1,721,019 research outputs found

    PERBANDINGAN FREKUENSI SUARA KICAUAN BEBERAPA JENIS BURUNG FAMILI PYCNONOTIDAE

    No full text
    Telah dilakukan penelitian mengenai Perbandingan Frekuensi Suara Kicauan Beberapa Jenis Burung Famili Pycnonotidae. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Nopember 2011 sampai dengan Bulan Januari 2012, di Laboratorium Ekologi dan Biokonservasi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Bengkulu. Penelitian ini menggunakan metode rekam suara dari 4 jenis burung yaitu burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster), burung Merbah (Pycnonotus goiavier), burung Percang (Pycnonotus atriceps atriceps) dan burung Gerinting kandis/Kutilang Emas (Pycnonotus melanicterus), setiap jenis burung dibuat ulangan sebanyak 4 individu. Rekaman suara burung dilakukan sebanyak 20 kali kicauan untuk setiap individu, melalui software (Cool Edit Pro). Rekaman suara burung yang dihasilkan berupa spektogram yang kemudian dianalisa nilai frekuensi dan durasi kicauannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan frekuensi dan durasi suara kicauan beberapa jenis burung famili Pycnonotidae.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari segi frekuensi, burung yang memiliki frekuensi suara kicauan dimulai dari yang paling tinggi yaitu burung Pycnonotus aurigaster (6036,25 Hz), Pycnonotus melanicterus (4722,5 Hz), Pycnonotus atriceps atriceps (2837,5 Hz), dan Pycnonotus goiavier (2837,5 Hz) hal tersebut dibuktikan secara statistik menggunakan Uji T dan kesemua hasilnya menunjukkan perbedaan yang signifikan. Sedangkan dari segi durasi suara, burung yang memiliki durasi suara kicauan dimulai dari durasi kicauan yang paling lama yaitu burung Pycnonotus melanicterus (2,036 detik), Pycnonotus atriceps atriceps (1,059 detik), Pycnonotus aurigaster (0,604 detik) dan Pycnonotus goiavier (0,557 detik), hal tersebut juga dibuktikan secara statistik dan hampir semua jenis burung menunjukkan perbedaan yang signifikan, hanya ada satu spesies burung yang menunjukkan perbedaan yang non-signifikan yaitu perbandingan signifikansi antara burung Pycnonotus aurigaster dengan burung Pycnonotus goiavier

    JENIS-JENIS LALAT DAN BURUNG LIAR YANG BERPOTENSI MENYEBARKAN VIRUS FLU BURUNG DI KABUPATEN MUKOMUKO

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis lalat dan jenis-jenis burung liar yang diduga sebagai vektor penyebaran virus flu burung (Avian influenza/ AI) di Kabupaten Mukomuko. Penelitian ini telah dilaksanakan mulai Mei sampai Agustus 2008 dengan menggunakan metode survey melalui observasi langsung di lapangan yang pelaksanaannya menggunakan metode garis transek, untuk burung dan metode penangkapan untuk lalat. Burung-burung yang ditemukan, baik melalui kontak langsung, suara dan tanda-tanda lainnya diidentifikasi untuk diketahui jenisnya. Lalat yang diambil di setiap desa di catat ciri-ciri morfologinya lalu diidentifikasi. Dari pengamatan diperoleh informasi bahwa terdapat sebanyak 54 jenis burung liar yang terbagi atas 12 ordo dan 27 famili. Burung endemik Indonesia ditemukan 47 jenis yang terbagi atas ordo Ciconiiformes dari famili Ardeidae (2 jenis), ordo Falconiformes dari famili Accipitridae (2 jenis), ordo Gruiformes dari famili Gruidae (1 jenis), ordo Columbiformes dari famili Columbidae (8 jenis), ordo Psittaciformes dari famili Psittacidae (1 jenis), ordo Cuculiformes dari famili Cuculidae (3 jenis), ordo Caprimulgiformes dari famili Caprimulgidae (1 jenis), ordo Apodiformes dari famili Apodidae (1 jenis), ordo Coraciiformes dari famili Alcedinidae (4 jenis), famili Bucerotidae (1 jenis), ordo Piciformes dari famili Capitonidae (1 jenis), famili Picidae (2 jenis), ordo Passeriformes dari famili Hirundinidae (1 jenis), famili Motacillidae (1 jenis), famili Pycnonotidae (4 jenis), famili Turdidae (1 jenis), famili Timaliidae (1 jenis), famili Sylviidae (2 jenis), famili Muscicapidae (2 jenis), famili Estrildidae (2 jenis), famili Plocoidae (2 jenis), famili Sturnidae (1 jenis), famili Dicruridae (2 jenis), dan famili Corvidae (1 jenis). Burung migran ditemukan sebanyak 7 jenis, yang diasumsikan sebagai vektor flu burung tipe A yaitu Ixobrychus eurhythmus, Ixobrychus cinnamomeus dari famili Ardeidae dan ordo Ciconiiformes, Circus aeruginosus dari famili Accipitridae dan ordo Falconiformes, Actitis hypoleucos dari famili Scolopacidae, Gelochelidon nilotica dari famili Laridae dan ordo Charadriiformes, Holcyon pileata dari famili Alcedinidae, Merops philippinus dari famili Meropidae dan ordo Coraciiformes. Lalat yang ditemukan sebanyak 3 jenis yang terbagi atas 3 famili yaitu Musca domestica dari famili Muscidae, Lucillia ceritica dari famili Calliphoridae dan Sarcophaga haemorrhoidalis dari famili Sarcophagidae dan ordo Diptera. Hasil uji Rapid Test menunjukkan bahwa Musca domestica, Lucillia ceritica, dan Sarcophaga haemorrhoidalis tidak terdeteksi Heamoglutinin tipe A

    STUDI KONFLIK MANUSIA-GAJAH (Elephas maximus sumatranus Temminck,1847) PADA AREA PERKEBUNAN DAN PERLADANGAN MASYARAKAT DI DESA SIDODADI, DESA TUNGGANG, DESA DUSUN PULAU DAN DESA SUKABARU KABUPATEN MUKOMUKO BENGKULU UTARA PROVINSI BENGKULU

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pergerakan gajah (Elephas maximus sumatranus) dengan terjadinya konflik manusia-gajah di areal perkebunan dan perladangan masyarakat, bentuk gangguan, dampak dan penyebab disertai metode penanganan dan upaya penanggulangan dari konflik yang terjadi di desa Sidodadi, desa Tunggang, desa Dusun Pulau dan desa Sukabaru Kabupaten Mukomuko Bengkulu Utara. Penelitian dilakukan pada Juli hingga November 2008. Metodologi pengambilan data berupa: identifikasi pergerakan gajah dengan menggunakan Antena VHF Receiver, pengumpulan data konflik, data mitigasi dan pengukuran lahan konflik dengan menggunakan metode PRA (Participatory Rural Appraisal, serta perhitungan dampak konflik dengan menggunakan metode perhitungan secara faktual. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Dari penelitian ini diperoleh, keberadaan gajah collar berada pada kawasan Air Buluh, Air Mangga dan Air Maju. Bentuk gangguan konflik berupa rusaknya pondok dan jenis tanaman yang diusahakan masyarakat dan jenis tanaman terbesar yang mengalami konflik terdapat pada jenis tanaman kelapa sawit. Penyebab konflik disebabkan karena lokasi perkebunan masyarakat yang berdekatan dengan sungai dan metode penanganan konflik dengan menggunakan meriam bambu yang paling efektif

    KANDUNGAN PROTEIN TOTAL PADA TINGKAT KEMATANGAN BIJI MELINJO (Gnetum gnemon) DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENGGUMPALAN SPERMATOZOA MENCIT (Mus musculus)

    No full text
    Gnetum gnemon memiliki kandungan protein berupa lektin yang dapat mengaglutinasi sel. Lektin memiliki sifat yang dapat berikatan dengan glikokonjugat pada membran sel kepala spermatozoa. Pengikatan antara sel dan glikokonjugat disebut dengan penggumpalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar protein dari biji melinjo hijau, kuning, merah, serta emping mentah dan emping goreng dan pengaruhnya terhadap penggumpalan sel spermatozoa mencit. Penelitian ini telah dilakukan dari bulan September 2021 sampai Januari 2022. Data dianalisis menggunakan one way ANOVA dan uji lanjut DMRT dengan program SPSS versi 25 serta perbandingan hasil fotomikrografi penggumpalan sel spermatozoa dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan kadar protein biji melinjo hijau 1908,75 g/ml, melinjo kuning 1344,25 g/ml, melinjo merah 698,75 g/ml, emping mentah 616,75 g/ml dan emping goreng 448,25 g/ml. Analisis perbandingan fotomikrografi menunjukkan bahwa sampel biji melinjo hijau, kuning, merah, emping mentah dan emping goreng dapat menggumpalkan sel spermatozoa tetapi sampel emping goreng sedikit menggumpalkan spermatozoa mencit. Bentuk penggumpalan spermatozoa yang terjadi adalah penggumpalan kepala–kepala spermatozoa karena dibagian akrosom kepala spermatozoa mengandung banyak glikoprotein dan glikolipid. Protein lektin melinjo dan emping melinjo dapat menggumpalkan sel spermatozoa mencit yang nantinya dapat digunakan sebagai salah satu kandidat agen spermisida. Kata kunci: Lektin, Melinjo, Penggumpalan, Spermatozoa, Spermisid

    INVENTARISASI BURUNG AIR DAN YANG BERPOTENSI SEBAGAI VEKTOR AVIAN INFLUENZA VIRUS DI KOTA BENGKULU

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis burung air, dan jenis-jenis burung air yang berpotensi sebagai vektor Avian Influenza Virus di Kota Bengkulu. Penelitian ini dilakukan mulai bulan April – Juli 2009 di Kota Bengkulu di kawasan Pesisir Pantai (Sungai Hitam – Muara Air Jenggalu), Danau Dendam Tak Sudah dan Daerah Persawahan Kecamatan Muara Bangkahulu dengan menggunakan metode jelajah melalui observasi langsung di lapangan yang pelaksanaannya menggunakan metode “Jelajah” (Bibby, et. al. 1992). Burung-burung yang ditemukan, baik melalui kontak langsung , suara dan tanda-tanda lainnya (sarang, bulu). Dari hasil pengamatan diperoleh informasi bahwa terdapat sebanyak 22 jenis burung air yang terbagi atas 5 ordo dan 8 famili. Burung air endemik yang ditemukan ada 1 jenis yaitu Halcyon cyanoventris (Cekakak Jawa) dari ordo Coraciiformes dan famili Alcedinidae. Burung migran yang ditemukan sebanyak 9 jenis, yang diasumsikan sebagai vektor flu burung tipe H5N1 dari famili Sulidae (1 jenis), famili Ardeidae (5 jenis), famili Scolopasidae (2 jenis), famili Alcedinidae (1 jenis). Indeks Keanekaragaman janis yang diperoleh yaitu 2,334. Burung air di Kota Bengkulu mendapatkan gangguan dan ancaman dari berbagai aktifitas masyarakat yaitu pembuatan jalan, kerusakan hutan pantai dan pesatnya pembangunan di Kota Bengkulu

    STUDI KOMUNITAS BURUNG DI KAWASAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PT. AGRI ANDALAS KABUPATEN SELUMA

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis-jenis burung yang terdapat di Kawasan Perkebunan Kelapa Sawit PT. Agri Andalas Kabupaten Seluma. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Juli-Oktober 2011 dengan mengunakan metode survei melalui observasi langsung dilapangan. Data yang dikumpulkan dengan menggunakan daftar 10 jenis. Burung-burung yang ditemukan, baik melalui kontak langsung, suara dan tanda-tanda lainnya diidentifikasi dan dicatat ke dalam tabel yang memuat 10 jenis burung. Dari pengamatan diperoleh hasil yaitu terdapat 40 jenis burung yang terbagi atas 11 odo dan 23 famili, dengan indeks keanekragaman 2,32. Indeks Kepadatan Relatif tertinggi yaitu jenis Prinia familiaris (Perenjak jawa) sebesar 44,43 %. Jenis burung yang dilindungi yang ditemukan sebanyak 9 jenis dan burung migran yang ditemukan sebanyak 4 jenis

    KANDUNGAN PROTEIN TOTAL PADA TINGKAT KEMATANGAN BIJI MELINJO (Gnetum gnemon) DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENGGUMPALAN SPERMATOZOA MENCIT (Mus musculus)

    No full text
    Gnetum gnemon memiliki kandungan protein berupa lektin yang dapat mengaglutinasi sel. Lektin memiliki sifat yang dapat berikatan dengan glikokonjugat pada membran sel kepala spermatozoa. Pengikatan antara sel dan glikokonjugat disebut dengan penggumpalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar protein dari biji melinjo hijau, kuning, merah, serta emping mentah dan emping goreng dan pengaruhnya terhadap penggumpalan sel spermatozoa mencit. Penelitian ini telah dilakukan dari bulan September 2021 sampai Januari 2022. Data dianalisis menggunakan one way ANOVA dan uji lanjut DMRT dengan program SPSS versi 25 serta perbandingan hasil fotomikrografi penggumpalan sel spermatozoa dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan kadar protein biji melinjo hijau 1908,75 g/ml, melinjo kuning 1344,25 g/ml, melinjo merah 698,75 g/ml, emping mentah 616,75 g/ml dan emping goreng 448,25 g/ml. Analisis perbandingan fotomikrografi menunjukkan bahwa sampel biji melinjo hijau, kuning, merah, emping mentah dan emping goreng dapat menggumpalkan sel spermatozoa tetapi sampel emping goreng sedikit menggumpalkan spermatozoa mencit. Bentuk penggumpalan spermatozoa yang terjadi adalah penggumpalan kepala–kepala spermatozoa karena dibagian akrosom kepala spermatozoa mengandung banyak glikoprotein dan glikolipid. Protein lektin melinjo dan emping melinjo dapat menggumpalkan sel spermatozoa mencit yang nantinya dapat digunakan sebagai salah satu kandidat agen spermisida. Kata kunci: Lektin, Melinjo, Penggumpalan, Spermatozoa, Spermisid

    ANALISIS FILOGENETIK BARONG BESARHipposideros diadema(Geoffroy, 1813) POPULASI BENGKULU BERDASARKAN GEN COI DNA MITOKONDRIA

    No full text
    Hipposideros diadema (Geoffroy, 1813) adalah spesies kelelawar yang penyebarannya cukup luas di Indonesia, termasuk di wilayah Bengkulu. Salah satu daerah roosting site dari spesies ini adalah gua Suruman, Bengkulu Selatan. Analisis filogenetik menggunakan gen COI DNA mitokondria H. diadema asal Bengkulu ini dapat mengungkap kekerabatannya dengan populasi intraspesies dan interspesies. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekerabatan intraspesies dan interspesies kelelawar H. diadema populasi Bengkulu menggunakan gen COI mitokondria yang diisolasi dari jaringan spesimen H. diadema koleksi Laboratorium Biologi Universitas Bengkulu. DNA diisolasi dari jaringan hati menggunakan gSYNCTM DNA Extraction Kit dengan gSYNCTM DNA Extraction Kit Quick Protocol (For Tissue Protocol Procedure). Sampel diamplifikasi menggunakan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan primer universal panjang ±700 pb. Sequencing produk PCR dilakukan di PT Apical Scientific Sdn. Bhd. Analisis filogenetik gen COI (657 pb) menunjukkan bahwa H. diadema asal Bengkulu berkerabat dekat dengan populasi dari Semenanjung Malaysia, Sabah, dan Laos (bootstrap 98%). Kekerabatan terdekat dengan populasi asal Semenanjung Malaysia dengan jarak genetik rata-rata berkisar 0,08–1,23%. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa H. diadema Bengkulu memiliki kesamaan genetik dengan populasi di Asia Tenggara, menandakan stabilitas genetik spesies tersebut. Kata kunci: COI, DNA Mitokondria, filogenetik, Hipposideros diadem

    Genetic Characteristics of Chloropsis cochinchinensis Gmelin, 1789 Based on The Mitochondrial DNA COI Gene

    Get PDF
    The rate of illegal poaching of blue-winged leafbirds (Chloropsis cochinchinensis) throughout Indonesia, particularly Bengkulu, is quite high. However, only minimal molecular information is available for this species. We performed mtDNA COI gene sequencing to explore genetic characters (conservative site, variable site, parsimony site, and singleton site) of blue-winged leafbirds. Using Qiagen's DNeasy® Blood and Tissue Kit based on the Spin-Column Protocol, total DNA was isolated, and PCR amplification methods were performed. DNA derived from a PCR reaction was forwarded to PT. First Base Malaysia for sequencing. Using MEGA 10.0 and BIOEDIT, the COI gene nucleotide sequence data were assembled, edited, and analyzed to explore of single nucleotide polymorphism, genetic distance, and phylogeny. The 616 bp COI genes contained 566 conservative sites (C), 50 variation sites (V), 24 information parsimony sites (Pi), and 26 singleton sites (S), as indicated by the results. The greatest nucleotide base composition was cytosine (34.1–34.9%), while the lowest was guanine (15.7–16.2%). The proportion of adenine-thymine nucleotide base pairs was greater than that of guanine-cytosine (50.3%). There were 26 barcode-specific mutation sites, 17 transition substitution mutation sites, and 9 transverse substitution mutation sites. The average genetic distance between C. cochinchinensis individuals was 2.2%, but the average genetic difference between species was 9.0%. All C. cochinchinensis individuals in our sample clustered within the same clade and were distinguished from other species within the same genus. The COI gene sequences of C. cochinchinensis that we acquired are novel and can be utilized for molecular identification of the species

    POLIMORFISME NUKLEOTIDA BURUNG KUTILANG EMAS (Pycnonotus melanicterus) BERDASARKAN GEN SITOKROM B DNA MITOKONDRIA

    No full text
    Kutilang Emas (Pycnonotus melanicterus) merupakan jenis burung pengicau yang termasuk ke dalam ordo Passeriformes, family Pycnonotidae. Burung ini mengalami penurunan populasi di habitat karena diburu masyarakat untuk diperjual-belikan dan kerusakan habitat. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis polimorfisme nukleotida Kutilang Emas berdasarkan gen Sitokrom b DNA Mitokondria karena informasi genetik pada spesies ini di GenBank sangat terbatas. Sampel dikoleksi dari depot burung di pasar Minggu dan pasar Panorama Kota Bengkulu. Darah diisolasi dengan menggunakan protokol modifikasi Dneasy® Blood and Tissue Kit cat no 69504 (50) berdasarkan prosedur Spin�Column Protocol Qiagen. DNA diamplifikasi menggunakan PCR (Polimerase Chain Reaction) dengan kit Go-Taq® Green Master Mix. Kemudian elektroforesis dengan menggunakan gel agarose 1,2% dan divisualisasikan di bawah sinar UV menggunakan Gel Document System Axygen. Hasil amplifikasi dengan visualisasi pita yang baik selanjutnya dikirim ke perusahaan PT. Genetika Science Indonesia untuk sekuensing. Hasil sekuensing dianalisis menggunakan perangkat lunak MEGA X. Panjang sekuen yang dianalisis sebanyak 648 pb dengan situs konservatif (C) yang didapatkan yakni sebesar 588 pb (90,74%), situs Variable (V) sebesar 60 pb (9,25%), situs Parsimony (Pi) sebesar 10 pb (1,54%) dan situs Singleton (S) sebesar 50 pb (7,71%). Komposisi nukleotida tertinggi yang didapatkan yakni pada Sitosin dengan persentase 31,9%-33,1% dan terendah pada Guanin dengan persentase 14,8%-15,8%. Nilai Adenin-Timin lebih tinggi dibanding Guanin-Sitosin yakni sebesar 52% dan Guanin-Sitosin sebesar 47,7%. Situs spesifik dari P. melanicterus asal Bengkulu berjumlah 8 situs. Kata Kunci : DNA Mitokondria, Nukleotida, Polimorfisme, Pycnonotidae, Sitokrom
    corecore