1,721,209 research outputs found
RUMAH TANGGA SOPIR TRUK PERSPEKTIF KELUARGA SAKINAH (Studi di Desa Sukanegara Kecamatan Tanjung Bintang
Suami yang berprofesi sebagai sopir truk merupakan sebuah pilihan. Hal inilah yang terjadi di Desa Sukanegara kec.Tanjung Bintang kab. Lampung Selatan. Profesi ini identik dengan memiliki jam kerja yang tidak pasti, pulang tidak sesuai yang diinginkan dikarenakan perjalanan jauh dan memakan waktu yang cukup lama, kekhawatiran terjadi perselingkuhan karena kesempatan mencari pasangan lain sangat terbuka lebar, sehingga hal ini diduga dapat mempengaruhi keharmonisan rumah tangganya. Selanjutnya akan dibahas lebih lanjut Bagaimana tinjauan keluarga sakinah terhadap rumah tangga sopir truk di Desa Sukanegara? Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah Rumah tangga di kalangan sopir truk di Desa Sukanegara belum sesuai dengan standar dan konsep penerapan agar terciptanya rumah tangga harmonis menurut ajaran Islam. Oleh karena itu, mayoritas dari rumah tangga di kalangan sopir truk di Desa Sukanegara tidak dapat mewujudkan rumah tangga harmonis
TRADISI MAK DIJUK SIANG PADA MASYARAKAT LAMPUNG PEPADUN ABUNG SIWO MEGO
TRADISI MAK DIJUK SIANG PADA
MASYARAKAT LAMPUNG PEPADUN
ABUNG SIWO MEGO
Jayusman, Oki Dermawan, M. Najib Ali
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
E-Mail: [email protected]
Pendahuluan
Masyarakat Lampung punya tradisi yang tetap mereka
pelihara yaitu: Mak Dijuk Siang. Ini adalah tradisi tidak boleh
bercerai. Tradisi ini menjadi falsafah hidup Pi’il Pesenggiri
merupakan local wisdom yang menjiwai kehidupan mereka.
Apabila berceraian, maka rusaklah Pi’il Pesenggiri dari pasangan
yang bercerai tersebut.1
Rumah tangga yang sudah tidak harmonis; adakalanya
suami lebih memilih menelantarkan istri dari pada bercerai yang
menyebabkan harga dirinya hancur. Biasanya isteri lebih memilih
ditelantarkan atau bahkan mungkin mengalami kekerasan dalam
rumah tangga (KDRT) dari pada harus bercerai. Jika ditinjau dari
segi tujuan mempertahankan rumah tangga, tradisi ini dampak
positif dalam menghindari atau mengurangi perceraian. Selain itu,
ia selaras dengan tujuan pensyariatan perkawinan dalam hukum
postif dan hukum syara yaitu melanggengkan pernikahan.
1 Fathu Sururi, “Mak Di Juk Siang Pada Masyarakat Adat Lampung
Pepadun Megou Pak,” Al-Hukama The Indonesian Journal of Islamic Family Law
6, no. 01 (2016): 13.
Jayusman, Oki Dermawan, M. Najib Ali – Tradisi Mak Dijuk Siang .... 463
Tradisi Mak Dijuk Siang memliki kedudukan yang urgent
dalam menghindari atau mengurangi angka perceraian di wilayah
provinsi Lampung khususnya masyarakat Lampung Abung Siwo
Mego. Namun dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang diiringi dengan perbauran budaya, tradisi ini
tergerus sehingga terdapat perceraian di kalangan mereka, hal
ini didapati ketika melakukan pra riset di Pengadilan Agama
Gunung Sugih dan Pengadilan Agama Kota Bumi, pengadilan yang
memiliki kewenangan relatif menyelesaikan kasus perceraian
pada masyarakat Lampung Pepadun Abung Siwo Mego. Jika
tedapat kasus perceraian pasangan Lampung Pepadun Abung
Siwo Mego terdapat beberapa pertanyaan yang menggelayut, apa
penyebab perceraian, bagaimana dengan tradisi Mak Dijuk Siang
yang mereka anut. Apakah mulai terdapat pergeseran tradisi ini
dalam masyarakat Lampung Pepadun Abung Siwo Mego.
Permasalahan ini akan dianalisis dengan teori Maqāsid
Syarī’ah, terkait apakah tradisi ini sejalan atau tidak dengan
tujuan pensyariatan Hukum Islam. Fokus tulisan ini membahas
Bagaimanakah tinjauan Maqāsid asy-syarīah terhadap tradisi
Mak Dijuk Siang pada masyarakat Lampung Pepadun Abung Siwo
Mego
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
