1,720,969 research outputs found
Internasionalisasi Bahasa Indonesia melalui Program BIPA
Abstrak
Sampai saat ini, bahasa Indonesia sudah dipelajari di berbagai negara. Berdasarkan catatan Badan Bahasa, sudah lebih dari 45 negara yang mempelajari bahasa Indonesia. Bahkan di Vietnam, bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa resmi kedua setelah bahasa Inggirs sejak tahun 2007. Di Australia, bahasa Indonesia menjadi bahasa popular ke-4 dan sudah diajarkan di 500 sekolah sebagai mata pelajaran wajib. Di Eropa, bahasa Indonesia menjadi bahasa asing Asia yang paling banyak diminati. Dan masih banyak lagi negara-negara yang mempelajari bahasa Indonesia. Hal ini selaras dengan amanat UU No.24 Tahun 2009 dalam rangka menginternasionalisasikan bahasa Indonesia. Salah satu langkah yang dilakukan dalam rangka menginternasionalisasikan bahasa Indonesia yaitu dengan penyelenggaraan program BIPA.
Program BIPA khususnya yang dilaksanakan di dalam negeri belum merata. Artinya, program ini banyak dilakukan di kota-kota besar. Sementara itu, di kota-kota kecil banyak yang belum mengenal BIPA. Padahal, banyak potensi dari daerah yang dapat dikenalkan ke dunia luar. Di samping itu, program BIPA yang dilaksanakan di dalam negeri lebih banyak berorientasi pada usaha untuk menghadirkan pembelajar asing untuk belajar bahasa Indonesia. Berbagai lembaga program atau lembaga kursus BIPA di Indonesia telah banyak mempersiapkan diri baik dari segi pengajar, bahan ajar, maupun kurikulum untuk menyambut pembelajar asing yang akan belajar bahasa Indonesia, sehingga pembelajaran BIPA ini lebih berfokus pada bisnis.
Dalam usaha menginternasionalisasikan bahasa Indonesia, diperlukan usaha untuk menciptakan tenaga-tenaga pengajar bahasa Indonesia sebagai duta pengajar bahasa Indonesia di dunia luar. Dalam tulisan ini, akan dikupas usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam menginternasionalisasikan bahasa Indonesia di dunia luar, bukan pembelajaran BIPA sebagai dunia bisnis atau industri
PENERAPAN MODEL RESPON PEMBACA DALAM PEMBELAJARAN APRESIASI CERPEN DI SMA
ABSTRAK
Perlu kiranya diterapkan sebuah model pembelajaran apresiasi sastra untuk membantu guru dalam menumbuhkan minat dan kecintaan siswa terhadap karya sastra. Pada penelitian ini difokuskan pada pembelajaran apresiasi sastra khususnya cerpen melalui model respons pembaca (reader’s respons). Penggunaan model respons pembaca diharapkan siswa dengan leluasa memberikan tanggapan-tanggapan terhadap karya sastra yang dibacanya. Alasan pemilihan cerpen sebagai bahan ajarnya karena dalam cerpen mengandung pokok permasalahan yang diungkap oleh pengarang dalam jumlah halaman yang tidak begitu banyak. Di samping itu, dari segi kompleksitas cerita, cerpen tidak terlalu banyak menyajikan cerita-cerita yang kompleks, sekali dibaca cerita itu selesai. Objek penelitian akan dilakukan pada siswa kelas X SMA Islam Al Azhar 5 Cirebon.
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah penggunaan model respons pembaca dalam pembelajaran apresiasi cerpen pada siswa kelas X SMA Islam Al Azhar 5 Cirebon. Hal ini dapat dirumuskan kalimat pertanyaan: (1) Bagaimanakah struktur cerpen dekade 1980-an ditinjau dari segi struktural dan sosiologi sastra? (2) Bagaimanakah peran pengajar dalam model respons pembaca? (3) Bagaimanakah keaktifan siswa pada saat bertransaksi dengan cerpen dalam model respons pembaca?
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dimunculkan, penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mendeskripsikan struktur cerpen-cerpen dekade 1980-an dan ditinjau dari segi sosiologi sastra. (2) Mendeskripsikan peran guru dalam pembelajaran apresiasi cerpen melalui model respons pembaca. (3) Memperoleh gambaran keaktifan siswa dalam bertransaksi dengan cerpen melalui model respons pembaca.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksploratif . Metode ini tidak hanya berfokus pada bagaimana mentransfer ilmu pengetahuan, pemahaman, dan interpretasi, tetapi harus diimbangi dengan peningkatan mutu materi ajar. Pembahasan penilitian ini adalah mengenai penilaian cerpen berdasarkan struktur cerpen dan berdasarkan tinjauan sosiologis sastra. Kemudian peran guru dalam pembelajaran apresiasi cerpen melalui model respons pembaca adalah sangat penting. Peran guru tersebut antara lain: fasilitator, mediator dan motivator
PENERAPAN MODEL RESPON PEMBACA DALAM PEMBELAJARAN APRESIASI CERPEN DI SMA
ABSTRAK
Perlu kiranya diterapkan sebuah model pembelajaran apresiasi sastra untuk membantu guru dalam menumbuhkan minat dan kecintaan siswa terhadap karya sastra. Pada penelitian ini difokuskan pada pembelajaran apresiasi sastra khususnya cerpen melalui model respons pembaca (reader’s respons). Penggunaan model respons pembaca diharapkan siswa dengan leluasa memberikan tanggapan-tanggapan terhadap karya sastra yang dibacanya. Alasan pemilihan cerpen sebagai bahan ajarnya karena dalam cerpen mengandung pokok permasalahan yang diungkap oleh pengarang dalam jumlah halaman yang tidak begitu banyak. Di samping itu, dari segi kompleksitas cerita, cerpen tidak terlalu banyak menyajikan cerita-cerita yang kompleks, sekali dibaca cerita itu selesai. Objek penelitian akan dilakukan pada siswa kelas X SMA Islam Al Azhar 5 Cirebon.
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah penggunaan model respons pembaca dalam pembelajaran apresiasi cerpen pada siswa kelas X SMA Islam Al Azhar 5 Cirebon. Hal ini dapat dirumuskan kalimat pertanyaan: (1) Bagaimanakah struktur cerpen dekade 1980-an ditinjau dari segi struktural dan sosiologi sastra? (2) Bagaimanakah peran pengajar dalam model respons pembaca? (3) Bagaimanakah keaktifan siswa pada saat bertransaksi dengan cerpen dalam model respons pembaca?
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dimunculkan, penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mendeskripsikan struktur cerpen-cerpen dekade 1980-an dan ditinjau dari segi sosiologi sastra. (2) Mendeskripsikan peran guru dalam pembelajaran apresiasi cerpen melalui model respons pembaca. (3) Memperoleh gambaran keaktifan siswa dalam bertransaksi dengan cerpen melalui model respons pembaca.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksploratif . Metode ini tidak hanya berfokus pada bagaimana mentransfer ilmu pengetahuan, pemahaman, dan interpretasi, tetapi harus diimbangi dengan peningkatan mutu materi ajar. Pembahasan penilitian ini adalah mengenai penilaian cerpen berdasarkan struktur cerpen dan berdasarkan tinjauan sosiologis sastra. Kemudian peran guru dalam pembelajaran apresiasi cerpen melalui model respons pembaca adalah sangat penting. Peran guru tersebut antara lain: fasilitator, mediator dan motivator
PERAN GURU PEMBELAJAR SEBAGAI PEGIAT GERAKAN LITERASI SEKOLAH: TANTANGAN DAN SOLUSI
Saat ini, pencanangan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di tingkat satuan pendidikan sudah mulai digalakkan. Banyak faktor yang mempengaruhi pencanangan Gerakan Literasi Sekolah, baik yang bersifat faktor pendukung maupun faktor penghambat. Permasalahan yang mendasari pencanangan GLS pada saat ini adalah rendahnya minat baca siswa. Salah satu upaya pemerintah mengatasi permasalahan tersebut dengan membudayakan GLS. GLS merupakan program wajib yang harus dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan terutama jenjang pendidikan dasar dan menengah. Akan tetapi, dalam praktik pelaksanaan program tersebut masih banyak ditemui kendala. Kendala tersebut berasal dari faktor internal dan faktor eksternal. Guru sebagai ujung tombak dalam GLS dituntut mampu menjalankan perannya dengan baik. Perlu pendekatan yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut.Salah satu solusi yang dapat digunakan yaitu guru dalam menjalankan perannya sebagai manajer di kelas dalam pelaksanaan GLS adalah dengan mengimplementasikan konsep trilogi kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara
PERAN GURU PEMBELAJAR SEBAGAI PEGIAT GERAKAN LITERASI SEKOLAH: TANTANGAN DAN SOLUSI
Saat ini, pencanangan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di tingkat satuan pendidikan sudah mulai digalakkan. Banyak faktor yang mempengaruhi pencanangan Gerakan Literasi Sekolah, baik yang bersifat faktor pendukung maupun faktor penghambat. Permasalahan yang mendasari pencanangan GLS pada saat ini adalah rendahnya minat baca siswa. Salah satu upaya pemerintah mengatasi permasalahan tersebut dengan membudayakan GLS. GLS merupakan program wajib yang harus dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan terutama jenjang pendidikan dasar dan menengah. Akan tetapi, dalam praktik pelaksanaan program tersebut masih banyak ditemui kendala. Kendala tersebut berasal dari faktor internal dan faktor eksternal. Guru sebagai ujung tombak dalam GLS dituntut mampu menjalankan perannya dengan baik. Perlu pendekatan yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut.Salah satu solusi yang dapat digunakan yaitu guru dalam menjalankan perannya sebagai manajer di kelas dalam pelaksanaan GLS adalah dengan mengimplementasikan konsep trilogi kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara
Internasionalisasi Bahasa Indonesia melalui Program BIPA
Abstrak
Sampai saat ini, bahasa Indonesia sudah dipelajari di berbagai negara. Berdasarkan catatan Badan Bahasa, sudah lebih dari 45 negara yang mempelajari bahasa Indonesia. Bahkan di Vietnam, bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa resmi kedua setelah bahasa Inggirs sejak tahun 2007. Di Australia, bahasa Indonesia menjadi bahasa popular ke-4 dan sudah diajarkan di 500 sekolah sebagai mata pelajaran wajib. Di Eropa, bahasa Indonesia menjadi bahasa asing Asia yang paling banyak diminati. Dan masih banyak lagi negara-negara yang mempelajari bahasa Indonesia. Hal ini selaras dengan amanat UU No.24 Tahun 2009 dalam rangka menginternasionalisasikan bahasa Indonesia. Salah satu langkah yang dilakukan dalam rangka menginternasionalisasikan bahasa Indonesia yaitu dengan penyelenggaraan program BIPA.
Program BIPA khususnya yang dilaksanakan di dalam negeri belum merata. Artinya, program ini banyak dilakukan di kota-kota besar. Sementara itu, di kota-kota kecil banyak yang belum mengenal BIPA. Padahal, banyak potensi dari daerah yang dapat dikenalkan ke dunia luar. Di samping itu, program BIPA yang dilaksanakan di dalam negeri lebih banyak berorientasi pada usaha untuk menghadirkan pembelajar asing untuk belajar bahasa Indonesia. Berbagai lembaga program atau lembaga kursus BIPA di Indonesia telah banyak mempersiapkan diri baik dari segi pengajar, bahan ajar, maupun kurikulum untuk menyambut pembelajar asing yang akan belajar bahasa Indonesia, sehingga pembelajaran BIPA ini lebih berfokus pada bisnis.
Dalam usaha menginternasionalisasikan bahasa Indonesia, diperlukan usaha untuk menciptakan tenaga-tenaga pengajar bahasa Indonesia sebagai duta pengajar bahasa Indonesia di dunia luar. Dalam tulisan ini, akan dikupas usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam menginternasionalisasikan bahasa Indonesia di dunia luar, bukan pembelajaran BIPA sebagai dunia bisnis atau industri
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Desain Bahan Ajar Teks Deskripsi untuk Siswa SMP Kelas VII
Seorang pendidik yang profesional dituntut kreativitasnya untuk mampu menyusun bahan ajar yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan guru, siswa, dan tuntutan kurikulum. Berdasarkan hasil observasi di beberapa sekolah, dapat diketahui guru dan siswa sangat membutuhkan bahan ajar pendamping selain yang sudah disediakan oleh pemerintah. Pada hakikatnya, bahan ajar merupakan komponen penting yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Teks deskripsi merupakan salah satu genre teks yang terdapat pada silabus Kurikulum 2013 Revisi yang harus dipelajari oleh siswa SMP Kelas VII. Berkaitan dengan masalah tersebut, tujuan penelitian ini untuk mengembangkan bahan ajar teks deskripsi untuk siswa SMP Kelas VII. Secara khusus, masalah yang dikaji meliputi (1) proses penyusunan bahan ajar teks deskripsi untuk siswa SMP kelas VII, (2) bentuk bahan ajar teks deskripsi untuk siswa SMP Kelas VII, dan (3) respons guru bahasa Indonesia dan siswa terhadap bahan ajar teks deskripsi untuk siswa SMP kelas VII. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan analisis data dilakukan secara triangulasi
- …
