikan nila. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan; yaitu 0 mg/kg, 25 mg/kg, 50 mg/kg, dan 100 mg/kg ekstrak daun karamunting. Ikan nila berukuran 13–14 g dipelihara di akuarium berukuran 100×60×50 cm dengan padat tebar 20 ikan/akuarium. Ikan diberi makan dua kali sehari pada jam 8 pagi dan 5 sore dengan at satiation. Pengambilan sampel dilakukan pada awal penelitian, hari ke-30 dan hari ke-60. Hasil pada hari ke-30 menunjukan bahwa dosis terbaik dalam menghambat perkembangan gonad pada ikan uji adalah 100 mg/kg ekstrak daun karamunting yaitu 1.15 ± 0.19% dan meningkatkan pertumbuhan harian 2.22 ± 0.06%. Pada hari ke-60 dosis terbaik dalam menghambat perkembangan gonad adalah 25 mg/kg ekstrak daun karamunting yaitu 2.49 ± 1.24% dan meningkatkan pertumbuhan harian 3.26 ± 0.06%.
Kata kunci: daun karamunting, ekstrak, ikan nila, pertumbuhan gona
